Li Hongli seorang mahasiswa kedokteran senior merasa sangat putus asa setelah gagal untuk kesekian kalinya dalam ujian terakhir. Dia merasa memiliki takdir yang sangat buruk dari pada orang lain.
Setelah kehilangan seseorang yang berharga untuk dirinya, kehidupan Li Hongli menjadi sangat buruk hingga membuatnya merasa putus asa.
Li Hongli merasa sudah dipermainkan oleh takdir dan bahkan mulai tidak mempercayai dewa. Hingga suatu hari sosok entitas tertinggi menjawab penghinaan pria itu dan membuat kontrak paksa.
Pria itu dikirim menuju Dunia lain dan tanpa sadar sudah masuk ke dalam permainan para Dewa. Dimana setiap dewa memilih pemain untuk memperebutkan tahta tertinggi surgawi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyutoria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penginapan Teratai Putih
Kereta kuda yang membawa tamu Kekaisaran Han memacu kecepatan melewati pepohonan rindang saat hari sudah menjelang malam. Mereka tidak ingin membahayakan diri berada ditempat dengan potensi bahaya yang cukup tinggi.
"Tuan Bai di depan sana ada sebuah penginapan. Haruskah kita menginap malam ini?" Komandan Ji Wei mendekatkan kuda ke arah jendela untuk berbicara dengan Bai An.
Memang jalur yang ditempuh oleh mereka merupakan jalur perdagangan, sehingga tidak jarang ada penginapan serta kedai di sepanjang jalur ini.
Dalam beberapa malam terakhir mereka sudah menginap di alam terbuka. Jadi Bai An merasa tidak ada salahnya kali ini mereka beristirahat di tempat ini.
Terlihat jika di dalam kereta kuda hanya ada Bai An seorang diri sementara Li Hongli duduk di atap selama beberapa hari terakhir karena sudah sangat tidak betah.
Li Hongli mengerutkan dahinya saat melihat penginapan sederhana di sana. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa bentuk penginapan tersebut cukup mengerikan.
"Bukankah sebaiknya kita tidak menginap di sana dan melanjutkan perjalanan saja?" Batin Li Hongli seraya mengusap area sekitar lehernya yang entah mengapa terasa dingin.
Perasaan Li Hongli menjadi tambah tidak enak saat melihat kabut tipis berada di sekitar penginapan. Hal ini menambah kesan menyeramkan pada tempat tersebut mengingat lokasinya cukup terpencil.
"Hongli, Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk..." Ajak Bai An saat melihat Li Hongli masih terpaku di atas atap kereta kuda seolah enggan untuk turun.
Komandan Ji Wei dan pasukannya menggelengkan kepala saat Li Hongli seperti ketakutan masuk ke dalam penginapan. Beberapa prajurit bahkan mulai meledek Li Hongli jika tempat tersebut berhantu.
Li Hongli berdecak kesal saat semua orang mengira dirinya takut dengan hantu. Padahal selama ini dia tinggal di bawah kaki gunung dan sering menjelajah hutan seorang diri.
Mereka kemudian masuk ke dalam penginapan dan diam-diam Li Hongli berharap jika firasat buruk yang dia rasakan sekarang salah sambil berharap tidak ada kejadian buruk.
Penginapan Teratai Putih begitu sederhana, terdiri dari bangunan dua lantai yang memiliki lima belas kamar untuk disewakan. Komandan Ji Wei memesan beberapa kamar tidur di lantai dua untuk rombongan.
"Hei Nak, tangkaplah ini!" Komandan Ji Wei melemparkan kunci kamar paling mahal dari yang lain kepada Li Hongli sebagai tanda permintaan maaf.
Selama perjalanan beberapa hari ini Komandan Ji Wei memperhatikan Li Hongli tidak nyaman saat menaiki kereta kuda. Oleh karena itu kali ini dia ingin menggantinya dengan kamar mewah.
"Hihihi... Terimakasih Paman Wei!" Li Hongli tersenyum lebar hingga semua gigi putih miliknya terlihat.
Bisa menginap di dalam kamar mewah tentu menjadi bayaran Li Hongli sebagai tamu Kekaisaran Han. Sementara para prajurit merasa iri harus tinggal dalam satu kamar untuk beberapa orang.
Li Hongli meledek para prajurit dengan cara memamerkan kunci kamar sambil naik ke atas. Membuat semua prajurit hanya bisa berdecak kesal namun tidak berani menegur mengingat remaja itu merupakan salah satu tamu Kaisar.
