Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Persiapan Pernikahan Gabriel dan Berliana
Gabriel kembali mendekatkan wajahnya ke Berliana, mengecup hidung wanita itu sekilas. Dia juga mengecup bibir dengan lembut.
"Aku tidak tahu, apakah ini yang dinamakan cinta. Sejak bertemu kamu hati ini selalu dipenuhi nama kamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa di mana pun aku berada, apa pun yang terjadi, aku akan selalu memikirkanmu, dan waktu yang telah kita habiskan bersama adalah waktu yang paling menyenangkan. Saat aku bersamamu, satu jam terasa satu detik. Tapi saat aku jauh darimu, satu hari berasa satu tahun."
Berliana memandangi wajah Gabriel dengan intens. Tidak pernah dia mendengar pria itu berkata manis seperti saat ini.
Gabriel memeluk pinggang Berliana, makin merapatkan tubuhnya. Dia lalu mengecup dahi wanita itu.
"Kau membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tak bisa lakukan untukku. Aku mencintaimu tanpa mengetahui alasannya, kapan itu datang, atau dari mana itu datang. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa masalah atau kebanggaan. Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tidak tahu cara lain untuk mencintai. Kamu membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik," ucap Gabriel lagi.
Hal itu membuat Berliana makin terkejut. Dia tidak mengira pria seperti Gabriel bisa berkata romantis dan lembut.
"Besok kita ke butik beli pakaian, lusa kita menikah. Aku ingin walau pun hanya menikah siri, ada kenangan saat Ijab kabul. Ada kamu, aku dan Nicole. Sekalian besok kita beli cincin buat pernikahan," ucap Gabriel.
"Tak perlu beli cincin lagi. Aku masih menyimpan cincin yang pernah Abang berikan dulu," ucap Berliana pelan.
Gabriel terkejut mendengar ucapan Berliana. Tidak pernah mengira jika wanita itu masih menyimpan cincin pemberian darinya.
"Kamu masih menyimpannya?" tanya Gabriel.
Berliana hanya menjawab dengan anggukan kepala. Walau dia kekurangan uang, tapi tidak berani menjual cincin itu, karena baginya itu bukan hak dia. Bukankah mereka batal menikah.
"Kenapa kamu tidak menjualnya? Bukankah kamu di desa pernah kesulitan keuangan," ucap Gabriel.
"Aku tidak punya hak atas cincin itu. Bukankah kita batal menikah. Dari awal aku menyimpannya untuk dikembalikan padamu suatu saat. Dan Tuhan akhirnya mempertemukan kita kembali karena Nicole," kata Berliana dengan suara pelan.
Gabriel makin mempererat pelukannya. Dia menyadari jika Berliana memang telah mencuri hatinya. Mungkin dari awal hingga saat ini. Buktinya dia tidak bisa mencintai wanita lain walau mereka terpisah.
"Sekarang kamu tidurlah. Jangan pernah bermain lagi dengan Alex. Jangan pernah memakai busana seksi jika bukan bersamaku," ucap Gabriel dan mengecup bibir wanita itu pelan.
Kembali Berliana hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja. Dia seakan telah terhipnotis dengan pesona pria itu. Gabriel menurunkan Berliana.
"Aku pamit, jika aku masih di sini takut nanti keburu buat adik untuk Nicole," ucap Gabriel sambil tertawa.
Berliana mengantar hingga ke depan pintu. Dia masuk setelah Gabriel menghilang dari pandangan. Wanita itu masuk ke kamar Nicole. Melihat putrinya tidur dengan nyenyak, tidak ada yang akan menyangka jika gadis cilik itu menderita penyakit yang cukup berbahaya.
Dengan pelan, Berliana naik ke ranjang, takut gerakannya akan membangunkan bocah cilik itu. Dia memeluk dengan perlahan tubuh Nicole dan mengecup pipinya.
"Sayang, semoga dengan pernikahan Ibu dan Papi nanti, kamu bisa disembuhkan dan akan memberikan kebahagiaan untukmu," ucap Berliana pelan. Setelah itu dia mencoba memejamkan mata.
**
Gabriel berdiri di depan sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota. Dia menunggu Berliana tiba untuk membeli baju pengantin dan cincin pernikahan. Dia terlihat cukup tegang dan gelisah saat menunggu Berliana, namun dia yakin semua akan baik-baik saja. Tadi Gabriel meminta Alex yang menjemput karena dia masih harus menyelesaikan satu kerjaan.
Tiba-tiba Gabriel merasakan sebuah tangan mungil yang membelai rambutnya dari belakang. "Hallo, Papi," kata Nicole sambil tersenyum manis digendongan Berliana. Gabriel segera membalikkan badannya dan merangkul Nicole, yang otomatis juga merangkul Berliana.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini," ucap Gabriel lembut. Entah ditujukan buat Nicole atau Berliana.
Berliana merah padam saat mendengarnya. "Terima kasih, Bang," jawab Berliana akhirnya.
"Ayo kita masuk, kita akan mencari baju pengantin yang terbaik," ucap Gabriel.
Gabriel memimpin Berliana masuk ke dalam toko. Mereka berjalan di tengah-tengah koleksi baju pengantin, tetapi Berliana masih belum yakin baju apa yang dia inginkan. Gabriel mencoba membantu dengan memberikan saran-saran dan akhirnya Berliana memutuskan untuk mencoba salah satu baju pengantin.
Begitu juga dengan Nicole. Gabriel meminta baju dengan model yang sama untuk putrinya.
Setelah Berliana coba beberapa baju, Gabriel akhirnya membantunya memilih satu yang sempurna. Berliana terlihat sangat mempesona dalam baju pengantin yang lembut dengan renda dan kristal. Dia juga memutuskan untuk membeli sepatu dan aksesoris yang sesuai.
"Aku bahagia kamu suka dengan pilihanku," kata Gabriel ketika mereka keluar dari toko baju pengantin.
Berliana tersenyum lebar. "Terima kasih, Bang. Untuk semuanya."
Nicole yang kelelahan telah tertidur dalam gendongan Gabriel. Mereka kembali ke pusat perbelanjaan di pusat kota untuk membeli cincin pernikahan. Gabriel mengantarkan Berliana ke toko perhiasan yang dia tahu Berliana akan menyukainya.
Gabriel memutuskan membeli kembali cincin pernikahan, karena cincin untuknya belum ada. Cincin yang dulu telah dibuang.
Ketika mereka masuk ke toko perhiasan itu, Berliana terpana melihat sejumlah koleksi cincin yang ada di sana.
"Semua koleksinya terlihat indah ... Aku tidak tahu harus memilih yang mana," ucap Berliana dengan penuh keragu-raguan.
Gabriel memahami kegelisahan calon istrinya. Dia merangkulnya dan berkata, "Tenang saja, sayang. Kita akan mencari cincin yang sesuai dengan keinginanmu."
Gabriel membantu Berliana memilih cincin yang sempurna sesuai dengan keinginan Berliana. Mereka akhirnya membeli sepasang cincin pernikahan yang dihiasi dengan sebuah batu permata yang sangat indah.
Ketika mereka keluar dari toko perhiasan, Gabriel memegang tangan Berliana dan berkata, "Aku sangat bahagia. Kapan-kapan kita bisa datang lagi ke sini untuk membeli cincin lainnya, jika kamu mau?"
Berliana hanya menanggapi ucapan Gabriel dengan tersenyum. Gabriel merasa sangat senang bahwa mereka telah berhasil membeli baju pengantin dan cincin pernikahan yang sempurna untuk pernikahan mereka. Dia merasa lega dan semakin dekat dengan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan di hari pernikahan.
"Misinya selesai. Sekarang mari kita merayakan dengan makan malam romantis," kata Gabriel dengan senyum lebar.Dia mengecup pipi Nicole yang berada dalam gendongannya.
Pernikahan akan dilaksanakan besok di rumah salah satu ustad yang telah dihubungi Alex.
...----------------...