Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 (Di Ambang Penyesalan)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Arsen tidak memiliki pilihan lain. Rasa panik yang menggedor dadanya memaksa pria itu memutar balik kemudi dengan tajam, mengabaikan klakson protes dari pengendara lain di belakangnya. Persetan dengan Kael. Saat ini, keselamatan darah dagingnya jauh lebih mendesak.
Ia menginjak pedal gas sedalam-dalamnya, melompati beberapa lampu kuning hingga akhirnya tiba di basemen apartemen Vivian. Arsen keluar dari mobil tanpa sempat mengunci pintunya dengan benar. Ia berlari kencang menuju lift, menekan tombol angka dengan jemari yang gemetar hebat. Setiap detik yang berjalan terasa seperti siksaan baginya.
Bip. Klik.
Begitu pintu unit apartemen terbuka, pemandangan di dalam ruang tengah seketika membuat napas Arsen tercekat di tenggorokan. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Vivian!" teriak Arsen histeris.
Vivian sudah tergeletak tidak berdaya di atas lantai dingin, tepat di samping meja makan. Wajah wanita itu pias seputih kertas, kedua matanya terpejam rapat, dan ia telah kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
Arsen langsung menghambur berlutut di lantai, mengangkat kepala Vivian ke atas pangkuannya. Telapak tangannya terasa dingin saat menyentuh kulit Vivian. Kepanikan Arsen kian memuncak saat melihat gurat kesakitan yang masih tersisa di wajah pucat wanita itu, seolah-olah ia sempat berjuang keras menahan nyeri yang amat sangat sebelum akhirnya pingsan.
"Vi! Bangun, Vi! Aku di sini!" Arsen menepuk-nepuk pipi Vivian dengan cemas, namun tidak ada reaksi sedikit pun.
Tanpa membuang waktu lagi untuk mengemas barang, Arsen menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Vivian, lalu mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya. Dengan nafas yang memburu dan tenaga yang tersisa, Arsen membawa Vivian setengah berlari keluar dari apartemen, bergegas menuju mobil untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Pikirannya benar-benar kacau, berharap dokter bisa menyelamatkan Vivian dan juga janin yang tengah dipertaruhkannya di dalam sana.
…
Derit roda brankar yang didorong pasrah oleh para perawat menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Arsen terus menggenggam tangan dingin Vivian yang terkulai lemas, ikut berlari di samping brankar hingga langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang instalasi gawat darurat (IGD).
"Maaf, Bapak harus tunggu di luar. Kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu," ucap seorang perawat dengan tegas namun sopan, sebelum akhirnya menutup pintu rapat-rapat.
Arsen terpaksa mundur beberapa langkah. Ia bersandar pada dinding lorong rumah sakit yang dingin, lalu perlahan merosot dan duduk di kursi tunggu dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Napasnya masih memburu. Aroma khas rumah sakit yang menyengat seolah kian memperkeruh isi kepalanya yang sudah telanjur kusut.
Hampir satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam, hingga akhirnya pintu IGD kembali terbuka. Seorang dokter dengan jas putihnya melangkah keluar, membuat Arsen seketika bangkit berdiri menyongsong sang dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Vivian? Bagaimana dengan kandungannya?" tanya Arsen bertubi-tubi dengan raut wajah penuh kecemasan.
Dokter tersebut tersenyum tipis, mencoba menenangkan pria di hadapannya. "Bapak tenang saja. Untungnya pasien tidak apa-apa. Janin di dalam kandungannya juga dalam kondisi yang aman dan kuat."
Mendengar kalimat itu, Arsen mengembuskan napas legal yang teramat panjang. Beban berat yang sejak tadi menggelayuti dadanya mendadak runtuh.
"Lalu, kenapa dia bisa sampai kesakitan dan pingsan seperti itu, Dok?" tanya Arsen lagi, memastikan.
"Pasien mengalami kram perut yang cukup hebat akibat stres berat dan kelelahan fisik. Untungnya, tidak terjadi pendarahan atau gejala keguguran. Namun, saya sangat menyarankan agar pasien tidak banyak pikiran dan harus beristirahat total untuk beberapa hari ke depan. Kondisi psikologis ibu hamil sangat memengaruhi janinnya," jelas dokter panjang lebar.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak," sahut Arsen tulus.
Setelah dokter berpamitan, Arsen melangkah masuk ke dalam ruang rawat tempat Vivian dipindahkan. Melihat wajah Vivian yang perlahan mulai kembali berwarna walau masih lemas, Arsen terduduk di samping ranjangnya. Rasa lega memang telah ia dapatkan, namun di sudut hatinya yang lain, bayangan Elvara yang pergi membawa koper kembali muncul, mengingatkannya bahwa badai di hidupnya barulah dimulai.
