Setelah mengantri untuk membeli game Yuto malah mengalami insiden terjebak di dalamnya, bersama 3.000 pemain lainnya mereka harus bisa menaklukkan lantai terakhir dan mengalahkan sosok yang menyebut dirinya seorang dewi.
Ini bukan permainan dimana kematian bukan segalanya, walau demikian ada pembayaran yang harus diterima pemain saat HP mereka menyentuh angka nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Penembak Jitu
Aku melemparkan beberapa kerikil dan di saat itu sebuah peluru menyertainya, sembari mengawasi datangnya tembakan tersebut aku memilih tempat bersembunyi setiap kali tembakan terdengar, di percobaan ke lima bahuku tertembak hingga tanganku putus di lantai.
Jelas musuhku sudah mulai terbiasa dengan cara yang aku lakukan.
"Kau sekarang hanya menjadi hewan perburuan, aku bisa mengerti bahwa kau sedang mengalihkan perhatianku sementara yang gadis akan berusaha mendekatiku, sayang sekali aku memiliki skill yang membuatku bisa tahu siapa saja target yang mendekat... biar aku beri kesempatan, jika kau menyerah aku tidak akan membunuhmu, kau bisa keluar di hitungan ketiga."
Aku mengikuti sarannya sembari menaikan kedua tanganku tanda menyerah, pria yang menyerangku tampak hanya diam sembari menodongkan senjatanya.
"Aku menyerah... kau tidak akan menghabisiku bukan."
Sebuah tembakan mengenai kakiku hingga aku terjatuh ke lantai.
"Haha bodoh, memangnya aku akan melakukan itu. Akan aku jadikan kau sandera agar gadis itu muncul."
Aku menanggapinya dengan tertawa.
"Apa ada yang lucu?"
"Biar aku katakan, rencana sesungguhnya bukan seperti apa yang kau katakan."
"Apa maksudmu?"
Dari kejauhan tampak Rebecca telah bersiap dengan busurnya, setiap orang beranggapan bahwa panah memiliki batas tertentu seberapa jauh ia bisa mengenai targetnya, sayangnya ini adalah game, jika ada skill yang bisa menembak jauh maka jawabannya sederhana.
"Arrow Burst."
Anak panah meluncur membelah udara selanjutnya menusuk tepat di kepala si penabrak jitu setelah menghancurkan senjatanya, sebelum dia menyesali akan perbuatannya tubuhnya di kirim ke belakang sebelum menghilang menjadi pecahan data.
Aku duduk bersandar di dinding bangunan saat Rebecca mendekat untuk melihat kondisiku yang cukup parah.
"Ini bukan harimu."
"Sepertinya begitu," kataku tersenyum masam, sesaat dalam pertarungan aku merubah strategi, syukurlah bahwa Rebecca menyadari isyarat yang aku berikan, aku sudah menebak tentang skill musuh yang bisa mendengarkan pembicaraan yang terjadi di lingkungan targetnya ini terbukti bahwa dia bisa dengan mudah menembakku walaupun aku sudah mengecohnya.
Aku tidak kuat seperti rekanku akan tetapi aku punya kecerdasan yang bisa aku gunakan semaksimal mungkin.
Sampai tubuhku kembali sedia kala kami akan tetap tinggal sementara waktu.
Sudut pandang Alice.
Dengan bantuan kelompok Yuto, kemungkinan bisa menghancurkan para PK ini tidaklah nol, aku bersama pasukan yang kami bawa dikejutkan dengan sebuah penyergapan tidak terduga. Ini aneh bahwa aku jelas merahasiakan tentang serangan ini ke publik.
Hanya ada satu jawaban akan semuanya, ada pengkhianatan di kubu kami.
Entah kesatria atau musuh kami sedikit demi sedikit telah lenyap, aku sedikit lengah namun seorang pria yang aku kenal menyelamatkanku saat dua sampai tiga orang muncul di atasku.
"Terima kasih Alberto."
"Komandan kau baik-baik saja?"
"Tidak masalah, hanya saja kenapa jadi seperti ini?"
Jika diperhitungkan dengan seksama, lebih banyak pasukanku yang kalah dan harus dikirim ke lantai pertama dibandingkan pasukan yang kami lawan.
Aku harus mencari pengkhianat yang bertugas jawab akan hal ini, tepat saat aku berjalan sebuah tebasan terayun padaku, beruntung aku menyadarinya hingga pedang itu hanya menyayat lenganku.
Untuk pelakunya semua orang pasti bisa menebaknya.
"Alberto, kau?"
"Hampir saja, seharusnya aku berhasil membelah tubuhmu barusan."
Dia tahu bahwa serangan padaku masih belum cukup untuk membunuhku, karena itulah dia mengambil celah seperti ini.
"Kenapa kau melakukan ini semua?"
"Kenapa? Tentu saja karena aku menginginkan posisimu sekarang, pemimpin sebelumnya adalah anak buahku tapi kau malah menghabisinya jadi aku putuskan untuk mengambilnya kembali."
Jadi begitu, dia dalang dari semuanya.