Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Sinar matahari pagi menembus jendela besar restoran hotel, memantul di atas peralatan makan perak yang tertata rapi. Aroma kopi segar dan roti panggang memenuhi ruangan. Pagi itu, keluarga besar Adiputra sudah berkumpul untuk sarapan bersama sebelum masing-masing kembali ke rutinitas.
Di ujung lorong restoran, pasangan pengantin baru itu muncul. Arunika tampak segar dengan dress selutut berwarna lilac, sementara Thomas terlihat santai namun tetap berwibawa dengan kemeja polo berwarna gelap. Arunika berjalan sambil merangkul lengan kokoh Thomas dengan erat—sebagian karena akting, sebagian lagi karena ia merasa kakinya masih sedikit lemas setelah kejadian "resleting" semalam.
"Pagi, pengantin baru!" goda Mami Thomas begitu melihat mereka mendekat. Suaranya yang melengking ceria membuat beberapa tamu hotel menoleh.
Thomas menarikkan kursi untuk Arunika sebelum ia duduk di sampingnya. "Pagi, Mi. Pagi, Pa," sapa Thomas tenang.
Mami meletakkan garpunya, lalu menopang dagu sambil menatap Thomas dan Arunika bergantian dengan tatapan penuh selidik yang jenaka. "Duh, wajahnya cerah-cerah banget ya hari ini. Gimana tidurnya? Nyenyak, atau... Thomas sengaja ngajak begadang?"
Uhuk!
Thomas yang baru saja menyesap air putih langsung tersedak. Ia terbatuk kecil sambil meraih tisu untuk menutupi mulutnya. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sedikit kaku karena malu.
"Mami!" tegur Thomas dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Apa sih, Tom? Mami kan cuma nanya. Kan wajar kalau pengantin baru tidurnya kurang karena banyak 'urusan'," balas Mami sambil mengedipkan mata ke arah Mama Arunika yang duduk di sebelahnya.
Arunika, yang untungnya memiliki urat malu yang sedikit lebih putus dibanding Thomas, justru tertawa kecil. Ia menepuk pelan lengan Thomas yang masih terlihat salah tingkah.
"Nyenyak kok, Mami. Kasurnya empuk banget, bantalnya juga enak. Pokoknya Nika tidur nyenyak banget sampai nggak tahu kalau ada gempa pun kayaknya nggak bakal bangun, hehe," jawab Arunika dengan nada polos yang sangat natural.
Jawaban jujur nan polos itu seketika memecahkan tawa di meja makan tersebut. Papa Thomas tertawa terbahak-bahak, sementara Mama Arunika hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya.
"Tuh, denger kan, Mi? Istrinya aja bilang nyenyak. Kamu jangan berpikiran macam-macam," sahut Papa sambil memotong omeletnya.
Mami masih belum menyerah. "Yah, Thomas... kamu payah banget sih. Masa istrinya dibiarin tidur nyenyak gitu aja? Harusnya kamu kasih 'kegiatan' biar dia nggak cuma inget kasurnya yang empuk."
"Mami, cukup. Kita sedang di tempat umum," potong Thomas. Ia mencoba kembali ke mode CEO-nya yang dingin, namun telinganya yang memerah tidak bisa berbohong.
Thomas kemudian beralih menatap Arunika yang masih asyik mengambil roti selai stroberi. Tanpa diduga oleh siapa pun—termasuk Arunika sendiri—Thomas memiringkan wajahnya, tangan kirinya mengusap tengkuk Arunika dengan lembut, dan cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi Arunika. Kecupan yang terdengar cukup jelas di tengah tawa keluarga mereka.
Arunika seketika mematung. Tangannya yang sedang memegang pisau selai berhenti di udara. Matanya membelalak, dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ini bukan di pelaminan dengan kamera fotografer di depannya. Ini di meja makan, di depan orang tua mereka, dan Thomas melakukannya dengan sangat... alami.
