NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Hari demi hari sudah berlalu, keadaan Keano juga sudah membaik. Perkataan Mahesa ternyata serius, yang tersisa di dalam rumah megah dan mewah itu hanya ada Nadira, bi Siti, dan Mahesa.

Mahesa tidak percaya lagi pada pelayan pelayan yang ada di kediaman itu, ia memilih memerintahkan pembersih khusus setiap harinya yang akan bolak balik dan tidak menginap di rumah itu.

Kediaman sangat sepi, Nadira masih mengasuh Keano seperti biasa.

Keano sudah semakin sehat dan besar, tak terasa sudah dua bulan Nadira berada di kediaman itu. Keano juga sudah berumur satu tahun satu bulan.

Nadira sedang mempersiapkan MPASI untuk Keano. Setelah selesai, Nadira membawa nya ke kamar Keano.

Di sana ada bi Siti yang menjaga Keano, bi Siti kemudian langsung pergi setelah kedatangan Nadira. Tak ada yang boleh meninggalkan Keano sendirian sesuai dengan perintah Mahesa. Dan beberapa hari ini juga Mahesa terlihat tidak pernah lagi menghukum Nadira.

Di sisi lain, Mahesa yang sedang sibuk bekerja diam diam menyempatkan waktu untuk memperhatikan Nadira dari jauh. Pada tengah malam saat pria itu pulang kerja ia diam diam mendatangi Nadira dan Keano.

Pagi itu, Mahesa tak bisa bekerja dengan baik, perasaan aneh di dalam hatinya membuatnya gelisah. Mahesa memilih untuk berhenti bekerja dan menutup laptopnya. Mahesa memijit pelipisnya.

Di saat yang bersamaan, Dion datang dan membawa sesuatu di tangannya.

Mahesa menarik nafas panjang, " Ada apa Dion?." Tanyanya.

" Tuan, ada undangan pertemuan bisnis untuk anda. Tapi lokasinya di kapal pesiar dan waktu berlayar selama tiga hari tuan."

Mahesa membaca dokumen surat itu, semuanya normal. Tapi ada satu kalimat yang membuat kening Mahesa mengerut. 'Setiap pebisnis yang datang harus membawa pasangan, tidak ada yang tidak membawa pasangan karena fasilitas sudah kami sediakan.'

Membaca peraturan itu membuat rahang Mahesa mengeras.

" Apa mereka sengaja mengejekku karena aku sudah tidak memiliki Nayla?." geram Mahesa.

Dion menunduk, " Tidak tuan, mereka tidak mengejek anda. Di kapal itu memang tersedia fasilitas untuk pasangan. Pertemuan bisnis ini sangat penting, anda harus datang tuan. Anda bisa menyewa seorang wanita sebagai pasangan jika perlu." ujar Dion memberi solusi.

Suasana hati Mahesa sedang tidak baik, ia bingung dan kesal dengan peraturan aneh pada pertemuan bisnis kali ini. Tapi Mahesa melupakan sesuatu, pertemuan bisnis seperti itu memang sudah berlangsung beberapa tahun. Mahesa seolah lupa jika pertemuan itu memang di wajibkan membawa pasangan. Selama ini ia selalu mengajak Nayla, tapi sekarang Nayla sudah tiada, tak ada lagi yang bisa menemaninya.

" Pergilah Dion, aku akan memikirkannya kembali."

Dion meninggalkan ruangan, kini tinggal Mahesa sendiri di dalam ruangan itu.

Mahesa berdiri, ia menatap ke luar jendela.

Kebingungan melanda hatinya, pertemuan bisnis itu sangat penting, tapi peraturannya membuat kepala Mahesa pusing.

Mahesa berpikir cukup keras, Mahesa memilih untuk meminta Dion menyewa seorang wanita untuk menemaninya ke pertemuan bisnis itu.

Setelah selesai mengirim pesan, Mahesa melempar ponselnya di atas sofa.

