Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Dayuh Sudah Sadar
Dru segera bangkit dari tempatnya berdiri. Wajahnya masih tegang, tapi gerakannya sigap, seolah tubuhnya sudah dilatih untuk bereaksi cepat dalam situasi darurat.
“Aku ambilin air hangat,” ucapnya singkat, lalu melangkah ke sudut kecil penginapan yang berfungsi sebagai dapur.
Leo masih berdiri di samping Dayuh, satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, seakan takut Dayuh akan kembali jatuh kapan saja. Saga duduk di sisi lain, matanya tak lepas dari wajah Dayuh yang masih pucat.
Sitara menyandarkan punggungnya ke dinding, mengatur napas. Wajahnya terlihat tenang, tapi keringat dingin di pelipisnya menunjukkan perjalanan barusan bukan hal ringan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.
Dayuh menelan ludah. “Aku… aku masih bisa ngerasain emosinya,” ucapnya pelan. “Marahnya Noah itu… dingin, tapi berat. Kayak orang yang sudah terbiasa menyembunyikan amarah, tapi sekali meledak, nggak mikir dampaknya.”
Saga mengangguk pelan. “Orang seperti itu paling berbahaya. Mereka kelihatan tenang, tapi di dalamnya rusak.”
Leo menghela napas panjang. “Dan sekarang dia pulang lebih cepat. Artinya rencana kita harus dirombak.”
Sitara membuka mata, menatap Leo. “Bukan dirombak. Disesuaikan.”
Leo menoleh. “Maksudmu?”
“Satu hal jadi jelas,” jawab Sitara. “Noah sedang tidak stabil. Tapi justru di situ celahnya.”
Saga mengernyit. “Celah gimana?”
“Orang yang merasa hidupnya sempurna akan sangat hati-hati,” Sitara menjelaskan. “Tapi orang yang merasa terancam dari dalam—dari orang terdekat—cenderung lengah di hal lain.”
Langkah kaki terdengar mendekat. Dru kembali dengan gelas besar berisi air hangat. Uap tipis naik dari permukaannya.
Dru berlutut di depan Dayuh. “Minum pelan-pelan,” katanya lembut, berbeda dari nada datarnya biasanya.
Dayuh menerima gelas itu dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar. “Makasih, Dru.”
“Pelan,” ulang Dru. “Jangan dipaksain.”
Dayuh menyesap sedikit. Air hangat itu terasa menenangkan tenggorokannya, seolah membawa kembali kesadarannya sepenuhnya ke tubuh.
Setelah beberapa teguk, bahu Dayuh terlihat lebih rileks.
“Gimana?” tanya Sitara.
“Masih capek,” jawab Dayuh jujur. “Tapi sudah mendingan.”
Dru duduk bersila di lantai, menatap Dayuh dengan serius. “Penglihatan tadi… itu berat. Kamu jangan maksain diri lagi tanpa bilang.”
Dayuh tersenyum kecil, lelah. “Aku juga nggak sengaja, Dru. Kayak… ditarik aja.”
Saga mencondongkan tubuh. “Waktu kamu di sana, kamu lihat apa lagi selain pertengkaran itu?”
Dayuh menggeleng. “Cuma itu. Tapi cukup buat tahu satu hal.”
“Apa?” tanya Leo.
Dayuh menatap mereka satu per satu. “Tunangan Noah bukan sekadar pasangan. Dia bagian dari tameng hidup Noah. Nama baik, bisnis, semua.”
Sitara mengangguk. “Dan sekarang tameng itu retak.”
Dru menyilangkan tangan. “Artinya kalau Noah panik, dia bisa melakukan dua hal: mengamankan tameng itu… atau menyingkirkannya.”
Ruangan kembali sunyi.
Saga menarik napas dalam. “Kalau dia menyingkirkannya…”
“…itu berarti kita bukan lagi berhadapan dengan pembunuh yang rapi,” sambung Leo, “tapi orang putus asa.”
Dayuh memejamkan mata sejenak. “Aku merinding.”
Sitara mendekat, duduk di depan Dayuh. “Dengar aku, Dek. Mulai sekarang, kalau kamu ngerasa ada tarikan sekecil apa pun—langsung bilang. Jangan ditahan.”
Dayuh mengangguk. “Iya, Kak.”
Dru berdiri dan mengambil tablet dari meja. “Noah sekarang di ruang kerja,” lapornya. “Lampu menyala. Dia mondar-mandir.”
Leo menoleh cepat. “Mondar-mandir?”
“Ya,” Dru menggeser tablet agar semua bisa melihat. Di layar, Noah terlihat berjalan bolak-balik sambil memegang ponsel. Sesekali ia berhenti, menekan layar, lalu mengusap wajahnya.
Saga mengamati dengan seksama. “Dia kelihatan… gelisah.”