Arsen melangkah mendekati ranjang setelah para perawat selesai merapikan peralatan medis. Kelopak mata Vivian perlahan bergerak, lalu terbuka sepenuhnya. Begitu mendapati sosok Arsen yang duduk di sisi ranjangnya, setitik air mata langsung meluncur membasahi pipi pucat wanita itu.
"Arsen..." lirih Vivian, suaranya terdengar begitu serak.
"Iya, Vi. Aku di sini. Kamu jangan banyak gerak dulu, ya," ucap Arsen lembut, meraih jemari Vivian dan menggenggamnya erat.
Namun, bukannya menuruti ucapan Arsen, Vivian justru mencengkeram balik tangan pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pandangan matanya memancarkan keputusasaan yang teramat sangat.
"Sen, aku mohon..." isak Vivian, air matanya kian deras. "Tolong ceraikan Elvara... Nikahi aku, Arsen. Aku nggak mau anak kita lahir tanpa status yang jelas. Aku nggak sanggup kalau harus terus bersembunyi seperti ini. Perutku sakit banget karena setiap hari aku cuma bisa memikirkan nasib anak ini..."
Arsen seketika terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Permintaan Vivian laksana hantaman keras yang kembali menyudutkannya ke dalam dilema yang rumit. Di dalam lubuk hatinya, ia masih belum siap untuk benar-benar melepaskan Elvara dan menghancurkan pernikahan sah mereka.
Melihat Arsen yang hanya terdiam membisu, tangis Vivian kian pecah. Napasnya mulai memburu, dan ia kembali memegangi perutnya dengan raut wajah meringis kesakitan.
“Pasien mengalami kram perut yang cukup hebat akibat stres berat... Kondisi psikologis ibu hamil sangat memengaruhi janinnya.”
Kata-kata dokter barusan seketika bergaung kencang di kepala Arsen. Kepanikan kembali merayapi dadanya saat melihat kondisi Vivian yang mulai tidak stabil lagi. Ia tidak boleh egois saat ini; keselamatan calon anaknya sedang dipertaruhkan.
"Iya, Vi... Iya, aku janji," ucap Arsen akhirnya, menyerah pada keadaan. Ia mengusap air mata di pipi Vivian dengan ibu jarinya, mencoba menenangkan wanita itu walau hatinya sendiri terasa sangat berat. "Aku akan urus perceraianku dengan Elvara. Aku akan menikahimu. Jadi, tolong... kamu tenang ya? Jangan stres lagi, demi anak kita."
Mendengar jawaban itu, tangis Vivian perlahan mereda, digantikan oleh embusan napas lega. Sementara Arsen hanya bisa menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ia tahu, dengan menyetujui tuntutan Vivian, ia baru saja menutup rapat jalan pulang menuju Elvara dan resmi memulai babak baru yang penuh dengan konsekuensi besar.
Keheningan yang sempat menegangkan di antara mereka perlahan mencair, digantikan oleh suasana yang lebih tenang. Tepat di saat Vivian mulai menyandarkan tubuhnya dengan lebih rileks, pintu kamar rawat diketuk pelan. Seorang petugas dapur rumah sakit masuk membawa nampan berisi menu makan siang khusus pasien.
"Permisi, Bapak, Ibu. Ini makanan untuk jadwal siang ini. Mohon dihabiskan ya agar kondisi Ibu bisa segera pulih," ujar petugas itu ramah sembari meletakkan nampan di atas meja dorong, lalu berpamitan keluar.
Arsen melirik bubur ayam yang masih mengepulkan asap tipis, buah potong, dan segelas air putih di atas nampan. Ia tahu Vivian masih terlalu lemas untuk bergerak banyak, apalagi memegang sendok sendiri.
"Kamu harus makan, Vi. Dokter bilang kamu butuh banyak energi," ucap Arsen lembut.
Ia menarik meja dorong itu mendekat ke sisi ranjang, lalu membantu Vivian mengubah posisi tidurnya menjadi sedikit lebih tegak dengan mengganjal punggung wanita itu menggunakan bantal ekstra.
Arsen menarik kursi, duduk tepat di samping ranjang, lalu meraih mangkuk bubur tersebut. Dengan penuh ketelatenan, ia mengaduknya perlahan, meniup sendok pertama yang sudah terisi bubur hangat agar tidak terlalu panas saat menyentuh bibir Vivian.
"Ayo, buka mulutmu," ujar Arsen pelan.
Vivian menatap Arsen dengan binar mata yang kini dipenuhi rasa haru dan kemenangan tersirat. Ia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Arsen dengan patuh.
Setiap kali Arsen menyodorkan sendok, tatapan mereka saling bertumpu. Bagi Vivian, perhatian ini adalah bukti bahwa Arsen akhirnya memilih dirinya dan calon anak mereka. Namun bagi Arsen, setiap suapan yang ia berikan terasa seperti sebuah penegasan atas jalan baru yang telah ia pilih—jalan yang semakin menjauhkannya dari Elvara, yang entah sekarang berada di
Bersambung…..