S 2
"Aku Punya Papa." Tiga kata yang selalu diucapkan Farzan bocah berusia 6 tahun itu, ketika teman-teman seusianya mengolok dirinya tidak punya papa.
Ibu mana yang tidak sakit hati melihat putranya yang selalu diolok, namun Zana hanya bisa diam karena dia tidak bisa menunjukkan siapa ayah dari anaknya.
Hingga ketika Farzan dinyatakan mengidap Pneumonia, penyakit yang bisa mengancam nyawanya, membuat dunia Zana seakan runtuh. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk pengobatan putranya, namun hasilnya selalu nihil bahkan semua yang ia punya telah habis terjual. Dan pada akhirnya, dengan terpaksa Zana kembali ke kota kelahirannya untuk mencari sosok ayah biologis putranya, yaitu laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya 7 tahun lalu, dengan harapan laki-laki itu bisa menolong putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. WILL YOU MARRY ME?
"Gak lupa liriknya kan?" Tanya mama pada Farhan. Sejak tiba di cafe yang sudah dibooking oleh Juna, putranya itu nampak gugup dan duduknya terlihat tidak nyaman.
"I-ya, Ma," jawab Farhan dengan sedikit terbata. Ia sebenarnya merasa tidak yakin akan mengingat kalimat-kalimat yang sudah ia rangkai sejak semalam untuk ia utarakan melamar Zana. Sekarang saja ia sudah merasa gugup, bagaimana nanti jika sudah berhadapan dengan wanita itu.
"Hei Kakak ipar, rileks! Kau tidak akan mati hanya karena melamar seorang wanita." Ujar Juna dengan mengeraskan suaranya, membuat tampang gugup Farhan seketika menjadi kesal. Sejak masih diperjalanan adik iparnya itu terus melontarkan kalimat yang benar-benar membuatnya naik pitam. Jika tidak mengingat kerja keras Juna beberapa hari ini, mungkin ia sudah memberinya pelajaran.
"Juna, jangan menggodanya terus. Nanti dia akan kabur dari sini." Tegur papa.
Semuanya pun terdiam, mereka larut dalam keindahan suasana cafe. Lampu-lampu berwarna warni yang ber gemerlap beradu dengan pencahayaan sinar rembulan, semakin menambah keindahan cafe itu.
Tempat yang telah dipilih Juna sebagai tempat lamaran dadakan ini sungguh mengesankan bagi Farhan, sebagai laki-laki yang tidak pernah bersikap romantis ini adalah pengalaman baru dalam hidupnya. Sungguh ia tidak pernah membayangkan akan duduk ditempat seindah ini, menunggu wanita yang akan menjadi istrinya.
Disaat yang lainnya asyik mengobrol, Farhan justru terdiam sambil menengadah menatap langit malam yang penuh bintang. Senyum tipis tercetak di bibirnya kala kedua netranya menangkap satu bintang yang bersinar sangat terang dari bintang lainnya.
"Sangat cantik," tanpa sadar Farhan bergumam. Ia terus menatap satu bintang yang bersinar terang itu dengan senyum yang semakin mengembang dan kedua mata yang nampak berbinar, seakan ia sedang menatap sang pujaan hati dengan tatapan penuh cinta.
Sementara itu diluar cafe...
Mobil Jane baru saja sampai di cafe, setelah memarkirkan mobilnya ditempat khusus parkir mobil, Jane pun gegas meminta pasukannya untuk segera turun.
"Yeah, akhirnya kita sampai juga." Seru Arkan yang baru saja turun dari mobil.
Farzan yang berdiri disamping Arkan, tersenyum suasana cafe yang terlihat begitu indah. Ia sudah merasa tak sabar untuk segera menyaksikan momen yang selalu dinantikannya selama ini. Didalam cafe, papa dan seluruh keluarganya yang lain pasti sudah menunggu kedatangan mereka.
