Ziudith Clementine, seorang pelajar di sekolah internasional Lavante Internasional High School yang baru berusia 17 tahun meregang nyawa secara mengenaskan.
Bukan dibunuh, melainkan bunuh diri. Dia ditemukan tak bernyawa di dalam kamar asramanya.
Namun kisah Ziudith tak selesai sampai di sini.
Sebuah buku usang yang tak sengaja ditemukan Megan Alexa, teman satu kamar Ziudith berubah menjadi teror yang mengerikan dan mengungkap kenapa Ziudith memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah dia pergi
Hujan sudah lama berhenti, tapi langit di atas Lavente tetap kelabu, seakan menolak memberi cahaya penuh. Udara lembap menempel di kulit, membuat Arkana merasa berat untuk bernapas. Sejak pemakaman Megan, semuanya terasa kabur. Hari-harinya berjalan, tapi tanpa arah.
Di kamar asrama yang kini hanya menyisakan satu ranjang, meja belajar, lemari pakaian dan beberapa buku terlihat berserakan di meja serta lantainya, bisa dipastikan jika si pemilik kamar sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dia seperti hilang arah.
Arkana belum beranjak dari ranjangnya, ketika sebuah ketukan pelan terdengar di pintu.
Tok... tok... tok.
Arkana menoleh, tanpa menggerakkan tubuhnya. "Siapa?" tanya Arkana dengan suara parau. Dari luar tak ada jawaban. Hanya ada keheningan.
Arkana memutuskan untuk berdiri, dia berjalan pelan ke arah pintu, karena kembali mendengar suara ketukan pintu yang mengganggu malamnya. Tapi sebelum tangannya menyentuh gagang kenop, suara lain terdengar. Kali ini bukan ketukan, tapi semacam bisikan yang menelusup dari celah udara.
"Ar... kana..." Seketika Arkana menoleh ke arah jendela yang tirainya masih tertutup rapat.
Suara perempuan yang memanggil namanya, mampu membuat Arkana memutuskan untuk membuka jendela kamarnya. Ketika jendela dibuka, tak ada siapapun di sana. Namun panggilan itu kembali terdengar.
"Arkanaaaaa...."
Arkana seperti mengenali suara samar, bergetar, dan seperti diucapkan dari jarak yang sangat jauh itu. Arkana terpaku. Jantungnya berdetak cepat, tapi langkahnya tak bergerak.
"...Megan?" gumamnya ragu, antara berharap dan takut.
Namun, tak ada jawaban. Hanya udara dingin yang mendadak mengisi ruangan. Lampu kamar berkelip dua kali, kemudian padam. Gelap. Arkana menelan ludah. Napasnya terengah, tapi ia tak berteriak. Sebaliknya, ia menatap ke arah jendela dengan intens. Bisa dia lihat tirai jendela itu bergetar pelan, makin lama makin jelas gerakan tirai tersebut meski tak ada angin dari luar.
Dan di antara pantulan kaca, ia melihat sesuatu. Bayangan putih samar.
Pantulan itu memperlihatkan ada seseorang berdiri di belakangnya. Arkana menoleh cepat, namun tak ada siapa pun. Tapi aroma tanah basah tiba-tiba menyeruak, begitu familiar. Sama seperti saat pemakaman.
"...Siapa di sana?" tanyanya, mencoba mengendalikan suaranya.
Tak ada suara. Tapi tiba-tiba, dari arah tempat tidur, terdengar bunyi gesekan seperti sesuatu menyeret. Arkana mengambil ponselnya yang ada di saku. Dia berusaha memberi penerangan pada kamarnya yang gelap gulita. Dalam sekali tekan, lampu senter di ponselnya menyoroti arah tempat tidur. Dia mendekat perlahan, langkahnya hati-hati. Bantal di ujung kasur bergerak sedikit, lalu terjatuh.
Kaki Arkana menginjak sesuatu, terasa basah dan lembab. Dengan hati-hati Arkana jongkok untuk mengambil bantal yang terjatuh, juga mencari tahu.. Apa yang berada di lantai kamarnya. Wajah tegang Arkana makin nyata terlihat kala jemari tangannya menyentuh cairan kental yang entah berasal dari mana. Noda basah itu berwarna merah kehitaman. Darah? Sepertinya tidak! Lebih kental dari itu.
