NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Showbiz
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: velvetsky

Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.

Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.

Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.

Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecanduan

Pagi berikutnya, Noah benar-benar menyadari bahwa dirinya sudah terlambat. Terlambat untuk berpura-pura biasa saja, terlambat meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya ketertarikan sesaat. Karena begitu membuka mata, orang pertama yang muncul di pikirannya bukan laporan keuangan ranch yang menumpuk di meja kerjanya, bukan juga kompetisi berkuda nasional bulan depan yang selama ini menjadi obsesinya. Bahkan bukan Star, kuda juara kesayangannya yang biasanya selalu menjadi prioritas utama. Melainkan Ellara.

Wajah gadis itu muncul begitu saja di kepalanya. Senyumnya yang jarang tetapi hangat. Tatapan matanya yang selalu berusaha terlihat tenang padahal mudah gugup ketika berada di dekatnya. Cara ia mengikat rambut cokelatnya seadanya sebelum bekerja. Bahkan suara boots kulit tuanya yang beradu dengan lantai kayu kandang pun entah kenapa masih terngiang jelas di telinganya.

"Sial."

Noah mengumpat pelan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sudah bertahun-tahun ia hidup sesuka hatinya. Tidak pernah terikat pada siapa pun, tidak pernah menunggu pesan seseorang, tidak pernah peduli siapa datang atau pergi dari hidupnya. Tetapi sekarang...baru tiga hari mencoba menjaga jarak, ia sudah merasa gelisah. Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Ellara pagi ini. Apakah gadis itu sudah memberi makan Star? Apakah ia masih mengenakan dress sederhana berwarna biru muda yang beberapa kali dipakainya? Apakah ia masih marah karena Noah melanggar janjinya untuk menjaga jarak? Dan yang paling membuat Noah kesal... kenapa semua pertanyaan itu begitu penting baginya?

Noah menjatuhkan lengannya ke atas tempat tidur lalu menatap langit-langit kamar dengan kesal. "Aku benar-benar sudah gila." Ia tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar pahit. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, Noah Blackwood menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui. Ia merindukan seseorang, bukan tubuhnya, bukan sentuhannya, tetapi keberadaannya.

Ia ingin melihat Ellara berjalan di antara kandang sambil membawa ember pakan. Ingin mendengar gadis itu mengomel saat seekor kuda bertingkah nakal. Ingin melihatnya tersenyum kecil ketika berhasil menenangkan kuda yang bahkan para pelatih profesional pun kesulitan menjinakkannya.

Dan semakin Noah memikirkannya...semakin ia sadar. Ini bukan lagi rasa penasaran, bukan juga ketertarikan, ia mulai kecanduan. Kecanduan melihat Ellara, kecanduan mencari keberadaannya, kecanduan pada gadis yang seharusnya tidak ia inginkan.

Ia teringat bagaimana gadis itu kabur semalam dengan pipi merah, bagaimana suaranya bergetar ketika memanggilnya "Tuan", dan bagaimana ia berusaha keras menjaga jarak. Tetapi justru itu yang membuat Noah semakin ingin mendekat. Ia tidak menyukai kenyataan itu. Ia tidak pernah mengejar siapa pun. Selama ini justru wanita-wanita yang mendekatinya. Namun sekarang...ia malah memikirkan seorang pekerja baru yang bahkan belum genap satu bulan bekerja di ranch. Dan itu mengganggu harga dirinya.

Di sisi lain, Ellara sedang menyisir surai Star.

"Kau tahu?" gumamnya pada kuda hitam itu.

"Tuanmu benar-benar menyebalkan."

Star mendengus pelan.

"Aku serius." Ellara menghela napas.

Semalaman ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia teringat tatapan Noah. Tatapan yang terlalu serius. Terlalu jujur. Dan justru itu yang membuatnya takut. Karena kalau Noah hanya bermain-main, Ellara bisa marah. Tetapi kalau pria itu sungguh-sungguh... Ellara tidak tahu harus bagaimana.

"Tidak." Ia menggeleng kuat.

"Aku tidak boleh memikirkannya lagi."

"Memikirkan siapa?"

Ellara hampir melompat, ia menoleh cepat, dan mendapati Noah berdiri di pintu kandang. Seolah-olah pria itu memang hobi membuat jantungnya berhenti bekerja.

"Tuan!"

Noah mengangkat alis.

"Aku mengagetkanmu?"

"Tentu saja!"

Ellara memegang dadanya. "Apa yang Anda lakukan di sini?"

"Aku bekerja."

"Bohong."

Noah tertawa kecil.

Ellara langsung membeku. Akhir-akhir ini Noah sering tertawa. Dan anehnya...Ellara merasa itu salah satu penyebab hidupnya semakin rumit. Noah berjalan mendekat. Hari ini ia mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana jeans gelap. Tidak tampak seperti pewaris kaya. Lebih seperti koboi tampan yang terlalu percaya diri.

"Aku sudah memutuskan sesuatu."

