NovelToon NovelToon
Kedai Kopi Berondong

Kedai Kopi Berondong

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan!

Ketika seorang wanita dihadapkan pada dua pilihan, satu pria dewasa yang menolak tua dan satunya lagi pria muda yang sok dewasa…

Mana yang akan dipilih?

"Meskipun tuaan elu, kan belum tentu matinya duluan elu!" kata pria yang lebih muda.

Aku memilih pria yang lebih tua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manusia Boleh Berencana, Tapi Saldo Juga Yang Menentukan!

Aku berlari pulang ke ruko Kedai Kopi Berondong dengan perasaan campur aduk.

Perkataan terakhir Jo menyentuh sanubariku!

Apa lu tega nolak orang yang tulus?

Dan…

Ya!

Apa kau tega menolak orang yang tulus?

Nuraniku ikut bicara.

Tiba-tiba saja aku ingin menangis dan menghambur ke dalam pelukan Rere.

Aku masih belum tahu apa yang ingin kukatakan.

Tapi aku tak sabar untuk menemuinya.

Begitu aku sampai di ruko itu, Rere tidak berada di sana.

Hanya ada Abram.

Abram mengatakan berondong tengil itu sedang keluar mencarikan tempat baru untukku.

Aku semakin ingin menangis mendengar itu. Semakin tak sabar untuk bertemu Rere.

Lama aku menunggu dengan gelisah di lantai dua.

Hingga waktu makan siang…

Rere akhirnya kembali sambil membawa makanan untuk kami.

"Sori ya, Kak!" katanya dengan raut wajah prihatin. "Tempatnya belum dapet. Gapapa, kan?"

Aku langsung tertunduk seraya tersenyum muram. Tak tahu harus menjawab apa.

Kemudian kami makan siang bersama.

Dan selama acara makan itu, aku hanya terdiam. Tertunduk dan kebingungan. Tak sabar menunggu waktu sampai kami hanya tinggal berdua.

Setelah pukul empat sore, Abram akhirnya turun untuk memulai acara bersih-bersih dan mempersiapkan segala sesuatu untuk mereka buka.

Rere sudah hampir turun ketika aku menyambar lengan kemejanya dan menahannya di puncak tangga.

Rere menoleh dan menatapku dengan mata terpicing, kemudian menghentikan langkahnya.

"Gu---gua… pen ngomong sama lu," kataku terbata-bata.

Rere berbalik dan menatap ke dalam mataku dengan isyarat bertanya.

"Gua…" aku menggantung kalimatku dan tertunduk dengan kikuk. Kenapa aku begitu gugup? pikirku.

Rere mendesah pendek dan membimbingku ke meja makan, kemudian duduk dan bersedekap seraya memandangiku.

"Lu gosah repot-repot cari tempat buat gua lagi," kataku akhirnya.

Rere mengerutkan keningnya. "Kakak mau tinggal di sini?" tanyanya polos.

"Nggak!" sergahku cepat-cepat. "Maksud gua… biar gua cari sendiri aja nanti!"

Rere menggembungkan pipinya dan menatapku lagi.

"Gua…" Aku berdiri kikuk tak jauh dari tempatnya, berpegangan di permukaan meja seolah-olah lantai di bawah kakiku sedang berguncang dan bergoyang-goyang. "Gua gak mau ngerepotin lu!"

"Gak repot, kok!" tukasnya bernada kekanak-kanakan. "Itung-itung olahraga."

"Gak ada orang olahraga sampe tengah hari bolong!" sergahku sambil cemberut. Pura-pura memarahinya.

"Olahragawan olahraga dari pagi ampe malem lagi," bantahnya masih memasang ekspresi kekanak-kanakan.

Giliran aku sekarang yang mendesah. Kemudian menatap ke dalam matanya dengan memelas. "Kenapa lu baik banget sama gua, Re?" tanyaku dalam bisikan lirih.

Rere mengerjap dan menelan ludah, kemudian mendongak menatap wajahku.