Ketika dia ingin memastikan dengan mendekatkan jemarinya yang sudah terkena noda basah tadi ke hidungnya, suara berisik lain datang dari lemari pakaiannya. Lekas Arkana melupakan apa yang tadi ada di lantai dan pandangannya langsung beralih ke arah lemari.
"Tolong..." suara itu sangat jelas.
"Tolong kami Ar..."
Demi memastikan siapa yang mengganggunya, Arkana langsung membuka pintu lemari dengan keras. Betapa terkejutnya dia, di dalam sana terdapat pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Lemari itu seperti sebuah portal yang terbuka, dan memperlihatkan isi di dalamnya.
Dari lubang kegelapan itu, ada wajah wajah yang Arkana kenal. Wajah Patricia, Marlina, Rebecca, dan entah siapa berdesakan di sana. Dari matanya mengeluarkan cairan hitam kental yang menjijikkan, wajah mereka dihiasi urat biru kehijauan, sangat jelas sekali jika mereka sedang merasakan siksaan yang teramat sangat.
Salah satu dari mereka mengulurkan tangan, meminta untuk ditarik dari portal mengerikan itu, tapi sesuatu yang lebih dahsyat seperti menarik tangan itu agar tidak bisa keluar dari dalam lubang hitam.
"Kenapa kalian jadi seperti ini?"
Pertanyaan itu mengandung rasa kasihan juga keinginan tahuan dari Arkana. Tapi bukan jawaban yang dia dapatkan melainkan jerit lengkingan keras dari mulut-mulut mereka yang ada di dalam sana. Seakan semua rasa sakit sedang mereka rasakan. Tak kuat dengan jeritan itu, Arkana menutup telinganya dengan kedua tangan. Ponsel terjatuh. Semua kembali gelap. Tapi semakin dia mencoba menolak, suara-suara itu makin jelas masuk ke dalam kepalanya. Teriakan kesakitan dan minta tolong seperti ada di dekat gendang telinganya.
Tiba-tiba, kaca jendela bergetar hebat. Dari balik kaca, muncul bayangan wajah-wajah yang kabur, menatap Arkana dengan mata kosong. Mereka tak berteriak, tapi ekspresinya begitu menyedihkan, campuran penyesalan dan ketakutan. Mereka masih menggunakan seragam sekolah Lavente. Yang artinya, mereka adalah siswa Lavente yang meninggal karena The Book namun jiwanya tidak bisa tenang di alam baka.
Arkana terjatuh ke lantai, punggungnya membentur kaki meja. Napasnya tersengal.
Dan di tengah kepanikan itu, satu dari wajah-wajah itu mendekat paling jelas.
Samuel.
"Samuel..." bisiknya lirih.
Bayangan itu tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergerak membentuk kata yang Arkana hampir tak sanggupi untuk dengar.
"Iblis itu belum kenyang… Selamatkan dirimu..." ucap bibir pucat itu ke arah Arkana.
Lalu semua lenyap. Seketika tidak ada apapun di sana. Lampu kembali menyala. Udara kembali hangat. Hanya Arkana yang masih duduk di lantai dengan tubuh bergetar. Lemari pakaian yang masih terbuka tak memperlihatkan apapun di sana. Seperti semua yang Arkana lihat tadi hanya sebuah halusinasi. Dia menatap tangannya, gemetar hebat.
"Iblis…? Mungkinkah ada iblis yang mengendalikan buku itu?"
Dia memejamkan mata, mencoba berpikir jernih. Menetralkan debaran jantungnya yang nyaris copot dari tempatnya. Kepalanya pusing, nafasnya masih tak beraturan. Tapi Arkana coba untuk bangun dari posisinya.
Tirai jendela dia tutup rapat. Tak ingin kejadian yang sama terjadi lagi. Lalu Arkana duduk di tepian ranjang. Matanya mencari cairan kental mirip darah yang tadinya menggenang di lantai kamar, tapi sejauh apapun pandangan matanya menyapu ruangan kecil itu, Arkana tidak menemukan jejak apapun. Sesaat dia menghela nafas.