Ellara langsung curiga. "Biasanya kalau Anda bilang begitu, hidup saya jadi lebih sulit."

Noah tersenyum. "Kau tidak akan hanya bekerja di kandang."

"Apa?"

"Kau akan ikut aku."

Ellara mengerjap. "Maksudnya?"

"Aku ingin mengenalkan seluruh bagian Blackwood Ranch."

"Saya tidak mengerti."

Noah bersandar santai pada pagar. "Kau terlalu berbakat untuk hanya membersihkan kandang. Kau bisa menjinakkan kuda, kau bisa menunggang dengan baik, kau cepat belajar."

Tatapannya jatuh tepat pada Ellara. "Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuanmu."

Ellara terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Noah tanpa mampu berkata apa-apa. Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya. Sejak kecil, orang-orang hanya mengenalnya sebagai gadis yang rajin bekerja. Gadis yang bisa mengurus banyak hal sendirian. Jika ada yang memujinya, biasanya hanya karena wajahnya yang cantik atau bentuk tubuhnya yang menarik perhatian.

"Sayang sekali kalau gadis secantik itu harus bekerja keras."

"Ada baiknya mencari suami kaya."

"Kau beruntung dilahirkan cantik."

Kalimat-kalimat seperti itu sudah terlalu sering ia dengar. Tetapi tidak seorang pun benar-benar memperhatikan apa yang bisa ia lakukan. Tidak ada yang peduli bagaimana ia belajar memahami sifat kuda sejak kecil. Bagaimana ia bisa membedakan mana kuda yang sedang takut, mana yang marah, dan mana yang hanya membutuhkan kesabaran. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa kemampuannya berharga.

Sampai Noah. Pria itu tidak memuji wajahnya. Tidak membahas dress sederhana yang ia pakai atau rambutnya yang selalu diikat seadanya. Noah justru memperhatikan hal-hal yang bahkan Ellara sendiri sering lupakan. Cara ia menenangkan kuda liar, keberaniannya saat menunggang, kesabarannya ketika merawat kuda yang sakit. Dan sekarang Noah berdiri di hadapannya, mengatakan bahwa ia terlalu berbakat untuk hanya mengurus kandang. Sederhana. Tetapi entah kenapa, kata-kata itu terasa begitu berat sekaligus hangat. Seolah ada seseorang yang akhirnya melihat dirinya yang sebenarnya. Bukan sekadar gadis cantik, bukan pekerja baru, tetapi Ellara Dawson. Seseorang yang memiliki kemampuan dan layak dihargai.

Ellara segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk membelai surai Star. Ia takut Noah menyadari matanya yang tiba-tiba terasa panas. "Anda terlalu berlebihan," gumamnya pelan. Namun suara itu terdengar jauh lebih lirih dari biasanya. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama...ia merasa dihargai.Dan yang paling berbahaya adalah...orang yang memberinya perasaan itu adalah Noah Blackwood.

Malam harinya, Noah duduk sendirian di balkon mansion. Udara malam terasa dingin. Segelas whiskey berada di tangannya. Namun sejak tadi ia hanya memutar gelas itu pelan tanpa benar-benar meminumnya. Tatapannya justru mengarah ke kejauhan. Ke arah kandang utama. Lampu-lampunya masih menyala. Dan tanpa sadar...Noah tersenyum.

Ia tahu Ellara masih berada di sana. Mungkin sedang memeriksa kaki seekor kuda yang terluka, mungkin sedang menyisir surai Star sambil mengomel karena kuda itu terlalu manja, atau mungkin sedang berbicara sendiri seperti yang sering dilakukannya ketika mengira tidak ada orang yang mendengar.

Noah hafal semuanya. Ia tahu Ellara suka datang paling pagi, ia tahu gadis itu selalu memakai boots kulit tua yang warnanya mulai memudar, ia tahu Ellara lebih suka dress sederhana daripada pakaian kerja biasa, ia tahu Ellara sering menyelipkan rambut ke belakang telinga ketika gugup. Dan Noah tidak tahu kapan tepatnya ia mulai memperhatikan hal-hal kecil itu. Yang ia tahu...sekarang semuanya terasa penting, sangat penting.

Noah menghembuskan napas panjang. Ia tidak lagi penasaran, ia tidak lagi sekadar tertarik, ia mulai kecanduan. Kecanduan melihat Ellara berjalan di antara kandang. Kecanduan mendengar suaranya, kecanduan mencari keberadaannya setiap pagi, kecanduan menunggu senyum kecil yang jarang gadis itu tunjukkan. Perasaan itu tumbuh diam-diam, tanpa ia sadari. Tetapi semakin hari...semakin sulit ia abaikan. Dan Noah membenci kenyataan bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak punya kendali atas perasaannya sendiri.

1
chiara azmi fauziah
wow gila noah
Mila Sari
up nya bnyakin thor🤭🤭 jgn nanggung², g enak bet penasaran🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Titik Ristiana
mn lanjutannya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!