Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Pertemuan yang Penuh Duri
Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi begitu kaku dan menyesakkan, seolah udara di dalamnya tiba-tiba menjadi sangat berat hingga sulit untuk dihirup. Kalimat terakhir yang diucapkan Tuan Handoko dengan suara sangat pelan itu terus berputar di kepala Lira, membuat darahnya terasa mendidih sekaligus membeku. Tatapan mata lelaki paruh baya itu yang awalnya tampak penuh keprihatinan, kini berubah menjadi tajam, licik, dan penuh ancaman yang tidak terucapkan, seolah ia sudah menganggap seluruh harta dan rumah keluarga Ardiansyah sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
Lira mengeratkan genggaman tangannya di sisi tubuh, menahan diri agar tidak meledak dalam kemarahan di hadapan orang itu. Ia tahu, saat ini ia sendirian, belum memiliki bukti apa pun, dan jika ia bertindak gegabah, ia hanya akan membuat dirinya sendiri terjebak dalam masalah yang lebih besar. Ia harus sabar, ia harus berpikir cerdas, persis seperti pesan terakhir yang ditinggalkan ayahnya.
“Maaf, Paman Handoko,” ucap Lira dengan nada suara yang tenang dan dingin, berusaha menyembunyikan gejolak besar di dalam hatinya. “Saya tidak begitu mengerti maksud kata-kata Paman barusan. Rumah ini adalah rumah ayah saya, dan akan tetap menjadi milik keluarga Ardiansyah selamanya. Tidak akan pernah menjadi milik orang lain.”
Tuan Handoko tertawa kecil, suara tawanya terdengar halus namun penuh nada meremehkan. Ia menggeleng pelan, lalu melangkah perlahan mendekati tempat tidur tempat jenazah sahabat lamanya terbaring, seolah sedang menghargai, namun tatapan matanya sama sekali tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun.
“Lira, Nak… Kamu masih muda, kamu belum paham banyak hal tentang dunia orang dewasa, tentang hukum, dan tentang perjanjian,” ucapnya lembut, sambil mengusap pelan kain penutup jenazah itu. “Ayahmu adalah sahabat terbaikku, kami sudah berjanji untuk saling membantu seumur hidup. Dan sayangnya, di masa-masa terakhir hidupnya, kondisi keuangan dan urusan bisnisnya sedang sangat kacau. Banyak hutang yang harus dibayar, banyak masalah yang harus diselesaikan. Sebelum meninggal, ayahmu sudah menandatangani surat perjanjian yang menyerahkan seluruh aset, tanah, rumah, dan perusahaan keluarga ini ke tanganku, sebagai jaminan pelunasan semua hutang yang ia miliki kepadaku. Jadi secara hukum, mulai hari ini, semua yang ada di sini memang sudah menjadi milikku.”
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Mata Lira membelalak lebar karena kaget dan marah. Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ayahnya selalu berkata bahwa kondisi keuangan keluarga mereka sangat aman, bahkan termasuk salah satu keluarga terkaya di kota ini. Bagaimana mungkin ayahnya memiliki hutang besar kepada Tuan Handoko? Dan bagaimana mungkin ayahnya menyerahkan semua harta warisan hanya untuk melunasi hutang? Itu sama sekali tidak masuk akal, dan sangat bertentangan dengan sifat ayahnya yang sangat teliti, tegas, dan sangat menjaga kehormatan serta harta keluarganya.
“Itu tidak mungkin!” seru Lira dengan suara yang sedikit meninggi, tidak sanggup lagi menahan emosinya. “Ayah tidak pernah bicara soal hutang apa pun! Ayah selalu bilang bisnis keluarga berjalan sangat baik! Paman bohong! Semua itu bohong belaka!”
Tuan Handoko tidak marah, malah semakin tersenyum lebar, senyum yang membuat hati Lira semakin bergidik ngeri. Ia menoleh, lalu menatap tajam ke arah Bu Sumi yang berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat pasi.
“Bu Sumi, kamu sudah lama bekerja di sini, kamu pasti tahu kondisi keuangan Tuan Ardiansyah yang sebenarnya, bukan? Kamu pasti tahu bahwa belakangan ini beliau sering meminjam uang dalam jumlah besar kepadaku untuk menutupi kerugian bisnis yang terus berjalan,” kata Tuan Handoko, seolah sedang meminta pembuktian, namun nada suaranya mengandung ancaman halus yang sangat jelas.