"The Book... Jadi semua ini tidak benar-benar berakhir? Lalu kenapa kau mengambil Megan ikut pergi bersama kalian?" entah dia berkata pada siapa.
Pikirannya menerawang, selama ini dia mengira buku itu hanyalah medium, sebuah alat yang dipakai Ziudith untuk menuntaskan dendamnya pada setiap orang yang membully. Tapi jika benar ada iblis yang bersemayam di baliknya… itu menjelaskan semuanya. Kutukan tidak pernah benar-benar berhenti, karena bukan manusia yang menulis cerita di dalam The Book.
Lelah dengan semua yang terjadi. Mata Arkana akhirnya terpejam dengan sendirinya. Dia tertidur dengan posisi duduk bersandar di dinding. Terlihat sangat menyedihkan!
Suara nyanyian burung membuat keheningan lenyap. Sinar matahari pagi perlahan masuk ke celah ventilasi dan menganggu tidur Arkana yang mungkin baru beberapa jam saja.
Mata indahnya terbuka, meski masih menyisakan sakit di kepala serta punggungnya, Arkana memutuskan untuk masuk sekolah hari ini. Sudah dua hari dia izin tidak masuk sekolah sejak kematian Megan, hari ini ada sesuatu yang menunggu untuk dipecahkan olehnya.
Ketika langkahnya sudah keluar dari asrama Lavente, dia teringat sesuatu. Seperti ada bisikan yang menuntunnya untuk ke ruangan arsip lama Lavente.
"...Temukan dia di sana..." bisikan itu membuat bulu kuduk Arkana berdiri. Dia sampai menoleh ke segala arah memastikan jika suara tadi hanya imajinasinya saja.
Tak mau lama berpikir, Arkana memutuskan datang ke ruang arsip lama Lavente, kembali izin kepada wali kelasnya melalui pesan singkat jika dia belum bisa mengikuti pelajaran di kelas. Meski dia harus mengendap-endap seperti pencuri, tapi nyatanya dia bisa masuk ke dalam ruangan tersebut dengan sedikit usaha dengan memberi uang pelicin pada security di sana.
Ruang arsip adalah ruangan yang sejak kejadian tragis meninggalnya banyak siswa di Lavente beberapa bulan belakangan hampir tak pernah dibuka. Ruangan itu menyimpan banyak map tebal berisi data siswa serta seluruh pengurus sekolah internasional tersebut.
Awal membuka pintu, Arkana disambut bau lembap dan debu yang langsung menyergap.
Rak-rak kayu berjajar rapat, penuh dengan tumpukan buku catatan, absen lama, laporan guru, dan dokumen sekolah. Semuanya kusam, sebagian sudah dimakan jamur.
Arkana menyalakan senter dari ponselnya.
"Jika memang The Book masih ada... Aku pasti akan menemukannya." gumamnya pelan,
Dia menyusuri lorong sempit di antara rak-rak yang penuh buku. Setiap langkahnya membuat debu beterbangan. Arkana sampai batuk beberapa kali karena partikel kecil yang membuat sesak udara sekitarnya. Tangannya dia kibaskan pelan untuk menangkis debu-debu itu agar tidak mengikutinya.
Lalu langkahnya terhenti, ponselnya menyorot ke arah ujung ruangan, ada sebuah meja tua, kayunya retak, tapi di atasnya ada sesuatu yang membuat Arkana tak bergerak. Sebuah buku. Tidak tebal, tapi tertutup debu tebal dan sarang laba-laba. Warna sampulnya hitam pekat, tapi berbeda dari The Book yang pernah dia lihat sebelumnya.
Tangannya gemetar saat menyentuh. Ia tahu ini bukan The Book, tapi entah kenapa benda itu tetap terasa hidup.
Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan kulit buku, hawa dingin langsung merambat dari ujung tangan ke dada.
"Buku apa ini?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Rasa penasaran membuatnya membuka buku itu. Tapi sebelum buku itu terbuka lebar, suara seseorang yang memanggilnya di belakang sana membuatnya seketika menoleh cepat.
"Ar..." Suara itu lembut. Terlalu akrab. Dia kenal siapa suara itu.
