NovelToon NovelToon
Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang

Status: tamat
Genre:Obsesi / Bad Boy / Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:106.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Aku menjadi akrab dengan penculik yang tidak sengaja menculikku. Ia mampu menghormatiku, menjagaku dan membuatku nyaman. Kondisi ini membuatku memiliki ikatan emosional dengannya, tapi ternyata aku mengidap sindrom stockholm.

Orang tuaku ingin aku memiliki pasangan hidup yang jelas, berpendidikan dan bertanggung jawab. Menurut mereka, laki-laki seperti keponakan merekalah yang terbaik untukku.


Aku mengenal keponakan orang tuaku sejak kecil, bahkan kami hidup bertetangga. Tapi apakah aku bisa menjadi alasannya tertawa dan bahagia? Apakah aku mampu menjadi seseorang yang selalu tulus, meski aku harus belajar untuk menjadi pendampingnya? Lalu, bagaimana dengan perasaanku sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PdAS27. Rencana keluar

"Ini bahan-bahannya, ini resepnya udah aku tulis. Mau lari muter dulu sebentar, sekalian ke ATM ambil uang cash untuk pegangan kau. Semangat." Ia mengecup pipiku, kemudian kabur dari dapur rumah orang tuaku. 

Niat sekali, sampai ia mengambil bahan mentah dari rumah orang tuanya kemudian menuliskan resep. 

Sayur lodeh daging sapi? 

Itu judul yang tertulis di kertas resep darinya. Aku berjalan ke arah meja makan dengan membawa satu baskom bahan-bahan mentah yang bang Kaf bawa, kemudian membaca resepnya. 

Daging sapi, tempe, terong ungu, kacang panjang, jagung manis, melinjo, labu siam, santan instan, kaldu sapi bubuk. Itu bahan-bahan mentah dari baskom ini. 

Harus aku apakan daging ini? Baru tahu ada sayur lodeh dicampur daging sapi. 

Ketumbar sangrai,  kemiri sangrai, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, cabai merah. Itu keterangan di resep untuk bumbu halusnya. 

Okelah, ada petunjuknya. Aku langsung sat set, kemudian menyajikannya di meja makan. 

Namun, saat orangnya datang dan dapurku masih sepi. Hanya ada ART saja yang tengah menggiling baju dan mengepel lantai. Bang Kaf malah mencari nasi, yang jelas saja baru kuingat setelah selesai memasak. 

Pantesan cepat selesai, orang aku tak sekalian masak nasi. Ia tertawa lepas, dengan menggelengkan kepalanya berulang. 

"Aduhai, Dek Cani." Ia mengambil mangkuk baru, padahal aku sudah menyajikan sayurnya di dalam mangkuk. 

"Aku tak makan kuahnya, Dek. Lupa kah?"

Jadi untuk apa penyedap rasa dan bumbu yang merepotkan itu, kalau ia tidak makan kuahnya? Pantas saja sayur sop brokoli dan daging semalam seperti dikukus saja, ternyata ia tidak mengambil kuahnya juga.

Tepok jidat. 

Repot sekali melayani seorang suami. Ia banyak request tidak seperti balita yang mau makan apa saja. 

"Ayo, makan aja lauknya. Terus kita keluar." Ia mulai memakan makanan yang aku buat. 

Kunyahannya tiba-tiba berhenti, ia seperti mengoreksi rasa di pengecapnya. Kemudian, ia lanjut mengunyah dan men**** makanannya. Kunyahannya lama sekali, apa karena dagingnya alot? Tapi aku sudah sesuai resep, di mana harus merebusnya lima menit, kemudian ditambah tujuh menit setelah mendiamkannya setengah jam. 

"Keluar ke mana?" Aku duduk di dekatnya. 

Air putih, ah aku lupa lagi. 

"Beli HP. Semalam amplopnya udah aku hitung, ada sih lima puluhan. Tapi kalau kado belum, aku simpan di rak penyimpanan barang di ruang keluarga yang dekat pintu kamar kita." Kunyahan keduanya tidak terhenti seperti kunyahan pertama. 

"Lima puluh apa?" Aku menyajikan segelas air putih untuknya. 

"Jutaan, Dek. Aku catat, barangkali kau perlu bukti." Ia menyeruput air minumnya, setelah menyelesaikan kunyahan kedua. 

"Tapi kalau pagi-pagi, keknya counter HP belum buka." Aku merasa heran karena ia mengajakku pergi pagi-pagi sekali. 

"Ya tak apa, Dek." Ia tersenyum lebar. 

"Nanti aku yang prepare," lanjutnya kemudian. 

Mengerikan. Senyumnya sudah seperti joker. 

"Aku masak nasi ya? Apa sarapan ini aja kenyang?" Aku menyendokkan sayur lodeh daging sapi itu untukku sendiri. 

"Abis ini makan oat aja." Ia seolah nikmat sekali memakan masakanku. 

Padahal, setelah aku mencicipinya. Rasanya, membuatku mual sekali. 

"Enak kok, kenapa begitu?" Ia menahan tawa saat melihatku memakan masakanku sendiri. 

"Buang aja ya? Takut beracun." Aku jadi berpikir bahwa suamiku tidak makan kuahnya, karena rasa kuahnya tidak enak sekali. Mungkin masih mending jika makan isiannya saja seperti yang ia lakukan. 

Tawanya menggema puas sekali. 

"Perlu dikoreksi rasanya, tak perlu dibuang. Ini kurang penyedap rasa, kurang garam, sama harusnya tambahin gula pasir sedikit aja." Ia bangkit dan berjalan ke arah jejeran bumbu. 