Sitara menyipitkan mata. “Dan orang gelisah bikin kesalahan.”
Leo mengangguk. “Tapi kita juga harus hati-hati. Kalau dia mulai curiga, langkah kita makin sempit.”
Dayuh menyeruput air hangat terakhir. “Kak Sitara…”
“Hmm?”
“Waktu di sana,” Dayuh ragu sejenak, “aku ngerasa… ada satu emosi lain.”
Semua menoleh padanya.
“Takut?” tanya Saga.
Dayuh menggeleng. “Bukan. Panik juga bukan.”
“Terus apa?” tanya Dru.
Dayuh membuka matanya. “Kehilangan.”
Sitara terdiam.
“Kayak orang yang ngerasa semua yang dia bangun bisa runtuh,” lanjut Dayuh. “Dan dia nggak terima itu.”
Leo mengusap dagunya. “Berarti kemungkinan besar dia akan memastikan semua bukti aman.”
Saga menatap Leo. “Atau… menghancurkan bukti.”
Kalimat itu menggantung berat di udara.
Sitara berdiri. “Itu artinya ruang bawah tanah—”
“—jadi prioritas,” sambung Dru cepat.
Leo menghela napas. “Kita harus cek rekaman CCTV yang kita pasang. Lihat apakah ada perubahan perilaku.”
Saga langsung bergerak ke meja, membuka tablet cadangannya. “Aku akses feed belakang rumah.”
Beberapa detik kemudian, layar menampilkan sudut halaman belakang rumah Noah. Sepi. Terlalu sepi.
“Belum ada pergerakan,” lapor Saga.
Dru menambahkan, “Tapi kita nggak bisa lengah. Dia bisa turun kapan aja.”
Dayuh menatap layar itu dengan jantung berdegup cepat. “Kalau dia masuk ke ruang bawah tanah sebelum kita—”
Sitara mengangkat tangan. “Tenang. Kita sudah dapat bukti awal. Apa pun yang dia lakukan sekarang, jejaknya tetap ada.”
Leo menoleh pada Sitara. “Tapi korban…”
Sitara mengangguk pelan. “Itu yang bikin kita harus lebih cepat.”
Dru menatap Dayuh lagi. “Kamu yakin kuat?”
Dayuh menarik napas dalam. “Aku takut, iya. Tapi kalau aku berhenti sekarang… aku nggak bakal bisa tidur lagi.”
Saga tersenyum tipis. “Berarti kamu sudah di jalan yang benar.”
Leo menepuk bahu Dayuh. “Kita bareng-bareng. Jangan mikir kamu sendirian.”
Dayuh mengangguk, matanya berkaca-kaca tapi penuh tekad. “Makasih.”
Sitara mengambil gelas kosong dari tangan Dayuh dan meletakkannya di meja. “Sekarang istirahat sepuluh menit. Minum sudah. Napas sudah.”
Leo melirik jam. “Sepuluh menit?”
“Ya,” jawab Sitara tegas. “Karena setelah itu, kita harus siap kalau Noah bergerak.”
Dru kembali duduk, bersandar ke dinding, tetap memegang tablet. “Aku pantau terus.”
Saga mencondongkan tubuh ke Leo, berbisik, “Jujur… aku nggak nyangka kasus ini sedalam ini.”
Leo tersenyum pahit. “Aku juga. Tapi kita sudah terlanjur masuk.”
Sitara menatap layar CCTV sekali lagi. Noah kini duduk, kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling bertaut.
“Dia kelihatan tenang,” ucap Saga.
Sitara menggeleng pelan. “Bukan tenang.”
“Apa?”
“Dia sedang memutuskan sesuatu.”
Di sudut ruangan, Dayuh menutup mata sejenak. Bayangan pertengkaran itu masih terpatri jelas di kepalanya. Suara tamparan, tatapan dingin Noah, dan rasa kehilangan yang menusuk.
Ia membuka mata dan berbisik pelan, hampir tak terdengar,
“Dia nggak akan berhenti.”
Dan di luar sana, di rumahnya yang tampak normal, Noah mengangkat kepalanya—
seolah merasakan bahwa sesuatu, di suatu tempat, sedang bergerak melawannya.
Suasana di penginapan kembali menegang, bukan karena teriakan atau gerakan mendadak, melainkan karena bunyi kecil yang nyaris tak terdengar—getaran halus dari tablet di tangan Dru.
Dru menyipitkan mata.
“Sebentar…,” gumamnya.
Ia menaikkan volume audio dari CCTV ruang kerja Noah. Semua refleks menahan napas.
Di layar, Noah masih duduk di kursinya. Lampu meja menyinari wajahnya dari samping, menonjolkan garis lelah di bawah matanya. Ponselnya yang tadi tergeletak di meja kini bergetar.
