Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGETUK PINTU YANG TERKUNCI
Kehadiran Bimo membuat dinding pertahanan Kirana menegang. Saraf-saraf di sekujur tubuhnya seketika meremang, memicu memori masa lalu yang berisik dan penuh pecahan kaca. Namun, Bimo yang berdiri di ambang pintu toko bunga Lumina sore ini bukanlah pria yang ada dalam ingatan buruknya. Pria itu datang bukan dengan tuntutan yang menggebu-gebu, bukan pula dengan gairah posesif yang dulu sering kali mencekik ruang gerak Kirana.
Pria itu berdiri di sana dengan bahu yang sedikit turun. Sepasang matanya yang legam tampak lelah, dikelilingi bayang-bayang keperakan yang samar, namun sorotnya teramat teduh. Begitu tenang, seolah ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mempelajari cara bernapas tanpa kepanikan.
"Satu buket kecil krisan putih, Kirana. Kalau boleh," ucap Bimo. Suaranya rendah, nyaris berbisik, seolah takut getaran suaranya akan merontokkan kelopak-kelopak mawar yang terpajang di dekat mereka.
Kirana membeku di balik meja kasir. Jemarinya yang tengah memegang gunting dahan gemetar tipis. Ia mengangguk kaku, tidak berani menatap mata pria itu terlalu lama.
Bimo tidak melangkah lebih jauh. Ia menghormati batas tak kasat mata yang sengaja dibangun Kirana di antara mereka. Setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja tanpa menyentuh jemari Kirana, ia berbalik. Langkah sepatunya terdengar pelan, bergesekan dengan lantai kayu sebelum akhirnya ia mendorong pintu kaca—membuat lonceng kuningan di atasnya berdenting sekali—dan memilih untuk duduk di bangku kayu panjang yang terletak di teras depan toko.
Melalui kaca jendela yang sedikit berembun oleh hawa pendingin ruangan, Kirana bisa melihat punggung lebar itu. Bimo duduk bersandar, menatap jalanan kota yang mulai basah oleh sisa hujan sore. Ia benar-benar tidak memaksa masuk ke dalam kehidupan Kirana lagi. Pria itu hanya ingin memastikan, dengan caranya yang paling sunyi, bahwa wanita yang ia puja tidak lagi menangis di dalam kegelapan.
Di dalam toko, Kirana mencoba memfokuskan seluruh indranya pada batang-batang krisan putih di hadapannya. Ia mengambil lima tangkai. Menggunting ujung-ujungnya dengan sudut kemiringan 45 derajat celcius agar bunga-bunga itu bisa menyerap air lebih lama sebuah kebiasaan mekanis yang biasanya menenangkan jiwanya. Namun hari ini, fokusnya buyar. Setiap kali guntingnya beradu, detak jantungnya berpacu lebih cepat.
Mengapa dia kembali? Mengapa harus krisan putih? Bunga yang melambangkan duka, kesetiaan yang murni, sekaligus sebuah perpisahan.
Kirana membungkus krisan-krisan itu dengan kertas kraft cokelat sederhana, lalu mengikatnya dengan tali rami. Tidak ada pita satin mewah, tidak ada kartu ucapan yang manis. Sesuai dengan permintaan Bimo: sederhana dan kecil.
Ketika Kirana melangkah keluar untuk mengantarkan pesanan tersebut, udara dingin sore langsung menyergap kulit lengannya. Bimo menoleh, langsung berdiri tegak begitu menyadari kehadiran Kirana. Ada jarak dua langkah yang sengaja ia pertahankan.
"Buketmu," kata Kirana, menyodorkannya dengan kedua tangan yang lurus, menjaga jarak fisik semaksimal mungkin.
Bimo menerimanya. Jarinya sempat berpapasan dengan kertas pembungkus, tetapi ia sangat berhati-hati agar kulit mereka tidak saling bersentuhan. "Terima kasih. Mekar dengan sangat indah. Kamu selalu tahu cara merawat mereka."
"Krisan tidak butuh banyak perhatian untuk terlihat indah. Mereka hanya butuh tanah yang tepat dan ketenangan," jawab Kirana, suaranya terdengar lebih dingin daripada yang ia maksudkan.
Bimo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan rasa sakit yang ditahan dengan rapi. "Kamu benar. Ketenangan. Sesuatu yang gagal kuberikan padamu dulu."
Kirana merasa dadanya seperti dihantam sesuatu yang tumpul. Ia membuang muka, menatap deretan pot gantung di langit-langit teras.
"Jangan membahas masa lalu, Bimo. Tolong."
"Aku tidak berniat mengungkitnya untuk meminta pengampunan, Kirana," ujar Bimo lembut. Ia memeluk buket kecil itu di dada kirinya, tepat di mana jantungnya berdegup. "Aku hanya ingin melihatmu dari jauh. Memastikan lampu tokomu menyala, memastikan kamu tidak lagi meringkuk di sudut kamar dengan lampu mati. Itu saja."