"Jane, aku rasa kita salah mendatangi cafe. Sepertinya cafe ini sedang disewa orang, lihat saja disini sangat sepi tapi dihiasi dengan sangat indah." Ujar Zana sambil mengedarkan pandangannya ke area sekeliling. Di tempat parkiran hanya ada dua mobil yang terparkir di samping mobil Jane.
"Iya, Kak Zana benar. Cafe ini memang sedang disewa, tapi itu untuk kita semua." Ucap Jane sambil tersenyum.
Zana mengerutkan keningnya, "Maksudmu?" Tanyanya bingung.
"Lebih baik sekarang kita langsung masuk saja kedalam, nanti Kak Zana akan tahu sendiri apa maksudku." Kata Jane.
"Tapi...
Sebelum Zana menyelesaikan kalimatnya, Farzan dan Arkan sudah lebih dulu menarik kedua tangannya masuk kedalam cafe.
Jane menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua pengawal ciliknya itu, iapun ikut melangkah masuk kedalam cafe.
Sedang Zana yang merasa terkejut karena tiba-tiba ditarik masuk kedalam cafe, mencoba untuk menghentikan dua bocah tampan itu tapi Arkan dan Farzan tidak membiarkan tangannya terlepas. Mereka berdua terus menarik tangan Zana hingga sampai pada sebuah tempat yang seketika membuat Zana mematung.
Arkan dan Farzan pun melepas tangan Zana kemudian Arkan melambaikan tangannya pada beberapa orang yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
"Farzan, ayo kita pergi. Kita tidak seharusnya ada disini." Ujar Zana, melihat keberadaan Farhan dan beberapa orang yang diyakininya adalah keluarga laki-laki itu membuatnya ingin segera pergi.
Zana menggenggam tangan putranya dengan erat, baru ia akan berbalik gerakan langkah kakinya terhenti ketika mendengar teriakan Farhan yang memanggil namanya.
"Tunggu Zana, jangan pergi." Lekas Farhan pun beranjak dari tempat duduknya menghampiri wanita itu, ia tidak akan membiarkan Zana pergi lagi darinya.
"Jangan pergi," ujarnya setelah berdiri dihadapan Zana.
"Tapi aku harus pergi, aku tidak mau menganggu acara keluargamu." Ucap Zana menekankan. Ia tidak begitu memperhatikan orang-orang yang ada ditempat itu, tapi ia yakin diantara orang-orang itu pasti ada Keyla dan ia tidak mau mengambil resiko jika Keyla akan berusaha mencelakai putranya lagi bila melihat keberadaannya ditempat ini.
"Bagaimana kau akan pergi, Zana? Semua ini aku persiapkan hanya untukmu." Ujar Farhan.
Zana mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?" Tanyanya bingung.
Beberapa kali Farhan tampak menghela nafas mengurai rasa gugup yang kembali melandanya, sambil melirik kearah keluarganya yang nampak sudah tak sabar menunggu dirinya mengungkapkan serangkaian kalimat yang sudah ia susun rapi sejak semalam.
Setelah merasa lebih rileks, Farhan pun perlahan merendahkan tubuhnya bersimpuh dihadapan Zana, ia menengadahkan wajahnya menatap wanita yang berdiri didepannya itu dengan penuh harap.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama seperti yang pernah aku katakan, 7 tahun yang lalu aku selalu berusaha mencari mu. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.
Semalaman panjang aku bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanyakan pada hatiku sendiri ditengah kesunyian malam. Sudah tepatkah pilihanku?
Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama … itu … Kamu. Zana, Will you marry me?" Tanya Farhan seraya mengulurkan sebelah tangannya pada Zana.
.
.
.
TBC.......✨✨✨
Sambil nunggu up, mampir juga yuk ke novel teman author 🙏
tuh bocil ganteng mu kangen berat sm kalian , sabar napa
apa zana anak om wili yang ktnya hilang?