*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'
Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.
Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.
Hingga suatu malam...
Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.
Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.
Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.
Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HTW 27
Tidak sadarkan diri selama dua hari , lalu melewati masa pemulihan selama lima hari. Dan total semuanya jadi, satu minggu. Jangankan untuk keluar rumah, untuk keluar kamar pun, tidak bisa. Aku hanya diperbolehkan menikmati pemandangan luar, dari balik jendela kamarku yang berada dilantai 2. Bosan? Sudah pasti. Dan itu tidak perlu dipertanyakan.
“Sarapannya, Nak Bram?” Bi Mira masuk membawa nampan berisi makanan kesukaanku.
“Ayah ada dimana, Bi?”
“Tuan Besar sedang bertemu tamu, di ruang depan Nak Bram.”
Bi Mira menaruh nampan berisi sarapan, pada meja lipat yang terletak di depan pangkuanku.
“Tamu? Pagi-pagi begini?”
“Kalau Bibi tidak salah dengar, dia adalah salah satu orang yang pernah meminjam uang pada Tuan Besar.”
“Salah satu? Jadi maksudnya, ada orang lain juga yang meminjan uang sama Ayah, begitu? Lalu untuk apa orang itu datang lagi, Bi?”
Aku baru mendengar hal seperti ini. Dan aku harus mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui Bi Mira.
“Apa Nak Bram tidak tahu?”
Aku menggeleng. ”Ayah tidak pernah cerita apa-apa,” jawabku.
Tiba-tiba aku merasa sangat kelaparan, begitu melihat sarapan yang menjadi favoritku selama ini. Perutku yang mulai terasa perih, serta mulut yang ikut berliur, seolah sedang memaksaku untuk segera melahap makanan yang telah tersaji.
Sejak malam penyerahan diri Jum’at lalu, memang tidak ada makanan yang benar-benar bisa aku nikmati. Karena aku terus saja terbayang pada iblis wanita yang terkurung di kamar belakang, saat dia berubah wujud.
Aku merengkuh tubuh dan mengusap kedua lengan, bergidig ngeri. Dan ternyata, tingkahku dilihat oleh Bi Mira.
“Kenapa Nak Bram? Apa sarapannya mau diganti?”
“Tidak! Tidak usah, Bi. Sarapan ini sudah sangat cukup, Tyo suka. Tapi kalau Bibi memang mau membantu Tyo, tolong ceritakan tentang orang-orang yang meminjam uang pada Ayah.”
Bi Mira menatapku, heran. Tapi tidak lama setelahnya, beliau mengangguk dan mulai bercerita.
“Sebatas pengetahuan Bibi dan menurut cerita Paman Agus, orang itu dulunya adalah teman Tuan Besar waktu masih bekerja di perkebunan. Tuan Besar meminjamkan uang, karena merasa kasihan. Dia ditinggalkan istrinya karena tidak punya pekerjaan, dan anaknya baru saja meninggal akibat sakit keras. Awalnya hanya ada satu orang, tapi orang itu malah membawa teman-temannya kemari.”
Saat alisku berkerut, Bi Mira melanjutkan.
“Setelah Tuan Besar meminjamkan uang untuk yang pertama kali, orang itu datang lagi untuk meminjam yang kedua kali. Sepertinya dia ketagihan, karena Tuan Besar tidak meminta bunga dari uang pinjaman itu. Dan waktu pengembaliannya pun, terserah si peminjam. Semampunya.”
“Dan Ayah memberikannya, lagi?”
Bi Mira mengangguk.
“Itu berarti, ini adalah kedatangannya yang ketiga kali?” Tanyaku penasaran.
Bi Mira menggeleng. “Ini yang kelima kali, Nak Bram.”
“Kelima?” Aku membeo, sambil mengangkat satu tangan dengan lima jari teracung.
“Kedatangan ketiga dan keempat, Tuan tidak mau menemuinya atau memberikan pinjaman lagi. Paman Agus telah melakukan penyelidikan. Dan ternyata, orang itu menggunakan uang yang dia pinjam dari Tuan Besar untuk berjudi.”
Sarapanku sudah habis. Dan aku meletakkan kembali gelas berisi jus yang sudah kosong.
“Terima kasih untuk sarapannya, Bi.”
“Sama-sama, Nak Bram.”
“Apa Bibi tahu masalah Ayah yang lain? Kalau Bibi tahu, tolong ceritakan padaku ya? Tyo hanya ingin ikut membantu, karena selama ini Tyo tidak mendengar apapun dari Ayah.”
“Tuan Besar pasti sengaja menyembunyikan semuanya dari Nak Bram. Tuan tidak mau Nak Bram tambah terbebani. Karena Tuan Besar tahu, Nak Bram sendiri sudah punya banyak masalah. Apalagi Nak Bram juga harus menggantikan beliau menjadi pengabdi….”
