NovelToon NovelToon
Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Status: tamat
Genre:Obsesi / Angst / Pengganti / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:252.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: ethaloona

Elin mengalami kecelakaan bersama kakak iparnya, Sinta yang sedang hamil besar. Tanpa ia duga, kecelakaan itu berakibat fatal bagi Sinta. Sinta harus kehilangan bayinya sekaligus rahimnya. Ariel, kakak angkat Elin pun menyalahkan hal ini pada Elin yang menyetir mobil.

Karena tak bisa lagi memiliki anak, Elin pun diminta untuk bertanggung jawab oleh sang kakak untuk mengganti bayinya yang telah tiada. Elin pun terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan Ariel.

.

Halo! Ini adalah novel pertamaku di Noveltoon, mohon support nya yaah
follow akun IG: etha.loona

deep bow!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ethaloona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Diminta Berhenti Bekerja

"Kenapa kamu jadi begini?" tanya Ariel begitu Elin masuk ke mobilnya.

Elin menggeleng. Ia tak pernah membayangkan bahwa menjadi wanita hamil bisa separah ini. Ia sangat lemas, haus tetapi ia tidak bisa banyak minum karena mual, ia juga sangat kedinginan.

"Kamu pusing sama lemes aja?" tanya Ariel lagi.

"Iya, Kak. Aku nggak bisa makan siang tadi, jadi makin lemes," gumam Elin dengan mata terpejam.

Ariel menatap Elin tak percaya. "Kamu nggak boleh gini terus dong. Kamu harus makan, gimana kalau bayi aku kenapa-kenapa kalau kamu nggak mau makan? Kamu minum obat dari dokter kan?"

Elin mencebik karena Ariel hanya mengkhawatirkan janin yang ada dalam kandungannya. Padahal, ia sendiri yang merasa sangat parah.

"Aku juga pengen makan, Kak. Tapi emang susah kalau aku paksain nanti aku malah muntah," kata Elin dengan wajah basah.

"Kamu istirahat aja di rumah, nggak usah kerja lagi. Kamu tuh kecapekan kalau kerja. Aku mau kamu di rumah aja," kata Ariel tegas.

Di sebelah Ariel, Elin semakin keras menangis. Ia tahu itu mungkin yang terbaik, untuk kelangsungan perjanjian mereka. Namun, bagi itu adalah mimpi buruk. Jika ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, film Surya untuk Citra tidak akan pernah ada karena tim produksi ingin ia berpartisipasi dalam prosesnya.

Ariel menggeleng pelan. Ia juga tidak tega melihat Elin menangis seperti ini. Namun, ia sudah melihat selama beberapa hari kondisi Elin sangat lemah, jika Elin tetap bekerja ia khawatir semua orang akan tahu Elin sedang hamil anaknya.

"Kamu bisa tetap menulis di rumah," kata Ariel. "Mungkin bukan menulis naskah film, kamu bisa mencoba yang lain. Bukannya kamu pengen nulis novel?"

Elin tidak berkomentar. Ia sudah sangat hancur karena mimpinya benar-benar berantakan. Kepalanya berputar semakin hebat hingga ia meraba keningnya.

"Kamu pusing banget? Kita bisa ke rumah sakit kalau kamu emang nggak bisa makan dan muntah terus," kata Ariel menyarankan.

Elin menatap Ariel sengit. "Kakak cuma peduli sama bayinya kan?"

"Apa? Kenapa kamu bertanya seperti ini?" tanya Ariel datar. Ia menurunkan kecepatan mobilnya seketika. "Kamu jangan lupa, El. Perjanjian kita masih berjalan, dan sesuai perjanjian itu kamu harus menjaga baik-baik bayi dalam kandungan kamu. Jika kamu sakit dan lemah, apa yang akan terjadi sama bayinya? Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi. Sekarang udah 9 minggu, sebentar lagi janinnya bakal tumbuh membesar."

Elin memalingkan wajahnya dari Ariel. Ia menatap jalanan yang ramai. Seharusnya ia tidak perlu heran dengan sikap Ariel. Ariel hanya membutuhkan bayinya! Ariel sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya. Jika ia tidak sedang hamil seperti ini, mungkin Ariel tak akan peduli dengannya.

"Kamu mau pulang atau kita ke rumah sakit?" tanya Ariel setelah beberapa menit berlalu.

"Pulang," jawab Elin. Ia menekuk kedua lengannya di depan dada karena tubuhnya terasa semakin dingin.

Ariel yang melihat gestur itu spontan mengambil jaketnya yang ada di jok belakang. Ia menutupi tubuh Elin agar lebih hangat. "Kamu nggak mau makan apa gitu? Biar aku beliin."

"Nggak, aku mau tidur aja di kamar," jawab Elin.

"Ya udah," tukas Ariel.

