Perjodohan antara Arjuna dan Bella berjalan lancar di mata kedua orang tua mereka.
Namun, kenyataannya Arjuna yang berprofesi sebagai dosen di universitas tempat Bella menempuh pendidikan sudah memiliki seorang kekasih sebelum dirinya menikah dengan Bella.
Bella gadis yang baru beranjak dewasa yang awalnya sangat membenci Arjuna kini sangst terobsesi kepada lelaki itu, gadis itu mengejar cinta suaminya dan membuktikan bahwa hanya dia satu-satunya wanita di hidup Arjuna.
Namun, Bella harus menelan kenyataan pahit saat melihat suaminya bersama dengan mantan kekasihnya sedang berpelukan dengan erat!
Apakah Bella akan tetap bersikeras memperjuangkan rumah tangganya? Atau gadis itu menyerah dengan kenyataan bahwa suaminya masih mencintai wanita dari masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faustina Maretta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerai?!
Bella menampik tangan Yudha, dan hendak kembali ke ruangan Arjuna. Namun, lelaki itu tetap menahan gadis itu.
"Bella! Apa kamu ingin satu kampus tahu, bahwa kamu istri Pak Arjuna?!" bisik Yudha dengan penuh penekanan. Lelaki itu hanya tidak ingin Bella menjadi bahan gosip di fakultasnya, dia tidak bisa melihat kesedihan di wajah gadis yang dia sukai itu.
Apa yang dikatakan kakak tingkatnya itu ada benarnya, Bella sangat kesal sekali. Anggi dan Gita menghampiri mereka berdua dan mencoba untuk menenangkan gadis itu.
"Sudah Bella, jangan biarkan wanita itu menganggu konsentrasimu!" ujar Anggi yang juga ikut kesal melihat Ganesh. Gita juga setuju dengan pernyataan Anggi dengan menganggukkan kepalanya.
"Sudah ayo kita masuk, dua puluh menit lagi ujian di mulai," timpal Gita.
Bella menghela napasnya dengan kasar. Yudha tahu gadis itu sangat kesal atau bahkan sedang di bakar api cemburu. Sebenarnya, lelaki itu juga sangat sakit melihat gadis yang dia sukai di depan matanya sendiri sedang cemburu terhadap lelaki lain. Dia menatap kepergian ketiga adik tingkatnya itu setelah mereka berpamitan kepada Yudha.
***
"Juna, mereka juga saling mencintai ... Seperti kita!" ucap Ganesh saat melihat Yudha menarik tangan Bella menjauh dari mereka berdua. "Aku mohon Juna, jangan seperti ini! Kamu yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu," sambung Ganesh dengan mata berkaca-kaca.
"Ganesh, beri aku waktu. Tidak mudah untuk melawan orang tuaku, apalagi sekarang Papa sedang sakit di rumah sakit. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan orang tuaku," sahut Arjuna yang sebenarnya kesal setelah melihat seorang laki-laki lain memeluk istrinya.
"Tapi, perasaanmu kepada ku tidak berubah kan, Arjuna?" tanya Ganesh sembari menatap sayu lelaki yang berada di hadapannya itu.
Arjuna menghembuskan napasnya dengan kasar. Lelaki itu sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri. Terkadang dia melihat Ganesh, tapi terkadang dia juga melihat Bella di hatinya. Dia tahu jika sikapnya terus begini, dia akan menyakiti dua wanita itu sekaligus, atau bahkan lebih.
Ganesh menyentuh lengan baju Arjuna dan menggoyangkan bajunya membuat Arjuna kembali tersadar akan kenyataan. Arjuna menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan wanita itu. Senyum Ganesh mengembang.
"Aku akan menunggumu kembali ke sisiku," bisik Ganesh di pelukan Arjuna.
Lelaki itu mendorong Ganesh. "Jangan seperti itu, aku tidak enak jika mahasiswa melihatku," ungkap Arjuna datar.
"Apa kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan di luar," ajak Ganesh dengan semangat.
Arjuna melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Maaf, Ganesh. Tapi aku tidak bisa ikut denganmu. Aku akan pergi ke rumah sakit," tolak Arjuna dengan ajakan Ganesh.
Setelah mengobrol sebentar, Ganesh akhirnya pergi dari ruangan Arjuna. Lelaki itu bisa bernapas lega, dia membereskan meja kerjanya karena lelaki itu hendak izin dan menuju rumah sakit karena ayah mertuanya sudah mengabari, bahwa sangat ayah sudah siuman.
Arjuna melewati ruang ujian Bella, dia melihat gadis itu dari luar jendela. Bella yang sedang fokus membaca pertanyaan di lembar soal itu terlihat sangat manis. Arjuna lalu mengambil ponsel dari saku celananya dan mengirim pesan singkat ke nomor istrinya. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
"Pa? Bagaimana? Sudah enakan?" tanya Arjuna ketika tiba di rumah sakit.