"Istri aku emang pinter mencairkan suasana," ucap Thomas santai setelah menarik diri. Ia kembali memakan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa, sementara semua orang di meja kembali bersorak 'cie-cie'.
"Duh, duh! Thomas! Ternyata kamu bisa romantis juga ya kalau nggak ada Ardi yang gangguin!" seru Mami heboh, tangannya sibuk memotret momen itu dengan ponselnya.
Arunika perlahan menoleh ke arah Thomas, berbisik sangat pelan agar tidak terdengar yang lain. "Mas... itu tadi nggak ada di skenario 'sarapan', ya!"
Thomas meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat mematikan. "Anggap saja itu bonus karena kamu sudah membela 'performaku' di depan Mami."
"Ih! Siapa yang belain! Aku emang beneran tidur nyenyak!" bisik Arunika lagi, wajahnya kini panas seperti terpanggang oven.
"Baguslah kalau nyenyak. Artinya kamu sudah cukup istirahat untuk pindahan kembali ke apartemen sore ini," sahut Thomas tenang.
Di seberang meja, Marsel yang baru saja datang bersama Aletta terdiam di depan kursi. Ia melihat jelas kecupan itu, melihat bagaimana Thomas memperlakukan Arunika dengan kepemilikan yang begitu nyata. Marsel menarik kursi dengan kasar, menciptakan bunyi gesekan yang cukup nyaring.
"Pagi," sapa Marsel singkat dengan nada suara yang tidak bersahabat.
"Pagi, Marsel. Sini sarapan. Kakak kamu lagi pamer kemesraan nih, kamu jangan mau kalah," goda Mami tanpa menyadari ketegangan di antara kedua putranya.
Aletta tersenyum kaku, sementara Marsel hanya fokus pada piringnya tanpa suara. Thomas menyadari kehadiran adiknya, namun ia justru semakin menunjukkan perhatiannya pada Arunika. Ia mengambilkan sepotong daging asap dan meletakkannya di piring Arunika.
"Makan yang banyak, Nyonya. Hari ini jadwal kita padat," ujar Thomas.
Arunika menatap piringnya, lalu melirik Marsel yang duduk di hadapannya. Untuk pertama kalinya, Arunika tidak merasa sakit hati melihat Marsel. Ia justru merasa aman berada di bawah lindungan Thomas. Ia menyadari bahwa meskipun ini dimulai dengan kontrak, Thomas selalu melakukan hal-hal yang membuatnya merasa berharga.
"Mas..." panggil Arunika pelan.
"Ya?"
"Nanti... pas di apartemen, Mas masak semur lagi ya?" tanya Arunika dengan mata berbinar, mencoba mengabaikan hawa dingin dari arah Marsel.
Thomas menatap istrinya, lalu tangannya bergerak di bawah meja, menggenggam jemari Arunika dengan erat. "Apa pun yang kamu mau, Arunika. Apa pun."
Sarapan pagi itu ditutup dengan tawa keluarga yang hangat, diiringi godaan Mami yang tak henti-hentinya membuat Thomas dan Arunika tersipu. Bagi Thomas, kecupan tadi bukan sekadar untuk mencairkan suasana atau memanas-manasi Marsel. Itu adalah caranya memberitahu dunia—dan dirinya sendiri—bahwa wanita di sampingnya ini adalah miliknya, dan ia akan melakukan apa pun untuk menjaga senyuman di wajah Arunika tetap ada, kontrak atau bukan.
Sedangkan bagi Arunika, sarapan pagi ini merubah pandangannya. Ia mulai sadar bahwa kontrak dua tahun yang ia tanda tangani mungkin akan menjadi dua tahun yang paling berbahaya bagi hatinya sendiri. Karena Thomas Adiputra, dengan segala sikap kaku dan kejutan manisnya, adalah pria yang terlalu mudah untuk dicintai.
***
Lorong menuju unit apartemen mereka terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu dinding yang temaram memberikan kesan elegan, namun bagi Arunika, setiap jengkal lantai marmer yang ia injak terasa seperti sedang mendaki gunung. Ia berjalan dengan langkah terseret, menyugar rambutnya yang sudah tidak lagi tertata rapi.
"Mas... capek..." rintih Arunika.
Ia tiba-tiba berhenti di tengah lorong, membungkukkan badan dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Napasnya terengah-engah, seolah-olah ia baru saja berlari maraton, padahal mereka baru saja turun dari lift.
Thomas ikut menghentikan langkahnya. Ia berdiri beberapa langkah di depan Arunika, memutar tubuhnya sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap sosok istrinya yang terlihat sangat mengenaskan namun tetap manis di matanya.
"Beneran capek?" tanya Thomas datar, meski ada nada geli yang tertahan di suaranya.
"Iya! Banget!" Arunika mendongak, menatap Thomas dengan wajah memelas dan bibir yang sengaja dikerucutkan. "Mas nggak tahu apa? Pakai gaun berat seharian, berdiri di pelaminan, senyum ke ribuan orang yang aku nggak kenal, terus tadi harus dengerin wejangan Mami yang nggak abis-abis... badan aku rasanya mau rontok, Mas. Aku mau tidur sekarang juga."
Thomas melirik pintu unit mereka yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter lagi. "Yaudah. Tinggal jalan beberapa langkah lagi, Arunika. Sabar sedikit. Begitu masuk, kamu bisa langsung terjun ke kasur."
Arunika tidak bergerak. Ia justru semakin membungkuk, memberikan gestur bahwa ia sudah benar-benar tidak sanggup melangkahkan kaki barang satu senti pun.
"Mas nggak ada niatan gendong aku?" celetuk Arunika tiba-tiba. Matanya berkedip-kedip menatap Thomas, penuh harap. "Ini masih jauh, Mas. Kakiku tremor."
Thomas menaikkan sebelah alisnya. "Tremor? Tadi di restoran kelihatannya kamu masih bisa lari-larian menghindari godaan Mami."
"Itu kan tadi! Sekarang energinya udah nol persen. Lowbat, Mas! Shutdown!" seru Arunika dramatis. "Ayo dong, Mas... kan kita baru nikah. Di film-film gitu biasanya suaminya gendong istrinya masuk ke rumah. Masa Mas Thomas tega liat istrinya pingsan di lorong?"
Thomas menghela napas panjang, namun sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum tipis yang muncul. Ia berjalan mendekati Arunika, berdiri tepat di depan gadis itu.
"Kamu ini kebanyakan nonton drama, Arunika," ujar Thomas. Namun, ia mulai membuka kancing manset kemejanya dan menggulung lengannya hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh.
"Dramanya kan seru, Mas! Apalagi kalau pemeran utamanya ganteng kayak Mas Thomas," goda Arunika, mencoba peruntungannya.
"Jangan merayu. Kontrak kita tidak mewajibkan aku jadi jasa transportasi manusia," sahut Thomas ketus, tapi gerakannya berkata lain. Pria itu memutar tubuhnya, membelakangi Arunika, lalu merendahkan posisinya. "Ayo, naik."
Mata Arunika langsung berbinar. "Gendong belakang, Mas? Nggak bridal style kayak beberapa hari yang lalu?"
"Pilihannya cuma ini atau kamu jalan kaki sendiri. Mau yang mana?"
"Gendong belakang! Gendong belakang!" teriak Arunika kegirangan. Ia langsung melompat ke punggung Thomas, melingkarkan lengannya erat-redat di leher pria itu.
Thomas mendengus saat merasakan beban Arunika di punggungnya, namun ia dengan sigap menahan paha gadis itu dengan kedua tangannya agar posisinya stabil. Ia berdiri tegak, membawa Arunika dengan mudah seolah gadis itu hanya seringan kapas.
