NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Bogor, 10 Desember 2024.

Hujan deras tak henti-hentinya mengguyur Bogor sejak awal bulan Desember. Segala aktivitas yang ingin dilakukan jadi sedikit terhambat, walaupun tak sedikit orang yang menganggap hujan akan membawa berkah.

"Udah kayak bulan Januari ih, ujan mulu!" cerca Arinta dengan wajah malas.

"Huss.. Ga usah misuh-misuh mulu, cowokmu udah nungguin tuh didepan!" sahut Ghifari, kakak Arinta.

Arinta reflek menoleh, walaupun keberadaan orang yang dimaksud tidak akan terlihat dari ruang makan.

"Kan ujan, males ah. Nanti sepatu Arinta basah lagi, baru juga kering," jawab Arinta masih dengan wajah bad mood-nya.

"Ya udah, temuin dulu itu temennya. Kasian nungguin," ucap Zaid, ayah Arinta dan Ghifari.

Arinta yang sudah mengenakan seragam putih abu-abu itu berjalan malas ke arah teras, melihat sosok yang sudah ia kenal sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Sosok yang kini tengah berdiri membelakanginya sambil bermain ponsel, tak luput dengan jas hujan hijau neon kebanggaannya.

"Il.." panggil Arinta.

Yang dipanggil pun langsung memberikan atensi penuh.

"Ayo! Udah rapi?"

"Masih ujan woi!" sahut Arinta.

"Ck. Udah mau jam tujuh, nanti telat. Lagian kan pake jas ujan," jawabnya sambil menunjukkan jam di ponsel.

"Iya tau.. Tapi gua males banget sumpah, Il. Nan-"

"Banyak omong!" Aguil langsung memakaikan jas hujan berwarna merah muda itu kepada Arinta, gadis itu hanya bisa memasang wajah pasrah.

"Bentar, pamit dulu sama ayah," Arinta berlalu kedalam.

Setelah sampai di Sekolah, Arinta masih saja cemberut. Karena benar, walaupun seragamnya kering, tapi sepatunya tidak.

Aguil yang menyadari itu langsung buka suara. "Besok mah plastikin aja sepatunya."

Arinta hanya menatap Aguil dengan ogah-ogahan. Lalu setelahnya meninggalkan Aguil yang masih sibuk dengan jas hujannya sendiri.

"Ta.. Nanti liburan akhir tahun mau kemana?" tanya Aguil yang masih terus membuntuti Arinta sampai jam istirahat tiba.

Bagi yang mengenal Arinta dan Aguil dari zaman orok mereka berdua, pasti sudah tidak heran. Pasalnya, walaupun mereka tidak satu darah, tapi mereka sepersusuan. Tidak banyak yang tahu fakta tersebut. Yang orang-orang tahu, mereka dekat sebatas dekat.

"Biasalah. Lu kayak baru kenal gua aja nanya begitu," jawab Arinta.

"Ya kali aja, jawabannya beda."

Arinta tidak menjawab lagi. Ia lebih memilih menyeruput kuah tekwan yang masih terasa hangat.

"Ga nungguin ih!" omel Aru yang sempat tertinggal ke kantin.

"Gua kira udah duluan, hehe." Arinta nyengir tanpa merasa berdosa.

"Il, lu bisa bikin poster kehilangan ga?" tanya Aru.

"Buat?" sahut Aguil bingung.

"Buat mencari akhlak Arinta Prameswari," Aru melirik Arinta dengan judes yang dibuat-buat.

Aguil hanya menimpali dengan kekehan tertahan. Sementara Arinta membalas lirikan Aru dengan wajah marah yang dibuat-buat.

"Kalian berdua mending jadi pemain sinetron indosiar. Cocok banget." tunjuk Aguil yang sudah tertawa geli melihatnya, memang sangat receh.

Sampai suara berisik lain menginterupsi. Tama dan Tami, dua manusia plenger selain Aguil.

"Upin ipin akhirnya sekulah juga.." ucap Aru.

"Tau nih. Si Arinta-Arinta ini juga kalo ga dipaksa ga bakal sekolah juga," ucap Aguil.

Tama malah ikut-ikutan menyalahkan kembarannya. "Si Tami nih emang, udah kelas dua belas bukannya makin rajin."

"Elu juga sama!" bantah Tami.

"Shht.. Udah samanya, sama-sama males udah," lerai Arinta.