Bu Sumi menggigil ketakutan, bibirnya bergetar namun tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Ia tahu kebenarannya, ia tahu bahwa semua perkataan Tuan Handoko itu adalah kebohongan besar, tapi ia juga tahu betapa berkuasanya orang itu, dan apa yang bisa terjadi pada dirinya maupun pada Lira jika ia berani membantah atau membuka kebenaran.
Melihat Bu Sumi yang terdiam ketakutan, hati Lira semakin sakit. Ia tahu wanita tua itu tidak berbohong, tapi ia juga tahu Bu Sumi sedang ketakutan setengah mati.
Saat suasana semakin panas dan tegang, tiba-tiba suara berat dan tenang terdengar memecah keheningan.
“Ayah, cukup.”
Satu kalimat pendek itu membuat semua mata di ruangan itu langsung beralih ke arah sosok pemuda yang sejak tadi hanya berdiri diam di dekat pintu, tidak berkata sepatah kata pun.
Raga melangkah maju perlahan, keluar dari bayang-bayang lorong, sehingga cahaya lampu kini menyinari seluruh wajahnya dengan jelas. Wajah yang dulu selalu terlihat ceria, hangat, dan penuh senyum itu kini tampak dingin, serius, dan penuh ketegasan. Tatapan matanya yang hitam itu menatap lurus ke arah ayahnya sendiri, tanpa rasa takut sedikit pun.
“Kita datang ke sini untuk melayat, untuk menghormati almarhum Tuan Ardiansyah, bukan untuk berdebat soal harta atau urusan bisnis di hadapan jenazahnya. Itu tidak sopan, dan tidak pantas dilakukan,” ucap Raga tegas, nada suaranya rendah namun sangat berwibawa, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa segan.
Tuan Handoko terkejut mendengar perkataan anaknya sendiri. Ia menatap Raga dengan tatapan tak percaya, lalu perlahan senyum di wajahnya menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin dan marah yang tertahan.
“Raga, ingat tempatmu. Ayah sedang bicara hal yang penting, jangan campuri urusan orang dewasa,” tegur Tuan Handoko dengan nada rendah yang penuh ancaman.
“Hal yang penting bisa dibicarakan nanti, di tempat yang pantas, dan dengan bukti yang jelas, bukan dengan kata-kata saja,” balas Raga tidak mau kalah, lalu perlahan ia memutar wajahnya, dan pandangannya jatuh tepat pada Lira.
Saat mata mereka bertemu, detak jantung Lira seketika menjadi kacau balau. Selama lima tahun terpisah, ia sudah membayangkan ribuan kali bagaimana rasanya jika ia bertemu kembali dengan Raga. Ia membayangkan akan ada rasa benci, rasa canggung, atau rasa dingin dari pemuda itu. Tapi kenyataannya, saat mata mereka bersentuhan, yang ia lihat di sana bukanlah kebencian, bukan rasa dingin, melainkan rasa rindu yang begitu dalam, rasa sakit yang masih membekas, dan rasa khawatir yang luar biasa besar untuk keselamatan dirinya. Pandangan itu begitu tulus, begitu nyata, seolah berkata: Aku di sini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.
Hati Lira yang keras dan tertutup itu seketika meleleh, air mata hampir saja keluar kembali, namun ia buru-buru menahannya. Ia harus kuat, ia tidak boleh terlihat lemah di depan mereka semua.
“Lira…” suara Raga terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan, namun terdengar sangat jelas di telinga Lira. “Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Aku… aku sangat menyesal mendengar kabar ini.”
Ada makna ganda di balik kalimat itu. Bukan hanya penyesalan atas kematian ayahnya, tapi juga penyesalan karena selama lima tahun ini mereka terpisah, penyesalan karena tidak bisa melindunginya lebih dulu, dan penyesalan karena semua penderitaan yang harus Lira alami sendirian.
Lira hanya mengangguk pelan, bibirnya bergetar namun tidak mampu mengeluarkan satu kata pun. Rasa rindu yang tertahan begitu lama itu kini meluap-luap, bercampur dengan rasa curiga dan rasa sakit akibat semua masalah yang terjadi di antara keluarga mereka.
Melihat interaksi diam-diam itu, wajah Tuan Handoko semakin memerah karena marah. Ia tidak suka melihat kedekatan itu, ia tidak suka melihat anaknya masih menatap wanita itu dengan pandangan yang penuh cinta. Baginya, Lira hanyalah penghalang, hanyalah satu-satunya orang yang tersisa yang bisa menggagalkan seluruh rencana besarnya.
