Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?
Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Kulangkahkan kakiku agak ragu menuju kedua wanita itu. Bisa kulihat dari jauh, Anis sudah mengulas senyuman dengan berpangku dagu. Tak bisa kutepis rasa perih yang masih tergores di dalam kalbu akibat kesanggupannya itu.
Ya, kesanggupan untuk mencarikan jodoh untukku. Duh, aku jadi malu. Mungkin wanita yang sedang bersamanya itu, sudah berpikir bahwa aku ini tidak laku.
Masa' iya, pria tampan dan mapan sepertiku ini, tidak menarik hati para gadis di luaran sana? Aku rasa banyak, namun aku tidak mau saja. Bagiku, semua wanita tampak sama, karena hanya Anis saja yang terlihat berbeda.
Lihatlah! Bahkan di saat dia bersanding dengan wanita lain pun, pesonanya tetap terpancar indah.
"Kalian udah lama?" tanyaku seraya duduk di atas kursi yang berhadapan dengan mereka. Pandanganku pun langsung tertuju pada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Gak, kok, barusan aja. Oya, Ru, kenalin ini Rasti Yulia. Rasti, ini Heru yang kemarin aku ceritakan padamu." Anis memperkenalkan kami pada satu sama lain.
Kuulurkan tanganku dan Rasti menyambut hal itu. "Heru ...!" tuturku sembari tersenyum ragu.
"Rasti ...!" Berbeda dengannya yang tampak tersenyum malu.
Apa iya, dia mau membangun rumah tangga denganku? Kicauku di dalam kalbu.
Setelah Rasti dan aku melepaskan jabatan tangan kami, Anis langsung memanggil salah satu pelayan restoran itu, lalu memesan makanan.
Selama makan siang bersama, kami juga saling berbagi informasi yang penting untuk diketahui. Karena pertemuan ini memang bertujuan untuk saling memperkenalkan diri, jadilah Anis sebagai pemersatu di antara kami.
Walaupun masih merasa sedikit aneh, namun sikap Rasti cukup bisa membuatku memahami, tipe wanita seperti apa dia ini. Yang jelas, dia adalah wanita yang ramah dan baik hati.
Setelah momen itu selesai, kami pun berpisah. Anis pulang bersama Rasti, sedangkan aku menuju ke tempat yang berbeda arah. Jika dalam kondisi seperti ini, aku butuh waktu menyendiri untuk muhasabah.
💞💞💞
Satu bulan kemudian, Anis sudah kembali ke tempat tugas suaminya. Sementara aku sudah menikah dengan Rasti Yulia. Memang ini adalah keputusan yang tidak mudah bagiku, tetapi aku mencoba untuk tetap menjalaninya.
Dan tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran sosok Rasti di dalam hidupku ini, membawa pengaruh besar yang bisa menyembuhkan luka hati. Mungkin karena dia sudah berpengalaman dengan pernikahannya sebelum ini. Oleh karena itu, dia cukup apik dalam melayani dan mengurus kebutuhan seorang suami.
Aku sangat bersyukur dan berterima kasih berkali-kali kepada Tuhan karena nikmat ini. Semoga pernikahan ini akan membawa keberkahan untuk kami.
***
POV ANIS
Aku sengaja tidak menghadiri pernikahan mereka, karena aku tidak sekuat Heru yang bisa menyaksikan orang yang dicintai bersanding di pelaminan dengan temanku sendiri.
Pasti kalian juga bertanya-tanya, seperti apa perasaanku sebenarnya? Ya, aku masih mempunyai rasa yang sama. Tidak menutup kemungkinan rasaku pun tak jauh berbeda dengan apa yang Heru rasa.
Mungkin kalian berpikiran bahwa aku ini tidak tahu diri. Atau bahkan serakah dalam hal ini. Ya, sebenarnya aku sendiri juga tidak mengerti. Kenapa aku bisa seperti ini? Karena ini merupakan perkara hati, jadi aku rasa kalian pasti bisa memahami.
Namun, aku tahu di antara kalian ada juga yang berpikiran bahwa aku ini jahat. Sudah mempunyai seorang suami, tetapi masih mencintai lelaki lain!
Ah, jahat sekali ...!
Kalian juga pasti berpikir bahwa aku tidak berusaha menerima kekurangan Abdi. Namun, untuk yang satu ini, aku katakan sekali lagi bahwa jika tidak karena memikirkan perasaan suamiku sendiri, mungkin sudah lama aku mengakhiri pernikahan ini. Walaupun dalam hal ini, akulah yang akan merugi.
Namun, aku masih berusaha untuk berpikir berkali-kali. Apa gunanya mengakhiri pernikahan ini, jika suatu hari nanti aku akan melukai banyak hati. Hatinya Abdi, hati kedua orang tuanya, dan hati kedua orang tuaku sendiri. Oleh karena itu, aku tetap bertahan walaupun aku harus menekan perasaan di saat sikapnya tidak sesuai dengan keinginan hati.
