Yi Xing dikirim bibi Ning kepada guru Mo untuk mempraktikkan keterampilan saint dewa. Namun di sisi lain, ada rahasia yang disembunyikan bibi Ning. Rahasia itu berkaitan dengan kedua orang tua Yi Xing. Untuk mengetahui rahasia itu, Yi Xing harus memenuhi syarat utama, yaitu mempraktikkan ilmu saint dewa. Dengan belajar menjadi kuat, Yi Xing bisa mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JOSEPH AL-IQBAL WANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 — Reruntuhan Kota
Yi Xing menahan bahu Wei Lin ketika gadis itu akan melompat ke bawah tebing. Saat itu waktu masih sama. Belum berubah.
Mereka berdiri di pinggir tebing tinggi, di bawah mereka ada aliran sungai dan di seberang sana berdiri sisa reruntuhan kota saint. Dulunya wilayah ini adalah kota. Tapi entah kenapa berubah menjadi desa. Yi Xing tidak tahu apa alasannya. Mengenai reruntuhan kota saint, Wei Lin pernah mendengar tempat ini dari sang ayah. Sudah lama sekali.
“Penduduk desa dilarang ke sana.” Yi Xing memberitahu. Kepala menggeleng, menandakan dia melarang.
“Aku ingin melihatnya,” kata Wei Lin membantah halus.
Reruntuhan di depan sana sudah cukup lama. Cukup riskan. Rumput hijau menjalar sebagian menyelimuti pilar-pilar bangunan. Yi Xing masih menahan Wei Lin untuk tidak turun ke bawah sana. Agak berbahaya. Dia tidak tahu apa saja yang ada di sana.
Kepala desa sudah memberitahu penduduk desa saint. Tidak ada yang boleh mendekati reruntuhan sisa peninggalan kota masa lampau. Sayangnya, Wei Lin keras kepala. Hidup di lingkungan bangsawan membuatnya tidak mengindahkan peringatan Yi Xing.
“Wei Lin ....” Tangan Yi Xing terulur. Dia ingin menarik Wei Lin sebelum terbang ke sana.
Namun sayangnya, Wei Lin sudah jauh lebih cepat daripada tangan Yi Xing. Sayap kupu-kupu roh telah membawa gadis itu turun ke bawah sana.
Yi Xing juga mengeluarkan sayap kupu-kupu roh. Menyusul kepergian temannya. Wei Lin menapakkan kakinya pertama di depan pintu masuk reruntuhan. Dia takjub sesaat. Sedetik berikutnya, Yi Xing tiba di belakang Wei Lin. Dia takkan meninggalkan temannya itu apalagi pergi sendirian.
“Sebaiknya kembali. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam reruntuhan ini.” Yi Xing masih mengingatkan.
Sayang sangat disayangkan. Rasa penasaran Wei Lin membuatnya melupakan segala hal dan aturan. Alih-alih mendengar kata Yi Xing, Wei Lin sendiri malah melangkah masuk ke dalam reruntuhan itu.
Tempatnya gelap. Tanaman. Merambat di atasnya. Saat masuk ke dalam reruntuhan, di dalam sana jauh lebih besar dan luas dari apa yang Wei Lin duga.
“Yi Xing!” Gadis itu berseru. Suaranya melengking dari dalam. Diikuti ribuan kelelawar terbang liar.
Rupanya kelelawar itu terkejut karena suara gadis tadi. Sehingga memaksa hewan itu terbang tidak beraturan. Yi Xing langsung berlari begitu mendengar suara Wei Lin di dalam sana.
“Ada apa? Kau baik-baik saja?” tanya Yi Xing.
Wei Lin menunjuk patung besar di depannya. Patung setengah usang. Itu patung dewi. Dulunya patung itu putih, dibuat dari marmer terbaik. Tapi sekarang telah lapuk, beberapa bagian retak.
“Mungkin itu salah satu patung dewi surga.” Yi Xing berkomentar. Anak itu sempat menghela napas lega. Dikiranya anak bangsawan itu kenapa-kenapa.