Mobil Ariel meluncur cepat menuju rumahnya. Begitu tiba di rumah, Sinta agak terkejut lantaran Ariel dan Elin pulang lebih awal. Apalagi Elin terlihat begitu pucat dan lemas. Ia ingat, ketika ia hamil muda ia tidak pernah separah itu.

"Elin kenapa, Mas?" tanya Sinta.

"Kayaknya dia kecapekan, masih nggak bisa makan jadi lemes," jawab Ariel yang kini merangkul bahu Elin. "Aku bawa Elin ke kamar dulu. Biar dia istirahat."

"Aku aja, Mas. Kamu nggak papa, El? Mual?" tanya Sinta yang kini mengambil alih posisi Ariel. Ia memapah Elin yang beberapa kali mengangguk. "Ya udah, kamu tiduran dulu aja. Nanti juga enakan."

Sinta membantu Elin berbaring setelah melepas cardigannya. Ia menyelimuti tubuh Elin dan menepuk lengannya. "Kamu mau makan apa, El? Biar aku bikinin."

"Ehm, nggak tahu, Mbak. Aku pengen makan soto daging kayaknya," ujar Elin.

"Oke, aku masakin ya. Kamu tidur aja dulu. Mau minum?" Elin menggeleng pelan. "Ya udah. Aku keluar dulu ya."

Elin tidak sanggup bicara lagi. Ia memejamkan mata dan cepat sekali terlelap.

***

Sementara itu, Ariel baru saja meneguk air mineral dari kulkas. Ia melihat Sinta menuruni anak tangga dan menyambutnya. "Elin gimana?"

"Tidur kok. Tenang aja, hamil muda emang suka banyak keluhan," jawab Sinta. Ia mulai memeriksa kulkas untuk melihat isinya. "Elin mau makan soto daging katanya. Aku mau masakin dulu."

"Oh ya, kamu minta bantu Budhe Sarti aja masaknya," kata Ariel.

"Gampang, Mas. Besok kita jadi ke rumah lama kamu, Mas?" tanya Sinta seraya mencuci beberapa sayuran. Ia sudah menyiapkan kaldu daging dan aneka bumbu, jadi ia bisa memasak dengan cepat.

"Jadi dong. Sebenarnya, Elin pengen makan mangga muda yang ada di belakang rumah itu," ujar Ariel.

Sinta menghentikan aktivitasnya sejenak, ia lalu menyiapkan telenan dan mulai memotong sayuran. "Jadi, kamu mau ke rumah lama karena permintaan Elin?"

"Ya, sekalian jalan-jalan. Udah lama juga nggak ke sana kan," ujar Ariel yang tak ingin berpikir negatif tentangnya. "Lagian kasian kalau ngidamnya nggak keturutan, Sayang."

"Tapi kita pergi berdua aja kan?" tanya Sinta lagi.

"Iya, Sayang. Kayaknya kalau Elin diajak nanti malah kecapekan dia di jalan, repot," jawab Ariel.

Sinta mengangguk. "Iya sih, kan lumayan perjalanannya. Kita berdua aja biar santai."

Sinta menyelesaikan masakannya dengan cepat. Ia lantas menyiapkan mangkuk berisi soto daging dan sepiring nasi untuk Elin. Karena bukan jam makan, ia berniat membawanya ke kamar Elin saja.

"Ini buat Neng Elin, Bu?" tanya Budhe Sarti. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Biasanya, setelah mencuci dan beres-beres rumah atau kebun ia akan pulang.

"Iya, Budhe. Mau aku bawa ke atas aja kayaknya dia lemes banget," jawab Sinta. "Budhe besok ke sini pagi-pagi ya. Aku sama Mas Ariel mau ke luar kota. Paling malam baru pulang."

"Oke, Bu. Tenang aja, nanti saya jagain Neng Elin," tukas Budhe Sarti.

"Makasih, Budhe. Aku tenang kalau gitu. Besok kan hari Minggu tapi Budhe jadi harus lembur."

"Santai aja, Bu. Tadi sama Pak Ariel udah dikasih bonus kok," ujar Budhe Sarti senang.

"Ya udah, nanti Budhe bawa soto dagingnya pulang ya. Aku udah siapin itu yang di rantang buat Budhe sama keluarga nanti ya," ujar Sinta seraya menunjuk satu rantang susun yang telah ia siapkan.

"Wah, makasih, Bu."

Sinta mengangguk pelan. Ia membawa nampan berisi makanan untuk Elin lalu mulai menaiki anak tangga. Kedua matanya tiba-tiba terpaku pada sosok Ariel yang sedang berjalan menuju kamar Elin. Sinta langsung cemberut, ia tidak suka jika Ariel masuk ke kamar Elin seperti itu. Ia pun mempercepat langkah.

"Kamu bisa bangun?"