"Maafkan sikap muridku, Tuan Wei. Aku sendiri cukup kesulitan menghadapinya setiap hari..." Bai An tersenyum canggung dan akan menghukum Li Hongli setelah kunjungan selesai karena sudah membuatnya malu.
Komandan Ji Wei tidak mempermasalahkan tingkah Li Hongli belakangan ini. Dia justru memaklumi mengingat Li Hongli sedang dalam masa pertumbuhan.
Masing-masing dari mereka kemudian masuk ke dalam kamar. Para prajurit langsung beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh, sementara Bai An dan Komandan Ji Wei melatih pernafasan mereka.
Li Hongli langsung melemparkan tubuhnya sendiri ke atas kasur yang sangat besar dan empuk. Berkat menggunakan bulu unggas pilihan untuk isian bantal dan kasur membuat Li Hongli langsung mengantuk.
"Permisi, saya membawakan makan malam untuk Anda...."
Tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu hingga membuat Li Hongli kembali terjaga. Li Hongli sebelumnya merasa tidak memesan makanan tetapi tetap mempersilahkan pelayan untuk masuk ke dalam.
Pelayan dengan hati-hati memindahkan makanan dari nampan besar ke atas meja. Raut wajah pelayan tersebut terlihat pucat dan saat Li Hongli menanyakannya, dia menjawab baik-baik saja.
"Maaf sebelumnya aku merasa tidak memesan makanan..." Ucap Li Hongli sambil melihat meja yang sudah penuh dengan makanan tradisional.
"Tuan tidak perlu khawatir ini semua merupakan pelayanan khusus dari kami untuk tamu Kaisar..." Balas pelayan sambil tersenyum canggung sebelum pamit undur diri.
Li Hongli masih merasa heran dengan sikap pelayan tersebut tetapi tidak terlalu memikirkannya dan berpendapat jika wanita itu masih pekerja baru.
Melihat ada banyak makanan gratis di atas meja Li Hongli berpikir tidak ada salahnya juga untuk mencicipi. Saat mengangkat sumpit dan hendak memakan mie kaldu, Li Hongli tiba-tiba berhenti dan mengurungkan niat.
"Sepertinya ada seseorang yang ingin bermain-main malam ini..." Li Hongli tersenyum tipis menyadari jika semua makanan yang ada di atas meja mengandung racun.
Sementara itu dari kejauhan sekelompok orang berpakaian hitam tertutup seperti seorang ninja sedang mengintai penginapan. Jumlah mereka tidak kurang dari 20 orang dan memiliki tanda khusus tersendiri pada lengan baju mereka.
Masing-masing dari mereka membawa senjata lengkap yang sudah bisa di pastikan tujuan kedatangan mereka ke sana untuk menyerang rombongan kereta kuda milik Kekaisaran Han.
"Lapor Ketua, mata-mata yang sudah kita tempatkan sudah mulai menjalankan tugasnya..." Ucap seseorang dengan tanda tali emas di lengannya yang baru saja tiba untuk melapor.
Terlihat seseorang dengan tanda tali hitam pada bagian lengan yang merupakan Ketua dari kelompok pembunuh bayaran tersebut mengangguk kan kepala.
"Bagus, lanjutkan langkah ke-dua untuk menghindari kecurigaan mereka..." Ucap Ketua kelompok kepada bawahannya tersebut.
Kembali kepada Li Hongli, dia mulai pergi meninggalkan kamar untuk memeriksa situasi yang sedang terjadi saat ini di dalam penginapan.
Mengingat malam masih sangat muda Li Hongli sudah menyadari jika akan ada saatnya mereka di serang seperti ini. Ketika ingin mengetuk pintu kamar Bai An untuk menanyakan situasi, Li Hongli mendengar keributan dari lantai dasar.
Li Hongli akhirnya memutuskan untuk turun memeriksa sumber keributan. Lantai dasar Penginapan Teratai Putih terlihat seperti kedai dengan beberapa meja dan kursi untuk menikmati hidangan atau hanya sekedar bersantai.
Begitu turun dari lantai dua Li Hongli kemudian menemukan kelompok bandit sedang berdebat dengan beberapa prajurit yang masih terjaga.
Orang paling besar di dalam kelompok bandit menggebrak meja para prajurit Kekaisaran Han dengan keras meminta mereka untuk segera pindah dari sana.
Tetapi para prajurit menolak pindah tempat bahkan mulai mengeluarkan senjata masing-masing untuk melawan para bandit yang bersikap seperti pemilik wilayah.
dan..ini layak utk terus diikuti sampai akhir crita..
jadi..trimakasih sdh menyajikan crita kisah yg menarik ini..dan tetap truss berkarya thorr..skali lg trimakasih