Tak terasa siang sudah berganti malam, Mahesa memeriksa ponselnya yang tak berpindah dari tempat sebelumnya. Pesan Dion muncul di layar ponsel, 'Tuan, seorang model akan menemani anda ke pertemuan bisnis minggu depan.'

Mahesa tak membalas pesan itu, ia hanya membacanya. Mahesa memutuskan untuk langsung pulang karena waktu sudah malam.

Dalam perjalanan pulang ia masih memikirkan Nadira, beberapa hari setelah kejadian yang menimpa Keano, Nadira semakin hati hati menjaga Keano. Nadira juga terlihat sangat tulus menjaga Keano hingga keadaan Keano membaik dengan cepat. Itulah sebabnya Mahesa diam diam selalu memperhatikan Nadira meskipun tidak menampakkan diri.

Tak berselang lama, Mahesa tiba di kediaman. Namun terlihat mobil Arya yang terparkir di halaman rumah.

Mahesa keluar dari mobilnya, ia masuk dan melihat Arya sedang memangku Keano di ruang tamu.

" Sejak kapan kamu datang Arya?." tanya Mahesa yang langsung duduk di ruang tamu.

" Sejak tadi sore kak. Aku juga makan malam di sini. Nadira memasak makanan yang sangat enak." ucap Arya dengan ekspresi senang. Arya memang sudah tidak membenci Nadira semenjak kejadian di rumah sakit kemarin. Arya tahu jika Nadira adalah orang yang berhati baik.

Mendengar ucapan Arya membuat Mahesa yang semula duduk bersandar menegakkan tubuhnya.

" Oh iya kak, Arya akan tinggal di sini selama dua Minggu. Arya ada urusan di sekitar sini jadi Arya akan tinggal di sini ya." pinta Arya sambil bermain main dengan Keano

Mahesa terlihat tidak senang mendengarnya. Apalagi melihat tingkah Arya yang seperti itu membuat hatinya khawatir.

" Aku tidak akan berada di rumah ini Minggu depan, sebaiknya kamu cari penginapan lain untuk acaramu itu!." tegas Mahesa yang tidak ingin Arya tinggal di rumah nya.

Arya menatap Mahesa dengan malas. " Kak, kenapa sekarang kakak sangat pelit padaku? Padahal sebelumnya aku bebas bisa tinggal kapan saja di rumah kakak." protes Arya.

Mahesa mengusap wajahnya kasar. " Baiklah, silahkan tinggal terserah kamu!." Mahesa menyerah pada adik laki lakinya itu.

Mahesa berdiri, kemudian ia membawa Keano ke lantai atas. Sesekali Mahesa mencium pipi putranya yang semakin gembul.

Arya ditinggal begitu saja di ruang tamu, pria itu tersenyum penuh kemenangan.

" Akhirnya aku bisa tinggal di sini." senyum puas terukir di bibir Arya.

***

Beberapa hari telah berlalu, Arya sudah tinggal di rumah Mahesa. Tapi lama kelamaan Mahesa mulai tidak tenang. Setiap hari Arya selalu meminta Nadira untuk memasak makanan untuknya. Nadira juga tidak menolak dan malah bersedia memasak untuk Arya. Mahesa sangat frustasi.

Malam itu seperti biasa Mahesa akan melihat diam diam ke dalam kamar Keano. Tapi sebelum naik ke lantai atas, ia tak sengaja melihat Arya menatap ke arah Nadira yang sedang memasak di dapur. Arya seolah sedang menunggu istrinya memasak makanan untuknya.

Dengan tangan mengepal, Mahesa naik ke lantai dua. Ia memasuki kamarnya dan membuang tas kerjanya di atas ranjang.

" Akhhh,". Teriak kecil Mahesa frustasi. Ia kemudian menyentuh perutnya. " Aku...juga lapar..." gumamnya.

