Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 (18+)
Emerick mengambilnya dengan gerakan santai, seolah itu adalah perpanjangan dari tangannya sendiri. Ia mengamati senjata itu sebentar, kemudian mengokangnya dengan satu tangan sebelum menoleh ke anak buahnya yang membawa senjata lain.
"Suruh semua pasukan kita untuk menyerang balik," katanya tajam. "Hancurkan mereka. Jangan biarkan satu pun dari mereka berhasil masuk ke dalam markas ini. Aku ingin Rafael tahu bahwa menyerang tempat ini adalah kesalahan terbesarnya."
Pria yang membawa pistol itu langsung mengangguk cepat dan berlari menuju pasukan lain untuk menyampaikan perintah.
Emerick lalu berbalik ke pria lain—orang yang sebelumnya mendobrak pintu kamar tahanannya tanpa izin. Tatapannya tajam dan penuh ketidakpuasan.
"Dan kau," ia berkata dengan suara rendah namun mengandung bahaya, "jaga tahanan kita. Pastikan dia tidak pergi ke mana-mana. Aku masih ingin bermain dengannya."
Ia menyeringai kecil sebelum melangkah lebih jauh, meninggalkan anak buahnya yang langsung pucat mendengar ancaman halus itu.
Begitu Emerick keluar dari lorong markasnya, udara malam yang dingin langsung menerpa wajahnya. Langit Meksiko yang gelap tanpa cahaya kota membuat suasana semakin mencekam, hanya diterangi oleh ledakan api dari kendaraan yang terbakar dan kilatan tembakan yang bersahut-sahutan di kejauhan.
Dari posisi berdirinya, ia bisa melihat dengan jelas pasukan Rafael Montenegro menyerbu masuk. Mereka datang dari tiga arah berbeda—pintu gerbang utama, sisi barat dekat gudang senjata, dan sisi selatan yang berbatasan dengan tebing curam. Helikopter masih berputar di udara, sementara beberapa tentara bayaran Rafael telah turun menggunakan tali, mencoba menerobos pertahanan markasnya.
Emerick mengepalkan tangan di gagang pistol emasnya, matanya menyipit saat melihat pasukannya berusaha bertahan. Beberapa anak buahnya sudah tumbang, tubuh mereka bersimbah darah di atas tanah berdebu.
Seorang pria bertubuh besar berlari mendekatinya, wajahnya penuh keringat dan darah dari luka kecil di pelipisnya.
"Tuan! Mereka membawa persenjataan berat! Granat, sniper, dan drone! Kita terdesak di gerbang depan, butuh bala bantuan segera!"
Emerick menoleh tajam, ekspresinya gelap. Ia bukan tipe orang yang suka bermain bertahan. Ia adalah predator, dan ia lebih suka menjadi pemburu daripada mangsa.
"Siapkan semua pria kita yang tersisa. Bawa keluar senjata berat." Ia menarik napas panjang sebelum lanjut berbicara dengan nada dingin, "Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang meninggalkan tempat ini hidup-hidup."
Pria itu mengangguk dan segera berlari memberikan perintah.
Emerick kemudian memeriksa jam tangannya sebentar, lalu menatap lurus ke kejauhan.
"Kau benar-benar ingin bermain api, Rafael?" gumamnya pelan, matanya penuh kebencian. "Baiklah, mari kita lihat siapa yang terbakar lebih dulu."
Sementara itu, suara langkah kaki mendekat. Seorang pria dengan rompi anti-peluru bergegas ke arahnya.
"Tuan! Gerbang utama hampir jebol! Kita kehilangan setengah dari penjaga luar!"
Emerick hanya menghela napas, lalu mengangkat pistol emasnya dan mengarahkannya pada pria itu tanpa ragu-ragu.
DOR!
Peluru menembus kepala pria itu, membuatnya langsung terjatuh ke tanah dengan mata membelalak. Semua orang di sekitar mereka membeku sejenak, terkejut dengan tindakan brutal Emerick.
"Aku tidak butuh anak buah yang hanya bisa mengeluh," katanya dingin, lalu mengangkat wajah, menatap pasukannya yang lain. "Siapa pun yang takut mati, lebih baik angkat kaki sekarang. Aku tidak butuh pengecut di sisiku."
Tidak ada satu pun yang bergerak. Mereka tahu betapa kejamnya Emerick Vasquez. Mundur berarti mati lebih cepat.
Emerick menyeringai, lalu melangkah maju. "Bagus. Sekarang, ayo kita buat Rafael menyesal telah berani menginjak wilayahku."
...➰➰➰➰...
Tembakan dan ledakan menggema di seluruh area markas Emerick. Udara malam Meksiko yang dingin bercampur dengan asap hitam dari kendaraan yang terbakar, menciptakan aroma menyengat dari bensin dan darah. Jeritan orang-orang yang tertembak terdengar di mana-mana, bersamaan dengan suara peluru yang menembus dinding beton dan tubuh manusia.
