Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Di belahan kota yang lain, berdiri sebuah kediaman megah berarsitektur klasik Eropa yang menjadi simbol kejayaan keluarga Alessandro. Rumah utama itu adalah milik Nyonya Elena Alessandro, ibu kandung Dixon. Wanita paruh baya yang masih tampil sangat anggun dan elegan di usia kepala enam itu kini sedang duduk di sofa beludru ruang keluarga, dikelilingi oleh tumpukan map portofolio dan tablet digital.
Sudah belasan tahun sejak perceraian Dixon, Elena tidak pernah berhenti memaksa putra tunggalnya itu untuk menikah lagi. Namun, setiap kali topik itu diangkat, Dixon selalu menolak mentah-mentah dengan alasan sibuk mengurus Luca Group atau fokus membesarkan Amora.
"Dixon selalu beralasan ini-itu. Kalau dibiarkan, sampai tua dia akan terus hidup membeku seperti es!" gerutu Elena kesal pada kepala pelayannya.
Karena sudah habis kesabaran, Elena memutuskan untuk turun tangan sendiri. Kali ini, ia tidak mencari dari kalangan model atau selebritas papan atas yang dinilainya terlalu penuh drama. Elena sengaja mengumpulkan data perempuan-perempuan kantoran mandiri berpendidikan tinggi yang merupakan anak dari rekan-rekan sosialitanya.
Satu per satu portofolio itu ia amati dengan teliti:
Aveline: Anak dari seorang pengusaha tekstil, lulusan Harvard yang kini menjabat sebagai manajer keuangan di bank swasta. Wajahnya cantik, namun Elena merasa tatapan matanya terlalu ambisius.
Clarissa: Seorang arsitek lanskap yang cerdas dan tenang, putri dari salah satu kolektor seni ternama. Portofolionya bagus, tapi Elena ragu apakah gadis selembut Clarissa bisa menghadapi sifat kaku Dixon.
Saat Elena sedang sibuk menimbang-nimbang foto ketiga, terdengar derap langkah kaki yang berat dan konstan dari arah lobi utama. Dixon melangkah masuk, melepas jasnya yang langsung disambut oleh pelayan. Pria itu sengaja berkunjung sore ini untuk menjenguk sang ibu sebelum menghadiri rapat internal esok hari.
Melihat kedatangan putranya, mata Elena seketika berbinar. Tanpa membuang waktu, ia langsung menepuk sisi sofa di sebelahnya. "Dixon, kebetulan kamu di sini. Sini, duduk di sebelah Mama."
Dixon mengembuskan napas pendek, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi melihat tumpukan berkas di meja. Ia duduk dengan formal, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Ada apa, Ma?"
Elena langsung mengarahkan tabletnya ke depan wajah Dixon. "Lihat ini. Ini Clarissa, dia wanita karier yang sangat berbakat dan penurut. Mama sudah lelah melihatmu hidup sendiri belasan tahun, Dixon! Kamu harus mencari istri sekarang juga. Pilih salah satu dari gadis-gadis pilihan Mama ini untuk makan malam minggu depan!"
Dixon bahkan tidak melirik layar tablet itu sedikit pun. Tatapan elangnya tetap lurus ke depan, sedingin biasanya. "Saya tidak punya waktu untuk urusan tidak penting seperti ini, Ma. Pekerjaan di kantor sedang menumpuk."
Mendengar penolakan instan yang sudah ia dengar ratusan kali, runtuh sudah kesabaran Elena. Ia menggebrak meja marmer di depannya hingga cangkir teh porselen di atasnya berdenting.
"Pekerjaan terus yang kamu pikirkan!" seru Elena dengan nada mutlak, sepasang matanya menatap tajam sang putra. "Dengar ya, Dixon Luca Alessandro! Mama tidak menerima penolakan lagi kali ini. Kamu cari sendiri istrimu dalam waktu dekat, atau Mama sendiri yang akan menjodohkan dan menikahkanmu secara paksa dengan pilihan Mama! Mama tidak main-main!"
Ancaman pernikahan paksa itu menggema kuat di ruangan. Namun, alih-alih panik atau marah, Dixon hanya memejamkan matanya sejenak. Wajah tampannya menampilkan ekspresi yang sangat malas untuk berdebat lebih jauh dengan sang ibu. Di kepalanya yang sedang penat, mendadak bayangan wajah pucat Valencia di rumah sakit semalam justru melintas sekilas, membuat fokusnya semakin buyar.
Dixon berdiri dari sofa, merapikan kemejanya yang tidak kusut sama sekali. "Saya harus kembali ke kantor. Permisi, Ma," ucap Dixon dingin dan datar.
Tanpa menunggu jawaban atau amukan lanjutan dari Elena, Dixon langsung berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kediaman besar itu dengan aura yang mencekam. Di belakangnya, Elena hanya bisa menghela napas panjang, bertekad dalam hati bahwa rencana perjodohan paksa ini harus segera ia laksanakan.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan