Bagaimana jika seorang wanita berusia 26 tahun harus bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang bocil? apalagi bocil itu akan mati tidak lama lagi? WHAT?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Rish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JBK ~27
JADI BOCIL KESAYANGAN 27⏱️
Sudah sekitar setengah jam lebih Allisya berada di sebuah ruangan yang berisi dia seorang. Wajahnya sudah masam karena sedari tadi Mama Guin yang katanya hanya pergi sebentar malah sampai saat ini belum kembali juga. Entah ada dimana wanita paruh baya itu sekarang, apa sedang bermesraan dengan sang Daddy ya? Sepertinya iya kan?
"Kok gua sendirian sih di sini? Kapan coba nih orang-orang balik? Aaaaaaa bosen sendiri gak ada yang bisa di ajak ngobrol. Apa gua harus ngobrol sama tembok?" Gadis itu menatap tembok bercat silver yang ada di belakangnya.
"Lo mau gua ajak ngobrol gak?" tanya Allisya yang sudah seperti orang gila sekarang ini.
"Dah persis banget gua kayak orang gila," batin Allisya meratapi nasibnya.
Saat sedang meratapi nasibnya di ruangan tersebut, tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan sosok Edgar yang sedang berdiri dengan tegap di sana. Allisya langsung tersenyum, akhirnya dia tidak sendirian lumayan orang ini dateng bisa di jadiin partner gelud kan?
"Ayo turun!"
Dengan wajah bodohnya Allisya memandangi tangan besar Edgar yang telulur kedepan. Setelah beberapa menit memasang wajah bodoh, akhirnya Allisya paham kalau Edgar sedang mengulurkan tangan untuk mengajaknya keluar bersama. "Modus banget lo," batin Allisya sinis.
Edgar menatap Allisya heran saat gadis itu mengambil sesuatu di dalam tasnya. Pria itu semakin heran saat Allisya meletakan uang seratus ribu di atas telapak tangannya.
"Itu uang buat jajan kak." Setelah mengatakan hal tersebut Allisya langsung berjalan keluar meninggalkan Edgar yang sedang mendengus kesal.
"Untuk apa uang ini?" tanya Edgar pada dirinya sendiri.
Tak tahu ia harus berbuat apa dengan uang itu, Edgar pun keluar dan memberikan uang itu pada ob yang kebetulan berada di depan ruangan tempat Allisya berada tadi. Setelahnya ia langsung berlari mengejar Allisya yang sudah berada di ujung lorong.
"Anj**g!!"
Jantung Allisya rasanya mau pindah ke perut saat tiba-tiba seseorang menggenggam tangannya tanpa permisi. Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan itu saat tau orang yang menggenggam tangannya sekarang adalah Edgar. Sayangnya semakin Allisya berusaha pria itu malah mempererat genggamannya pada jari-jari mungil Allisya, rasanya jadi seperti jari kecil Allisya akan patah karena Edgar menggenggamnya terlalu erat.
"Aduh aduh. SANTAI DONG JANGAN KENCENG-KENCENG PATAH NTAR JARI GUA!!" kesal Allisya.
"Tidak peduli!!"
Mendengar ucapan pria itu Allisya tentu saja langsung menggerutu dalam hati, sayangnya gerutuan itu langsung lenyap saat tanpa ia duga Edgar melonggarkan sedikit genggamannya sesuai permintaan Allisya. "Emang semua cowok kayak gini apa?" tanya Allisya dalam hati.
"Tidak akan seperti itu kalau sudah menjadi kekasih anda Nona(◕દ◕)"
"Weh buset kemana aja lu Sistem? Liat deh cantik gak? Cantik lah, mahal nih riasan njir."
"Hehe saya tadi sedang beristirahat Nona, saya juga tidak mau mengganggu persiapan anda. Anda benar-benar cantik sekali hari ini Nona, saya yakin anda akan menjadi bintang hari ini. Bukan bukan hanya bintang tapi Dewi (≧▽≦)"
"Lu kalau muji-muji gua kayak gini jadi nyeremin, takutnya lo mau minta sesuatu ke gua. Nah sebelum itu terjadi gua bilangin ya, gua ini pelit tem jadi kaga usah minta apa-apa ke gua!!"
"Astaga Nona anda ini selalu berpikir buruk tentang saya, jujur saya terluka(╯︵╰,)"
"Lebay lo tem, eh ngomong-ngomong besok ada misi?"
"Ada Nona, sekaligus juga ada sebuah info anda tunggu saja besok(✿^‿^)"
Allisya menganggukkan kepalanya tanpa sadar sedari tadi Edgar terus saja memperhatikan setiap gerak-geriknya. "Jangan melamun," kata Edgar dengan nada yang sedikit keras membuat Allisya terlonjak kaget.
"Sumpret gua lupa kalau ada ni orang satu," batin Allisya.
"Siapa yang ngelamun enggak tuh," balas Allisya.
Edgar hanya mengangguk kemudian memandang pintu lift yang masih tertutup, hanya ada keheningan di antara mereka berdua saat ini. Edgar yang memang aslinya tak banyak bicara dan Allisya yang sekarang sedang malas mengoceh.
"Kita hampir sampai, butuh kacamata?" Edgar menunjuk kacamata minus yang sedang ia pakai sekarang.
"Itu kacamata minus?" tanya Allisya memastikan.
"Ya."
"LO MAU GUA KETULARAN MINUS GITU?" teriak Allisya.
Edgar tersenyum tipis kemudian mengeratkan genggamannya pada jari-jemari Allisya. Pintu lift terbuka menampilkan ballroom tempat pesta Allisya akan berlangsung. Allisya tersenyum manis saat ruangan ini di hias dengan nuansa yang begitu elegan, dan tentu saja mewah. Matanya beralih menatap orang-orang yang sedang menatapnya dengan berbagai tatapan, lihatlah bahkan para wanita ada yang menatap dengan tatapan membunuh. Ah kalau itu ia tau alasannya, hum mungkin karena pria berkacamata yang sedang menggenggam tangannya ini. Ya kan?
"Setidaknya tersenyum lah, ini pesta pengenalanmu. Saya yakin kalau kamu memasang wajah datar seperti itu mereka akan mengira kamu orang yang sombong," bisik Edgar menasihati.
"Sayangnya gua males senyum, lo gak liat kak? Tuh dari wajah-wajahnya ketaran banget kalau di sini banyak orang munafik. Ck tuh lihat banyak orang yang lebih sombong, sialan mata gua silau karena perhiasan yang mereka pakai. Mereka sebenarnya mau datang kepesta atau mau jualan? Bahkan gua yang punya pesta aja gak seheboh itu." Allisya balas berbisik pada Edgar dengan kaki yang sedikit berjinjit.
"Kamu mau perhiasan seperti mereka?" tanya Edgar.
"Big no, gua remaja jompo. Kalau pakai kayak gitu bisa-bisa encok," jawab Allisya.
Edgar melepaskan genggaman tangannya karena mereka sudah sampai di tempat keluarga Lesham. Setelah selesai menyapa dan mengantarkan Allisya ke sana Edgar pergi dan menghampiri meja keluarga Grissham.
"Sudah siap Allisya?" tanya Daddy Ade.
Dengan mantap Allisya menganggukkan kepalanya kemudian naik ke panggung bersama sang Daddy. Sebelum Allisya Daddy Ade terlebih dahulu memberikan sambutan-sambutan kepada paru tamu yang hadir. Setelahnya Allisya maju dan menatap seluruh tamu yang kini menatap dirinya. Dengan tubuh tegap dan tatapan mata tajam Allisya pun mulai berbicara.......
"Selamat malam para hadirin sekalian, terima kasih sudah berkenan hadir di acara saya malam ini. Perkenalkan saya Auristela Allisya Lesham Putri Tuan Adelard J Lesham dan Nyonya Guinevere Far Lesham. Ah dan tentunya saya cucu kandung Tuan besar dan Nyonya besar Lesham bukan anak pungut seperti yang di rumorkan." Allisya tersenyum sinis saat beberapa orang menahan nafas karena ucapannya barusan.
"Tegang gak lo, salah siapa nyebarin rumor yang enggak-enggak," batin Allisya.
"Alasan saya tidak pernah muncul ke publik adalah karena keamanan, yah tentunya kalian tau bukan musuh keluarga Lesham ada dimana-mana dan mereka sedikit gila..."
"Ah saya rasa itu saja yang ingin saya katakan, eh saya hampir lupa... Ada satu lagi....."
"Di sini saya tekankan pada seluruh hadirin yang terhormat. Saya Auristela Allisya Lesham tidak mempunyai hubungan apapun dengan bisnis keluarga saya. Jadi jika ada yang ingin mencari muka jangan di depan saya, sungguh itu tidak berguna. Sekian terima kasih!!"
"That's my girl."
up up up up up up
up up up grazy uup dong thor 😷