Noah menatap layar ponsel itu cukup lama, seolah ragu menjawab. Getaran berhenti. Lalu bergetar lagi.
Saga berbisik, “Siapa?”
Dru membaca nama yang muncul.
“…tunangan Noah.”
Leo langsung berdiri lebih tegak.
“Pasang speaker. Semua dengar.”
Dru mengangguk, jarinya bergerak cepat. Audio diperjelas. Ruangan penginapan seketika sunyi, hanya suara napas mereka dan detak jantung masing-masing.
Di layar, Noah akhirnya mengangkat telepon.
“Halo…,” suaranya terdengar rendah, serak, jauh berbeda dari nada dingin yang biasa mereka lihat.
Beberapa detik hening. Lalu suara perempuan terdengar—lembut, sedikit bergetar.
“Mas… aku yang nelpon.”
Sitara menajamkan pendengarannya.
“Itu dia.”
Noah mengusap wajahnya dengan satu tangan.
“Aku pikir… kamu masih marah. Aku nggak nyangka kamu mau nelpon.”
“Aku memang marah,” jawab wanita itu jujur. “Tapi aku juga… capek. Aku pulang, aku mikir. Banyak.”
Noah menunduk. Bahunya turun.
“Aku salah. Aku tahu itu. Aku benar-benar salah.”
Dayuh menahan napas.
“Dia langsung minta maaf…”
Noah melanjutkan, suaranya pecah tipis.
“Aku nggak seharusnya menyentuhmu. Aku nggak seharusnya marah kayak gitu. Kamu nggak pantas dapet perlakuan itu dari aku.”
Saga berbisik, “Ini… beda dari yang tadi kita lihat.”
Sitara menjawab pelan, “Itulah topeng terbaiknya.”
Di layar, wanita itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Aku kaget, Mas. Jujur aja. Selama ini kamu nggak pernah kayak gitu. Kamu selalu tenang, selalu ngomong baik-baik.”
Noah mengangguk pelan, seolah ia bisa dilihat.
“Aku lagi banyak tekanan. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa. Aku simpan semuanya sendiri. Dan hari ini… aku meledak ke orang yang paling nggak pantas aku sakiti.”
Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada sangat lirih,
“Aku nyesel. Bukan cuma nyesel… aku benci diriku sendiri.”
Di penginapan, Leo mengepalkan tangan.
“Kalimat klasik,” gumamnya. “Pelaku manipulatif selalu mulai dari sana.”
Dayuh menelan ludah.
“Tapi suaranya… kayak tulus.”
Sitara menoleh tajam ke Dayuh.
“Jangan tertipu suara. Dengarkan struktur katanya.”
Di layar, wanita itu berkata pelan,
“Aku juga bukan tanpa salah, Mas. Aku terlalu memaksa kamu cerita. Aku terlalu curiga. Mungkin caraku salah.”
Noah cepat menyela,
“Tidak. Jangan salahkan dirimu. Ini murni kesalahanku. Kamu cuma peduli.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara bergetar,
“Aku takut kehilangan kamu. Aku takut semua yang aku bangun hancur.”
Saga mengerutkan dahi.
“Dia masuk ke mode korban sekarang.”
Dru mengangguk pelan.
“Dan dia berhasil.”
Wanita itu terdengar menghela napas.
“Aku juga takut, Mas. Tapi kita sebentar lagi menikah. Aku nggak mau kita masuk ke pernikahan dengan emosi kayak gini.”
Noah mengangguk lagi, cepat.
“Iya. Kamu benar. Aku juga mikir gitu.”
“Aku minta satu hal,” lanjut wanita itu. “Kamu istirahat dulu. Jangan ambil keputusan apa pun malam ini. Tenangkan pikiranmu.”
Noah memejamkan mata.
“Aku akan nurutin kamu. Aku janji.”
“Aku nggak mau kejadian hari ini terulang,” suara wanita itu mulai tegas, tapi masih lembut. “Bukan karena aku takut sama kamu. Tapi karena aku peduli.”
Noah menelan ludah.
“Aku ngerti. Aku benar-benar ngerti.”
“Aku butuh kamu sehat secara mental,” lanjutnya. “Karena aku mau menikah dengan laki-laki yang aku kenal. Bukan yang tadi.”
Noah menjawab lirih,
“Aku akan kembali jadi diriku yang dulu.”
Sitara berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar,
“Tidak… kamu hanya akan jadi lebih rapi.”
Di layar, wanita itu berkata,
“Kita istirahat dulu malam ini, ya. Besok kita bicara lagi dengan kepala dingin.”
Noah mengangguk, meski suaranya tak terlihat.
“Iya. Terima kasih masih mau bicara sama aku.”
“Hati-hati, Mas,” ucap wanita itu sebelum menutup. “Jaga dirimu.”
Telepon terputus.