Sinta mendengar suara Ariel ketika ia tiba di depan pintu kamar Elin. Ia berhenti sejenak karena jantungnya berdebar tak keruan.

"Iya, aku cuma lemes, Kak." Kali ini Sinta mendengar suara Elin.

"Alhamdulillah, itu Sinta udah masak buat kamu. Dimakan ya."

Sinta mendorong daun pintu dengan bahunya. Ia melihat Ariel duduk di tepi ranjang sementara Elin bersandar dengan bantal di punggungnya.

"Udah mateng nih, kamu makan dulu aja," kata Sinta seraya mendekat pada Elin dan Ariel.

"Makasih, Mbak. Kayaknya enak banget," ujar Elin. Ia menjulurkan lehernya untuk bisa melihat masakan buatan Sinta. Aromanya yang segar mampu membangkitkan selera makan Elin seketika.

"Kamu coba dulu," ujar Ariel seraya menyendok kuah soto tersebut dan menyodorkannya ke bibir Elin.

Elin menyeruput kuah hangat tersebut lalu merasa begitu lega karena ia sama sekali tidak mual. "Enak banget. Aku suka ini deh."

"Alhamdulillah, kamu harus makan biar nggak lemes lagi," ujar Sinta. Ia menyentuh bahu Ariel ketika suaminya itu hampir menyuapkan makanan lagi ke bibir Elin. Seketika Ariel meletakkan kembali sendok itu ke mangkuk. "Kamu bisa makan sendiri kan?"

"Ehm, ya," jawab Elin. Ia mengambil sendok yang semula dipegang oleh Ariel. "Aku makan sendiri aja, Kak."

"Oke," ujar Ariel. Ia kemudian berdiri dan menatap Sinta. Ia tahu Sinta sedang cemburu karena ia tadinya berniat menyuapi Elin. "Aku keluar aja dulu."

Elin mengangguk pelan meskipun ia sudah berharap Ariel mau menemaninya makan. Namun, rasanya itu tidak akan terjadi karena Sinta tidak rela jika Ariel memberinya perhatian kecil. Ia pun menatap kepergian Ariel yang kemudian disusul oleh Sinta. Elin mengaduk soto daging yang tadinya terlihat sangat ia inginkan. Ia mulai menyendok dan makan satu suap.

"Rasanya nggak seenak kalau nggak disuapin Kak Ariel," gumamnya sedih.

1
Shakayla Habibi
galaaannng ...😭😭😭😭
Srirejeki Gabus
😀
Enung Samsiah
aahh,,, aril perhatian prrreeeetttt,,, bikin jengkel bacanya,mnding elin sama galang aja,, aril brengsekkk
ethaloona: 😁😁😁 egoisss kak
total 1 replies
Stanley Maweikere
bagus
Stanley Maweikere
makin seru
Enung Samsiah
aaahhh,,, siaril egois kauu
neuron ACtiv
exstra partt please kk
yunist
Keren banget...
Sivia
😡😡😡😡
ethaloona: kenapa kak??
total 1 replies
Reny Yunita
😭😭😭😭😭😭😭😭😭 aish nyesek bgt babang galang meninggal elin jahat bgt di lamar tapi slalu aja blm bsa ksih jawaban bner" menjengkelkan ga inget apa pengorbanan galang 😤 mna udh tamat aja lagi pdhal blm kelar ngomelin si elin bikin kesel aja si elin 😤
Reny Yunita
astaghfirullah knpa babnya bikin berlinang air darah eeh slah air mata 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 aah ga adil bgt si klw elin balik lagi masa blik kan sama Ariel dan galang gmna dong 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Reny Yunita
aish elin bodoh ngapain pake ngangguk bikin sebel aja Luna udh di ksih ke Ariel udh tanggung jawab mereka lah klw smpe Luna skit mereka bodoh ngurusnya 😤🤦🏻‍♀️
Reny Yunita
uuh akhirnya yg menemukan galang aah bahagianya aq smoga saja sedikit demi sedikit elin akan ada rasa ke galang dan menikah dan bahagia bersama galang 😍😍😍😍
Paulina Nurhadiati
kalo gak buat sesi ke dua please 🙈😭😭 masih mau tau pas kemo berhasil gak ini?? elin dan Ariel kudu bersatu menikah
Paulina Nurhadiati
ah belum rela kalo tamat masih ada yg kurang kasih Ektra part beberapa bab please kak 🤧🤧🤧
..
tragis amat ya nasib galang ini mau lamar elin eh malah kecelakaan dan meninggal 😭😭
Kisti
👍👍👍👍👍
Kisti
sebesar itu kesakitan kalian elin.luna.ariel.
Kisti
😭😭😭eliin jka kmu tau btp ariel juga cinta kmu 😭
Kisti
elin 😭😭😭
Deliz Diaz Dla FM B
Extra part dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!