Novel Friendzone adalah novel yang bercerita tentang persahabatan antar lawan jenis yang salah satunya jatuh cinta kepada sahabatnya. Kaela jatuh hati kepada sahabat laki-lakinya, bernama Jeno Janurio. Tetapi, Jeno terlebih dahulu jatuh hati kepada seorang gadis bernama Karina. Sebagai figuran, Kaela hanya dapat menahan rasa cemburu dan sakit hatinya melihat kemesraan Jeno dan Karina. Hingga pada suatu hari, ia sudah tidak sanggup lagi dan mengakui perasaannya kepada Jeno, tetapi Jeno sama sekali tidak menanggapi perasaan Kaela.
Rhea yang membaca novel itu pun tidak menyukai isi cerita novel Friendzone itu, merasa tidak adil kepada figuran.Seandainya dia menjadi seorang Kaela, maka ia buat Kaela memiliki surganya sendiri tanpa ada rasa cinta kepada Jeno, sahabatnya itu.
Hingga suatu kejadian tanpa ia sadari, Rhea yang koma dan jatuh tidak sadarkan diri akibat perkelahiannya dengan temannya, Chika, membuatnya terbangun dan menyadari bahwa dia bukan di dalam duniannya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_Fluffy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Inilah caraku mencintaimu
**
Sejak semalam dan pagi ini, Rhea mencoba menghindar dari kejaran Jeno, padahal sebelumnya ia dan Jeno hubungannya sudah seperti orang asing, berbicara seadanya, bertemu pun pasti mencoba menghindar. Tetapi, semenjak kejadian di mana dirinya melabrak lelaki itu, interaksi ini bahkan dibangkitkan kembali.
“Kaela!” Rhea yang mendengar panggilan Jeno yang sudah terhitung kesepuluh kalinya ini membuatnya menyerah dan berhenti, ia baru saja hendak menaiki tangga sekolahnya menuju kelasnya pun mengalihkan atensinya kepada lelaki yang tengah berjalan pincang ke arahnya, Jeno.
Rhea bersedekap dada sembari menatap Jeno dengan malasnya, ia melihat Jeno tampak masih merasa kesakitan akibat apa yang ia lakukan pada lelaki itu.
“Lo tuh kenapa keras kepala banget, sih? Coba lo liat perlakuan lo ke gue? Gak kasian?” ucap Jeno dengan menunjuk keadaan dirinya kepada Rhea. Rhea hanya melirik tubuh lelaki itu dari atas kepala hingga kaki, lelaki itu memakai sandal ke sekolah akibat kakinya yang bengkak.
“Masih utuh, belum ada yang hilang, kan?” balas Rhea dengan tenang. Jeno seketika membolakan kedua matanya saat mendengar balasan dari Kaela. “Lo mau gue cacat?!” ucap Jeno dengan kertekejutannya.
Rhea memutar kedua bola matanya dengan malas, lalu hendak membalikkan badannya untuk melanjutkan niatnya ke kelas, dan Jeno kembali menahan gadis itu dengan menarik lengan mungil gadis itu.
“Jangan sentuh gue!” bentak Rhea dengan kasar, ia pun menghentakkan genggaman Jeno dengan kuat. Jeno terpaku saat Kaela tidak ingin disentuh olehnya, ia menatap kedua mata gadis itu dengan tatapan sedihnya.
“Bisa, nggak kalau negur gue dengan cara yang baik? Tanpa lo bentak pun, gue bakalan hargai batasan, Kae.” Jeno menatap Kaela dengan tatapan sendunya, “jujur aja, gue masih nggak nyangka lo seberubah ini dan mencoba membela Jaemin sebegini besarnya.” Ucap Jeno dengan suara beratnya yang dalam dan serius. Jeno kedua mata Kaela dengan perasaan sedihnya.
Rhea menyunggingkan senyuman remehnya, lalu menatap Jeno dengan tatapan dinginnya. “Gue nggak mau Jaemin sakit karena siapapun, dia yang selalu ada untuk gue, dan selalu menjadi rumah gue kalau seseorang mulai menyakiti gue. Salah gue di mana ketika gue melindungi rumah gue sekarang? Lo aja bisa, kenapa gue enggak?” balas Rhea dengan nada tenangnya, tetapi kedua matanya tersirat sebuah kekesalan dan emosi yang terpendam.
Jeno mengepalkan salah satu tangannya, rahangnya mengeras saat mendengar Kaela tanpa ragu membela Jaemin. “Kalau lo bahas tentang Karina, tentu gue harus bela pacar gue, dia itu cewek gue, harus selalu gue lindungi. Jangan lo samakan Jaemin dan Karina, jelas karena status lo ke dia itu nggak sama dengan status gue dengan Karina. Sampai sini paham?” jelas Jeno dengan penekanan nadanya begitu dalam, entah kenapa ada rasa perih ketika melihat Kaela tidak berpihak kepadanya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, “ya, itu menurut lo. Tapi yang jelas untuk gue adalah Jaemin rumah gue untuk sekarang dan selamanya. Jadi, mending lo lakuin hal yang mengasingkan kita berdua, seperti sebelumnya. Gue muak sama lo dan Karina, sama-sama nyusahin hidup orang!”
“KAELA!” panggil Jeno dengan keras. Wajah lelaki itu terlihat merah, kedua pelupuk mata lelaki itu sudah digenangi airmatanya yang tidak terlihat. Beberapa siswa yang berlalu-lalang di sekeliling mereka pun tampak mengalihkan atensinya kepada kedua remaja itu.
