Kisah sepasang suami istri yang menikah karena sebuah perjodohan.
Ara dan Fawwaz.
Berawal dari tidak saling kenal, lalu dipaksa hidup dalam satu atap.
Ara bersikap sangat dingin dan acuh, berbanding balik dengan Fawwaz yang begitu hangat dan penuh perhatian. Walau sudah berkali-kali di acuhkan, ia tak pernah merasa bosan sedikitpun.
Suatu ketika Ara merasa kasihan dan ingin memperbaiki sikapnya. Benih-benih cinta mulai bersemi, tapi justru ujian berbalik kepadanya.
Dia harus melewati berbagai ujian untuk mendapatkan Fawwaz seutuhnya. Hingga suatu hari ia di melihat kenyataan yang membuat dunianya serasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiva cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Aku dengar kamu ada di TKP saat kejadian?" tanya Ara.
Angelie terbelalak.
"Apa suamiku memintamu datang ke kantornya?" tanya Ara kembali.
Angelie menggeleng.
"Aku yang mendatanginya." Jawab Angelie.
Hhhhh. Ara menghela nafas berat. Dia menepis prasangkanya.
Ara menengadahkan kepalanya, menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Apa sebelum pertemuan kita di supermarket, kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ara kembali, kini air matanya mulai menggenang.
"Iya." Jawab singkat Angelie.
"Apa kalian masih memiliki hubungan?"
Angelie tidak menjawab.
Ara menarik nafas panjang, bulir bening jatuh dari sudut matanya.
"Sekarang kamu sudah melihat keadaanya. Apalagi yang kamu inginkan?" desak Ara.
Angelie tidak bergeming.
"Sekarang keluarlah, aku tidak mau melihatmu berada di sekitar keluargaku."
Ara mempersilahkan Angelie keluar.
"Ck." Angelie berdecak kesal.
Dia menarik kasar kursi duduknya, lalu beranjak keluar.
Malam semakin larut. Namun Ara masih terjaga, sementara Alya sudah terlelap di sofa ruangan.
Kemudian ia berwudhu lalu shalat malam dan di lanjut dengan bermurojah di samping ranjang Fawwaz.
Setelah bermurojah kurang lebih satu jam, matanya mulai mengantuk. Ia tertidur di sisi Fawwaz.
"Ra."
Seseorang memanggil nama Ara, suara yang sangat Ara rindukan.
Ara memicingkan matanya, menatap tak percaya seseorang yang ada di hadapanya.
"Mas Fawwaz," ucap Ara tak percaya.
Fawwaz menyeringai, lalu ia mengulurkan kedua tanganya.
Ara beranjak dari kursinya, berjalan perlahan menghampiri suaminya.
Ara menyentuh kedua tangan Fawwaz lalu ia seperti di tarik ke dunia lain.
Sebuah pulau kecil di kelilingi oleh samudra lepas dengan gulungan ombak menyapu pasir di tepian pantai. Sebuah tempat yang bisa Ara lihat hanya dari TV, kini seolah Ara berada di tempat tersebut.
Fawwaz menatap Ara penuh cinta dengan senyum lebar dari bibirnya.
Ara terenyuh, ia terbawa desaran angin dari laut.
Ara memandang wajah suaminya, tapi tidak ada kata keluar dari bibirnya.
Kemudian Fawwaz menarik Ara sampai ke tepi pantai, menunjuk langit berwarna jingga.
"Masyallah begitu indah ya Mas ciptaan-NYA."
Fawwaz hanya menyeringai lalu ia menghilang bersama dengan terbenamnya matahari.
"Mas," Ara terperanjat dari tidurnya, ia melihat ke arah Fawwaz yang masih terbaring di ranjangnya.
"Astaghfirullah, ternyata hanya mimpi." Gumam Ara.
"Allahu Akbar, Allahu akbar."
Sayup-sayup suara Adzan Subuh mulai terdengar. Ara bergegas wudhu lalu Shalat di samping ranjang tidur Fawwaz.
"Assalamu'alaikum warohmatullah," (bacaan salam tahiyat akhir).
Setelah salam, Ara melihat jari-jari Fawwaz bergerak.
Ara segera menyelesaikan bacaan doanya lalu mendekati suaminya.
"Mas, Mas sudah sadar? ini Ara Mas," bisik Ara. Air matanya menggenang yang siap jatuh hanya dengan satu kedipan.
"Mas ... " Ara mendekatkan wajahnya di telinga Fawwaz.
Fawwaz membuka matanya perlahan, air mata Ara berjatuhan, tapi bibirnya menyeringai.
Lalu Ara berbisik kembali di telinga Fawwaz.
"Assalamu'alaikum Mas, ini Ara ... "
Fawwaz melirikkan matanya, tapi ia belum bisa menggerakkan kepalanya.
"Alhamdulillah Ya Allah." Puji syukur Ara. Air matanya tidak henti-hentinya mengalir.
"Ada apa Ra?" tanya Alya. Dia baru saja bangun dari tidurnya.
"Mas Fawwaz Kak," jawab Ara.
Lalu Alya menoleh ke Fawwaz, air matanya lolos begitu saat melihat adiknya sudah siuman.
Alya bergegas keluar, lalu menelpon kedua orang tuanya.
"Sabar ya Mas, nanti kalau Dokter sudah datang, Ara panggilkan." Bisik Ara.
Bibirnya menyeringai, tapi air matanya masih terus mengalir.