Keheningan jatuh berat di penginapan.
Dru mematikan audio perlahan.
Tak ada yang langsung bicara.
Beberapa detik berlalu sebelum Leo akhirnya menghela napas panjang.
“Dia lolos… untuk sementara.”
Saga mengusap tengkuknya.
“Tunangan itu… jelas masih terikat emosional. Dan Noah tahu persis tombol mana yang harus ditekan.”
Dayuh menatap layar dengan ekspresi campur aduk.
“Tapi dia juga benar-benar terlihat menyesal…”
Sitara langsung menoleh.
“Dayuh.”
Nada suaranya tidak keras, tapi cukup membuat Dayuh terdiam.
“Dengar aku baik-baik,” lanjut Sitara. “Penyesalan sejati tidak datang bersama kontrol. Tadi kamu dengar apa?”
Dayuh berpikir, lalu pelan menjawab,
“Dia… minta maaf. Menyalahkan dirinya. Takut kehilangan.”
“Dan?” desak Sitara.
“…dan dia memastikan tunangannya tetap merasa bertanggung jawab,” Dayuh akhirnya menyadari. “Dengan bilang ‘kamu peduli’, ‘kamu nggak salah’, ‘aku takut kehilangan kamu’.”
Sitara mengangguk.
“Itu bukan permintaan maaf. Itu pengikatan ulang.”
Saga menatap Noah di layar yang kini berdiri dan berjalan ke arah kamar.
“Dan sekarang dia akan tidur… dengan pikiran lebih tenang.”
Dru menyipitkan mata.
“Atau berpura-pura tenang.”
Leo menepuk meja.
“Yang jelas, dia baru saja mengamankan satu ancaman besar.”
Dayuh bergumam,
“Tunangan itu… sekarang ada di posisi berbahaya.”
Sitara menatap Dayuh lama.
“Ya. Karena sekarang dia tahu sesuatu tidak beres… tapi memilih diam.”
Saga mengangguk pelan.
“Dan orang yang memilih diam sering dijadikan kambing hitam kalau semuanya runtuh.”
Dru menatap tablet.
“Noah menuju kamar. Lampu ruang kerja mati.”
Leo menarik kursi dan duduk.
“Baik. Kita evaluasi.”
Semua menoleh padanya.
“Percakapan barusan memberi kita tiga informasi penting,” lanjut Leo serius.
“Satu: Noah sadar emosinya lepas kendali.
Dua: tunangannya punya kecurigaan soal uang. Tiga: mereka sepakat ‘menenangkan diri’.”
Sitara menambahkan,
“Dan empat: Noah merasa waktunya sempit. Itu berbahaya.”
Dayuh menggenggam tangannya sendiri.
“Kak Sitara… tadi waktu aku lihat mereka bertengkar, aku ngerasa… dia bukan cuma takut kehilangan tunangannya.”
“Lalu?” tanya Sitara lembut.
“Dia takut kehilangan kendali atas cerita hidupnya,” jawab Dayuh. “Dia mau tetap jadi ‘laki-laki sempurna’ di mata semua orang.”
Saga menghela napas.
“Dan kita sekarang ancaman terbesar buat itu.”
Dru berdiri.
“Mulai malam ini, pengawasan ditingkatkan. Kita bagi shift. Aku nggak mau kecolongan.”
Leo mengangguk.
“Aku sama Saga jaga layar. Sitara—”
“Aku di sini,” potong Sitara. “Aku ingin lihat perubahan energi malam ini.”
Dayuh menelan ludah.
“Kalau dia turun ke ruang bawah tanah malam ini…”
Semua terdiam.
Sitara menjawab tenang tapi tegas,
“Kalau itu terjadi… berarti dia sudah mengambil keputusan terburuk.”
Di layar, Noah terlihat berbaring di kasur. Lampu kamar redup. Wajahnya tampak tenang, hampir damai.
Terlalu damai.
Leo menatap layar lama sebelum berkata pelan,
“Orang normal setelah bertengkar berat akan sulit tidur.”
Saga mengangguk.
“Orang seperti Noah… tidur justru setelah merasa semuanya kembali di bawah kendali.”
Dayuh memeluk lututnya.
“Dan besok… dia ke kota B untuk peresmian toko.”
Sitara menatap layar tanpa berkedip.
“Ya. Dan dia ingin tampil sempurna.”
Dru menutup tablet sejenak, lalu berkata pelan namun mantap,
“Kalau begitu… kita juga harus sempurna.”
Keheningan kembali turun.
Di dua tempat berbeda, dua pihak bersiap menghadapi hari esok—
satu dengan senyum palsu dan rencana gelap,
dan satu lagi dengan mata terbuka lebar, menyadari bahwa
percakapan lembut barusan bukan tanda damai,
melainkan awal dari fase paling berbahaya dalam permainan ini.