NovelToon NovelToon
Cleaning The Thorne'S Empire

Cleaning The Thorne'S Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.

Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Bubur dan Kekacauan di Wilayah Suci

Alistair Thorne percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa diselesaikan dengan rumus yang tepat. Strategi bisnis, penempatan penembak jitu, hingga negosiasi perdamaian antar-geng—semuanya memiliki algoritma. Namun, berdiri di depan kompor gas Wolf yang harganya setara dengan satu mobil sedan mewah, Alistair mendapati dirinya berada dalam kebuntuan taktis.

Di depannya terdapat sebuah buku masak digital yang terbuka pada halaman "Bubur Ayam Tradisional".

"Langkah pertama: Cuci beras hingga bersih. Langkah kedua: Perbandingan air dan beras adalah satu banding lima," gumam Alistair. Ia menggunakan timbangan laboratorium yang biasanya ia gunakan untuk menimbang bubuk mesiu guna memastikan takaran berasnya tepat hingga miligram terakhir.

Alistair mengenakan kemeja putihnya yang sudah kusut—sisa semalam menjaga Sloane—dan celemek hitam polos. Ia tampak sangat serius, keningnya berkerut tajam seolah sedang menjinakkan bom waktu. Bagi Alistair, membuatkan bubur untuk asisten rumah tangganya yang sedang sakit adalah misi prioritas tertinggi saat ini.

Namun, kedisiplinan Alistair tidak membantu saat ia mencoba mengaduk beras tersebut.

Prak!

Karena gerakannya yang terlalu kaku dan bertenaga, sendok kayu di tangannya membentur pinggiran panci, membuat butiran beras yang belum matang melompat keluar dan mendarat di atas lantai marmer hitam yang tadinya bersih sempurna.

Alistair mematung. Matanya menatap butiran beras itu dengan tatapan horor. Ia tahu, jika Sloane melihat ini, gadis itu akan mengalami serangan jantung kedua.

"Secara administratif, ini adalah kegagalan sanitasi," bisik Alistair pada dirinya sendiri. Ia segera membungkuk untuk mengambil beras itu dengan tangannya, namun pada saat yang sama, pintu dapur terbuka dengan suara mencicit yang pelan.

Sloane Sterling berdiri di sana. Ia mengenakan piyama flanel bergambar beruang dan kaos kaki wol tebal yang membuatnya tampak seperti anak kecil yang tersesat. Wajahnya masih pucat, dan ia harus bersandar pada kusen pintu agar tidak limbung, namun matanya yang tajam langsung menangkap kekacauan di lantai.

"Alistair... Thorne..." suara Sloane parau, tapi nada galaknya masih ada.

Alistair segera berdiri tegak, menyembunyikan tangannya di balik punggung seolah sedang menyembunyikan senjata ilegal. "Nona Sterling. Secara medis, Anda seharusnya masih berada dalam posisi horizontal di tempat tidur."

"Aku tidak bisa tidur kalau indra penciumanku mendeteksi ada sesuatu yang terbakar di dapurku!" Sloane melangkah masuk dengan perlahan, kakinya sedikit gemetar. Matanya beralih dari kompor ke lantai. "Dan... apa itu? Beras di lantai? Kau menjatuhkan beras di wilayah suciku?!"

Alistair berdeham, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Itu adalah variabel yang tidak terduga dalam proses persiapan nutrisi. Saya baru saja akan melakukan pembersihan darurat."

"Menyingkir!" Sloane mencoba merebut spatula dari tangan Alistair, namun tubuhnya yang masih lemas membuatnya hampir terjatuh.

Alistair dengan sigap menangkap bahu Sloane, menahannya agar tetap berdiri. "Duduklah, Sloane. Ini perintah. Anda sedang tidak dalam kondisi operasional yang stabil."

Alistair menuntun Sloane untuk duduk di kursi bar dapur. Ia kemudian kembali ke kompor, mencoba melanjutkan "misi" buburnya dengan sangat hati-hati, sementara Sloane memperhatikannya dengan pandangan menghakimi yang sangat intens.

"Kau memasukkannya terlalu banyak air, Alistair. Itu akan jadi sup beras, bukan bubur!" Sloane mengomel, meskipun suaranya lemah.

"Rasio satu banding lima adalah standar internasional, Nona Sterling," jawab Alistair tanpa menoleh, meskipun tangannya sedikit gemetar karena gugup diperhatikan.

"Persetan dengan standar internasional! Gunakan perasaanmu, Tuan Kaku! Masak itu pakai hati, bukan pakai kalkulator!"

Alistair terdiam. Memasak dengan perasaan adalah konsep yang paling sulit ia pahami. Baginya, hati adalah organ pemompa darah, bukan alat pengukur rasa. Namun, ia mencoba mengaduk lebih pelan, mengikuti irama napas Sloane yang ia dengar di belakangnya.