"Nih, udah layak makan." Ia mencicipi hasil masakanku kembali, setelah menambahkan bumbu-bumbu tersebut. 

"Aku keknya tetep tak doyan." Rasa campuran sayur dan daging ini rasanya aneh menurutku. 

"Oat aja. Punya tak? Aku ambil ya di rumah mama?" Kaf bangkit dari kursinya. 

"Makan aja dulu, tak apa." Aku tak mau mengganggu acara makannya. 

"Oke." Ia duduk kembali. 

Sampai beberapa saat kemudian, suamiku itu benar-benar mengajakku pergi keluar rumah dengan izin dari ayah. 

"Kalau nginep di luar, kabarin Ayah, Kaf." Ayah mengantar kami sampai teras rumah papa Ghifar. 

Kaf tidak memiliki mobil, kami menggunakan mobil papa Ghifar. Ia kalau di sini, ke sana ke mari menggunakan motor besar. Ia keren untuk ukuran anak muda, apalagi ia pun berbaur dengan pemuda asli sini. Jadi tidak kentara bahwa ia seorang dokter, yang memiliki titel yang pantas disombongkan.

"Siap, Yah." Kaf merangkulku. 

"Bawa tas dia, paling juga ngamer." Celetuk mama Aca, yang membuatku mogok berjalan ke arah pintu mobil. 

"Jalan-jalan aja, Kaf. Mainnya di sini aja, barangkali Cani histeris kan Ayah bisa nenangin," tambah ayah dengan mendekatiku. 

"Aku dokter, Yah. Aku tau caranya." Kaf mengeratkan rangkulannya dan memaksaku untuk duduk di bangku mobil, yang pintunya sudah ia bukakan. 

"Ayah ikut aja." Ayah terlihat panik. 

"Bang…." Aku mendengar papa Ghifar yang tertawa puas. 

"Ra yang udah tiga kali ganti laki pun, tak pernah tenang aku. Apalagi yang terakhir ini, tak ada suara-suara, mikir ini laki-lakinya bermasalah atau memang tak enak." Ayah menahan pintu mobil yang akan ditutup Kaf lagi setelah aku duduk. 

"Kau tak percaya sama laki-laki didikan aku, Van? Nahda aja bisa kau andalkan, padahal perempuan. Apalagi ini laki-laki." Suara mama Aca makin mendekat. 

Ya ampun, sudah seperti apa saja. Mama Aca pun mendekati pintu mobil ini. 

Kaf hanya garuk-garuk kepala, ia terlihat bingung melihat antara orang tua dan mertuanya itu. 

"Heh, Nahda anak kau. Darah daging kau, sifat kau dan otak kau pasti ada nempelnya. Sedangkan dia…." Ayah menunjuk Kaf dengan dagunya. "Anak Ghifar, woy…. Ghifarnya aja begitu, apalagi anaknya???" Ayah menarik-narik pipinya sendiri. 

Tubuh mama Aca sampai bergetar karna tawanya, kemudian ia melirikku.

"Tapi asli loh, Ghifar ini enak betul. Lembut-lembut gemes, pakai perasaan dia tuh kalau ngapa-ngapain perempuan." Mama Aca mendorong pelan dada ayahku. 

Mereka akrab sekali, padahal antar ipar. 

"Ya kan kau dapat dia pas dudanya. Pas bujang kan dia mimisan kalau ngapa-ngapain perempuan." Ayah melirik adiknya itu, kemudian terkekeh geli. 

Mereka malah menghibahkan papa Ghifar. 

"Yah, Ma…. Aku ini mau pergi loh, bisanya pada ngobrol di pintu mobil begini?" Kaf masih menahan pintu mobil, karena ada ayah yang menghalanginya agar tidak tertutup kembali. 

"Kaf bisa, dia pasti lembut kek papanya. Kau kasih kepercayaan untuk menantu kau lah, Van." Mama Aca seperti membujuk ayah. 

Apanya yang harus lembut itu? Bisa apa memang Kaf? Kaf juga mengatakan dirinya dokter dan dirinya tahu caranya, cara apa memang? 

...****************...

1
Yulia Aziz
mampir Thor
Ihda Rozi
emang gokil ya pemikiran outhor ini aku JD ikut mikir
IG : anissah_31: ayo kak baca koleksi novel author lainnya juga 🥰
total 1 replies
Novalia Fatmawati
serasa real dikehidupan
Yunia Spm
krik krik ... krik krik...
Yunia Spm
astaga... Yayah Ipan ih...
Ersa
ini beneran dah tamat.....


🌹🌹🌹🌹🌹 utk kak Othor
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Kekasih Halal Untuk Aiyla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 2 replies
Ersa
dayana kah yg ganggu
Ersa
😂😂😂ampyuunn
Lasthree
jangan2 waktu ra minta tolong lagi di ruda paksa sama si dia(Han), terus hamil,itulah yang bikin ra benci ke Agam.agam bukan anak hema...haha otak ku
Ersa
Luar biasa
Ersa
Stockholm syndrom ?
Ersa
🤣🤣🤣
Ersa
klo gak Bunga ya si Han
Ersa
Hema
Yuki
sangat keren
Komsatun Komsatun
semangat kak Nisa aku tu u ngefans banget Ama novel2 kakak
Cahaya Perantauan
mantap mantap
Edelweiss🍀
ada ayah yg gak terima anaknya mau dihamili lakinya😆
Edelweiss🍀
Cani, masih seperti putri kecil bagi ayah
Edelweiss🍀
biyung emang gak papa yah ditinggal dirumah🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!