Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Fatir dan Fathia berhenti melangkah dan saling pandang ketika sang kakek memintanya untuk berhenti. Di taman sore itu terasa sejuk, angin tertiup kencang hingga rambut Fathia yang panjang sebahu bergerak indah. Sang kakek berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nama kamu siapa?" Tanya Kakek membungkuk memandangi dua wajah anak tampan dan cantik itu.
"Fatir Haikal. Kek."
"Fathia Haifa. Kek."
Jawab keduanya, Fatir memandangi wajah kakek yang sangat dekat hanya berjarak beberapa cm, sedangkan Fathia berdiri memegang badan Fatir dari belakang, dengan sirat mata sedikit takut.
Amir menegakkan badan lalu mengangguk-angguk. "Mana Ayah kalian? Kenapa tidak ikut kesini?" Tanyanya menyelidik, meyakinkan dirinya bahwa anak-anak di hadapannya itu bukan anak haram yang tidak ia kehendaki.
"Kami tidak punya Ayah, Kek. Tapi mau punya Papa baru," papar Fatir.
Wajah Amir tiba-tiba berubah kecewa dan tertangkap oleh Fatir dan Fathia. Mereka jelas sudah bisa menilai ekpresi lawan bicara.
"Fatir... Fathia..." Suara Yasmin terdengar lagi, kali ini lebih kencang.
"Ya, Bundaaaa..."
"Sudah ya Kek, kami pulang dulu," ucap mereka bersamaan, lalu berlari ke dalam tanpa menoleh lagi. Tiba di dapur mereka berhenti ketika melihat bundanya sedang mengisi botol minuman untuk bekal di jalan.
"Bundaaaa..." seru mereka dengan napas tersengal-sengal.
"Kalian ini kemana? Bunda nungguin loh," ucap Yasmin geleng-geleng kepala. Namun, kedua anaknya belum menjawab justru minta bibi air minum. Sambil duduk di kursi dapur satu gelas air diteguk Fatir hingga tak tersisa, sementara Fathia hanya minum seperempat.
"Kalian main apa sampai haus begitu?" Yasmin mengulangi pertanyaan di atas ketika bersama-sama ke kamar hendak ambil koper.
"Habis bantu Kakek kasih makan ayam Bun," Fatir yang menjawab.
"Terus, Kakek ngobrol apa sama kalian..." Yasmin berharap setelah ngobrol dengan cucunya, hati Ayahnya akan luluh.
"Nggak ngobrol apa-apa, Bunda... Kak Fatir minta potong Ayam satuuu... saja. Eh, Kakek malah ngomel-ngomel," adu Fathia, bayangan Kakek yang melengos tajam tadi masih di depan mata.
"Bukan ngomel-ngomel itu, Dek. Kan Kakek cuma bilang, Ayam itu piaraan Kakek bukan untuk dipotong," Fatir menimpali, hati anak itu memang lebih kuat, tidak gampang baper mungkin karena laki-laki. Sementara Fathia mudah sedih jika mendengar kata-kata ketus pun.
"Kakek cuma tanya siapa nama Ayah kami, Bun," lanjut Fatir.
"Oh, terus kalian jawab apa?" Tanya Yasmin kaget, tangannya yang baru menutup resleting koper seketika berhenti.
Fatir menceritakan jawaban apa yang ia berikan kepada kakeknya.
"Ya sudah, kita berangkat yuk," Yasmin merasa sudah tidak ada harapan lagi bahwa sang Ayah akan mencegahnya untuk pergi dqn duduk bersama menyelesaikan masalah..
Jam lima sore tidak ada lagi keraguan di hati Yasmin, ia akhirnya memutuskan untuk pulang. Niatnya untuk membicarakan lamaran Marco pun seketika batal, karena ia tahu betul sang Ayah sama sekali tidak menerima kehadiran dirinya apa lagi pemuda itu.
Dia menarik koper keluar kamar, di pundaknya tas selempang bergantung di sana. Sedangkan kedua anaknya masing-masing menggendong ransel kecil yang berisi bekal untuk di kereta. Tentu hati mereka tidak seperti Yasmin yang sedang sedih, mereka senang karena sebentar lagi akan duduk dalam salah satu gerbong kereta.
