Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Sekali lagi Widya menggelengkan kepalanya. “Widya,
kamu sudah gila. Jangan bilang kalau kamu suka dia. Eh, aku bisa telat training
nich.” Widya segera mengganti pakaiannya, ia hampir terlambat kembali ke hotel.
Diva yang sudah menyiapkan sarapan, memasukkan
sarapan Widya ke dalam kotak bekal. Ia mencegat adiknya itu lalu memberikan
kotak bekal untuk Widya. “Kak, nanti aku pulang training, kakak harus cerita
ya. Semuanya, detail.”pinta Widya. Diva hanya mengangguk.
*****
Di rumah Alex, pagi yang sejuk dan tenang harus
berakhir saat Rara datang ke rumah itu. Ia langsung menggedor pintu kamar adik kembarnya.
Keduanya membuka pintu dalam keadaan sama-sama cuma pake boxer, termasuk
Reynold yang muncul di belakang Rava.
“Mama! Ngapain kesini?!”tanya Reynold menggaruk
ketiaknya yang gatal. Ia mencium jarinya setelah itu. Rava bergidik jijik
melihat kelakuan Reynold. Ketika Reynold menatap Rara lagi, ia hampir jatuh
mendapati Renata sudah ada di samping Rara.
“Pagi, kak Rara. Pagi kak Rava, kak Reva, kak
Rey.”sapa Renata sambil tersenyum manis. Renata sudah siap dengan seragam
SMP-nya. Rambutnya dikuncir satu keatas mirip ekor kuda.
Reynold yang terpana melihat Renata, menggeser
tempat Rava. Ia lupa kalau belum memakai pakaian lengkap saat balas menyapa
Renata.
“Hai, aunty. Mau sekolah ya? Aku anterin ya.”kata
Reynold menatap Renata.
Gadis manis itu tersenyum malu melihat penampilan
Reynold dan rambutnya yang acak-acakan. Tapi jangan salah, meskipun cuma pake
boker dan rambutnya acak-acakan, Reynold tetep ganteng maksimal.
Rara yang merasa dicuekin, menjewer telinga
Reynold. Ia kesal sekali karena baru beberapa hari Reynold pulang, Rara
menerima notifikasi pemesanan tiket kembali ke luar negeri untuk besok malam
atas nama Reynold.
“Mah, ampun mah!!”jerit Reynold kesakitan.
“Kamu ya, baru pulang. Bukannya nemenin mama, kamu
malah tinggal disini. Sekarang udah mau balik lagi kesana? Ngapain kamu kesana
lagi? Hah?!”cerocos Rara emosi.
“Aooww.... Ampun, mah ini beneran sakit.”keluh
Reynold memegangi telinganya.
Renata menarik tangan Rara, ia tidak tega melihat
Reynold kesakitan seperti itu. “Kak, coba tanya dulu. Pasti ada alasannya
Reynold melakukan itu.”kata Renata lembut.
Tiba-tiba Reynold merasa merinding, suara lembut
Renata menyebut namanya barusan langsung membawanya terbang mengkhayal yang
tidak-tidak bersama Renata. Reynold menelan salivanya, ia harus segera ke kamar
mandi atau suasana akan langsung ambyar ketika mereka menyadari apa yang akan
terjadi pada Reynold.
“Mah, aku kebelet. Lepasin bentar ya.”pinta Reynold
menutupi boxernya.
Wajah Renata merona, ia geleng-geleng kepala sambil
berlalu dari hadapan mereka. “Aunty, aku beneran mau nganterin. Mau nanya
sesuatu!”pinta Reynold melongok dari pintu kamar Rava. Melihat Renata
mengangguk, Reynold langsung mengacungkan tinjunya ke bawah.
“Yes! Ntar ya mah. Hari ini mama mau kemana, aku
anterin. Bentar aku mandi dulu.”kata Reynold langsung masuk ke kamar mandi
Rava.
Rara beralih menatap Rava yang merasakan firasat
buruk. Blam! Pintu kamar Reva sudah tertutup dan terkunci dengan sempurna.
“Kak, aku juga mau mandi ya.”kata Rava cepat-cepat sambil menutup pintu
kamarnya. ”Fiuh, hampir saja kena omelan kak Rara. Kalo dikasi ngomel bisa
sejam baru kelar.”
Klek! Pintu kamar mandi terbuka, Reynold keluar
dari sana nggak pakai apa-apa. “Woi!! Setan, lo ngapain keluar nggak pake
kolor?! Mata gue kelilipan!”teriak Rava geli.