“Oh, aku kira itu patung pendiri kota saint.”
Yi Xing menggeleng, “Tidak. Yang pastinya bukan dia.”
Baiklah, baiklah. Wei Lin paham. Wei Lin bergerak lagi. Kakinya mengayun makin ke dalam reruntuhan bangunan. Yi Xing ingin menahan gerakan anak itu, tapi lagi-lagi dia gagal. Wei Lin ini susah sekali diberitahu.
Terpaksa anak lelaki ini harus mengikuti langkah Wei Lin. Dia tidak bisa meninggalkannya sendirian. Yi Xing bertindak seolah tanggung jawab Wei Lin ada padanya. Masalah terbesar saat ini adalah, Wei Lin putri bangsawan. Jika dia kenapa-kenapa, Yi Xing yang akan dibawa-bawa nantinya.
“Sebaiknya kita kembali, aku khawatir guru mencari kita.” Yi Xing masih membujuk.
Wei Lin dasarnya keras kepala. Susah diberitahu. Dia tidak mendengarkan Yi Xing lagi. Malah sibuk berjalan makin jauh ke dalam reruntuhan kuno. Satu pilar usang di belakang Yi Xing tiba-tiba jatuh. Anak itu cepat menoleh. Dentumannya mengejutkan.
“Siapa?” pekik Yi Xing.
Tidak ada jawaban. Yi Xing kira memang sudah waktunya bangunan itu roboh. Jadi dia mengabaikannya. Kaki berayun, menyamai langkah Wei Lin. Tapi baru dua langkah dilalui, sesosok makhluk mencoba menyerangnya dari belakang. Tubuh Yi Xing reflek menghindar. Akurasinya sangat cepat. Wei Lin jauh lebih siaga juga untuk melompat. Untungnya mereka sama-sama cepat.
“Hati-hati, binatang iblis ini takutnya tidak sesederhana penampilannya.” Yi Xing mengingatkan. Matanya mengawasi nan waspada.
Binatang iblis itu adalah ular hijau beracun. Desisannya terdengar mengerikan. Dua taringnya cukup untuk mengoyak daging segar. Jangan lupa racunnya, juga lidah bercabang yang siap menelan mangsanya. Sangat mengerikan. Apakah ini alasan kepala desa melarang orang-orang desa mendekati sisa reruntuhan kota ini?
“Harus terus waspada!” Yi Xing bicara lagi. Dia membelakangi Wei Lin. Mereka telah memasang kuda-kuda, bersiap jika ular iblis itu menyergap.
Benar. Yi Xing sudah menduga. Ular itu menyerang Yi Xing dan Wei Lin. Dia mendesis. Ekornya bergetar. Lalu muncul jarum ularnya, berbentuk seperti tulang gigi hiu, lancip dan tajam. Ada lebih dari dua puluh. Melayang di udara. Dalam sekian detik, tulang-tulang ular terlempar, menargetkan dua musuhnya. Sasaran tidak tepat, tulang ular itu mengenai udara hampa. Sebagian menancap di lantai reruntuhan, sebagian lagi menancap di pilar bangunan. Keluar asap hijau. Anak-anak menebak kalau itu salah satu racunnya yang mematikan.
Yi Xing melompat di udara. “Tehnik pertama, hujan pedang!”
Yi Xing melepaskan hujan pedang roh. Ribuan pedang menghujani mangsanya. Namun ular itu tangguh. Dia cukup cepat, mampu menghindari tehnik pertama ini. Bergerak mengecoh ke sana-sini.
Yi Xing kembali menyerang. Tapi lagi-lagi ular binatang iblis itu bisa melewatinya. Dia bergerak gesit. Wei Lin terbang di udara, tehniknya mulai bekerja.
“Tehnik pertama, pedang guntur!” Pedang Wei Lin sudah ditarik keluar. Gadis itu bergerak cepat, memanfaatkan tehnik kelincahannya.
