Semua berawal dari kesalahan.
Tapi kesalahan itu lah yang mengantarkan mereka pada akhir yang mungkin bahagia.
"Kak Genta itu kayak es krim🍦Dingin tapi manis😋"
~Kinara Adinda A~.
Tapi ini bukan akhir dari segalanya.
Melainkan adalah awal perjalanan mereka.
mohon dibaca ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FIFITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.Teman Kampret
Dengan sedikit perjuangan akhirnya sampailah Dinda di gerbang kediaman keluarga Reksa.
Di liriknya satpam rumah Reksa yang tengah minum kopi di posnya.
"Mang Ucup Reksanya ada?" Dinda sedikit berteriak yang membuat sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah.
Mang Ucup sedikit terkejut ketika melihat penampilan Dinda yang berantakan.
"Astaga neng.itu muka kenapa?" Mang Ucup bertanya sambil membuka pagar besi hitam itu.
"Biasa Mang hehe.ssstt" Dinda meringis karena sudut mulutnya yang tertarik akibat tersenyum.
"Neng Reksa ada di dalam neng.tuan sama nyonya lagi keluar kota hari ini" Mang Ucup menjelaskan karena sadar situasi Dinda.
"Makasih Mang.tolong parkirin motor Dinda ya." Dinda menyerahkan kunci motornya lalu berjalan menuju rumah pintu besar di rumah Reksa itu.
Membuka pintu dan melangkah masuk Dinda di suguhkan dengan pemandangan Ruangan yang rapi.
Berjejer foto keluarga terpajang di dinding dinding yang bercat putih gading itu.
Melangkahkan kaki jauh lebih kedalam rumah dapat di lihat tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai 2.
Dinda yang memang sudah hapal dengan tata letak rumah Reksa seketika menaiki tangga menuju kamar Reksa.
Membuka pintu yang bercat putih itu dapat Dinda lihat Reksa yang tengah selojoran kaki di sofanya sambil menonton televisi.
"Sa" Dinda memanggil dengan lirih ketika sudah berhasil masuk ke dalam kamar itu.
Seketika Reksa langsung menoleh ke arah sumber suara.
Spontan tubuh Reksa berlari menghampiri Dinda yang sudah babak belur itu.
"Astaga lo kenapa?" Reksa langsung menuntun Dinda ke arah sofa untuk duduk.
"Biasa.kena labrak gue di tengah jalan" Jawab Dinda pelan karena sudut bibirnya yang masih perih.
Reksa yang paham hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi mengambil kotak P3K.
Dengan telaten Reksa mulai membersihkan darah kering yang ada di pelipis Dinda dengan alkohol.
"Ssstt.pelan pelan dong beb" Dinda mendesis ketika Reksa dengan sengaja menekan luka di sudut bibirnya.
"Lo sih.kalau udah ancur aja langsung ke rumah gue" jawab Reksa sambil menempelkan plaster ke pelipis Dinda.
"Ya lo kan Cs gue" selalu seperti itu jawaban Dinda.
Memang diantara sahabatnya Reksa lah yang paling tau tentang Dinda.
Karena apa? ya karena Reksa lah tempat pulang Dinda setelah babak belur gini.
Kalau nggak Reksa ya Basecamp.
Setelah mengobati luka Dinda,Reksa menyuruh Dinda untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
☘️☘️☘️☘️
Dinda merebahkan tubuhnya yang lelah bercampur sakit di ranjang empuk milik Reksa.
"Udah anak mana yang bikin lo jadi kayak gini?" Reksa langsung mengeluarkan uneg unegnya ketika Dinda sudah berbaring dengan nyaman.
"Anak Wolf" jawab Dinda sambil memejamkan matanya.
"Wolf? Wolf yang geng besar itu kan? lo kenapa sampai bisa kena masalah ogeb?" Reksa yang memang tau dengan geng Wolf seketika bertanya.biasanya Dinda bukan orang yang suka cari masalah.
"Gue udah pernah bilang soal Chelsea belum?" tanya Dinda yang di balas gelengan kepala oleh Reksa.
