"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
"Kau! Kau sekarang membela wanita ini?!" Linda menggeram marah. Jarinya menunjuk tepat ke wajah Ailin. Melihat itu Ailin menutup sebelah matanya, lalu sengaja mendekat hingga jari itu mengenai kelopak matanya itu.
"Ahh." Tangannya refleks menutupi mata kanannya, ia berdesis pelan sembari terus merintih. Sementara Linda menoleh dengan kaget, pasalnya saat menunjuk Ailin, wajahnya memang menghadap Juan. Ia sendiri tidak tahu apakah benar jarinya telah menyakiti wanita itu.
"Kuku ibu tajam sekali," gumam Ailin yang mata kanannya telah terlihat memerah. Wanita berjalan sembarang, tanpa sengaja menabrak Linda yang berdiri di depannya.
"Kau!" Linda memekik kesal, namun Ailin telah beranjak ke sisi Juan.
"Kakkk. Mataku sakit. Tolong lihatin!" Suara wanita itu terdengar bergetar, seperti tengah menahan tangis.
Sementara Juan yang percaya itu jadi panik. "Sakit gimana? Kita ke dokter, ya."
"Enggak perlu! Kakak tiup dan tetesin obat mata saja!" Ailin menggeleng, saat itu ia membuka mata kanan sedikit dan melirik sang suami.
Juan yang menyadari itu menghela napas lega. Ia juga tersenyum samar sebelum mengikuti drama ini.
"Baiklah. Duduk di sini! Kamu pasti kesulitan jalan." Pria itu menunjuk pada kedua pahanya, membuat Ailin mendelik kaget. Ia sampai memiringkan kepala untuk memastikan apa yang sang suami katakan. Sementara Juan tak banyak membalas, ia hanya melirik ke atas dua kakinya.
"Kalau begitu aku duduk ya." Ailin mendekat sungkan. Ia lalu duduk dengan pelan di atas pangkuan sang suami. Tanpa sadar juga mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.
"Ma, nanti kita bahas lagi masalah ini," ujar Juan sebelum menarik tuas kursi rodanya menuju kamar.
"Mama enggak sengaja. Juan! Kau jangan memanjakannya! Apanya yang sulit berjalan? Yang terluka mata, bukan kaki!" ujaran marah itu mengiringi kepergian mereka. Namun mereka tak peduli.
Saat sampai di kamar. Ailin langsung melepas lingkaran tangannya dan ingin berdiri, namun Juan mengurung pinggang wanita itu.
"Kak," ucap Ailin gugup, tubuhnya mengerut tanpa sadar.
Sementara Juan menatap lekat kedua mata sang istri. Cukup lama hingga Ailin menggigit bibir bawahnya resah.
Melihat kegugupan yang begitu kentara, Juan menarik senyum tipis. Lalu dengan suara lembut bertanya, "Kenapa berbohong?"
Ailin bergeming sejenak. Wanita menarik napas dan mencoba tenang. "Ka-kalau enggak begitu, ibu enggak akan berhenti."
Juan menarik napas berat. "Lain kali jangan begitu lagi!"
"Kalau benar-benar terluka bagaimana?"
Ailin menggeleng. "Enggak akan, aku kan pelan-pelan."
"Aku bilang jika...." Juan menghentikan sejenak perkataannya. Sebenarnya masih ada yang ingin ia katakan, namun ragu.
"Kakak marah?" tanya Ailin setelah melihat raut wajah sang suami yang berubah rumit itu.
Juan menggeleng pelan. "Bukan marah. Aku hanya enggak ingin kamu mengambil risiko yang bisa melukai diri sendiri! Aku... enggak suka!"
Setelah mengatakannya, Juan terdiam. Kedua matanya menatap Ailin untuk melihat reaksi wanita itu. Jika itu dulu, Ailin pasti marah-marah karena merasa dikekang. Namun Ailin yang sekarang justru mengangguk patuh.
"Baiklah, kalau Kakak enggak suka, aku enggak akan melakukannya," balasnya sembari mengangguk meyakinkan.
Mendengar itu, dada Juan terasa sesak. Bukan karena sedih, tapi justru bahagia. Cepat-cepat ia menoleh ke arah lain dan menekan emosinya sebelum Ailin menyadarinya.
"Masih mau aku tiup?" tanya Juan setelah berhasil menenangkan diri.
Ailin menggeleng cepat. "Dari awal memang enggak papa. Justru kaki Kakak, memangnya enggak kram sejak tadi aku duduki?"
"Enggak."
"Kaki Kakak enggak merasakan apa pun, ya?"
Juan terdiam sebentar. Namun akhirnya ia memilih jujur pada sang istri. "Sebelah iya. Sebelahnya bisa."
Kedua mata Ailin berbinar. "Kalau sebelah ada rasa, berarti ada kemungkinan Kakak bisa berjalan lagi?"
"Enggak tahu."
"Kok enggak tahu? Kakak enggak konsultasi sama dokter?"
"Dulu sempat."
"Lalu?"
"Setelah beberapa tahun, aku berhenti berharap."
"Kenapa? Kakak enggak mau sembuh?"
Lagi-lagi Juan bergeming. Tatapannya turun sesaat, seolah ada kenangan yang enggan disentuh.
"Baiklah. Kakak bisa cerita kapanpun itu saat Kakak siap."
Ailin menunduk, memainkan jarinya pelan. "Aku paham kalau Kakak belum sepenuhnya mempercayaiku. Karena aku sendiri bahkan enggak tahu bagaimana diriku di masa lalu. Tapi aku bisa melihat dari reaksi semua orang."
"Mereka terlihat tidak menyukaiku, bahkan cukup membenciku."
"Kak, aku... istri dan ibu yang buruk, ya?"
.
.
.,