Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
"Jangan! Tolong lepaskan dia! Jangan!"
Adista menjerit histeris dalam tidurnya. Tubuhnya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas sofa panjang ruang tengah. Air mata mengalir deras dari sudut matanya yang tertutup rapat. Di dalam mimpinya, siksaan kejam yang dialami wanita bergaun putih itu terasa begitu nyata dan menyakitkan, membuat jiwa Adista ikut berteriak kesakitan.
"Non... Non Adista, bangun, Non! Istighfar, Non, bangun!"
Sebuah suara cemas disertai guncangan lembut di bahunya perlahan-lahan menarik kesadaran Adista.
GASPP!
Adista terbangun dengan sentakan kuat. Matanya langsung membelalak lebar menatap wajah panik Bik Sumi yang berada tepat di depannya. Napas Adista memburu dengan sangat cepat, tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran maut.
Seluruh tubuh Adista basah kuyup oleh keringat dingin yang bercucuran dari dahi, leher, hingga membasahi pakaiannya. Dadanya berdegup sangat kencang, bergetar hebat di balik bajunya. Rasa takut dan ngeri yang luar biasa dari mimpi buruk tadi masih mencengkeram kuat kesadarannya. Adista memegangi dadanya yang naik turun, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah berada di dunia nyata.
Bik Sumi benar-benar kaget melihat kondisi majikannya. Wanita tua itu terkejut karena tadi saat sedang merapikan ruang tengah, ia tiba-tiba mendengar Adista menggugah, berteriak-teriak histeris meminta tolong dengan wajah yang penuh ketakutan dalam kondisi mata tertutup. Bik Sumi belum pernah melihat Adista se-syok ini sebelumnya.
Melihat Adista yang masih kebingungan dan gemetar hebat, Bik Sumi yang tidak banyak bicara langsung berbalik arah. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan cepat menuju ke arah dapur. Bik Sumi mengambil sebuah gelas kaca bersih, lalu mengisinya dengan air putih hangat dari dispenser yang berada di sudut dapur. Ia tahu, dalam kondisi syok seperti ini, majikannya membutuhkan air hangat untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Tidak butuh waktu lama, Bik Sumi kembali ke ruang tengah sambil membawa gelas tersebut. Ia mendekati sofa dengan langkah pelan agar tidak mengejutkan Adista yang masih melamun kosong. Dengan gerakan yang sangat lembut, Bik Sumi menyodorkan gelas berisi air hangat itu kepada Adista.
"Ini, Non... minum dulu pelan-pelan," kata Bik Sumi dengan suara yang sangat halus, penuh rasa iba.
Adista menatap gelas itu, lalu menerimanya dengan tangan yang masih gemetar. Gelas kaca itu bahkan sampai beradu dengan giginya karena tangannya belum stabil. Air hangat dari dispenser itu mengalir perlahan melewati tenggorokannya yang terasa sangat kering dan mencekat. Setelah meneguk air itu sampai habis setengahnya, Adista meletakkan gelas di atas meja kaca. Kehangatan air itu perlahan-lahan mulai membuat tubuhnya sedikit lebih tenang, meskipun debaran jantungnya masih terasa kuat.
Adista mengembuskan napas panjang, mencoba membuang rasa sesak di dadanya. Ia menatap Bik Sumi yang kini duduk diam di lantai dekat sofa, menantinya dengan sabar. Rasa takut yang teramat sangat dari mimpi tadi membuat Adista tidak sanggup jika harus memendamnya sendirian. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara.
"Bik... aku baru saja mimpi buruk sekali. Mimpinya terasa aneh dan sangat nyata," bisik Adista dengan suara yang serak dan bergetar.
Bik Sumi hanya mengangguk perlahan dengan wajah polosnya. Sesuai tabiatnya yang tidak banyak bicara, ia tetap diam dan bersiap mendengarkan cerita majikannya tanpa berniat memotong atau mengajukan pertanyaan yang tidak perlu.