Suasana dapur menjadi sedikit lebih tenang. Aroma beras yang mulai melunak dan kaldu ayam mulai memenuhi ruangan. Alistair sesekali melirik Sloane melalui pantulan di kap mesin kompor. Ia melihat Sloane yang sedang menopang dagunya dengan tangan, matanya sayu namun tetap memperhatikan setiap gerakannya.

Tiba-tiba, mata Sloane menangkap sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya lupa kalau dia sedang sakit.

Di atas kursi makan yang berada di pojok dapur, tersampir jaket jas hitam Alistair yang sangat mahal. Alistair tadi melepaskannya begitu saja karena merasa gerah di depan kompor.

"ALISTAIR THORNE!!!"

Alistair hampir menjatuhkan panci buburnya. Ia berbalik dengan posisi waspada penuh. "Apa?! Apakah ada serangan infeksi?"

"LIHAT ITU!" Sloane menunjuk ke arah kursi makan dengan jarinya yang gemetar karena marah. "KAU MENYAMPIRKAN JASMU DI KURSI MAKAN?! DI DAPUR?! APA KAU TAHU BERAPA BANYAK PARTIKEL MINYAK YANG BISA MENEMPEL DI JASMU?! KAU MAU JADI GANGSTER YANG BERBAU BAWANG GORENG?!"

Alistair menatap jasnya, lalu menatap Sloane yang kini tampak lebih berenergi karena marah. "Saya... saya hanya meletakkannya sebentar agar tidak terkena percikan air—"

"TIDAK ADA SEBENTAR-SEBENTAR! Gantungan jas ada di luar dapur! Jaraknya hanya lima meter! Kau ini benar-benar tidak punya disiplin kebersihan dasar!" Sloane mencoba berdiri untuk mengambil jas itu, tapi Alistair lebih dulu menahannya.

"Saya akan memindahkannya," kata Alistair kaku. "Harap jangan melakukan aktivitas fisik berlebih. Wajah Anda kembali memerah."

Alistair mengambil jasnya dan berjalan keluar dapur untuk menggantungnya di tempat yang benar. Sloane mengikutinya dengan pandangan mata yang galak sampai Alistair kembali ke depan kompor.

"Bagus," gumam Sloane puas. "Sekarang, beri aku bubur itu. Aku sudah lapar setengah mati."

Alistair menyajikan bubur itu ke dalam mangkuk porselen putih. Ia membawanya ke depan Sloane dan meletakkannya dengan sangat hati-hati. Sloane mengambil sesendok, meniupnya pelan, lalu mencicipinya.

Alistair menunggu dengan napas tertahan. Baginya, ini lebih mendebarkan daripada menunggu hasil voting di dewan sindikat.

"Bagaimana?" tanya Alistair kaku. "Secara teknis, apakah rasanya memenuhi parameter?"

Sloane terdiam sejenak. Rasanya sebenarnya agak hambar dan teksturnya sedikit terlalu lembek, tapi di dalam kehangatan bubur itu, Sloane bisa merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengingatkannya pada malam tadi saat Alistair menggenggam tangannya.

"Rasanya... seperti buatan robot yang sedang mencoba menjadi manusia," jawab Sloane pelan. Ia menatap Alistair dan tersenyum tipis. "Tapi lumayan. Setidaknya ini tidak membakarku."

Alistair merasakan sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia mengambil selembar tisu dan tanpa sadar—dengan gerakan yang sangat canggung namun lembut—ia mengelap sisa bubur di sudut bibir Sloane.

Sloane tertegun. Alistair juga tertegun saat menyadari apa yang ia lakukan. Tangannya membeku di depan wajah Sloane.

"Ada... ada sisa sereal di sana," bohong Alistair, suaranya sangat serak. "Secara administratif, itu mengganggu pemandangan."

Sloane tertawa kecil, suara tawa yang masih sedikit parau. "Kau benar-benar payah dalam berbohong, Alistair."

Alistair segera menarik tangannya kembali dan membelakangi Sloane, pura-pura sibuk mencuci panci. "Habiskan bubur Anda. Setelah ini, Anda harus minum obat dan kembali ke ruang pemulihan."

Sloane memperhatikan punggung lebar Alistair. Ia menyadari bahwa di balik setelan jas yang kaku dan kata-kata yang dingin, Alistair Thorne adalah pria yang rela menjatuhkan beras di lantai sucinya hanya demi memastikan ia tidak kelaparan.

"Alistair?"

"Ya?"

"Terima kasih. Untuk buburnya... dan untuk tidak membiarkan aku bangun sendirian tadi malam."

Alistair tidak menoleh, tapi telinganya yang memerah sudah cukup menjadi jawaban bagi Sloane. Di luar, London mungkin sedang diguyur hujan dan dipenuhi bahaya, tapi di dalam dapur itu, mawar jalanan yang galak dan bos gangster yang dingin baru saja menemukan satu titik damai yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus apa pun.

To be continued....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!