Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Rasa Hangat, Tapi Aneh
Tok.
Tok."
"Masuk."
Pintu kembali terbuka. Raka masuk sambil membawa kantong makanan.
"Pak."
Ia meletakkan dua kotak makan beserta dua botol minuman di atas meja.
Ren melirik sekilas. "Dua?"
"Iya, Pak."
"Saya minta satu."
Raka tersenyum polos. "Yang satu buat Mbak Anjani."
"Lalu yang satunya?"
"Buat Bapak."
Ren mengernyit. "Saya tidak pesan."
"Biar Mbak Anjani nggak makan sendirian. Orang biasanya lebih enak makan kalau ada temannya." Raka berkata seolah itu adalah teori ilmiah yang sudah terbukti puluhan tahun.
Tatapan Ren mulai berubah. "Sejak kapan kamu mengatur saya?"
Raka langsung terkekeh kecil. "Saya pamit dulu, Pak."
Belum sempat Ren membalas, Raka sudah buru-buru keluar sambil menutup pintu. Ruangan kembali sunyi.
Anjani menatap dua kotak makanan itu. Lalu...
Grrrrk...
Perutnya kembali berbunyi. Kali ini lebih lirih, namun tetap terdengar.
Anjani langsung memegang perutnya sambil tertunduk. "Ya Allah..."
Hari ini harga dirinya benar-benar habis.
Ren meliriknya sekilas. "Lanjut."
Anjani mendongak. "Hm?"
"Perutmu. Kalau masih mau pidato, silakan."
Anjani langsung mendelik. "Itu bukan pidato."
"Hampir."
"Itu protes."
Ren mengangguk tipis. "Lalu selesaikan protesnya."
Anjani menghela napas pasrah. Ia akhirnya mengambil salah satu kotak makanan.
"Terima kasih."
"Nanti pingsan, saya yang repot." Ucapannya tetap terdengar pedas, tapi entah kenapa malam ini tidak terlalu menusuk.
"Iya... Bos."
Anjani akhirnya berdiri. Melihat itu Ren mengangkat sebelah alis.
"Mau ke mana?"
"Sofa."
"Kenapa?"
"Kalau makan di depan meja kerja Bapak rasanya seperti lagi sidang."
Ren tidak membalas. Anjani pun berjalan menuju sofa di sudut ruangan. Ia duduk pelan, membuka kotak makanannya, lalu menoleh.
"Pak Ren juga makan."
Ren tetap duduk di kursinya. "Saya nanti."
"Nggak."
Ren menatapnya. "Saya jadi nggak enak kalau makan sendiri. Temenin sebentar."
Sunyi beberapa detik, lalu sesuatu yang sama sekali tidak diduga Anjani terjadi. Ren mengambil kotak makanannya, bangkit dari kursinya, berjalan ke arah sofa, dan duduk tepat di sebelah Anjani.
Anjani sampai berkedip dua kali. Serius? Bukannya makan di meja kerja? Kenapa malah di sini?
Dalam bayangannya, Ren pasti akan tetap makan di meja kerjanya yang besar dan mewah. Ternyata tidak. Pria itu justru memilih duduk di sofa bersamanya.
Ren membuka kotak makannya seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara Anjani masih sedikit melongo.
"Apa?" tanya Ren tanpa menoleh.
Anjani menggeleng cepat. "Nggak."
"Kalau mau bicara, bicara."
"Saya kira Pak Ren makannya di meja."
"Meja penuh berkas."
Alasan. Padahal batinnya berkata, tadi katanya suruh nemenin?
"Oh..."
"Hm."
Anjani langsung membuka kotak makannya agar tidak terlihat salah tingkah. Suasana menjadi jauh lebih tenang. Yang terdengar hanya suara sendok. Sesekali bunyi pendingin ruangan. Dan keheningan yang justru terasa nyaman.
Anjani makan dengan lahap sampai akhirnya tanpa sadar ia tersenyum kecil.
Ren melirik. "Apa?"
Anjani menggeleng. "Nggak apa-apa."
"Lalu kenapa senyum?"
Anjani menunduk melihat makanannya. "Udah lama..." Kalimatnya terjeda sebentar. "Udah lama saya nggak makan ditemani orang."
Sendok yang dipegang Ren berhenti sesaat.