“Sudah cukup!” bentak Tuan Handoko dengan suara keras, memecah momen itu seketika. “Kita tidak perlu berlama-lama di sini. Lira, ingatlah apa yang aku katakan tadi. Semua urusan harta dan warisan akan kita selesaikan secara resmi besok pagi, di kantor pengacara. Kamu wajib datang, dan kamu wajib menandatangani semua surat yang diperlukan. Jangan harap kamu bisa membawa lari apa pun dari sini, karena semua sudah ada di dalam kendaliku.”
Setelah berkata demikian, Tuan Handoko melirik tajam ke arah Raga, lalu berbalik badan dan melangkah keluar kamar dengan langkah cepat dan marah. Pak Darto serta orang-orang yang ikut bersamanya segera menunduk hormat, lalu mengikuti tuannya pergi, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan lagi.
Di ambang pintu, Raga sempat berhenti sejenak. Ia menoleh kembali ke arah Lira, matanya melirik cepat ke arah Bu Sumi seolah memberi kode tertentu, lalu ia berbisik sangat pelan, hanya untuk didengar oleh Lira saja.
“Nanti malam… di taman belakang rumah, jam sepuluh. Datanglah sendirian. Aku punya banyak hal penting untuk bicara denganmu, dan aku punya bukti yang bisa membuktikan bahwa semua kata ayahku adalah bohong besar.”
Sebelum Lira sempat menjawab atau bertanya apa pun, Raga segera berbalik dan pergi mengikuti ayahnya, menghilang di balik pintu kamar yang perlahan tertutup kembali.
Lira berdiri terpaku di tempatnya, jantungnya masih berdebar kencang. Pertemuan singkat tadi begitu penuh kejutan, penuh ancaman, namun juga penuh harapan yang baru muncul kembali. Kata-kata Raga, janji Raga, dan undangan pertemuan rahasia itu… apakah ia berani mempercayainya? Apakah ia berani mengambil risiko bertemu diam-diam dengan Raga, padahal ayahnya adalah orang yang paling dicurigainya sebagai dalang kejahatan?
“Nona…” suara Bu Sumi memecah lamunan Lira, wajah wanita tua itu sudah sedikit lebih tenang meskipun masih tampak khawatir. “Mas Raga benar, Nona. Beliau memang orang yang bisa dipercaya. Selama ini beliau diam-diam mengumpulkan banyak bukti kelicikan Tuan Handoko, karena beliau sendiri sudah lama curiga ada yang salah dengan semua tindakan ayahnya. Beliau sudah berusaha melindungi Nona dari jauh, bahkan sampai mengambil risiko bertengkar hebat dengan ayahnya sendiri.”
“Benarkah itu, Bu?” tanya Lira ragu. “Tapi bagaimana jika ini semua hanyalah jebakan? Bagaimana jika Raga hanya berpura-pura baik, supaya aku lengah dan akhirnya mereka bisa dengan mudah mengambil kalung peninggalan Ibu itu dari tanganku?”
Bu Sumi menggeleng tegas. “Tidak mungkin, Nona. Aku sudah melihat ketulusan hati Mas Raga selama bertahun-tahun ini. Cintanya pada Nona itu murni, tidak ada campuran niat buruk sedikit pun. Jika beliau ingin mencelakai Nona atau mengambil apa yang ada pada keluarga kita, beliau sudah bisa melakukannya sejak lama, lima tahun yang lalu saat Nona pergi meninggalkan sini. Beliau tidak perlu menunggu sampai sekarang.”
Penjelasan itu membuat hati Lira perlahan menjadi lebih tenang. Ia tahu Bu Sumi tidak pernah berbohong padanya, dan ia juga tahu betapa dalamnya cinta yang dulu pernah Raga berikan padanya. Namun rasa takut dan trauma akibat semua kebohongan yang sudah ia temukan, membuatnya sulit untuk langsung percaya sepenuhnya lagi.
“Baiklah…” akhirnya Lira menjawab pelan. “Aku akan datang malam ini. Aku akan menemui Raga, mendengar apa yang ingin ia katakan, dan melihat bukti apa yang ia miliki. Tapi aku akan tetap berhati-hati. Aku tidak akan ceroboh dan tidak akan mudah percaya begitu saja.”