Bi Mira menghentikan ucapannya, saat pintu kamarku terbuka.
“Kamu sudah sarapan, Nak?” Tanya Ayah.
“Sudah. Ayah sendiri?”
“Tadi Ayah sudah sarapan bersama tamu dan juga Paman Agus.”
Ayah duduk di tepian ranjang. “Tyo… Apa Ayah boleh meminta sesuatu padamu?”
Aku menegakkan punggung. “Katakan saja Ayah! Kalau Tyo bisa, tentu Tyo akan melakukannya.”
Setelah mendengar masalah Ayah dari Bi Mira, kini aku merasa Ayah sedang membutuhkanku. Meski aku selalu ingat kalau hidupku terikat dengan sosok iblis wanita karena Ayah, tapi melihat wajah beliau saat ini, aku tetap tidak tega.
“Bisakah kita pulang ke kampung Nenekmu, lebih cepat? Ayah sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan adikmu. Itupun kalau kamu sudah sehat.”
“Tentu saja Tyo bisa!” jawabku lantang. Aku akan langsung menyanggupi permintaan seperti ini, tanpa harus berpikir lebih dulu. Aku tidak akan pernah menolak untuk bertemu dengan Ibu dan Nuri.
“Apa kamu yakin? Maksud Ayah, apa kondisimu memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh, menuju kampung Nenekmu?” Ayah terlihat ragu.
“Tyo Kuat Ayah. Apalagi kalau untuk bertemu Ibu dan Nuri.”
Ayah tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu, Ayah akan menyuruh Agus untuk menyiapkan mobil. Sebelum pulang, kita harus berbelanja. Karena kalau tidak, Si Cempreng adikmu itu pasti akan protes.”
Dengan cepat, Ayah bangkit penuh semangat.
“Ayah? Apa Tyo perlu mengabari Ibu atau Nuri, lebih dulu?” Tanyaku.
“Jangan! Biarkan ini jadi kejutan. Oh iya, apa kamu tahu sesuatu yang sangat diinginkan Nuri? Ayah ingin membelikannya.”
Aku menggeleng. “Nanti, tanya saja pada penjaga toko. Apa yang paling ngetren saat ini, untuk remaja seusia Nuri.”
Aku memberi saran, dan Ayah mengacungkan ibu jari sebagai tanda persetujuan. Sepeninggal Ayah dari kamar, aku tersenyum. Aku senang bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ayah.
Eh sebentar!
Kalau aku dan Ayah jadi pulang ke kampung Nenek, itu artinya… aku bisa bertemu dengan Ajengku juga. Ah! aku merindukan gadis itu sekarang.
Lekas aku berganti baju. Aku akan berbelanja keperluan untuk Nuri, seperti kata Ayah. Jelas aku harus ikut, karena takut Ayah akan kalap. Sudah lama Ayah tidak bertemu dengan Nuri, dan aku yakin pasti Ayah akan membeli semua barang yang menurutnya cocok untuk Nuri.
“Tyo? Apa ibumu meminta sesuatu padamu sebelum pulang ke rumah Ayah, kemarin?”
Ayah bertanya dalam perjalanan menuju Mall terdekat.
“Tidak Ayah. Ibu tidak menginginkan titipan apapun.”
“Sudah Ayah duga. Ibumu memang tidak pernah meminta apapun. Apalagi setelah mengetahui kalau Ayah….”
“Ayah? Apa Ayah kenal dengan pemilik motor yang ada di belakang kita?”
Aku memotong ucapan Ayah di waktu yang tepat, sebelum Ayah kembali menyinggung masalah yang bersangkutan dengan iblis itu. Dan menurutku ini adalah pertanyaan mendesak, yang mampu menghentikan percakapan paling membosankan untuk dibahas.
Ayah memalingkan wajah, dan mulai memperhatikan motor yang berada tepat di belakang mobil yang sedang aku kendarai.
“Sepertinya tidak. Memang kenapa, Tyo?”
“Tyo hanya merasa, kalau motor itu terus mengikuti kita. Ck! Tapi itu mungkin hanya perasaan Tyo saja.”
Aku kembali menfokuskan diri pada jalanan di depan. Dan benar saja, tidak ada lagi percakapan antara aku dan Ayah, sampai mobil masuk ke area parkir Mall.
.
.
.
Tadinya Si_Ro mau up 3 bab sekaligus, tapi yang 2 lagi tapi belum di revisi. Maaf ya...
By Si_Ro
**
Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, dan dapatkan giveaway menarik.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti anjuran pemerintah.
RAJIN CUCI TANGAN, JAGA JARAK DAN JUGA PAKAI MASKER
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