Ini hanyalah sebuah kisah tentang perjuangan seorang gadis yang menggapai mimpinya menjadi seorang atlet, dan tentu saja banyak hambatan yang selalu datang kepadanya.
Putri Alya Zahra Elvaro= 19 tahun (Alya)
Yuda Pranata= 19 tahun (Yuda)
Setelah Yuda mengetahui Alya tidak bersalah, ia meminta maaf atas kesalahan yang telah ia buat terhadapnya. Tapi di sisi lain, seorang laki-laki yang tak kalah tampan dari Yuda, yaitu Andre Tanaka Pranata. Pacar dari adik Alya, yang bernama Vania Areta Elvaro, Andre begitu penasaran dengan Alya sehingga ia terus melindungi Alya.
Apakah Alya akan menerima maaf dari Yuda? Atau malah sebaliknya?
Bagaimana dengan Andre? Akankah ia jatuh cinta pada Alya? Kalau Andre sampai jatuh cinta pada Alya, bagaimana nasib Vania?
Baca alurnya sampai habis .... ^^
Follow juga Ig; @afwafitria_29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afwa F N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
"Dengar! Kalau kamu menang di running festival, kamu akan mendapatkan beasiswa sekaligus uang saku selama satu tahun! Para peserta yang mengikuti lomba itu juga akan mendapatkan uang saku selama enam bulan," pekik Reva. Seketika Alya berhenti setelah mendengar penjelasan dari pelatih yang baru ia kenal itu.
"Beasiswa dan uang? Ini kesempatanku untuk hidup mandiri dari sekarang! Aku nggak mau nyusahin Ayah sama Ibu lagi!" batin Alya yang masih berpikir keras.
"Udah terima aja!" ucap Risda tiba-tiba sambil menyenggol tangan Alya.
"Saya berharap kamu mengikuti lomba ini!" kata Reva yang berharap Alya akan menerimanya.
"Maaf, tapi kali ini saya belum bisa!" sahut Alya yakin dan meninggalkan Risda dan Reva di sana.
"Alya!" seru Risda, tapi Alya tidak menghiraukannya dan tetap berjalan.
Baru saja Risda ingin menyusul Alya, Reva mencegahnya. "Tunggu!" pekik Reva yang mengambil sebuah kartu di saku celananya.
"Ini kartu nama saya, jika Alya berubah pikiran. Tolong kamu kasih ini ke Alya, ya!" Risda menerimanya dan menyusul Alya.
"Alya! Tunggu!!" teriak Risda ayang berhasil mengejar Alya dan mensejajarkan langkahnya.
"Kenapa lo gak terima aja? Padahal ini kesempatan lo untuk mengejar cita-cita lo!" tanya Risda heran. Ia tak tau harus membujuk sahabatnya itu bagaimana lagi, selain memberi saran.
"Cita-cita gue? Udah merusak nama baik keluarga gue, apakah itu yang di namakan cita-cita? Gue udah janji sama diri gue sendiri agar melupakan itu semua! Tapi, selama lima tahun ini usaha itu sia-sia saja ketika ada orang yang nawarin gue jadi atlet lagi!" jawab Alya penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
"Tapi.. ini juga kesempatan lo untuk membuktikan kepada semua orang, bahwa lo gak bersalah, Al!!" tutur Risda sambil memegang kedua pundak Alya dengan penuh keyakinan. Alya terdiam sejenak mencerna ucapan Risda.
"Pelatih itu ngasih gue ini tadi. Kalau lo berubah pikiran, lo bisa temuin dia langsung." Risda meletakkan kartu nama tersebut di telapak tangan Alya.
Alya terus menatap kartu tersebut dengan lekat. Terima atau tidak? Pilihan itu selalu mengganggu pikirannya. Ia tidak tau harus memilih mengejar cita-citanya yang selama ini tertunda, atau memilih melupakan itu semua dan pokus pada satu hal. Yaitu membuat novel.
"Gue mau pulang!" ucap Alya dan meninggalkan Risda begitu saja di sana sendirian. Risda berharap Alya akan mempertimbangkan keputusannya itu dan mengikuti lomba.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Alya yang sedang duduk di halte bis sendirian masih memegang dan menatap kartu nama tersebut.
"Bagaimana ini? Apa aku terima aja? Atau jangan?" gumam Alya yang memikirkannya saja sudah pusing.
Tiba-tiba sebuah mobil yang tak kalah mahal dari Yuda dan Risda berhenti di depan halte bis tersebut. Alya sekilas memandang mobil tersebut heran. Mungkin sedang mencari seseorang, pikirnya dalam hati. Alya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menopang kedua tangannya di paha. Tak sadar kalau seseorang sedang memperhatikannya di dalam mobil, lalu setelah menunggu beberapa menit orang tersebut membuka pintu mobil miliknya dan menghampiri Alya.
"Lo ngapain masih di sini?" tanya Andre dengan nada yang cukup tinggi. Alya menengadahkan kepalanya menatap siapa orang yang ada di depannya.
Alya sontak mengubah posisi duduknya dengan menjauh dari Andre.
"L– lo sendiri ngapain di sini?" tanya Alya balik, karena tidak mau Andre mengetahui kartu nama tersebut, Alya langsung menyimpannya di dalam tasnya.
"Seharusnya gue yang nanya, lo ngapain masih di sini. Sendirian lagi," sahut Andre yang mengikuti Alya duduk.
"Gu– gue.. gue lagi nungguin bis. Tapi, dari tadi nggak ada juga," jelas Alya seadanya.
"Oh iya, tumben lo gak sama Risda? Bukannya kalian setiap hari selalu sama-sama ya?"
"Oh iya Risda!" Alya bergumam, ia hampir saja lupa kalau hari ini seharusnya ia dan Risda pergi membeli peralatan yang harus di bawa camping nanti.
"Gue harus pergi!" kata Alya dan tanpa berpikir panjang, ia berlari meninggalkan Andre. Baru saja beberapa langkah, Andre memegang tangannya.
"Lo mau ke mana!?" tanya Andre yang penasaran. Alya menepis tangan Andre dan menjawabnya, "Gue mau nyusul Risda!"
"Lo gak liat ini hujan?"
"Hujan?!" Alya lagi-lagi tidak sadar kalau saat ini sedang hujan deras. Ia terdiam sejenak dan duduk kembali.
"Hari udah mulai gelap. Kita sebaiknya pulang sekarang! Gue akan anter lo pulang kali ini," ucap Andre yang mendahului melangkah menuju mobilnya.
"Gue nunggu bis aja!" tolak Alya yang mengeluarkan jaketnya dari dalam tasnya karena kedinginan.
"Lo mau nunggu sampai kapan? Hari ini bis cuma beroperasi sampai jam dua belas siang aja. Ini udah lewat jam dua belas. Mending lo sekarang masuk ke mobil gue!" jelas Andre yang masih berdiri di samping mobilnya dengan menggunakan payung. Alya yang tidak punya pilihan lain lagi, ia segera masuk ke mobilnya di susul Andre.
Sesampainya di depan gang rumah Alya. Andre berniat untuk mengantarnya sampai depan rumah. Tapi, Alya menolaknya karena hujan sudah reda.
"Apa!" Terdengar suara teriakan Mamah nya. Alya yang ingin membuka pintu rumahnya seketika berhenti dan mendengarkannya.
"Kenapa bisa!?" tanya Rika yang terkejut saat mendengar penjelasan dari Suami nya.
"Beberapa hari ini aku cari pekerjaan baru lagi untuk biaya kuliah Alya."
"Ayah!" gumam Alya, cairan bening satu per satu mulai berjatuhan.
"Anak itu selalu saja bikin susah! Ini salah kamu juga, Mas. Kenapa kamu selalu bekerja keras untuk Alya? Padahal dia bukan anak kandung kita!" kata Rika dengan nada tinggi.
Duar!
Seakan semesta tau apa yang di rasakan Alya saat ini, suara gemuruh dari langit membuat semua orang ketakutan saat mendengarnya. Alya yang masih berdiri, tak percaya apa yang di dengarnya barusan.
"Jaga omongan kamu! Kalau Vania atau Alya denger gimana?" bentak Fahrul menatap tajam Istrinya.
"Biarin mereka tau! Kenapa harus di sembunyiin? Anak yang tak tau identitas nya itu hanya membawa masalah di rumah ini, dia sama sekali nggak tau berterima kasih! Coba waktu itu kamu nggak bawa Anak itu ke rumah ini, mungkin dia sekarang tinggal di jalanan!" hardik Rika yang tidak terima kalau Fahrul terus membela Alya.
"Cukup! Kamu cukup menghina Alya kaya gitu! Alya udah anggap sebagai anak aku sendiri! Jadi, jangan pernah menghinanya kaya gitu!" Fahrul berjalan masuk kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
"Jadi? Aku bukan anak kandung mereka!?" batin Alya, seketika tubuhnya lemas. Seakan tidak ada kekuatan lagi untuk berdiri. Alya mencubit pipinya berharap kalau ini hanyalah mimpi buruk yang ia alami.
"Bukan! Ini bukan mimpi buruk!" ucap Alya yang menunfuk pasrah. Alya berlari ke luar rumah. Meskipun hujan deras, tapi itu tidak menghalangi Alya untuk berlari.
Alya duduk di luar pondok yang pemandangan nya langsung mengarah ke hamparan sawah yang luas.
"Kenapa! Kenapa harus aku!" teriak Alya dengan sekencang-kencangnya. Ia sempat berpikir akan kabur dari rumahnya, tapi bagaimana dengan Ayah dan Nenek? Mereka selalu memperlakukanku layaknya keluarga! Tak pernak sedikitpun menyakitiku! Aku harus apa!
Alya kemudian mengambil kartu nama yang di berikan Risda kepadanya. "Apa aku terima aja?!" gumam Alya yang masih memegang kartu nama tersebut yang sudah basah terkena air.
Ternyata Alya bukan anak kandung Fahrul dan Rika? Apa yang akan di lakukan Alya selanjutnya ya? Apa Alya akan menerima tawaran pelatih Reva? Atau memilih jalan keluar yang lainnya?
Kalau masih penasaran klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua.
Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Semangat trz 😉
lanjut adik othor..... 💪💪