"Gua baru notis, ternyata Tama Tami tuh bukan cuma mukanya aja yang mirip, tapi plek ketiplek sifatnya juga," ucap Aru sambil lamat-lamat memperhatikan tingkah dan wajah mereka berdua.

"Kalo udah kenal banget-banget mah, pasti keliatan beda," ucap Tami.

"Ih iya tau, beda. Lu aja yang ga peka, Ru," sahut Arinta.

Momen langka yang hanya bisa mereka rasakan beberapa kali setahun. Keheningan diantara mereka berlima. Hanya suara hujan yang masih samar terdengar, karena sudah mulai reda.

"Nanti lu mau ke Balikpapan kan, Ta?" tanya Tami memecah keheningan diantara mereka.

Arinta menatap keheranan. "Tiba-tiba banget nanya gitu?"

Tami terlihat berpikir, "Ya iya. Gua sama Tama juga mau terbang ke Kalimantan nanti, ke Balikpapan. Kali aja penerbangannya bisa bareng."

Arinta mengangguk-angguk paham.

"Kalo tahun ini belom tau sih berangkatnya kapan. Tapi kalo tahun-tahun sebelumnya," Arinta sedang berusaha mengingat, "Paling sekitar tanggal duapuluhan atau ngikutin libur sekolah aja."

"Ohh.."

"Itu lu rutin liburan kesana setiap akhir tahun, apa ngga bosen?" tanya Aru ikut bertanya ke Arinta.

"Engga!" jawab Arinta singkat.

Bohong kalau Aguil tidak melihat perubahan raut wajah Arinta. Topik ini memang sangat sensitif untuk dibahas. Diantara mereka, hanya Aguil yang tahu seluk beluk kelam Arinta. Itupun diceritakan dari Ghifari, abangnya Arinta.

"Eh btw, lu berdua ngapain kesana? Mau liburan?" tanya Aru ke Tami Tama.

"Yoi.. Lebih tepatnya usulan Tama, mau ikut Arinta katanya, biar bisa bareng-"

Tama membekap mulut kembarannya kasar. "Dia emang suka ngarang, ga usah didengerin."

"Nanti dikabarin lagi deh kalo emang mau satu penerbangan," ucap Arinta.

"Jadi gua sama Aguil ditinggal disini?" tanya Aru yang sudah cemberut.

"Nanti kan pulang." hibur Arinta.

"Eh siapa bilang gua disini aja? Gua juga mau pergi kali." ucap Aguil santai.

"Lu mau ke Kalimantan juga?" kompak mereka yang ada disana, kecuali Arinta.

"Siapa bilang gua mau ke Kalimantan? Gua mau ke Banten. Ke keluarga mama. Udah lama banget ga kesana, terakhir pas gua masih SMP."

"Ih lebih parah. Gua malah ditinggal sendirian," Aru terlihat lebih merengut dari sebelumnya.

"Emang lu ga kemana-mana, Ru?" tanya Tama.

"Ya mo kemana? Kan bonyok gua orang asli sini, moal bakal pulang kampung kemana-mana juga."

Keheningan menyelimuti kelimanya. Sampai Aru kembali bersuara.

"Engga lah, ga apa-apa. Gua happy kok di rumah doang juga. Paling nanti gua ngedrakor seharian. Di rumah doang, tapi bisa keliling Korea, hehe."

Suasana tidak muram lagi. Sampai suara bel masuk memaksa mereka untuk berpisah ke kelas masing-masing, kecuali Aguil dan Arinta yang sekelas.

"U oke, Ta?" tanya Aguil yang melihat Arinta kembali murung.

"I'm okay."

Bohong. Aguil bisa melihat kilat kebohongan dari matanya.

"Udah sana balik ke tempat duduk lu!" usir Arinta.

"Dih. Oke, fine." Aguil akhirnya minggat dari hadapan Arinta.

"Tapi nanti contekan jalan ya?"

Arinta bersiap mengomel, tapi pengawas ujian sudah lebih dahulu memasuki kelas.

Sudah jadi rutinitas tahunan bagi Aguil melihat Arinta dengan kesedihannya disetiap mulai memasuki pertengahan Desember.

Biasanya Aguil akan sibuk mengajak Arinta main atau sekedar mengobrol santai di beberapa minggu sebelum waktu penerbangan ke pulau seberang itu tiba. Namun kini tidak. Kesibukannya untuk persiapan ujian sekolah dan segala tetek bengeknya harus lebih diutamakan daripada hanya sekedar main. Barangkali, Arinta juga akan sibuk dengan persiapan ujian daripada menggalau.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!