Dua-tiga kali pedangnya menyerang badan ular. Meski berhasil, sayangnya itu belum membuat Wei Lin menundukkan binatang iblis itu.
Si ular mendesis. Telinganya mengembang. Lebar, seperti sebuah sayap. Tulang tajamnya muncul lagi, dilepaskan untuk kedua kalinya, menargetkan musuh di depan mata.
Wei Lin kian gesit, berhasil menghindari setiap tulang ular yang menghujam. Sayap kupu-kupu roh terbang cepat di atas kepala ular iblis. Wei Lin menebas satu pukulan keras. Boom! Ular itu terpental. Wei Lin berhasil mengenai sasarannya. Yi Xing segera bertindak.
“Tehnik pertama, hujan pedang!” Tehnik itu lagi. Yi Xing menggunakan tehnik yang sama untuk serangan keduanya.
Hujan pedang itu sukses menusuk berkali-kali tubuh ular iblis. Ular itu menggeliat, terasa sakit nampaknya. Dia tidak bisa menghindar. Pergerakannya sudah dilumpuhkan. Wei Lin terbang lagi, lebih dekat dengan ular iblis yang terdesak.
“Tehnik kedua, serangan dewi malaikat. Hiyahhhhh!” Pedangnya menghantam kuat leher ular yang panjang.
Dan ya, itu berhasil. Dalam sekali tebas, kepala ular hijau itu berpisah dari badannya. Darah hijau pekat ular iblis mengucur deras, menggenang di lantai. Bagai kolam beracun.
Wei Lin menyeringai. Dia mampu menumpas satu ular iblis dengan kerja sama yang baik. Pedang guntur lenyap, disembunyikan lagi. Yi Xing di sana menggeleng. Dia terlalu jengah melihat Wei Lin. Senyum bahagia tercipta. Wei Lin bangga atas usahanya hari ini. Gadis itu mendekati binatang iblis, memeriksa sesuatu di sana.
“Tidak ada tulang dewa. Sepertinya iblis ular ini masih di bawah lima puluh ribu. Battle ranking-nya tidak terlalu cukup.” Wei Lin menendang kepala ular iblis itu hingga membentur pilar bangunan yang roboh. Darah masih berceceran.
“Mungkin ular iblis ini tidak memilikinya. Biasanya rajanya yang memiliki tulang dewa itu.” Yi Xing menjawab ucapan Wei Lin tadi.
Pedangnya telah disembunyikan lagi. Wei Lin dan Yi Xing melanjutkan perjalanan menuju lebih dalam ke sana. Namun, tiba-tiba langkah mereka harus dihentikan lagi. Suara desisan itu datang kembali. Telinga keduanya tajam mendengar. Benar saja, puluhan ular iblis kini sudah muncul di depan mata. Mereka siap menyerang bersama.
Yi Xing ingin membuat taktik, tapi sebelum taktiknya terbentuk, satu ular iblis sudah menyerang Wei Lin. Satu lagi menargetkan dirinya. Yi Xing hanya bisa menghindar untuk saat ini.
“Tehnik pertama, pedang roh, hujan pedang!” Ribuan pedang kembali menghujani iblis ular. Beberapa terkapar lemas, tidak kuat menahan ribuan tusukan pedang roh.
Di saat yang sama, Wei Lin juga sudah berhasil mengalahkan dua-tiga binatang iblis itu. Kepalanya dipenggal tanpa ampun. Namun lawan mereka semakin dibunuh, maka semakin banyak yang muncul. Wei Lin dan Yi Xing saling membelakangi. Mereka waspada. Segala kemungkinan bisa terjadi.
“Pikirkan cara,” kata Wei Lin.
“Kita hampir tidak ada celah. Kita dikepung,” jawab Yi Xing. Mereka saling berputar. Saat itu, iblis-iblis ular merapatkan jaraknya masing-masing. Terkaman taring siap mengoyak tubuh mangsa di depan mereka.
bikin malas baca novelnya.
jgn lupa di update crazy up sampai selesai novelnya
update weeeeee...