Dengan perasaan berat dan sedih, Yasmin mengetuk pintu kamar ibunya untuk berpamitan, beberapa detik kemudian pintu terbuka. Yasmin meneteskan air mata menatap wajah ibunya yang merah dan mata sembab khas habis menangis. Jelas keributan belum lama terulang lagi, tentu saja dirinya lah penyebabnya. Jika tahu akan begini jadinya, ia lebih baik tidak kembali ke rumah ini.
"Bu... Yasmin pulang dulu ya, ayo sayang... salam Nenek," ucapnya berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah.
Ibu Maryam menyambut tangan cucunya, tapi sulit untuk tersenyum, tidak menyangka pertemuannya akan sesingkat ini.
Begitu juga dengan Yasmin, wanita itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan.
"Nenek tidak boleh nangis, tidak boleh sedih, harus selalu gembira, Nenek..." ucap Fatir, memperlihatkan wajahnya yang sangat ceria. Tetapi kata-kata itu justru membuat tangis Maryam tergugu.
Nenek mana yang rela berpisah dengan anak dan cucunya bukan dengan baik-baik, tapi karena keegoisan suami.
"Anak-anak benar, Bu... jangan sedih," Yasmin memeluk tubuh ibunya.
Maryam mengelus pundak Yasmin lembut. "Tentang pernikahan kamu, Ibu minta kamu sabar Nak. Ibu ingin memberi pengertian Ayahmu pelan-pelan sayang... jika hatinya sudah luluh Ibu akan hubungi kamu," ucapnya serak.
Yasmin mengangguk, menatap ke arah wajah ibunya. "Tapi Ibu jangan sedih terus," Yasmin ingin ibunya melepaskan dirinya dengan ikhlas.
"Nggak. Nggak sedih lagi, kok," Maryam menarik napas, menghembuskan perlahan agar rasa sesak di dadanya berkurang.
Fatir dan Fathia yang berdiri di samping nenek dan bunda mendengarkan percakapan itu tentu mulai mengerti, bahwa suasana yang kurang menyenangkan itu disebabkan oleh kakek.
"Aku berangkat, Bu..."
"Hati-hati di jalan. Jangan terlalu lama bersedih ya. Nanti Ibu coba bicara pelan-pelan sama Ayahmu," imbuh Maryam, menasehati memang mudah tapi dirinya sendiri justru yang paling terluka.
Yasmin mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih, menarik koper mengikuti Fatir dan Fathia yang sudah melangkah keluar pintu dengan hati yang masih berat, namun berusaha tetap tegar.
"Berhenti!"
Langkah Yasmin berhenti, tidak menoleh tapi bahunya menegang ketika mendengar suara bariton dari belakang.
"Sopan kah? Pergi tidak pamit Ayahnya?!" Ketus Amir ketika Yasmin balik badan menatapnya. Pak Amir berdiri di ambang pintu, tangannya bertaut di belakang punggung.
"Maaf Yah, aku pamit," ucap Yasmin menatap rambut ayahnya yang sama sekali belum ada uban seperti ibunya.
Pak Amir melangkah mendekat perlahan-lahan, seolah takut langkahnya akan membuat putrinya benar-benar lenyap dari pandangan. Ketika berdiri berhadapan dengan Yasmin, ada jeda panjang hanya terdengar detak jantung yang mengisi kesunyian.
Tidak Yasmin duga, pak Amir ambil alih koper yang ia pegang, lalu pandangan tertuju ke arah Fatir dan Fathia.
"Ayo masuk sama Kakek, kalian mau Kakek potong Ayam bukan?" Tanyanya lembut tidak seperti tadi.
"Yaiii... potong Ayam..." seru Fatir mengikuti kakeknya yang menarik koper, meninggalkan sang pemilik yang masih diam mematung.
...~Bersambung~...
bingung....tu...Marco mo jawab apaan....
jgn kan knyataan dlm mimpi juga Marco GK bkln blik Karo kwe tau....🤣🤣🤣🤣🫣
bnyak bgt ....bikin syok nya....dri kmrin 🤣🫣