"Dulu..." Anjani tersenyum tipis. "Kalau di rumah, sering makan belakangan. Bella makan dulu, Satriya makan dulu. Kadang waktu saya makan, mereka sudah selesai."
Ia tertawa pelan. "Jadi sekarang rasanya aneh aja."
"Aneh?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Saya hampir lupa rasanya. Ternyata makan ditemani itu enak."
Ren tidak menjawab. Ia hanya kembali menyuapkan makanannya. Akan tetapi gerakan tangannya sedikit melambat.
Beberapa saat kemudian, Anjani terlalu semangat makan. Hingga tiba-tiba...
"Huk...!"
Ia tersedak. Batuknya langsung pecah.
Ren refleks mengambil botol air mineral di meja. "Minum."
Botol itu sudah berada di depan Anjani bahkan sebelum wanita itu sempat meminta.
Anjani buru-buru meminumnya. "Huk... makasih..."
Ren memperhatikan wanita itu minum, lalu dengan wajah datar berkata,
"Pelan."
Anjani mengangguk.
Ren melanjutkan. "Saya memang tampan."
Anjani masih minum.
"Tapi tidak perlu terburu-buru hanya karena makan satu sofa dengan saya."
"Puft--!!"
Air di dalam mulut Anjani langsung tersembur. Semuanya mendarat sempurna di wajah Ren.
Anjani seketika membeku. Botol air masih di tangannya. Matanya membulat sempurna.
"Ya Allah..." Ia langsung panik. "Maaf! Maaf! Maaf!"
Ren masih diam. Mata terpejam, bibir menipis. Air menetes pelan dari pipinya. Anjani buru-buru mengambil tisu. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat, kemudian mengusap wajah Ren dengan kedua tangannya.
"Astaga... maaf... saya nggak sengaja..."
Gerakannya begitu hati-hati, begitu alami, mengusap pelipis, pipi, lalu sudut rahang.
Ren seharusnya sangat marah. Kalau ini orang lain, mungkin sudah keluar dari ruangan dengan surat pemecatan. Namun anehnya, Ren sama sekali tidak bergerak. Tubuhnya justru mendadak kaku. Tatapannya perlahan terangkat dan berhenti tepat pada wajah Anjani yang kini sangat dekat.
Waktu seolah melambat. Tangan Anjani yang masih berada di sisi wajah Ren, ikut berhenti. Ia baru menyadari jarak mereka kini hanya beberapa senti. Napas mereka hampir saling bersentuhan.
Matanya tanpa sengaja bertemu mata coklat Ren. Tatapan pria itu terlalu dalam, membuat waktu seperti berhenti beberapa detik. Jari-jari Anjani yang masih memegang tisu perlahan kehilangan gerakan.
Sementara itu, ujung telinga Ren kembali berubah merah. Merah terang seperti tomat matang. Anjani berkedip pelan, lalu tanpa sadar berbisik.
"Pak Ren..."
"Hm."
"Telinga Bapak."
Ren langsung tersadar. Dengan gerakan cepat, ia merebut tisu dari tangan Anjani.
"Saya bisa sendiri." Nada suaranya kembali datar. Namun, wajahnya sudah tidak setenang tadi.
Dan di balik sikap dinginnya, jantung Ren berdetak jauh lebih cepat daripada yang ingin ia akui. Sedangkan Anjani hanya duduk kembali dengan wajah bingung.
Dalam hati ia bertanya-tanya. Kenapa ya... setiap telinga Pak Ren merah, orangnya jadi aneh?
Nyatanya orang yang wajahnya selalu sedingin es itu, justru telinganya yang paling jujur.
Di luar ruangan, Raka yang baru hendak mengetuk pintu berhenti. Ia mendengar suara samar dari dalam, lalu mengurungkan niat masuk.
"Sepertinya... Aku datang di waktu yang tidak tepat."
Pria itu pun berbalik lagi sambil menggeleng pelan. "Kalau masuk sekarang. Kayaknya yang dipecat malah diriku."
*
*
*
Malam mulai larut ketika mobil Ren berhenti di halaman rumah sakit. Lampu-lampu gedung memantulkan cahaya kekuningan di atas kap mobil.
Anjani segera membuka sabuk pengamannya.
"Terima kasih sudah mengantar, Pak."
Ren hanya mengangguk tipis. "Kamu sudah mengucapkan tujuh kali. Aku bosan mendengarnya."
