"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 27
"Jadi benar Mbak Marsya itu kakakmu?"
"Jadi kamu kenal dengan Mas Firman? Kenal dekat?"
Seketika aku dan Sagara saling pandang, lalu menghembuskan napas kasar.
"Kamu dulu." Gara menunjukku.
"Kamu aja dulu, ceritaku panjang!"
Gara urung melajukan mobil, tapi hanya beberapa menit. Setelahnya ia memacu mobil dengan kecepatan pelan keluar area parkir hotel. Sepertinya, Gara masih enggan bercerita banyak hal, saat jalanan yang kami lewati mulai lenggang, aku memutuskan bercerita lebih dulu. Tak ingin suasana semakin canggung dan malah menjadi tak nyaman.
"Mas Firman itu mantan suami Mbak Naura! Jadi sudah jelas, kalau dia adalah mantan iparku. Kami memang lumayan dekat, bukan yang dekat gimana-gimana karena dia cuma anggap aku adik. Tapi pandangan Mbak Marsya beda, mungkin karena dari awal Mas Firman gak cerita tentang mantan istrinya!"
"Atas nama Mbak Marsya, aku minta maaf. Kelakuannya memang begitu, menikah diam-diam dengan Mas Firman, bahkan bercerai pun tak memberi kabar. Aku cuma pernah sekali bertemu dengan Mas Firman, itu pun setelah Mbak Marsya menikah dengannya."
"Sama sepertiku, aku bahkan gak hadir di pernikahan Mbak Nau dan Mas Firman." Akhirnya aku mengaku, mungkin Gara merasa sikap Mbak Marsya keterlaluan tapi aku juga tak membenarkan tingkahku yang terang-terangan ingin jadi pelakor.
"Gara, apa kau membenciku karena mengetahui fakta dari Mbak Marsya?" Aku bertanya sungguh-sungguh, anggap saja ini caraku menebus dosa, karena telah masuk dalam rumah tangga mereka dulu.
"Itu benar?" tanya Gara menghentikan laju mobil dan menoleh ke arahku.
"Menurutmu?"
"Itu hal yang sangat tidak mungkin kamu lakukan!" jawaban Sagara membuatku tertawa.
"Aku memang sempat dekat dengan Mas Firman, awalnya aku mengira mereka bercerai karenaku, tapi ternyata karena Mbak Marsya hamil anak laki-laki lain."
"A-apa?" Sagara tampak terkejut, lalu kulihat ia mengepalkan tangan.
"Gara!"
Laki-laki itu mendesah pelan, "aku benar-benar malu dengan kelakukan kakakku, Nin."
"Pulang, yuk." Aku tak berkomentar apa-apa, pada kenyataannya aku memang membawa pengaruh besar di rumah tangga Mas Firman dan Mbak Marsya sebelumnya, terlepas apa yang melandasi pernikahan mereka bukan karena cinta.
Aku mengamati ponselku yang sedikit retak di bagian layar. Beruntungnya, benda itu masih menyala. Pesan-pesan Mas Firman berjejalan masuk.
"Siapa?" tanya Gara.
Kalau dipikir-pikir, kenapa aku dan Gara bisa sedekat ini? Apa karena pertemuan dengan mamanya kemarin? Atau karena Sagara yang mengaku suka. Entahlah, keadaannya memang berada di samping Sagara membuatku nyaman tapi juga sekaligus rumit.
"Mas Firman!"
"Kalian sedekat itu?" tanya Sagara.
"Kami mantan ipar, betewe. Barusan kan aku cerita, kalau kami lumayan dekat."
"Kalau laki-laki yang ke kos-an kamu kemarin?"
"Mas Harsa?"
Sagara mengangguk.
"Dia mantanku, dan sekarang suami Mbak Naura!"
Sagara diam, kali ini lebih lama dari sebelumnya dan memilih fokus pada kemudi.
Beberapa jam terlewati dengan keheningan, aku sampai terlelap entah berapa lama. Yang jelas, jalan yang kami lalui saat ini cukup familiar.
"Kita kemana?" tanyaku begitu membuka mata.
"Apartemenku, lebih baik kamu tinggal disana dari pada kosong!"
"Kamu serius? Lalu kamu?"
"Aku anak Papi, jadi sudah jelas aku tinggal dengan Papi."
"Aku akan sangat merepotkanmu Sagara! Lagi pula, ada Siska disana, pasti dia mengomel kalau tiba-tiba aku pindah."
"Dari pada mantanmu datang terus!" sungutnya.
"Kamu calon istriku kan?"
Eh! Aku hampir jantungan karena pengakuan Sagara barusan.
"Hahahahahaha..." Sagara malah tertawa dan itu menyebalkan sekali.
"Nin, kalau aku jatuh cinta beneran sama kamu gimana?"
"Bukan urusanku, Gara." Aku pura-pura cuek, aslinya gugup luar biasa.
"Ayolah, Nin."
"Apa? belajar dulu cara mengejar cewek yang baik dan benar!"
Sagara benar-benar membuatku sebal.