Mahesa sengaja tidak makan di luar karena berharap Nadira akan memasak makanan untuknya juga, tapi ternyata selama beberapa hari ini Nadira tak pernah memasak apapun untuknya. Makanan yang dimasak Nadira untuk Arya tak tersisa sedikitpun. Semuanya habis dimakan Arya.

Entah mengapa perasaan berharap itu muncul secara tiba tiba dalam hati Mahesa, kegelisahan dan kekhawatiran kembali merasuki dadanya.

Malam itu, Mahesa akhirnya tidur dalam keadaan perut lapar seperti biasanya.

***

Pagi hari tiba, pemandangan pertama kali yang Mahesa lihat adalah Nadira yang sedang menyajikan makanan di atas meja makan.

Mahesa sudah tidak tahan. Mahesa mendekat dengan muka bantalnya. " Untuk siapa makanan ini Nadira?." tanyanya penasaran.

Nadira menghentikan aktivitasnya, ia kemudian menatap ke arah Mahesa dengan perasaan campur aduk. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat sosok Mahesa, tapi pagi ini pria itu datang menghampirinya.

" Tuan Arya meminta untuk dibuatkan sarapan. Para pelayan yang bertugas juga belum datang, jadi saya yang membu..."

Ucapan Nadira terhenti saat tiba tiba saja Mahesa menarik pergelangan tangannya. " Jangan lakukan ini lagi, tugasmu hanya merawat Keano. Biarkan bi Siti yang menyiapkan sarapan untuk Arya, bahkan jika Arya menyuruhmu melakukan yang lain jangan lakukan! Paham!." suara berat Mahesa terdengar penuh ancaman.

Nadira tidak mengerti dengan sikap Mahesa, padahal Nadira hanyalah pelayan dan pengasuh di rumah itu tapi kenapa ia tidak boleh memasak.

" Tapi tuan..."

" Nadira!." suara Mahesa terdengar berat dan tatapannya begitu tajam.

Nadira terdiam, ia tak berani lagi mengeluarkan suara.

Di saat yang bersamaan, Arya datang dan langsung menghampiri keduanya.

" Ada apa ini ribut ribut?." tanya nya dengan polos. Tapi Arya langsung terdiam saat melihat tatapan tajam dari Mahesa.

" Nadira! Ke atas sekarang dan urus Keano. Katakan pada bi Siti untuk menyiapkan sarapan!." perintah Mahesa pada Nadira.

Nadira tak punya pilihan, ia melepaskan apron yang melekat di tubuhnya dan meninggalkan area dapur.

Arya terheran heran di tempatnya.

" Mulai hari ini, jangan menyuruh Nadira memasak apapun lagi. Dia hanya fokus menjaga Keano, tugasnya mengurus Keano bukan memasak. Kalau mau makan buat sendiri, kalau tidak suruh bi Siti yang buatkan!." tegas Mahesa pada Arya.

Arya mematung, " Kak, apa kakak cemburu melihat Nadira memasak untukku?." tanya nya dengan santai.

Mahesa memasukkan tangannya ke dalam saku celana, " Cemburu? Aku cemburu? Tidak mungkin! Aku hanya mengatakan kalau tugas Nadira bukan memasak, tapi mengurus Keano dengan baik!."

Mahesa meninggalkan dapur dengan ekspresi kesal.

Sementara itu Arya tersenyum tipis setelah kepergian Mahesa.

" Terus saja berbohong kak, aku tahu kamu cemburu kan. Aku tidak akan menyerah lihat saja!." gumam Arya.

***

Satu Minggu telah berlalu, Mahesa terlihat lebih tenang sekarang karena Nadira tidak memasak lagi untuk Arya. Tapi ada kegelisahan lain dalam hatinya yang tidak ia mengerti saat Arya masih tinggal di rumahnya.

Di saat yang bersamaan, Dion datang dan mengingatkan Mahesa untuk pertemuan bisnis besok.