Anjani mendengus pelan. "Mulut Pak Ren memang tidak bisa lembut sehari saja?"
"Bisa."
"Lalu?"
"Saya sedang tidak ingin."
"Ya...senyamannya aja deh."
Ren tampak melirik sekilas arlojinya, lalu berkata. "Ayo."
Anjani sempat menoleh. "Bapak juga ikut?"
"Sae ada di sini."
"Hah?"
Ren membuka pintu mobil. "Tadi dia kirim pesan."
Anjani ikut turun. "Katanya Bella sudah dipindahkan ke ruang rawat."
Wanita itu langsung mempercepat langkah. Dadanya kembali dipenuhi rasa bersalah.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar perawatan perlahan terbuka. Anjani langsung melihat Maria sedang duduk di sofa kecil sambil memainkan ponselnya. Bella sedang terbaring di ranjang pasien.
Di samping ranjang, Sae masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Tasnya bahkan masih tersampir di bahu kursi. Bocah itu sedang membaca buku dengan wajah datar seperti biasa. Begitu mendengar pintu terbuka, ia mengangkat kepala.
"Tante."
Anjani langsung terdiam. Tatapannya berpindah dari seragam sekolah Sae ke buku, lalu ke wajah anak itu.
Dadanya mendadak terasa sesak. "Kamu..."
Sae menutup bukunya. "Hm?"
"Kok masih pakai seragam?"
"Belum sempat ganti."
"Belum pulang?"
"Belum."
Anjani menggigit pelan bibirnya. "Maaf ya..."
Sae menutup bukunya. "Tidak apa."
"Kamu harusnya pulang."
"Aku tahu."
"Kamu juga harus istirahat."
"Iya."
"Lalu kenapa masih di sini?"
Sae menjawab tanpa ragu. "Supaya Tante Anjani tidak kepikiran Bella."
Dada Anjani seketika menghangat. Anak itu mengucapkannya seolah hal itu sangat biasa. Padahal ia rela menunggu berjam-jam hanya agar dirinya tenang.
Anjani spontan mengusap pelan kepala Sae. "Terima kasih."
Sae tetap memasang wajah datarnya. "Sama-sama."
Maria langsung memegangi dada. "Ya ampun..."
"Apa?" tanya Anjani.
"Bocah ini kalau ngomong baik tuh bahaya."
Sae menoleh. "Kenapa?"
"Karena bikin orang pengin nyulik."
"Aku tidak boleh ikut orang asing."
Maria langsung melongo. "Lho, aku orang asing?"
"Iya."
Maria menunjuk dirinya sendiri. "Aku kan bibimu?!"
"Tetap. Papa bilang jangan ikut siapa pun."
Maria mendelik. "Tapi kamu tadi ikut aku."
"Papa bilang kalau darurat bisa dipertimbangkan."
"Astaga..." Maria ganti menoleh ke Ren. "Kamu ngajarin anakmu terlalu serius."
Ren santai. "Efektif."
Di atas ranjang, Bella yang sejak tadi cemberut akhirnya bersuara. "Mama..."
Anjani segera mendekat. "Iya, Sayang, gimana sekarang?"
Bella langsung memeluk lengan Anjani. "Udah nggak terlalu pusing."
"Syukurlah."
"Tapi..." Bella melirik ke arah Sae. "Aku nggak suka sama dia." Ia mulai mengadu. Jari mungilnya menunjuk lurus ke arah Sae.
Sae menatap Bella. "Aku?"
Bella mengangguk keras. "Iya!"
"Kenapa?"
Bella langsung mengerucutkan bibirnya. "Kamu jutek."
"Aku tidak."
"Jutek!"
"Aku sedang diam."
"Itu namanya jutek."
"Beda."
"Mukamu juga datar, kayak tembok."
"Ini wajah, bukan tembok."
Bella mendengus. "Sama aja."
"Tidak."
"Kalau aku cerita...kamu jawabnya pendek terus."
"Hm."
"Nah tuh!"
Bella menunjuk Sae lagi. Kali ini lebih tegas. "Itu lagi!"
Sae berkedip. "Kamu belum selesai cerita?"
Bella terdiam, lalu melanjutkan. "Terus aku bilang haus."
"Aku kasih minum."
"Iya."
"Terus aku bilang bosan."
"Aku pinjemin buku."
"Iya."