"Hadiah-hadiah itu…" aku berkata dengan suara tercekat. "Titipan dari customer, bingkisan di pintu kamar… semua itu dari lu, kan?" tanyaku.

"Beneran dari customer, kok!" bantahnya sambil berpaling sedikit dan mengusap bagian belakang kepalanya. "Customer Kakak!" ia menambahkan sambil menyeringai.

"Mana ada pengamen punya customer?" semburku sambil cemberut.

"Kalo gitu dari fans Kakak!" ralatnya sambil cengengesan.

"Siapa fans gua?" tanyaku setengah mendengus.

"Gua," katanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan senyum.

"Kasian, ya?" dengusku. "Mana masih muda!"

Rere kembali berpaling dan mengusap bagian belakang kepalanya. Lalu mendesah lagi dan menghela bangkit tubuhnya. Ia mendekat perlahan ke arahku dan mengulum senyumnya. "Gua suka sama Kakak," ia mengaku.

Aku spontan memelototinya, "Emang bener-bener kebangetan, ya?!" semburku lagi.

Rere mengulum senyumnya setengah meringis, kemudian menatapku dengan memelas. "Gua salah, ya?" tanyanya dalam gumaman kekanak-kanakan.

"Lu berani bilang suka tapi masih manggil gua Kakak?" desisku sambil mengetatkan rahang.

Rere mengerjap dan membeku, menatap ke dalam mataku.

Aku balas menatapnya dengan campuran rasa haru dan malu.

Rere menelan ludah dan tersenyum. Ekspresi wajahnya menggambarkan perasaan yang sama. Lalu tiba-tiba mendekat dan menarikku ke dalam dekapannya.

Aku membeku dan melebur dalam sekejap. Sensasi rasa panas menyergap punggungku, rasa hangat dan perih menyelinap di sela-sela dadaku. Lututku melemas sementara jantungku berdegup kencang tak terkendali. Mataku berkaca-kaca.

"Galatia," bisiknya. "Lu mau kan jadi pacar gua?"

Aku menarik wajahku menjauh dari dadanya, kemudian mendongak menatap wajahnya lagi. "Gua udah tua, Rere!" desisku.

"Kalo umur dua puluhan lu kata tua, berarti gua juga udah tua," gumamnya bernada manja.

"Gua lebih tua dari elu!" ralatku.

"Meskipun lu lebih tua dari gua, kan belum tentu matinya duluan lu!" tukasnya sambil mengigit bibir bawahnya menahan senyum.

Aku mendorongnya sambil cemberut, "Jadi ngomongin mati, sih?" omelku tak sabar.

"Abis gua cinta mati sama lu!" tukasnya gombal.

Aku tersipu mengulum senyumku. Lalu menyusupkan wajahku ke dadanya.

"Jawab, A n j i r!" semburnya tiba-tiba.

Aku tersentak dan menatapnya dengan mata terpicing.

"Mau nggak jadi pacar gua?" ulangnya pura-pura marah.

Aku mendesis menahan tawa. "Ya, ya, ya! Gua mau!" jawabku cepat-cepat, lalu kembali menyusupkan wajahku ke dadanya, tak berani menatap wajahnya.

Rere mengetatkan rangkulannya. Jantungnya berdegup kencang memukul wajahku dari dalam dadanya.

Rasa bahagia mengetuk setiap ujung sarafku. Membuatku luluh-lantak dan perlahan tangisku pun meledak.

Rere mendorong bahuku dengan lembut, kemudian menarik wajahku, menghadapkannya ke wajahnya. Kedua tangannya tertangkup di kedua pipiku. Ia menatap ke dalam mataku dengan tatapan lembut dan tersenyum tak kalah lembut. Lalu tiba-tiba merunduk mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mulutnya menuju mulutku dan membeku.

Kemunculan Abram di puncak tangga menyentakkan kami. Membuat kami terperanjat dan spontan saling menjauhkan diri.

Abram memalingkan wajahnya sedikit sambil mengusap bagian belakang kepalanya. “Sori,” katanya salah tingkah.