Mahesa mengangguk pelan, ia meminta wanita model yang ia sewa untuk datang hari ini menemuinya.

Beberapa jam kemudian, sang model dengan tubuh indah dan cantik datang.

Mahesa menatap wanita itu dari atas sampai bawah.

" Tuan, saya sangat beruntung bisa menemani anda ke pertemuan bisnis sebagai pasangan anda. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi." ujar Inez, seorang model cantik yang sedang naik daun.

Mahesa menautkan jarinya dan menatap ke arah Inez.

" Aku suka style mu. Begitu elegan dan cantik." Puji Mahesa.

Mendengar pujian dari Mahesa, Inez hampir terkulai lemas ke lantai. " Terimakasih tuan, saya tidak tahu harus menjawab apa."

Mahesa kemudian berdiri, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

" Besok adalah hari pertemuan bisnis yang sangat penting, aku ingin kamu mendandani seorang wanita dan memberikan beberapa pilihan pakaian untuk dia pakai pada pertemuan itu!."

Senyuman lebar yang semula terukir di wajah Inez seketika memudar. Inez tidak mengerti dengan ucapan Mahesa, bukankah dia yang akan pergi ke pertemuan bisnis besok bersama Mahesa? Tapi kenapa Mahesa malah memintanya untuk mendandani orang lain dan bahkan memilihkan beberapa baju untuknya.

" Tuan Mahesa, saya tidak mengerti dengan ucapan anda." ujar Inez mempertanyakan apa yang ada di benaknya.

" Aku mengundangmu kemari untuk memintamu mendandani seorang wanita yang akan pergi bersamaku. Dia wanita yang sederhana, dan aku ingin kamu menjadikannya wanita yang elegan dan terlihat pantas berdampingan denganku besok!."

Inez membulatkan mata tak percaya. " Apa? Bukankah aku yang akan pergi denganmu tuan Mahesa? Kenapa sekarang jadi begini?."

Mahesa menatap Inez dengan tajam. " Jika tidak mau katakan saja!."

Inez begitu kecewa dengan kejadian hari ini, harapannya benar benar pupus untuk mendampingi Mahesa. Tapi ia tak mungkin menolak karena itu adalah permintaan Mahesa Adiprana, pria yang juga berpengaruh dalam dunia pekerjaannya.

" Ba..baik tuan, saya akan membantu mendandani wanita itu." ujar Inez menyerah.

" Baik, sebentar lagi aku akan menyuruh orang seseorang untuk mengantarnya ke tempatmu!." ucap Mahesa.

Inez mengangguk pelan, akhirnya ia meninggalkan ruangan itu dengan hati berkecamuk.

Sementara itu di sisi lain, Mahesa mendapatkan ide setelah kegelisahan yang cukup lama menghantuinya. Mahesa tidak bisa meninggalkan Nadira sendirian di rumah bersama Arya. Apalagi Arya selalu saja mengambil kesempatan untuk bisa berduaan dengan Nadira.

Mahesa memutuskan untuk mengajak Nadira bersamanya ke pertemuan bisnis besok.

1
Haura Az Zahra
👍
Emi Sudiarni
ad yg jatuh cinta ni..
Quin: hehehe iya ni lagi cemburu2 gemas 🤭
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjut kak
Quin: mohon maaf ya teman teman untuk beberapa hari ini saya tidak bisa upload dulu karena sedang ada urusan penting 🙏 mohon dimaklumi ya teman teman, 🩷🩷🩷 saya berjanji akan kembali melanjutkan ceritanya 🥰🥰 love you all 🩷
total 1 replies
Emi Sudiarni
kren kak, di tungu kelanjutannya
Emi Sudiarni
lanjut kak...
Quin: ciapp👍🤭
total 1 replies
Emi Sudiarni
entar lo jatuh cinta ama nadira.
Emi Sudiarni
kamu tu mahesa yg peluk anindira🤣🤣
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!