7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
" Kak Aden menangis?"
Melati menelisik wajah suaminya yang dengan gerakan cepat langsung memalingkan wajahnya
Sendy mengusap air mata di wajahnya lalu memperlihatkan senyum tampannya
" Terima kasih sayang kamu sudah memberikan kakak bayi mungil yang sangat lucu dan tampan" ucap Sendy dengan perasaan yang sangat bahagia
" Pasti wajahnya setampan kak Aden ya" ucap Melati seraya tersenyum
" Tentu saja, dia anak laki-laki pasti setampan aku ayahnya jika nanti kamu hamil lagi dan melahirkan bayi perempuan barulah akan mirip seperti kamu cantiknya" sahut Sendy seraya mengedipkan matanya dan hal itu langsung membuat Melati membulatkan matanya mendengar ucapan sang suami, baru juga ia selesai melahirkan bahkan rasa sakitnya pun masih sangat terasa sudah ngomongin hamil lagi aja
Bayi mungil nan tampan itu kini sedang berada di dalam gendongan sang nenek di dalam ruangan bayi bersama sang bidan yang sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap bayi tersebut sebelum di bawa pulang
" Alhamdulillah bayinya sangat sehat" tutur Bu bidan
" Syukurlah bu" ucap bu Dedeh dengan perasaan lega
" Jika kondisi ibunya sudah stabil nanti sore juga sudah boleh pulang kok bu" ucap bidan
" Oh begitu ya bu bidan, terima kasih banyak atas bantuannya bu"
" Sama-sama Bu Dedeh"
Setelah bayi mungil nan tampan itu selesai diperiksa, Bu Dedeh pun langsung membawanya masuk ke dalam ruangan Melati
" Bu!" Melati yang sedang duduk bersandar pun langsung menegakkan badannya ingin meraih bayi mungil nan tampan itu
Bu Dedeh yang mengerti keinginan putrinya pun langsung melangkah menghampiri tempat tidur Melati
Melati mengulurkan tangannya ke depan meminta bayi yang berada di dalam gendongan sang nenek
" Masyaallah.... ganteng banget sih kamu sayang" puji Melati dengan rasa harunya setelah bayi mungil itu berpindah tangan
Melati sungguh tidak menyangka diusianya yang baru menginjak 21 tahun sudah memiliki bayi mungil yang tampan dan menggemaskan, tidak pernah terpikir olehnya akan menikah muda namun apalah daya jika jodoh sudah mendatanginya
" Kak bayi kita persis banget sama kamu ya, sangat tampan, gemes banget ih" ucap Melati sambil menciumi pipi putranya yang montok, Sendy tersenyum lalu mengecup kening sang isteri dengan rasa syukur yang teramat besar
" Apa kalian sudah memberinya nama?" tanya bu Dedeh
" Kak?" Melati menoleh ke sang suami seolah meminta jawaban
" Kalau Melati setuju saya ingin memberinya nama MELVIANO yang artinya pemimpin yang terhormat Semoga kelak baby Ano bisa menjadi pemimpin yang dihormati dan disegani selalu bersikap adil dan bertanggung jawab dengan kepemimpinannya " Tutur Sendy
" Nama yang bagus kak, Melati suka iya kan baby Ano!" Melati kembali menciumi putranya
" Iya ibu juga suka" sahut ibu
" Bapak juga suka, nama yang bagus !" timpal Pak Didin yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan sempat mendengar ucapan Sendy
" Syukurlah kalau semuanya setuju dengan nama Melviano" ucap Sendy
Setelah kondisi Melati sudah membaik ibu muda tersebut pun kini sudah di perbolehkan pulang
Sesampainya di rumah Sendy tidak membiarkan Melati untuk melakukan apapun, pria itu bersikap sangat posesif dan ikut membantu sang isteri mengurus bayi mereka
Sendy bahkan ikut terjaga menemani Melati ketika baby Ano terbangun di tengah malam
" Kak Aden tidur saja, besok pagi kan kakak mau pergi ke kota " Tutur Melati yang kasihan melihat suaminya berusaha untuk tetap terjaga
"Kakak tidak tega kalau ninggalin kamu tidur dan mengurus baby Ano sendirian" sahut Sendy
" Tidak apa-apa kak, sebentar lagi juga Melati akan menyusul kok nih baby Ano juga udah bobo lagi" terang Melati
Sendy yang memang sudah sangat mengantuk akhirnya tertidur juga, Melati tersenyum getir seraya menatap wajah lelah sang suami karena mengurus dirinya dan juga sang buah hati