“Ganggu aja, Si Anjirrr,” gerutu Rere dengan suara pelan dan gerakan mulut ditahan supaya tidak kentara. Bola matanya bergulir ke sembarang arah sembari memalingkan wajah, pura-pura meneliti bagian atas dinding.

Aku tertawa dalam hatiku. Tapi hanya tertunduk mengulum senyumku. Dikiranya aku tidak mendengar.

“Gua mau… ngambil itu—anu, apa dah…” Abram berkilah terbata-bata sambil bergerak-gerak gelisah makin salah tingkah.

Aku tertunduk dan memalingkan wajahku saat mata Abram melirik sepintas ke arahku sambil menyembunyikan senyumnya.

Rasanya gua pen kelelep, kataku dalam hati.

“Buru, Anjir!” Rere melotot pada Abram sambil menggeram tanpa suara, memerintah dengan gerakan mulutnya.

Abram menghambur melewatiku menuju meja kitchen, mengambil sapu dan buru-buru kembali ke lantai bawah.

Rere mengintip ke bawah sembari mesem-mesem, kemudian kembali mendekatiku sambil mengulum senyumnya. “Sampe di mana tadi?” tanyanya berbasa-basi.

Membuatku berdebar-debar dan makin mengkerut karena malu, tapi hatiku berbunga-bunga. Wajahku pasti merah sekali. Bisa kurasakan kulitnya seperti terbakar.

Dan sebelum aku sempat bereaksi, sebelum aku menyadari apa yang terjadi, Rere tahu-tahu sudah menyambar pinggangku, meraup wajahku dan memagut mulutku dengan mulutnya.

Jantungku berdegup semakin kencang memukul dadaku. Kedua lututku terasa limbung. Sekujur tubuhku menggelenyar. Seluruh naluri wanitaku bereaksi pada daya tariknya. Bersamaan dengan itu, aku hampir tak percaya aku berciuman dengan lelaki muda yang lebih pantas menjadi adik atau keponakanku.

1
Vlink Bataragunadi 👑
ih makasih ya thor, ceritanya simple,sangat membumi tp tetap menarik ♡
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
Vlink Bataragunadi 👑
tuh kaaan sudah kudugong....
Vlink Bataragunadi 👑
ih baik2 ya orang nyaaa, jadi terharu....
Vlink Bataragunadi 👑
astagaaaaaa edaaaan si Nathaaan bangkeeeeeeee
Vlink Bataragunadi 👑
aduh Galang lu ditipu habis2an kah?
Vlink Bataragunadi 👑
what?!!! dih! bangun Galatia lo cm dimanfaatin doaang eleeh
Vlink Bataragunadi 👑
laaah jangan2 di cuma numpang makan doang >_<
Vlink Bataragunadi 👑
wkwkwk sa ae lu knalpot Damri
Vlink Bataragunadi 👑
makjlebbbbb ≧∇≦
Vlink Bataragunadi 👑
lg musim ama brondong skrg mah wkwkwk
Vlink Bataragunadi 👑
nah loooo,,, cemburu tuh
Vlink Bataragunadi 👑
awas perangkap syaiton, galang ^o^
Vlink Bataragunadi 👑
kurang apaaa coba dia Galatiaaa ♡(∩o∩)♡
Vlink Bataragunadi 👑
acie cieeee ni berondong meresahkaaan wkwkwwk
Vlink Bataragunadi 👑
kynya ini Rere deh...
ArlettaByanca
simple....tp asiik
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
kiri_kanan
ceritanya seru cm sayang kependekan😁😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya, Kak!
total 1 replies
NA_SaRi
Ji, gw pen baca ini, tp blm sempat🤧
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
CERITANYA BAGUS,, SAYANG PART NYA PENDEK, BUAT TU RERE NIKAH DGN GALATIA, DN BUAT SI NATHAN DITANGKAP .
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih, Kak... apresiasinya.
Waktu ongoing, novel ini gak ada yang baca. Jadi gak semangat nulisnya... 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!