"Megan?" Arkana menyahuti sambil menutup kembali buku yang dia pegang.
Dia mencari asal suara, menoleh ke segala arah tapi tidak ada siapa pun di ruangan itu kecuali dirinya. Yang dia dapati hanya pantulan dirinya sendiri di kaca lemari arsip. Tapi kali ini pantulan itu tersenyum. Pantulan cermin perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang dia kenal. Dia muncul sambil tersenyum. Wajah pucat nya tak menghalangi kecantikan yang dia miliki. Dia masih sama seperti gadis yang punya spirit luar biasa untuk menyelamatkan orang lain semasa hidup. Dia Megan.
"Megan…" suaranya pecah. Arkana berlari ke arah cermin lemari itu dengan cepat, menjatuhkan buku yang tadi dia temukan.
Namun ketika Arkana sudah ada di depan cermin, senyum itu perlahan memudar, berubah menjadi kabut putih yang mengalir keluar dari kaca dan melingkari Arkana. Tidak menakutkan, justru menenangkan. Udara dingin di sekitarnya berubah hangat.
"Megan… apakah kau di sini?" pertanyaan tanpa ada jawaban. Arkana bisa merasakan jika kabut hangat itu sedang mengelilinginya.
Tapi kabut itu bergerak, seperti mengisyaratkan sesuatu. Instingnya mengatakan, dia harus mengikuti arah kabut itu pergi, dan kabut itu kembali ke arah meja kayu tua yang tadi dia tinggalkan karena mengejar bayangan Megan. Kabut itu berputar tipis ke arah buku yang terjatuh di lantai. Arkana mengerutkan kening, tangannya terulur untuk mengambil buku bersampul hitam pekat tersebut.
"Tapi ini bukan The Book kan? Ini bukan buku yang aku cari?" tanyanya entah pada siapa.
Buku itu bergetar. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Arkana mundur setapak. Dia memilih diam ketika halaman demi halaman buku tua itu terbuka pelan seperti ada yang menggerakkan. Lalu kejadian tak masuk akal terjadi di depan matanya, hah... Jika dipikir kembali.. Semua kejadian yang Arkana alami setelah mengenal The Book memang tidak pernah masuk akal kan?
Gerakan buku itu terhenti, tinta hitam muncul seperti cipratan tak beraturan. Arkana masih diam. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan buku ini padanya. Noda hitam pada kertas putih nyaris kecoklatan itu perlahan-lahan berubah jadi tulisan...
'The Book tak bisa berhenti, Ar.. Dia akan selalu mencari korban lain untuk dia seret ke neraka.'
"Astaga!" Arkana seperti tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Apa ini kau, Megan? Kau hidup dalam buku ini? Megan... Seharusnya kau lihat ini... Buku sialan itu bahkan tidak mau berhenti meski kau sudah mengorbankan nyawa mu sendiri... Harusnya kau lihat ini Megan!" desis Arkana. Suaranya mengisyaratkan kekecewaan mendalam.
Arkana menatap kosong ke depan. Pandangannya seperti menerawang jauh entah kemana. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Megan, dia tidak menangis. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang perlahan tumbuh.. bukan ketakutan, bukan putus asa, tapi tekad.
Kutukan ini mungkin belum selesai, tapi dia tidak akan membiarkannya menelan jiwa lain lagi. Tekadnya sudah bulat! Pagi itu, saat langit kembali menurunkan hujan di atas Lavente, Arkana menatap keluar jendela dari balik ruang arsip dengan mata yang lebih tenang.
"Megan," ucapnya pelan. "Jika kau masih di sini, mendengar ku, melihat apa yang aku lakukan… Aku mohon.. bantu aku. Kita harus mengakhiri ini bersama." ucapnya seperti bicara pada sosok yang tidak menampakkan wujudnya.
Dan di kaca jendela yang basah oleh hujan, samar-samar, terlihat pantulan wajah Megan tersenyum lembut, sebelum menghilang bersama butiran air yang menetes pelan ke bawah.
terimakasih Thor sudah bikin kami dag-dig-dug bacanya..
sukses trs utk karya lainnya✊
apa ini 😨
Arkana selamat apa ikut menyusul Meghan juga??
Never end to The Book yaa