" Kak, jika ingatan kakak pulih apakah kakak akan tetap disini bersama kami atau kakak akan pergi kembali pada kehidupan kakak yang sebenarnya?" tanpa terasa air mata Melati sudah menetes begitu saja
"Jika masa itu tiba aku tidak berhak untuk menahan kakak untuk tetap berada di sisiku kak , ini mungkin takdir yang harus bisa aku terima, aku serahkan segala keputusannya kepada Allah sang pemilik kehidupan. kita hanya bisa menunggu kapan waktu itu tiba "
Melati meletakkan baby Ano di sisi tempat tidur , dan diapun ikut merebahkan tubuhnya di tengah-tengah antara baby Ano dan suaminya
Karena merasa cukup lelah Melati pun ikut terlelap
Pagi hari Sendy sudah terjaga lebih dulu, melihat baby Ano dan sang isteri yang masih terlelap pria itupun dengan sangat hati beranjak dari tempat tidur
Sendy membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menunaikan sholat subuh berjamaah bersama pak Didin di masjid terdekat yang ada di kampung tersebut
Selesai sholat subuh berjamaah pria itupun bersiap-siap untuk pergi ke kota
Selama ini Sendy membantu pak Didin mengelola perkebunannya, berbagai hasil panen dari perkebunan pak Didin ia coba tawarkan ke beberapa rumah makan yang letaknya di perkotaan
Usaha Sendy membuahkan hasil, dari mulut ke mulut akhirnya banyak rumah makan bahkan restoran yang meminta dikirim beberapa sayuran segar dari hasil perkebunan pak Didin bahkan hari ini Sendy dapat panggilan dari pengusaha pemilik restoran bintang lima di ibu kota untuk memasok sayuran ke restorannya
Sendy tentu saja senang apalagi mendapat dukungan dari isteri dan juga kedua mertuanya
" Kakak sudah rapih, kenapa enggak bangunin Melati kak?"
Sendy tersenyum seraya mengecup pucuk kepala isteri kecilnya
"Kakak enggak tega buat banguninnya" sahut Sendy
" Apa kak Aden sudah mau berangkat sekarang?"
" Iya sebentar lagi"
Sendy mengecup pipi gembul sang putra " Baik-baik di rumah bersama bunda ya sayang, jangan rewel " pesan Sendy pada putranya
" Kakak akan pergi berapa lama?" tanya Melati dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan, ada rasa takut yang terlalu besar ketika suaminya harus pergi meninggalkan dirinya dan sang putra
Melati takut suaminya pergi dan tidak akan kembali lagi
" Loh kok kamu nangis?" Sendy dibuat terkejut ketika melihat Melati yang tiba-tiba saja menangis
Melati dengan cepat langsung mengusap air matanya " Melati tidak apa-apa kak, cepat pulang ya kak"
Sendy tersenyum lalu mengacak-acak gemas rambut Melati
" Kakak belum berangkat aja kamu sudah kangen, bagaimana jika kakak sudah pergi"
" Aku pasti akan sangat merindukanmu kak, aku tidak tahu apa aku bisa hidup tanpa mu setelah kau membuat ku bergantung hidup dengan keberadaan mu!" batin Melati
" Aku dan baby Ano pasti akan merindukan kakak"
" Kakak juga pasti akan merindukan kalian"
Melati menitikkan air mata ketika menatap punggung kekar sang suami yang masuk ke dalam mobil bak yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur-sayuran bersama mang Usep teman pak Didin yang mendapat kepercayaan penuh oleh Sendy untuk membantunya dalam pengiriman sayur-sayuran hasil perkebunan milik pak Didin
Pak Brata yang kebetulan berada di tempat itupun tersenyum miring menatap kepergian Sendy
" Apa kau yakin pak Didin menantu kesayangan mu itu akan kembali setelah sampai di ibu kota?" tanya pak Brata
" Siapa tahu ingatannya sebenarnya sudah pulih dan dia pergi ke ibu kota bukan hanya untuk mengurus penyetokan sayuran di restoran ternama itu tapi untuk menemui sanak keluarganya" lanjutnya
Melati yang mendengar ucapan pak Brata pun terasa teriris, entah perasaan apa yang sedang menggelayuti hatinya saat ini, akankah ketakutannya selama ini akan menjadi kenyataan? Melati belum sanggup tapi jika takdir sudah bicara ia bisa berbuat apa?
Melati masuk ke dalam kamarnya dan menangis sesenggukan
Ibu muda itupun berusaha menangis tanpa bersuara walaupun dadanya terasa sesak tapi sebisa mungkin ia tidak ingin kedua orang tuanya tahu akan apa yang sedang ia rasakan saat ini