"Dia anak Wolf"
"What!!!!!" Reksa seketika berteriak tak percaya.
"Dia marah sama gue karena gue pacaran sama kak Genta walau cuma keisengan si Tiya.terus itu anak udah sering kali juga cari masalah sama gue.lo inget nggak kali pertama gue berantem sama dia?" Dinda berkata sambil membenarkan posisinya.
"Yang waktu di kantin lo nendang dia?" tanya Reksa sedikit ragu.
"Iya.gue nggak sengaja liat di tangannya ada tato lambang Wolf" jelas Dinda santai.
"Terus tadi pas mau pulang gue kan mau dianter nih sama Kak Genta karena gue bawa motor sendiri jadi gue tolak.
Eh pas di tengah jalan gue di kuntit tuh sama anak Wolf.Gue berusaha hindari masalah eh malah kepentok jalan buntu,ya jadi gini lah akhirnya" Dinda menjelaskan panjang lebar.
"Hahaha.sial amat lo jadi orang *****" setelah mendengar penjelasan dari Dinda Reksa seketika tertawa terbahak bahak.
"Emang dapet temen kampret gue" jawab Dinda kesal.
"Btw luka lo sakit nggak?" tanya Reksa sambil menusuk luka Dinda dengan ujung jarinya.
"Ya sakit lah ogeb.udah lama juga nggak kayak gini" jawab Dinda.
Memang sakit sih tapi ada hasrat tersendiri dalam dirinya yang terpenuhi.
"Makanya lain kali kalau mau kayak gini ajak aja gue sekalian" tawar Reksa.
Reksa bukan anak geng motor tapi dia hobi balap liar.
Akhirnya dia nemu Dinda yang se frekuensi sama dia.
Dinda mengajak Reksa untuk gabung bersama dia dan yang lainnya.
Alhasil sekarang Reksa juga bagian dari Dinda
"Din ntar malem jadi nggak?" tanya Reksa melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Jadilah masak nggak pulak.sekarang gue mau tidur dulu,ntar lo bangunin gue ya.sekalian bilang sama bonyok gue kalau gue nemenin lo di sini" itulah kata kata terakhir Dinda sebelum menjemput mimpinya.
Reksa yang mengerti kalau Dinda sangat lelah langsung saja menelfon orang tua Dinda menyampaikan kabar seperti yang sudah Dinda instruksikan tadi.
💥💥💥💥
Sementara itu di kediaman Wijaya Genta tengah sibuk uring uringan di atas king sizenya.
Sudah beberapa pesan yang dia kirim pada Dinda tapi tak satupun yang dibalasnya.
Jangankan di balas di baca saja tidak.
Tak habis akal Genta juga mencoba untuk menelfon Dinda.
Suara telfon tersambung tapi belum di angkat.
Mencoba berulang kali namun hasilnya masih sama yaitu tersambung namun tak diangkat.
Genta melangkah ke arah balkon kamarnya mencoba berpikir positif tentang Dinda.
Siapa tau dia tidur pikirnya.
Ketika sibuk membuat alibi tentang Dinda ponsel yang di pegang di tangannya berdering menandakan ada panggilan masuk.
Diliriknya ponsel yang berlogo apel itu.
Gama is calling...
"Apaan?" tanpa embel embel hallo Genta memulai percakapan.
"Lo ikut nggak?" Gama menjawab di seberang sana.Karena sudah biasa dengan sikap Genta ya jadi biasa aja lah.
"Jam berapa?" tanya Genta seakan sudah paham dengan tujuan dari percakapan.
"Ntar jam 11" jawab Gama.
"Ok" jawaban singkat dari Genta sebelum memutuskan panggilan telfon itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Salam hangat dari Author buat pembaca setia😘😘😘😘😘
JANGAN LUPA VOTEMEN DAN LIKENYA YA GUYS.
Terus gimana dengan Genta,kapan Dinda mau ngomong ke Genta??akan kah Genta bisa percaya dengan mudah nya??? hadeehh,,,