“Sory, gue buru-buru. Ntar aunty Renata nunggu
kelamaan. Lo juga tau mama bisa ngomel kalo gue telat.”balas Reynold cuek.
Rava baru akan bicara lagi tapi Reynold sudah
menyumpal mulutnya dengan tangannya. Ia memberi tanda agar Rava jangan berisik,
Rava mau saja nurut untuk diam saja. Lalu... dut! Reynold menunjukkan ekspresi
lega habis mengeluarkan gas beracun dari perutnya.
Rava refleks menutup hidungnya, dengan mulut di
bekap Reynold dan hidung ia sendiri yang menutupnya membuat Rava kesulitan
bernafas. Ketika ia melepaskan tangannya dari hidungnya, aroma semerbak
sisa-sisa gas beracun Reynold langsung hinggap di hidungnya.
“Kutu kupret!! Anak setan!!”teriak Rava keracunan.
“Wah, lo ngatain kakak lo setan dong. Gue aduin ke
mama nich.”ancam Reynold tapi nggak mempan untuk Rava. Ia segera menendang ponakannya
itu keluar dari kamarnya.
Reva yang baru keluar dari kamarnya, hanya melewati
Reynold yang tersungkur di lantai tanpa berniat menolongnya. Pria itu buru-buru
turun untuk sarapan atau ia akan terlambat mengantar Flora ke sekolah.
Benar saja, Flora sudah bersiap di dekat meja
makan. Gadis itu terlihat manis dengan seragam SMA-nya. Reva tersenyum menyapa
Flora, “Pagi, Flo. Udah sarapan?”tanya Reva mesra di depan Alex dan Mia.
Wajah Flora merona merah, ia tidak menjawab
pertanyaan Reva dan berpura-pura tidak mendengar pria itu. “Ibu Mia, tuan Alex,
saya berangkat sekolah.”pamit Flora.
“Flo! Tunggu!”panggil Reva cepat-cepat memasukkan
potongan sosis dari piring Renata ke dalam mulutnya. Ia juga menyambar gelas
air milik Renata dan menghabiskan isinya. Renata hanya bengong melihat piring
dan gelasnya kosong gara-gara kakaknya terburu-buru mengejar Flora.
Reva menarik tangan Flora yang keluar duluan dari
rumah. Ia menarik gadis itu ke garasi mobil, tersembunyi dari pandangan semua
orang.
“Kamu kenapa, Flo? Kok ninggalin aku? Kamu
marah?”tanya Reva menyudutkan Flora ke dinding.
Flora mendorong Reva yang terlalu dekat dengannya. Ia
hanya merasa tidak enak menjawab pertanyaan Reva tadi. Biar bagaimanapun
hubungan mereka belum diketahui Alex. Flora takut kalau Alex tahu, majikannya
itu akan kecewa padanya.
“Bilang, Flo. Aku ada salah?”tanya Reva sambil
menakup kedua pipi Flora.
Gadis itu menatap Reva, keduanya saling pandang
penuh cinta. Sedikit lagi, mereka akan berciuman untuk pertama kalinya. Tapi
lagi-lagi tangan Reva gemetar hebat, Flora menangkap kedua tangan Reva. “Kamu
kenapa?”tanya Flora menangkupkan tangan Reva ke pipinya.
“Aku sangat ingin menciummu, tapi aku takut....”bisik
Reva.
Flora menatap Reva bingung, “Kenapa?” Reva mengecup
kedua tangan Flora. Tindakan pria itu membuat Flora merona. Reva belum menjawab
pertanyaan Flora, ia ingin mengantar Flora ke sekolah dulu. “Habis makan malam
nanti, tunggu aku di gazebo ya. Aku akan jawab pertanyaanmu.”sambung Reva.
“Semuanya?”tanya Flora menahan tangan Reva.
Reva mengangguk. Ia akan menjawab semua pertanyaan
gadis itu nanti malam. Saat keduanya mendekati motor Reva, Reynold keluar dari
rumah bersama Renata. Reynold membukakan pintu mobil Rara untuk Renata.
“Kak Rey, kita cuma berangkat berdua? Si kembar
gimana?”tanya Renata mengingatkan Rey tentang sepupu kembarnya, Reymond dan
Reyna.
“Mereka bisa berangkat sama supir kan. Aku perlu
bicara berdua sama ka... aunty.”kata Reynold hampir keceplosan memanggil Renata
tanpa embel-embel aunty. Renata segera masuk ke mobil yang langsung di kendarai
Reynold keluar dari halaman rumah Alex.
Reva dan Flora saling pandang melihat kejadian itu.
Mereka juga segera pergi dari sana menaiki motor Reva.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.
Visual Flora