Bu Sumi tersenyum lega, lalu mengangguk. “Itu keputusan yang tepat, Nona. Sekarang, mari kita urus jenazah Tuanku Ardiansyah dulu. Besok akan ada banyak orang datang melayat, dan kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan dilakukan oleh Tuan Handoko maupun orang-orang suruhannya. Ingatlah, mulai hari ini, kita tidak bisa mempercayai siapa pun selain orang yang benar-benar sudah membuktikan ketulusannya.”
Sisa hari itu berlalu dengan sangat berat dan penuh kesibukan. Berita kematian Tuan Ardiansyah segera menyebar ke seluruh kota. Banyak orang datang melayat, mulai dari kerabat jauh, rekan bisnis, hingga tetangga sekitar. Di antara mereka, ada yang datang dengan hati tulus berduka, ada yang datang hanya karena basa-basi, namun Lira juga merasa ada beberapa orang yang datang dengan tujuan lain, orang-orang yang matanya terus mengawasi setiap gerak-geriknya, orang-orang yang kemungkinan besar adalah mata-mata yang dikirimkan oleh Tuan Handoko untuk memantau tindakan dan pergerakannya.
Sepanjang hari itu, Lira tidak pernah lepas dari perasaan diawasi. Di mana pun ia berada, di ruang tamu, di ruang makan, bahkan saat masuk ke dapur pun, ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengintainya dari sudut ruangan atau dari balik jendela. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa bahaya itu benar-benar nyata, dan bahwa keputusannya untuk bertemu Raga malam nanti adalah satu-satunya jalan yang paling tepat untuk mencari bantuan dan kebenaran.
Malam pun tiba. Langit kembali gelap pekat tanpa ada satu pun bintang yang terlihat, sama seperti suasana hati Lira. Hujan sudah berhenti, namun tanah di luar masih basah dan becek, dihiasi genangan air yang memantulkan cahaya remang dari lampu taman yang sudah tua dan redup.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit.
Lira sudah berganti pakaian dengan gaun tidur yang dilapisi jaket tebal berwarna gelap, supaya tidak mudah terlihat di kegelapan. Ia berdiri di dekat jendela kamarnya, mengintai ke arah taman belakang yang sudah lama tidak terawat, tempat di mana dulu ia dan Raga sering menghabiskan waktu bersama, tempat di mana dulu mereka saling mengucapkan janji cinta yang suci dan tulus.
Rasa deg-degan, rasa takut, dan rasa rindu bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Tangannya gemetar sedikit saat ia perlahan membuka pintu kamar dengan pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun supaya tidak ada orang yang mendengarnya. Di lorong rumah yang sunyi itu, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berjalan pelan.
Dengan langkah hati-hati, Lira melangkah keluar kamar, menuruni tangga samping yang jarang digunakan, lalu berjalan menuju pintu belakang yang menuju langsung ke taman. Bu Sumi sudah diam-diam membuka kunci pintu itu untuknya, sesuai rencana yang mereka buat tadi sore.
Perlahan, pintu kayu tua itu terbuka, dan udara malam yang dingin serta lembap langsung menyambar wajah Lira. Ia melangkah keluar, melintasi halaman belakang yang dipenuhi rumput liar dan bunga kamboja yang berguguran, lalu berjalan menuju ke sudut taman, di bawah pohon beringin tua yang rindang—tempat pertemuan rahasia itu.
Jantungnya berdebar semakin cepat saat ia melihat ada sosok tinggi besar yang sudah berdiri di sana, bersandar pada batang pohon dengan wajah menatap ke arah bulan yang samar tertutup awan. Sosok itu mengenakan jaket kulit berwarna hitam, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam, dan bayangannya terlihat jelas di tanah yang basah.
Itu Raga.
Mendengar suara langkah kaki di atas rumput, Raga perlahan menoleh. Saat ia melihat sosok Lira yang mendekat di bawah cahaya remang-remang itu, tubuhnya sedikit menegang, dan pandangan matanya kembali berubah menjadi lembut dan penuh rindu, sama seperti pandangan yang dulu selalu diberikan pada Lira bertahun-tahun yang lalu.
Lira berhenti melangkah sekitar dua langkah di hadapan Raga. Jarak di antara mereka begitu dekat, namun terasa begitu jauh karena dinding masa lalu, perpisahan, dan intrik jahat yang sudah memisahkan mereka begitu lama.
“Kamu datang…” bisik Raga pelan, suaranya terdengar lega dan bahagia. “Aku takut kamu tidak akan mau datang, aku takut kamu sudah terlalu membenciku, atau terlalu takut untuk bertemu denganku.”