Matahari sudah naik ke persemayamanya. Cahayanya sudah menyebar hingga ke celah-celah ruang rumah sakit.
Jam sudah menunjuk angka delapan.
Semua keluarga sudah berada di rumah sakit.
Sebagian ada di dalam ruangan bersama Dokter sebagian lagi di luar ruangan menunggu hasil pemeriksaan.
"Bagaimana Dokter keadaanya?" tanya Mama pada Dokter.
"Alhamdulillah, di luar perkiraan saya. Pasien bisa siuman lebih cepat." Jawab Dokter.
"Alhamdulillah. Tapi kenapa Putra saya belum bisa bicara Dok?" tanya Mama kembali.
"Kita tunggu saja beberapa jam lagi. Biasanya jika pasien sudah mulai siuman, alat motoriknya sedang mulai mengatur kinerjanya ulang." Jelas Dokter.
"Baik Dokter, terimakasih."
Setelah mendengar penjelasan Dokter, semuanya menjadi lega. Kekhawatiran yang di rasa keluarganya mulai berkurang.
Fawwaz beristirahat kembali, kedua orang tuanya menjaganya di dalam ruangan. Sedang Ara berada di luar ruangan bersama Ibuk, Arga dan juga Alya.
Trrrttt trrttt ...
"Sebentar," ucap Alya lirih.
Alya menjauh dari ruangan. Ia menerima panggilan dari atasanya.
Sementara Ara merebahkan kepalanya ke bahu Ibuk.
Kemudian Alya setengah berlari ke arah ruangan.
"Ra, Kak Alya minta maaf gak bisa temani kamu, soalnya ada masalah di kantor." Kata Alya, suaranya terengah-engah.
"Kak Alya balik ke Bandung? sekarang?"
Alya mengangguk cepat lalu bergegas pamitan dengan kedua orang tuanya.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Alya berpamitan kepada Ibu Ara dan juga Arga.
"Kak Alya balik dulu, Assalamu'alaikum." Pamitnya, dia setengah berlari melewati lorong rumah sakit.
"Waalaikumsalam." Sahut Ibuk, Ara dan juga Arga.
Ara memindahkan kepalanya ke pangkuan Ibuk, lalu ia merasa mual pada perutnya.
"Buk, Ara mau ke kamar mandi dulu." Pamitnya. Ara beranjak dari duduknya.
Ara berjalan ke arah kamar mandi umum.
Meskipun di dalam ruangan Fawwaz ada kamar mandi, tapi ia tidak mau menganggu kedua mertuanya.
"Loh kamu mau kemana Nak? kenapa tidak di kamar mandi dalam saja?" tanya Ibuk.
Ara menggeleng.
"Ara tidak mau menganggu Mama sama Papa Buk." Jawab Ara.
"Mau Ibuk temani?"
Ara menggeleng, "gak apa, Ara bisa sendiri." Sahutnya.
Baru beberapa kali Ara melangkah, kepalanya seperti memutar, pandanganya menjadi kabur, lalu ia jatuh tersungkur.
"Ga, tolong adikmu Ga !" Seru Ibuk.
Samar-samar Ara masih bisa mendengar jeritan Ibuk, lalu semuanya menjadi hening dan gelap.
Ara tidak sadarkan diri.
Arga menggendong tubuh Ara. Ibuk segera meminta pertolongan kepada perawat yang berjaga.
"Sus, tolong Putri saya." Pekik Ibuk.
Perawat tersebut langsung menunjuk suatu ruang.
Mendengar suara keributan, Mama dan Papa segera keluar ruangan.
Mama tidak melihat siapapun di depan ruangan, tapi di kejauhan melihat Arga tergopoh menggendong tubuh Ara dan diikuti oleh Ibunya.
"Pa, tunggu disini. Mama akan menyusul mereka." Kata Mama.
Papa mengangguk.
Kemudian Mama setengah berlari menyusul Ara dan yang lain.
****
Ara memicingkan matanya, mengatur cahaya masuk ke dalam kornea matanya. Ia menelisik setiap sudut ruangan.
"Dimana aku?" ucapnya dengan suara lirih.
Lalu menoleh ke sumber suara yang berada di balik tirai putih.
"Kenapa dengan Putri saya Dokter?" tanya Ibuk. Raut wajahnya penuh kekhawatiran.
Ibu Diana, besan sekaligus teman semasa SMA nya menggenggam tangan Ibu Ratih.
"Ibu tenang saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Dokter. Raut wajahnya begitu santai.
"Maksud Dokter apa?" Ibuk semakin penasaran dengan ucapan Dokter.
"Putri saya pingsan, tapi Dokter bilang gak apa-apa. Apa maksud Dokter?" gertak Ibuk. Raut Ibu berubah kesal.
Sedangkan Ara menguping pembicaraan ketiganya dari balik tirai.
Bersambung.
•
•
•
•
Hai-hai. Jangan lupa semangati Author donk biar bisa boom up.
Pengenya sih up lima bab per hari tapi kok ya dapatnya cuma tiga bab.
Jangan lupa tinggalkan like, komen juga biar Author makin semangat, vote nya juga yang banyak ya ...
gak maksa sih tapi kalau di kasih banyak Alhamdulillah, hehe.
Jangan lupa klik tombol love nya juga biar gak ketinggalan sama cerita selanjutnya dan juga kasih rate lima biar bintang novel ini naik.
pasti ada hati yg tersakiti.
Duhh knpa ujungnya kek gini sih😥
dasar laki laki