Dengan kata-kata yang sangat sederhana, Adista mulai menceritakan seluruh isi mimpi anehnya kepada Bik Sumi. Ia menceritakan tentang seorang wanita muda yang memiliki rambut hitam panjang terurai. Namun, Adista sama sekali tidak memberikan detail sedikit pun bahwa wajah wanita di dalam mimpi itu sangat mirip dengan sosok perempuan yang ada di dalam lukisan besar di ruang tengah mereka.
Adista juga tetap menyimpan rapat-rapat rahasia tentang kematian Ronald dan Bram. Ia sama sekali tidak memberi tahu Bik Sumi bahwa kakak dan sepupunya telah tewas secara mengenaskan di rumah ini. Adista sengaja menyembunyikan kenyataan berdarah itu karena takut pembantu barunya akan ketakutan dan langsung memilih pergi meninggalkannya sendirian lagi.
"Di dalam mimpi itu, ada seorang wanita yang sedang berjalan pulang pada malam hari yang gelap dan sepi, Bik. Jalanannya sangat sunyi dan tidak ada orang sama sekali," kata Adista dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena teringat kembali ngerinya kejadian tersebut.
"Lalu, tiba-tiba ada lima orang preman berwajah beringas yang menghadangnya. Para preman itu tidak tahu siapa dia, Bik. Mereka juga tidak kenal sama wanita itu," lanjut Adista dengan suara yang semakin mengecil, menahan tangis. "Mereka langsung menangkapnya. Mereka menyiksa dan merenggut kehormatan wanita malang itu secara bergantian di atas tanah yang dingin. Darah sampai mengalir deras dari kemaluan perempuan itu karena kebiadaban mereka yang tidak punya hati."
Bik Sumi yang mendengarkan penuturan itu langsung membelalakkan matanya lebar-lebar. Wajah tuanya memancarkan rasa ngeri yang mendalam, membayangkan penderitaan wanita yang diceritakan oleh Adista. Namun, Bik Sumi tetap memilih untuk diam dan mendengarkan.
"Setelah puas menyiksa dan berbuat jahat, para preman itu belum juga puas," tutur Adista, air matanya kini benar-benar menetes deras membasahi pipi. "Mereka menyeret tubuh perempuan yang sudah lemas dan tidak berdaya itu ke dalam sebuah gudang kosong yang gelap di dekat sana. Di dalam gudang itu, sebelum wanita itu mati, mereka mengambil batu-batu besar yang tergeletak di lantai."
Adista berhenti sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat oleh rasa ngeri yang teramat sangat. "Mereka... mereka menghantam tubuh dan kepala perempuan itu berkali-kali pakai batu besar, Bik. Mereka menghantamnya sampai hancur dan wanita itu mati mengenaskan. Wanita itu meninggal dengan rasa sakit yang luar biasa, membawa dendam kesumat yang sangat besar kepada semua laki-laki di dunia."
Adista mengakhiri ceritanya dengan tubuh yang kembali merinding. Ia menghapus air matanya dengan tisu, lalu terdiam seribu bahasa. Ia memilih untuk menyudahi ceritanya sampai di situ, tanpa menghubungkan mimpi pembunuhan keji itu dengan hal-hal ghaib yang ada di dalam rumahnya.
Bik Sumi yang mendengar cerita itu ikut mengembuskan napas panjang, merasa ngeri sekaligus kasihan dengan nasib wanita di dalam mimpi majikannya. Meskipun tidak banyak bicara atau bertanya, raut wajah Bik Sumi menunjukkan bahwa cerita itu sukses membuat bulu kuduknya berdiri. Sementara itu, Adista kembali tenggelam dalam lamunannya, memendam sendiri rahasia gelap kematian Ronald dan Bram, sambil terus bertanya-tanya di dalam hati apakah mimpi ini adalah kunci dari segala petaka berdarah yang menimpa keluarganya.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya