Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dahlah, Percuma!
"Plak-plak!"
"Bug-bug!"
Begitu ringan tangan Demian menghajar anak buahnya semata karena di rumah yang ditempati Rere dan Sus Hikma telah kosong.
"Nggak becus cari informasi sekecil ini! Nggak guna kalian semua!" Mata Demian nyaris lepas saat memelototi kurang lebih 6 orang anak buahnya. Mereka masing-masing meringis, tapi langsung ditahan.
"Kata yang punya kontrakan, Hikma dan anak itu pergi beberapa hari yang lalu bersama seorang pria," lapor pria setinggi Demian sambil menunduk. Pria itu terlihat tegar dan kuat, jadi tamparan tadi tidak terlalu terlihat berpengaruh.
"Pria itu mengaku suaminya," sambungnya perlahan.
Demian menampar orang kepercayaannya sekuat tenaga sampai pria itu ambruk. "Dan kau dengan bodohnya percaya?!"
Makian Demian membuat pria itu berdiri dan makin dalam menunduk. Jelas dia percaya, bahkan sebuah foto pernikahan diberikan kepadanya.
"Ini orang itu, Pak." Pria itu memberikan selembar foto ke Demian. Sementara Demian malas memperhatikan foto tersebut. Ia justru merobek foto itu dan berteriak makin keras.
"Dan kenapa hanya diam di sini kalian! Cari rumah wanita itu sekarang!" Demian heran, kenapa mereka membawanya kemari? Bukankah setiap kepindahan selalu ada tujuan?
"Alamatnya di balik foto tadi Pak," jawab si tangan kanan takut-takut.
Demian mendelik makin geram. Ia meninju muka orangnya begitu keras sampai hidungnya berdarah. "Kenapa tidak bilang dari tadi, Bodoh?!"
Semua orang mundur saking takutnya. Mereka tidak melakukan apa-apa selain bersikap takzim dipenuhi rasa takut. Tidak juga membantu atasan mereka yang jatuh dan bersimbah darah, karena takut akan dihajar oleh Demian jika sampai itu terjadi.
Napas Demian keluar masuk tak beraturan. Sedikit sesak di dada sampai rasanya ingin ia robek saja tulang dan kulitnya agar dia bisa bernapas lega. Alvin menghimpitnya sampai ia tidak bisa tidur meski sama sekali tidak menyentuhnya.
"Bajingan kau Alvin!" Alvin adalah duri yang harusnya tidak usah hadir di pernikahan sialan penuh skandal ayahnya. Anak itu harusnya mati mengingat banyaknya racun yang ditelan Indira agar kandungan itu gugur. Demian benci perusak keluarganya yang harmonis. Indira merusak jiwa murni ayahnya menjadi monster yang haus akan harta.
Ia benci wanita itu dan seluruh keluarganya.
Demian menarik ponselnya, lalu berbicara pelan. "Sus, aku ingin ketemu Ibu!"
Ia segera mengakhiri panggilan dan meninggalkan anak buahnya yang bodoh itu. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, ia memberikan perintah yang membuat siapapun ingin mengumpankan Demian ke buaya.
"Susun kembali foto itu! Temukan alamatnya, dan jangan kembali sebelum berhasil!"
***
Olla bersama Sus Hikma dan Rere tiba di rumah sakit lengkap dengan sekompi orang Alvin yang berpakaian formal.
Olla membuang napas kesal. "Ya ampun!"
Ia membuka kaca matanya, lalu turun dengan muka galaknya yang mengerikan. Ia melangkah ke arah orang yang paling depan, yang ia pikir sebagai pinru grup men in black abal-abal ini.
"Bilang sama bosmu, malu sama anak presiden yang kemana-mana sendirian!" Olla meliukkan bibir. Seolah ia sedang menunjukkan kebencian, jijik, dan mengesankan apa yang dilakukan Alvin adalah sesuatu yang norak dan kampungan.
Namun tak ada yang terjadi, bahkan bereaksi pun tidak. Pria itu sudah menerima mandat langsung, jadi ia mengabaikan Olla.
Bahkan setelah Olla menurunkan Rere, dan melangkah masuk ke rumah sakit, sekelompok badut pantomim itu mengikuti.
Beberapa orang minggir dan menilai kejadian ini aneh. Bahkan tak segan mereka merekam kejadian itu. Olla terpaksa memakai kaca matanya agar tidak terlalu dikenali.
Sialnya, suara cempreng menjengkelkan menyapanya. Olla hanya heran, dari semua makhluk di bumi, kenapa mesti orang ini yang harus bertemu paling awal.
"Mbak Olla sama Rere, ya!"
Sontak yang tidak ngeh dengan kehadiran Olla, termasuk beberapa dokter dan perawat menoleh. Memperhatikan Olla dengan ekspresi heran.
"Pasti mereka pikir aku ke sini membawa badut sekompi ini hanya buat pamer! Mau balas dendam dengan gaya kaya yang lagi trend sekarang!" Olla berdecak tanpa melepas tatapan dari Dinka dan krucilnya yang sudah genap setengah lusin.
"Mbak Olla keren ih!"
Dan mungkin hanya Dinka di dunia, yang setelah musuhan sangat lama, yang saling melempar bara sebelumnya, yang mau menyapa dengan senyum lebarnya itu.
Kayaknya percuma masih memendam kesal sama ini wanita! Bukannya senang tapi malah makin kesel lihat senyumnya!
Batin Olla terus bergejolak, lupa tujuannya apa ke sini.
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