"Wah... tinggi banget!" gumam Arunika, ia menyandarkan dagunya di bahu Thomas. "Mas Thomas ternyata kuat banget ya. Padahal aku makannya banyak loh hari ini."
"Kamu itu ringan. Yang berat itu cerewetnya," balas Thomas sambil mulai melangkah menuju pintu unit mereka.
"Ih! Mas Thomas mah gitu!" Arunika mencubit pelan bahu Thomas. Namun, tak lama kemudian, ia justru merapatkan wajahnya ke ceruk leher Thomas, menghirup aroma parfum maskulin yang kini sudah bercampur dengan bau sabun hotel. "Tapi makasih ya, Mas. Mas beneran baik banget hari ini."
Thomas terdiam sejenak. Langkah kakinya terasa lebih ringan daripada biasanya. "Hanya untuk hari ini?"
"Nggak sih... dari kemarin-kemarin juga udah baik. Cuma hari ini level baiknya naik jadi level 'Suami Idaman'," puji Arunika tulus.
Mereka sampai di depan pintu. Thomas berhenti, menunggu Arunika menempelkan kartu aksesnya karena kedua tangannya sedang sibuk menggendong.
"Mas..." panggil Arunika lagi saat pintu terbuka dengan bunyi beep.
"Apa lagi?"
"Nanti kalau kontraknya habis... aku bakal kangen digendong kayak gini nggak ya?" tanya Arunika pelan, suaranya terdengar sedikit sedih.
Thomas menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, menatap profil samping wajah Arunika yang sangat dekat dengan wajahnya. Ada keheningan yang cukup lama di antara mereka.
"Siapa yang bilang kontraknya akan habis?" bisik Thomas dengan suara yang sangat rendah dan dalam.
Arunika tersentak. "Loh? Kan di kertasnya tertulis dua tahun, Mas."
Thomas tidak menjawab. Ia masuk ke dalam apartemen, menendang pintu hingga tertutup rapat, lalu berjalan menuju sofa. Ia menurunkan Arunika dengan sangat perlahan di sana. Thomas tidak langsung menjauh; ia tetap membungkuk di depan Arunika, mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu di sandaran sofa.
"Dua tahun itu waktu yang sangat lama, Arunika," ujar Thomas, matanya menatap lekat ke dalam mata cokelat milik istrinya. "Banyak hal yang bisa berubah. Termasuk isi kontrak itu."
Arunika menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, jauh lebih hebat daripada saat ia kelelahan tadi. "Maksud Mas... kita bakal perpanjang kontraknya?"
Thomas mengusap anak rambut yang menutupi mata Arunika dengan gerakan yang sangat lembut. "Kita lihat saja nanti. Sekarang, mending kamu mandi dan tidur. Aku tidak mau besok pagi kamu mengeluh sakit pinggang karena tidur di sofa."
Thomas berdiri tegak, kembali ke mode tenangnya yang biasa. "Aku mau buat teh sebentar. Mau?"
Arunika masih terpaku di sofa, mencoba mencerna kata-kata Thomas barusan. "Eh... iya, Mas. Mau."
Saat Thomas berjalan menuju dapur, Arunika memegangi pipinya yang terasa panas. Ia menatap punggung Thomas yang sedang sibuk di pantry.
"Mas Thomas..." gumamnya lirih. "Kenapa setiap kali aku mau inget kalau ini cuma kontrak, Mas selalu bikin aku lupa?"
Di dapur, Thomas sedang menyeduh teh dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya. Ia tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai. Dan ia sudah memutuskan, dua tahun bukan targetnya. Ia menginginkan selamanya, dan ia akan memastikan Arunika sendiri yang nantinya akan merobek kertas kontrak itu dengan tangannya sendiri.
"Selamat datang di rumah, Nyonya Adiputra," bisik Thomas pada uap teh yang mengepul, sebuah sambutan yang jauh lebih dalam dari sekadar kata-kata.
gagal
coba lagi dong 🤭