Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dengan nafas yang memburu ia mencoba terus berlari mencari jalan keluar, namun sekuat apapun ia berlari tetap tidak ada jalan keluar.
“Anjing …. Ini sebenarnya gua dimana sih? … Sialan banget” maki nya dengan marah ia menendang bebatuan kecil di aspal.
“Gua harus keluar” dengan badan yang mulai lemas Alfin terus berlari mencoba mencari jalan keluar. Dan lagi lagi Alfin berada di tempat yang sama tengah hutan.
Namun secara mengejutkan hembusan dingin menerpa telinga nya, dan samar samar ia mendengarkan bisikan halus.
“Pergi!! … Pergi!!! …. Kamu sudah merusak makanan kami!!”
Mendengar bisikan itu Alfin langsung terbangun dari tidurnya, dengan keringat dingin yang sudah mengucur deras di pelipis nya.
“Akhirnya kamu sudah sadar juga Alfin” ujar pak yahman berucap syukur diikuti dengan yang lainnya.
Melihat itu Alfin yang masih kaget karena mimpi nya jadi kebingungan dan bertanya-tanya.
“Loh, pak emang nya saya kenapa?” Tanya Alfin dengan ekspresi cemas menatap ekspresi orang disekitarnya yang begitu khawatir.
“Kamu tadi tidur sambil teriak teriak gitu, dan anehnya pas dibangunin kamu gak bangun bangun” jawab pak Yanto
Alfin terdiam sejenak mendengar jawaban yang disampaikan pak Yanto. ‘jangan jangan itu karena mimpi yang gua alami tadi’
Alfin merasa ada hawa dingin yang menusuk tulang belakang nya, namun saat melihat guru dan teman teman nya nampak seperti tidak merasakan apa yang Alfin rasakan.
“Mungkin itu … saya ketindihan kali pak. Iya gak Bagas? … Kan lu cukup tau hal kayak gini” ujar Alfin sedikit terbata bata
Bagas mengangguk setuju. “Bisa jadi pak, mungil Alfin memang ketindihan. Tapi kok bisa lama begitu yah?”
“Nah itu dia. Biasanya ketindihan itu paling 5 menit, lah kamu dari jam 5 pagi sampai sekarang jam 7 pagi” ujar pak Yanto merasa kejadian itu ada yang aneh.
“Iya tuh pak, ketindihan gak mungkin kayak gitu. Emang nya kamu mimpi apa sampai bisa ketindihan lama banget?” Tanya tia dengan ekspresi serius melihat tingkah Alfin.
“Itu … cuma mimpi tersesat di hutan dekat pasar lebuk” jawab Alfin.
“Coba bapak tanya, kamu ada bikin salah gak pas kita masih di pasar?” Tanya pak yahman dengan serius.
Melihat itu Alfin mulai kelihatan panik, ia seperti sadar akan kesalahannya namun tidak berani jujur. “Aku enggak bikin salah pak”
Pak yahman, pak Yanto dan pak Rusdi saling menatap satu sama lain seolah tau kalau jawaban yang diberikan Alfin itu bohong.
“Yasudah, Alfin istirahat saja yah. Yang lain bisa lanjutkan lagi kegiatan kita hari nya ini” ujar Bu Windy menuntun para murid cewek keluar dari villa.
Karena hari ini mereka akan melakukan kegiatan cek kesehatan gratis di depan villa, dan semua warga bisa datang kapan saja.
Sedangkan sebagian murid laki-laki menyebarkan selebaran untuk ikut cem kesehatan gratis ke para warga sekitar.
Selang beberapa menit kemudian satu persatu satu warga datang ke camp kesehatan yang mereka dirikan tepat di depan villa.
Dan semakin lama semakin banyak warga yang antri untuk mengecek kesehatan mereka, sekalian di kasih vitamin.
“Usul Bu Yanti, benar bikin kampung hangat yah” bisik Cantika ia cukup kelelahan menyambut para warga yang datang.
“Iya, kalo kayak gini kegiatan kita selanjutnya jadi aman dan nyaman” sahut ayu merasa senang melihat para warga merasa terbantu dengan kegiatan amal bakti yang mereka lakukan.
Di saat semuanya sibuk menyambut para warga, Alfin yang masih terbaring lemas di ruang tamu yang cukup empuk dan luas.
“Mimpi tadi benar benar bikin gua jadi sakit, gua gak percaya masa cuma karena makan jeruk sesajen aja sampe begini”
Gerutu Alfin masih keras kepala dan tetap tidak mau mengakui kesalahan fatal yang telah ia lakukan.
“Duh, kebelet buang air kecil lagi” dengan badan lemas, Alfin tertatih tatih jalan menuju kamar mandi dekat dapur.
Selesai buang air kecil Alfin berjalan perlahan kembali ke sofa, tapi aneh nya ia tidak mendengarkan keramaian diluar villa.
“Lah, udah pada selesai nih kegiatan nya? Tapi kok pada gak masuk kedalam? … Apa mereka langsung keliling rumah warga?”
Beribu-ribu pertanyaan langsung bermunculan dibenak nya Alfin.
“Tapi kan ….. tunggu” belum sempat Alfin melangkah lebih jauh, tubuh nya mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan walaupun tubuh nya terasa sangat lemas.
“Apaan ini? Tolong gua woy” sekeras apapun Alfin berteriak tidak ada suara yang keluar dari mulut nya.
Perlahan Alfin mendengar suara langkah kaki berat yang berjalan tepat dibelakang nya.
Dan saat benda tajam menggores tepat di bahu nya, barulah Alfin bisa berteriak. “Aaaaa tolong” teriak nya dengan histeris.
Sampai semua orang diluar langsung masuk dan melihat Alfin lagi berjongkok dekat tangga.
“Astaghfirullah, Alfin ada apa?” Pak Rusdi dan yang lain langsung menghampiri Alfin.
Melihat itu pak Yanto dan pak Rusdi dengan cepat mengangkat Alfin dan mendudukkan nya di sofa.
“Kenapa lu pucet amat?” Tanya bunga keheranan melihat tingkah Alfin.
“Iya kenapa kamu teriak kayak tadi? … Kita semua sampai kaget tau, takut kamu kenapa Napa” Tutur Bu Windy dengan ekspresi begitu cemas.
Alfin yang mendengar itu hanya diam mata nya bergetar seolah seperti habis melihat hal yang begitu mengerikan.
Melihat Alfin tidak mengatakan apapun, semua orang jadi semakin bingung dan heran dengan sikap Alfin yang mendadak aneh.
Namun bunga mulai menyadari ada yang janggal, ada luka gores di bahu kirinya Alfin.
‘lah, kan semua orang diluar? Tapi kok itu kayak bukan luka dari pisau … lebih kayak kuku gak sih’
Semakin bunga amati semakin jelas dan benar itu bekas cakaran kuku manusia. Manusia apa yang kuku yang setejam itu.
‘gak benar, ini ulah setan atau makhluk lain nya’ disini bunga udah sedikit mulai percaya dengan hal seperti itu. Namun tetap secara logis untuk nya.