"Terus?"
Bella langsung mengembuskan napas, kemudian mendongak melihat Anjani.
"Mama..."
"Iya sayang?"
"Suruh dia senyum."
Sae menjawab lebih dulu. "Tidak mau."
"Nah kan!" Bella menunjuk lagi. "Dia galak!"
"Aku tidak galak."
"Terus kenapa mukanya kayak mau marah terus?"
"Ini muka bawaan Papa, nurun ke aku."
Ren yang sedari tadi diam tiba-tiba memalingkan wajah ketika Anjani melirik ke arahnya. Sementara Maria langsung membalik badan. Bahunya bergetar menahan tawa.
Anjani mengusap dahinya. "Sae..."
"Hm?"
"Coba senyum sekali."
Sae akhirnya menurut. Namun, senyum kakunya hanya terangkat sedetik, lalu hilang.
Bella melongo. "Itu senyum?"
"Iya."
"Itu cuma bibirnya geser."
Maria langsung tertawa sampai memegangi perut. "Ya ampun....Sae!" Kasihan Bella!"
Anjani sampai mengusap wajahnya sendiri. Entah harus membela siapa.
Sae tetap tenang. "Kalau mau yang lebih lebar..."
Bella langsung berbinar. "Iya!"
"Ada syaratnya."
"Apa?"
"Tante Anjani ikut aku. Aku bisa berlatih dengannya."
Jyah! Modus!
Bella langsung mendengus kesal. "Kamu nyebelin!"
"Aku tahu."
"Kamu nggak marah?"
"Tidak."
Bella mendelik. "Kok nggak marah sih?"
"Aku capek."
Bella langsung kehilangan bahan untuk bertengkar. Anjani sampai menggeleng pelan. Dua anak ini cara bertengkarnya saja aneh.
Maria masih terkekeh. "Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang akan menang."
Ren tiba-tiba menyela. "Semua menang."
Semua menoleh ke arah Ren.
"Yang satu menang berisiknya dan yang satu menang bikin orang kesal," lanjut Ren datar, tapi sukses membuat Anjani tersenyum, dan Maria semakin terbahak.
Waktu bergulir lembut. Suasana kamar berubah hangat meski beberapa kali Bella masih protes karena muka datar Sae.
Di dekat pintu, Ren sejak tadi hanya berdiri bersandar di dinding. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya diam-diam mengikuti setiap gerakan Anjani. Saat wanita itu, tersenyum, mengusap kepala Sae, membelai rambut Bella.
Ada sesuatu yang perlahan memenuhi dadanya. Hangat tapi aneh. Benar-benar sulit dijelaskan. Dan semakin ia berusaha mengabaikannya, justru semakin jelas terasa.
Bahkan bayangan kejadian di ruang kerjanya tadi kembali muncul. Tangan Anjani yang mengusap wajahnya. Jarak mereka yang begitu dekat. Tatapan mata yang sempat saling bertaut. Napas yang hampir saling bersentuhan.
Ren langsung mengembuskan napas pelan. Apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya? Kenapa bayangan itu terus muncul padahal ia sudah berusaha membuangnya sejak tadi?
"Ren." Suara Maria tiba-tiba memecah lamunannya.
"Hm."
"Kamu dari tadi ngelihatin Anjani terus. Nggak capek?" ucap Maria pelan yang cukup di dengar Ren saja.
Pria itu menjawab datar. "Aku melihat pasien."
Maria mendengus. "Oh ya?"
"Iya."
"Pasiennya siapa?"
"Yang lagi kamu lihat atau yang lagi sakit?"
Ren terdiam sepersekian detik dan itu membuat Maria langsung menyeringai jahil.
"Tuh kan. Telingamu merah lagi."
Refleks Ren menyentuh telinganya sendiri. Maria tertawa puas.
"Kena."
Ren baru sadar, ia sedang dikerjai.
Sementara di sisi lain, Anjani menoleh penuh tanya. "Pak Ren?"
Ren langsung berdeham pelan. "Lanjutkan."
"Apanya?"
"Bicaranya."
Anjani mengernyit. "Aneh."
Maria langsung menggigit bibir menahan tawa. Dalam hati ia bergumam. "Cepat atau lambat... manusia bermuka datar itu bakal kalah juga sama perasaannya sendiri."
Bersambung~~
tep kotep cellot.
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...