***
Perasaanku pada Rasti tidak bertambah sama sekali. Bisa dibilang jalan di tempat, tanpa bisa berubah menjadi mode lari. Aku sungguh tak bisa memaksakan hati. Namun, aku masih bisa bertahan dalam rumah tangga ini. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun, aku selalu berusaha bersikap biasa seolah semuanya baik-baik saja, tanpa adanya kemelut hati.
Hari-hari kami lalui bersama, sebagai sepasang suami-istri. Namun berbeda dengan isi kepala dan hati ini. Aku pun tak tahu bagaimana dengan Rasti. Yang jelas, setelah usia pernikahan kami menginjak usia sebelas bulan, aku menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam lemari.
Pil apa ini? Kenapa Rasti tidak memberitahuku jika ia mengonsumsi obat ini?
Bergegas kuambil gambar obat tersebut, kemudian mengirimkannya kepada ummi. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering menandakan adanya balasan pesan dari ummi.
Itu obat kontrasepsi, Bang
Begitulah isi pesannya!
DEG
Seketika dadaku serasa bergemuruh. Bahkan di saat itu aku sedang berdiri dan langsung kugeser posisi untuk bersandar tubuh.
Aku bahkan tak menyangka kalau Rasti mengonsumsi obat itu tanpa melakukan kesepakatan denganku terlebih dahulu. Apa maksud dari sikapnya itu? Apakah ia tidak ingin mempunyai anak dariku?
Asumsi demi asumsi kalut mengitari kepalaku. Namun, tidak bijak rasanya jika aku langsung menyalahkan istriku.
Aku harus mencari tahu!
Sejurus kugerakkan kakiku untuk menambah langkah, berpindah dari posisi semula. Kali ini kedua tungkaiku menuju dapur, dimana Rasti berada.
"Dek, mas mau bicara!" seruku, kemudian duduk di salah satu kursi yang berjejer mengitari meja makan.
"Bicara apa, Mas?" Rasti masih tak mengalihkan pandangannya dari kompor serta peralatan masak yang berada dihadapannya.
"Bicara empat mata," ucapku yang masih menggenggam erat satu kaplet pil yang aku temukan di bawah lipatan bajunya.
Ia menoleh sekilas, lalu mematikan kompor, karena melihat ekspresiku yang kini tak lagi santai.
Dia berjalan mendekat dan duduk di sampingku seraya melepaskan apron yang sedang melingkari tubuh bagian atasnya. "Aku masih masak, Sayang. Masa' mintanya sekarang?" godanya dengan wajah bergelimang senyuman manja.
Aku yang masih menahan luapan emosi di dalam dada, lantas tak ingin membuatnya terkejut bahkan terluka. "Ini obat apa?"
Kusodorkan satu kaplet pil kontrasepsi itu ke arahnya. Ia tampak tersentak bukan kepalang, karena tidak menyangka bahwa aku akan menemukan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan, selama menjalani biduk rumah tangga.
Sementara aku masih berusaha memasang ekspresi wajah biasa-biasa saja, agar dia tidak takut untuk menjelaskan. Setelah kulepaskan benda itu, ia lantas meraihnya dan menyembunyikannya di dalam genggaman.
"Maaf, maafkan aku, Mas." Kalimat itu yang pertama kali ia utarakan.
"Kenapa kamu tidak jujur? Kenapa harus mengonsumsi obat itu? Apa kamu tidak ingin punya keturunan?" Berondongan pertanyaan itu lolos begitu saja dari sepasang bibirku yang tampak sedikit bergetar.
Ternyata ini rasanya ditipu oleh pasangan hidup yang selama ini telah aku jaga sebaik mungkin. Walaupun hanya setengah hati, namun pernikahan ini cukup membuatku melupakan luka batin.
Rasti bergeming. Tak sedikitpun berani mendongakkan kepalanya, sehingga suasana menjadi hening. Aku yang tak habis pikir pun, hanya bisa menekan pelipis, karena merasa sedikit pusing.
"Aku tak akan menyalahkanmu, Rasti. Tapi setidaknya kamu jujur sama aku tentang hal ini. Hal ini menentukan masa depan rumah tangga kita," tuturku dalam tunduk. Tak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak, jadi aku hanya mengungkapkan semua isi hatiku dalam keadaan duduk.
"Mas mau bahas masa depan?" Akhirnya Rasti angkat bicara setelah kesian lama berdiam diri.
Aku mengangkat wajah, lalu memutar rotasi leherku hingga berhadapan dengannya. Kedua netranya tampak berkaca-kaca. Bisa jadi, setelah ini kedua bola bening itu akan menumpahkan air mata.
"Masa depan seperti apa yang mas inginkan? Masa depan bersama wanita yang mas cintai?"
Aku terlonjak!
Seandainya jantungku ini ciptaan manusia, mungkin sudah mangkir dari peraduannya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa mas tidak bisa mencintaiku? Apa karena mas tidak bisa melupakan Anis?"
DEG
Bagaimana dia bisa tahu?