Lira menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, lalu menatap lurus ke mata pemuda itu.
“Aku datang bukan karena aku percaya padamu sepenuhnya, Raga,” jawab Lira dengan nada tegas namun sedikit bergetar. “Aku datang karena aku butuh kebenaran. Aku butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku butuh tahu, apakah semua yang ayahmu katakan itu benar, atau itu semua hanya kebohongan demi menguasai harta keluargaku. Dan aku butuh tahu… apa posisimu yang sebenarnya. Apakah kamu benar-benar ada di pihakku, atau kamu hanya berpura-pura demi kepentingan ayahmu juga?”
Mendengar pertanyaan itu, wajah Raga terlihat sedih dan perih. Ia mengangguk pelan, lalu perlahan mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh tangan Lira, namun ia menahan dirinya sendiri karena takut wanita itu akan menolaknya.
“Aku mengerti keraguanmu, Lira. Aku mengerti rasa sakit dan rasa curiga yang ada di hatimu. Aku pantas mendapatkan itu, karena aku tidak ada di sisimu saat kamu paling butuh dukungan, karena aku membiarkan kamu pergi sendirian menanggung semua penderitaan itu,” ucap Raga dengan suara rendah yang penuh penyesalan. “Tapi percayalah satu hal: apa pun yang terjadi, apa pun yang dilakukan ayahku… hatiku, perasaanku, dan kesetiaanku akan selalu ada di pihakmu. Aku tidak pernah, tidak akan pernah, mau membela kejahatan apa pun, meskipun itu dilakukan oleh darah dagingku sendiri.”
Raga lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, dan mengeluarkan seberkas kertas yang dilipat rapi, lalu mengulurkannya ke arah Lira.
“Ini bukti yang aku kumpulkan diam-diam selama dua tahun terakhir. Ini adalah salinan surat-surat transaksi palsu, surat perjanjian yang dipalsukan, dan rekaman percakapan rahasia yang membuktikan bahwa ayahku memang sudah lama merencanakan semuanya. Dia yang mengatur supaya bisnis ayahmu mengalami kerugian besar, dia yang memalsukan bukti hutang, dia yang diam-diam mencuri dokumen penting perusahaan, dan dia yang menjadi dalang di balik segala hal buruk yang menimpa keluargamu, termasuk… kematian ibumu.”
Kalimat terakhir itu membuat darah Lira seketika berhenti mengalir. Matanya terbelalak lebar menatap kertas yang ada di tangan Raga, lalu kembali menatap wajah pemuda itu dengan rasa sakit yang luar biasa.
“Ibu… Ibu memang bukan meninggal karena sakit biasa, kan?” tanya Lira dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Raga mengangguk perlahan, matanya juga mulai berkaca-kaca.
“Ya, Lira. Kematian Ibumu bukan kecelakaan, bukan sakit mendadak. Itu… itu adalah pembunuhan yang direncanakan dengan sangat rapi. Dan dalang utamanya… adalah ayahku sendiri.”
Di bawah pohon beringin tua itu, di tengah malam yang dingin dan sunyi, kebenaran yang paling mengerikan itu akhirnya terungkap. Kebenaran yang akan mengubah segalanya, yang akan membuat hubungan di antara mereka berdua menjadi semakin rumit, semakin menyakitkan, namun juga semakin mempererat ikatan mereka dalam perjuangan untuk menuntut keadilan.
Lira menggenggam kertas bukti itu dengan erat, air matanya jatuh kembali membasahi pipinya, kali ini bukan hanya karena kesedihan, tapi juga karena rasa marah yang meledak-ledak. Di saat yang sama, Raga perlahan maju selangkah, lalu tanpa ragu lagi, ia merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Lira dengan erat, seolah ingin melindunginya dari seluruh kejahatan dan rasa sakit di dunia ini. Dan kali ini, Lira tidak menolak. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat itu, pelukan yang sudah dirindukannya selama lima tahun lamanya, pelukan yang menjadi satu-satunya tempat berlindung yang aman baginya di tengah kekacauan dunia yang kejam ini.
Di kejauhan, di balik jendela lantai dua rumah itu, sepasang mata dingin sedang mengamati pertemuan itu dengan tatapan penuh kebencian dan rencana jahat yang baru saja terbentuk di dalam pikirannya.
(Bersambung ke Episode 4)