Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LELAKI DIBALIK JERUJI BESI
Hujan di luar semakin menderu, memukul-mukul kaca jendela kafe seolah-olah ingin ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka. Pelayan kafe datang mengantarkan sepiring kecil kue madeleine hangat sebagai pelengkap kopi mereka yang mulai mendingin.
Kirana menatap cangkirnya yang tinggal setengah. Udara hangat dari mesin pemanas terasa nyaman di kulitnya, namun ada satu pertanyaan lagi yang menggantung di udara. Pertanyaan yang sejak tadi sengaja ia simpan di ujung lidahnya, ragu untuk diucapkan namun tahu bahwa ia harus mendengarnya agar lingkaran masa lalunya benar-benar tertutup rapat.
"Lalu... bagaimana dengan Aris, Bim?" tanya Kirana. Suaranya kini terdengar jauh lebih stabil, lebih tenang daripada saat mereka pertama kali duduk di kafe ini.
Bimo memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada kursi rotan. Ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih serius, mencerminkan ketegasan seorang penegak hukum yang telah melihat berbagai macam degradasi moral manusia.
"Aris sekarang berada di LP Cipinang, Na. Vonis akhirnya tetap lima tahun penjara tanpa remisi untuk tahun pertama ini, karena hakim menilai tindakan penipuan investasinya berulang dan merugikan banyak pihak, termasuk beberapa pensiunan yang kehilangan uang tabungan seumur hidup mereka," Bimo menjelaskan dengan nada datar, objektif.
"Bagaimana keadaannya di sana?"
Bimo menghela napas, pandangannya menerawang ke arah jalanan Le Marais yang basah. "Jujur, enam bulan pertama adalah neraka baginya. Kamu tahu sendiri bagaimana ego seorang Aris Pratama. Pria yang terbiasa memakai setelan jas custom-made dari penjahit terbaik di Jakarta, mengendarai mobil sport Jerman, dan selalu memandang rendah orang lain dari lantai atas gedung pencakar langitnya di Sudirman. Begitu dijebloskan ke dalam sel berukuran empat kali enam meter bersama dua belas tahanan lain... dia hancur total."
Bimo berhenti sejenak, meminum kopinya sebelum melanjutkan. "Dia sempat mengalami depresi berat. Menolak makan, mencoba menyuap sipir dengan sisa-sisa aset tersembunyinya—yang untungnya langsung ketahuan dan membuatnya dimasukkan ke sel isolasi—dan bahkan sempat mencoba membenturkan kepalanya ke dinding karena frustrasi. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dunianya yang megah telah runtuh berkeping-keping."
Kirana mendengarkan setiap detail itu tanpa ada rasa puas atau kemenangan di hatinya. Dulu, dalam malam-malam penuh kemarahan di apartemen kecilnya sebelum ia melarikan diri ke Paris, ia sering membayangkan betapa bahagianya ia jika melihat Aris menderita di dalam penjara. Ia ingin melihat pria itu merangkak, memohon ampun, dan merasakan kepedihan yang sama seperti yang ia rasakan saat dikhianati.
Namun sekarang, duduk di sebuah kafe di Paris dengan aroma bunga yang masih melekat di pakaiannya, rasa haus akan balas dendam itu entah bagaimana telah menguap. Yang ia rasakan hanyalah sebuah rasa hambar yang aneh, seolah-olah ia sedang mendengarkan kisah tentang orang asing yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.
"Tapi," lanjut Bimo, memotong keheningan pikiran Kirana. "Dua bulan lalu, aku harus pergi ke Cipinang untuk mengurus berkas perkara klien lain, dan aku menyempatkan diri untuk menjenguknya. Aku ingin memastikan dengan mataku sendiri bahwa dia tidak lagi mencoba melakukan manuver hukum yang bisa mengganggu ketenanganmu di sini."
"Dan apa yang kamu lihat?"
"Aku melihat orang yang berbeda, Na," jawab Bimo serius. "Hampir tidak kukenali. Rambutnya yang klimis dulu sekarang dicukur cepak ala tahanan, ada banyak uban yang tumbuh liar di pelipisnya. Badannya jauh lebih kurus, dan dia mengenakan seragam tahanan biru yang warnanya sudah memudar karena sering dicuci. Tapi... matanya tidak lagi liar penuh amarah seperti saat sidang cerai kalian dulu."
Bimo mencondongkan tubuhnya ke meja, memperkecil jarak di antara mereka. "Aris sekarang memegang tanggung jawab di perpustakaan penjara. Dia yang mengelola sirkulasi buku untuk para tahanan yang ingin belajar atau sekadar membaca. Dia juga ikut kelas kerajinan tangan, belajar membuat kursi dan meja dari kayu jati belanda sisa palet kargo. Sipir bilang, dia sudah jauh lebih tenang, sering menghabiskan waktu malamnya dengan membaca buku keagamaan atau menulis di buku catatan kecil."
Kirana tertegun. "Aris... mengelola perpustakaan? Pria yang dulu bilang bahwa membaca buku fiksi adalah pemborosan waktu yang tidak menghasilkan uang?"
"Penjara punya cara tersendiri untuk mempreteli kesombongan manusia, Na," kata Bimo dengan nada puitis yang jarang ia gunakan. "Saat semua atribut kemewahanmu diambil, yang tersisa hanyalah dirimu sendiri dan bayangan masa lalumu. Tampaknya, Aris mulai belajar menerima hukumannya sebagai bentuk penebusan dosa. Dia tidak lagi berteriak-teriak tentang ketidakadilan atau menjanjikan balas dendam pada orang-orang yang melaporkannya."
Bimo kemudian merogoh saku mantelnya, mengeluarkan selembar kertas kecil yang dilipat menjadi empat bagian. Kertas itu tampak agak kusam, khas kertas buku tulis murah yang sering digunakan di dalam lembaga pemasyarakatan.
"Saat aku berpamitan dengannya di ruang kunjungan, dia tahu bahwa aku akan pergi ke Eropa dan kemungkinan besar akan menemuimu. Dia menitipkan ini untukmu. Dia bilang, jika kamu menolak menerimanya, aku boleh langsung membuangnya ke tempat sampah kafe ini."
Bimo meletakkan lipatan kertas itu di atas meja, tepat di samping dokumen yayasan kanker.