Didik mengangguk lemah, dia mencari seseorang. "Dimana Bella?" tanya lelaki itu dengan lemah.
"Bella masih di kampus, Pa. Dia masih ada ujian," sahut Arjuna sembari mengenggam tangan ayahnya yang dingin.
"Juna, jika Papa pergi, apakah kau akan tetap bersama dengan Bella?" tanya lelaki itu sembari terbatuk-batuk.
Arjuna terkejut dengan pertanyaan sangat ayah. Pertanyaan itu membuat dia bimbang, ada dua janji yang harus lelaki itu tepati. Tapi akhirnya, Arjuna mengangguk mengiyakan pertanyaan ayahnya. Sang ayah tersenyum, lelaki yang terbaring lemah itu merasa lega karena dia benar-benar menyanyangi Bella seperti anak kandungnya sendiri.
"Kalau begini, Papa bisa pergi dengan tenang," lirih Didik dengan mata berkaca-kaca.
"Papa harus sembuh, Papa harus lihat nanti anak Arjuna," ucap Lelaki itu menahan kesedihan. Napasnya tercekat saat mendengar ucapan sang ayah.
Usi yang sudah tidak tahan lagi mendengar percakapan ayah dan anak itu pergi dari ruangan rawat inap, wanita itu mencari udara segar di taman rumah sakit. Hatinya tersayat saat melihat suaminya yang terbaring lemah.
"Mama? Kenapa di sini?" tanya Bella yang baru saja datang. Gadis itu merangkul ibu mertuanya yang terlihat sedih.
"Sudah selesai ujiannya Bella? Arjuna ada di kamar sama Papanya, Mama mau ke kantin sebentar," sahut Usi mengalihkan pembicaraan.
"Mau Bella temenin?" ucap Gadis itu tidak tega membiarkan ibu mertuanya berjalan sendirian.
Usi menggelengkan kepalanya lalu pergi melangkah menuju kantin rumah sakit. Bella melanjutkan langkahnya untuk menjenguk ayah mertua. Gadis itu berjalan hingga sampai di ruangan ayah mertuanya di rawat, sebelum masuk dia menghirup napas dalam-dalam karena pasti bertemu dengan suaminya. Gadis itu masih membutuhkan penjelasan tentang tadi pagi.
"Papa?" sapa Bella begitu dia membuka pintu.
Didik tersenyum lebar saat menantu kesayangannya sudah datang. Bella juga tersenyum lebar dan memeluk ayang mertuanya.
"Bella, janji sama Papa ya. Apapun yang terjadi kalian harus mempertahankan rumah tangga kalian," ucap Didik tiba-tiba kepada Bella.
Senyum gadis itu memudar, dia melirik Arjuna dan lelaki itu mengangguk pelan. "Tentu saja Papa, Mas Arjuna sudah bersikap baik sama Bella," sahut Bella sembari menatap suaminya dengan tersenyum manis.
Tidak lama kemudian, Usi datang dan bergabung mengobrol dengan anak dan menantunya. Bella menyembunyikan rasa sakit di hatinya saat berhadapan dengan mertuanya, dia tidak ingin menambah beban ibu mertuanya yang pasti sudah lelah secara fisik dan mental.
"Papa cepet sembuh ya, besok Bella ke sini lagi pulang kampus," pamit Bella kepada ayah mertuanya. Gadis itu memeluk Didik dengan hangat.
Bella melangkah cepat keluar dari kamar ayah mertuanya, dia menghiraukan panggilan suaminya.
"Bella aku panggil kamu, kenapa kami tidak berhenti?" ucap Arjuna yang berhasil mengejar Bella.
"Oh ya? Maaf ya Mas ngga dengar, aku pikir kamu manggil Ganesh," sahut Bella sembari melangkah kembali.
"Bella aku bisa jelasin," Arjuna menarik tangan gadis itu.
"Mas aku capek! Kalau papa udah sembuh mending kita cerai aja!" ucap Bella, gadis itu menarik tangannya.
"Bella jangan gitu dong, kan kamu sudah janji sama Papa kalau bakal mempertahankan rumah tangga kita," ucap Arjuna putus asa. Lelaki itu merasa bersalah kepada istrinya.
"Mas! Percuma kalau cuma satu pihak saja yang berjuang. Capek tahu ngga!" Bella melampiaskan kekesalannya kepada suaminya.
Bella menyesal mengeluarkan kata-kata itu kepada suaminya, tapi gadis itu juga sudah lelah hidup bersama dengan lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya. Walaupun sebenarnya Bella sudah memiliki rasa kepada suaminya.