Emerick Van Houten berdiri di atas balkon markasnya, mengawasi dari ketinggian bagaimana pasukannya satu per satu berjatuhan. Para anak buahnya yang tersisa di luar sudah kehilangan harapan. Tubuh mereka bersimbah darah, banyak yang ambruk tak bernyawa di atas tanah berdebu. Mereka yang masih hidup terus melawan, tetapi jumlah mereka semakin menipis.
Di sisi lain, pasukan Rafael Montenegro terus merangsek masuk, bagaikan badai yang menghancurkan apa pun di hadapannya. Mereka bukan sekadar tentara bayaran biasa—mereka adalah algojo yang telah bersumpah setia pada sang tuan.
"Mundur ke dalam!" salah satu anak buah Emerick berteriak putus asa, menarik rekannya yang terluka parah. "Jangan biarkan mereka masuk ke sini!"
Namun, takdir sudah ditentukan. Mereka kalah jumlah, kalah strategi. Rafael datang dengan persiapan penuh, tidak memberi ruang sedikit pun untuk Emerick melarikan diri.
Emerick menyipitkan mata, menekan rahangnya dengan keras. Ia tahu ini tidak bisa dibiarkan lebih lama.
"Sial," gumamnya, tangannya mencengkeram pagar balkon dengan kasar.
Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam markas. Langkahnya penuh kemarahan, tapi juga penuh perhitungan.
Begitu ia masuk ke dalam lorong utama, seorang anak buahnya bergegas mendekat, napasnya tersengal. "Tuan! Kita hampir kehilangan semua orang di luar! Apa yang harus kita lakukan?"
Emerick menatapnya dengan ekspresi dingin sebelum akhirnya berkata, "Bawa tahanan kita pergi. Sekarang juga."
Anak buahnya terdiam sejenak, lalu mengangguk cepat. "Dimengerti, Tuan!"
Emerick menoleh ke sekeliling, melihat pasukan yang tersisa di dalam. "Kalian semua, bertahanlah. Hentikan mereka sebisa mungkin."
Tak ada yang berani membantah. Mereka tahu perintah ini berarti satu hal: mereka dikorbankan. Tapi mereka tidak punya pilihan.
"Lindungi aku sampai aku keluar dari sini," lanjut Emerick, suaranya dingin. "Tahan mereka selama mungkin."
Beberapa anak buahnya langsung bersiap, mengambil posisi bertahan di balik pilar dan meja-meja kayu, senjata mereka sudah diarahkan ke pintu masuk.
Sementara itu, Emerick berjalan cepat menuju ruang bawah tanah, tempat Cassandra ditahan. Pikirannya berputar, mencari jalan keluar. Ia harus membawa perempuan itu pergi. Jika Rafael datang dan menemukan Cassandra di sini, itu hanya akan memperburuk segalanya.
Saat ia tiba di ruangan itu, Cassandra masih terikat, wajahnya terlihat letih tetapi matanya penuh perlawanan. Emerick mendekat dan dengan kasar menarik dagunya.
"Kau akan ikut denganku," katanya tegas. "Dan aku tidak menerima penolakan."
Cassandra menggigit bibirnya, menahan amarah. Tapi sebelum ia sempat berbicara, suara ledakan besar terdengar dari luar.
BRAKKK!
Pintu depan markas akhirnya jebol.
...➰➰➰➰...
DI SISA LAIN
—Setengah Jam Kemudian—
Rafael Montenegro akhirnya tiba di dalam markas.
Ia tidak datang sendiri. Ia datang sebagai malaikat maut, ditemani Franco dan Ed yang setia di sisinya.
DOR! DOR! DOR!
Setiap langkah yang Rafael ambil, ada nyawa yang melayang. Setiap musuh yang menghalangi jalannya, mati dengan brutal di tangannya. Ia tidak menunjukkan belas kasihan.
"HABISI SEMUA!" teriaknya lantang.
Franco dan Ed mengikuti di belakangnya, menembak siapa saja yang berani mencoba bertahan.
DOR!
Seorang anak buah Emerick yang mencoba menyerang dari samping langsung roboh, kepalanya berlubang akibat tembakan Franco.
DOR!
Ed menembak pria lain yang bersembunyi di balik meja, memastikan tidak ada yang selamat.
Rafael terus berjalan maju, matanya dingin dan penuh dendam. Langkahnya mantap, setiap gerakannya penuh dengan niat membunuh.
"EMERICK!!!" suaranya menggema di seluruh markas yang mulai hancur.
Tidak ada jawaban.
Tapi Rafael tahu satu hal: Emerick sedang mencoba kabur. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat.
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