Rhea melihat Jeno mengusap kasar wajah itu hingga rambutnya sedikit berantakan akibat usapan itu, lalu menatap gadis itu dengan sedihnya. “Dari sekian banyak kata di dunia ini, kenapa kalimat menyakitkan itu lagi yang lo ucapin ke gue, Kae? Lo sadar nggak, kalau lo udah nyakitin gue? Lo tahu nggak, setiap gue mencoba menghindar dari lo, seberapa rindunya gue ke lo? Gue capek, Kae. Gue capek mikir solusi dari semua yang gue rasain, Kaela. Tapi..” ucapan Jeno terhenti dengan airmatanya yang juga jatuh akhirnya, “..tapi kenapa lo makin memperburuk semuanya? Lo balas dendam ke gue, Kae?”
Jeno mengusap airmatanya dengan kasar, ia merasakan cemburunya sudah tidak bisa ditahan, rasa rindu, rasa sakit semuanya sudah campur aduk. “Dan untuk pertama kali di dalam hidup gue, lo nyakitin gue secara fisik dan hati. Cukup ‘kan balas dendamnya, Kae? Gue udah nggak sanggup, Kaela.” Ucap Jeno dengan suaranya yang serak, airmatanya sudah jatuh begitu saja. Rasa sesak di dalam hatinya begitu menyesakannya, Jeno mencoba menepuk dada bidangnya agar napasnya lega, tetapi masih terasa sakit dan sesak.
Ada rasa yang tidak dapat diartikan oleh Rhea saat melihat lelaki di hadapannya ini begitu kacau, Rhea harusnya merasa menang karena inilah yang ia inginkan dan ia hadiahkan untuk Kaela, tetapi kenapa batinnya menolak dan ingin merengkuh lelaki itu.
Jeno membalikkan badannya, dengan kaki pincangnya ia menjauh dari Kaela. Airmatanya tidak henti untuk mengalir, helaan napasnya bergetar saat merasakan sesaknya tidak hilang juga. Bukan pinggang dan kakinya lagi yang ia rasakan sakit, tetapi sekujur tubuh dan jiwanya terasa sakit.
‘Gue buat surga buat lo, Kae. Tapi, kenapa surga ini terasa seperti neraka, ya?’
**
Karina mengernyitkan dahinya saat melihat kekasihnya itu berjalan pincang dengan kedua matanya terlihat bengkak, Jeno menghampiri meja kantin yang sudah terlebih dahulu ditempati oleh Karina.
“Jeno, kaki kamu kenapa?” tanya Karina yang mulai khawatir dengan keadaan kekasihnya itu, Jeno menempatkan dirinya untuk duduk berhadapan dengan kekasihnya itu lalu memberikan senyuman tidak sampai mata itu kepada Karina.
“Nggak sengaja kepleset di kamar mandi kamar aku.” Jawab Jeno dengan menyentuh lembut tangan kekasihnya itu sebagai bentuk memberi penenangan. Karina melirik ke arah kaki kekasihnya itu lalu menatap kedua mata Jeno yang terlihat bengkak, “dan kenapa mata kamu bengkak? Kamu habis nangis, ya?” tanya Karina kembali dengan penuh kekhawatirannya.
Jeno terkekeh kecil, lalu melipatkan kedua tangannya di meja kantin itu. “Aku nggak apa-apa, sayang. Ini cuma kelilipan debu tadi di dalam kelas, baru ditetesin obat mata makanya gini. Udah, kamu nggak usah khawatir, ya. Aku lapar soalnya,” jawab Jeno sembari mengusap perutnya layaknya anak kecil meminta makan.
Karina pun akhirnya menyunggingkan senyumannya, ia sedikit lega saat kekasihnya itu masih bisa seperti ini. “Kamu mau apa, sayang? Biar aku pesankan ke sana.”
“Hm…” Karina tersenyum melihat kekasihnya tampak serius membaca buku menu itu, sudah lama ia tidak melihat wajah lucu itu.
“Take your time, jangan buru-buru.”Karina mengusap pergelangan tangan kekasihnya dengan lembut, ia semakin jatuh cinta kepada lelaki di hadapannya ini. “Kalau kamu pincang kayak gini, tanding basket kamu gimana, sayang?” tanya Karina dengan tatapan penuhnya kepada Jeno.
Jeno kini mengalihkan atensinya kepada Karina, “pincangnya ini bakalan hilang paling 2-3 harian. Nggak terlalu mengganggu juga asal sering dikompres dan digerakin aja,” jawab Jeno dengan tenangnya, ia kembali membaca buku menu itu.
Karina menganggukkan kepalanya pelan, lalu tersenyum kembali melihat kekasihnya tampak serius membaca buku menu itu. “Serius banget, sih. Emangnya lagi ujian, ya?” ucap Karina menggoda Jeno dengan tawanya di ujung kalimatnya.
Jeno pun seketika tersadar bahwa dirinya terbawa serius, ia tertawa kecil. “Lapar soalnya.”
**
Cuma ya tergantung trigger sih
Duh, Jen. Siap-siap patah hati deh lo. Eh, udah, ya?
Ayo, tamatkan karya ini. Kajjaaaaaa~!
Rhea?
Biru?
Kaela?
Nana?
Jeno?
Ketika Kaela berubah, Jeno paniklah. Ini balasan yang paling aku suka.
Yok, Rhea! Bikin Kaela bisa nikmatin kebahagiaannya sendiri tanpa si Jeno.
Btw, aku tahu siapa Jeno, Karina, dan Na Jaemin. Apakah akan ada geng 00L lainnya?