NovelToon NovelToon
Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:308.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Zul Hijrah

Sebuah kisah cinta yang berawal dari persahabatan yang terjalin semenjak kecil. Mentari seorang gadis periang dan sangat manja. Ia jatuh cinta kepada sahabat masa kecilnya, tetapi sayangnya. Cinta yang ia rasakan tidak disambut dengan baik oleh Azka, sahabat masa kecilnya.

Hingga suatu ketika di saat Mentari merelakan perasaannya itu, Azka malah mulai jatuh cinta kepada Mentari. Cinta mereka mulai bersemi kembali setelah mereka melanjutkan pendidikan di Inggris.

Kisah cinta mereka semakin teruji saat sebuah kejadian di suatu malam yang membuat Mentari hamil. Keduanya mulai bersitegang. Hingga akhirnya Mentari menjauh dari kehidupan Azka dan Bertemu dengan Yusuf. Lelaki Soleh, seorang anak dari kiyai besar di sebuah pondok pesantren. Lelaki yang mampu merubah Mentari menjadi wanita muslimah yang memegang teguh nilai-nilai Islam.

Kepada hati siapakah kelak ia akan berlabuh??
Cinta masa kecil yang penuh kenangan dan kesakitan atau cinta yang suci dengan kemurniannya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zul Hijrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maukah Kamu Menjadi Istriku ?

Sudah sebulan Mentari kembali ke pondok, semua berjalan seperti biasanya. Mentari berdiri menatap hamparan danau yang berada di belakang pondok pesantren, ia sedang memikirkan nasibnya untuk ke depannya. Ia harus mencari pekerjaan untuk membiayai kebutuhannya dan Ainun. Kini ia tinggal di pondok untuk sementara waktu sampai ia mendapat pekerjaan.

Sudah hampir sebulan ia tidak bertemu dengan Yusuf, lelaki yang sangat dirindukan. Entah kemana lelaki itu, setelah persidangan ia pergi entah kemana. Mentari sudah mempertanyakannya kepada Nadia dan Rika, keduanya hanya terdiam. Mentari merasa jika Yusuf kini telah melupakan perasaannya, cinta yang dulu pernah hadir kini sirna.

Mentari masih sibuk dengan pemikirannya, ia tidak bisa hanya diam di sini. Tetapi ia tidak tahu harus kemana, keluarga Azka memanggilnya untuk tinggal bersama namun ia menolak, ia tidak ingin membebani mereka. Mentari hanya ingin pergi jauh dan memulai hidupnya yang baru bersama putrinya tanpa gangguan siapa pun.

Setelah merasa yakin dengan keputusannya, ia beranjak dan masuk ke dalam pondok untuk meminta izin keluar dari pondok tersebut. Ia telah bertekad untuk pergi memulai kehidupannya yang baru.

"Assalamualaikum," Mentari masuk ke dalam, matanya melotot ketika melihat sosok lelaki yang telah satu bulan ini ia rindukan.

"Waalaikum salam," semua orang menatap Mentari. Nadia berdiri mendekati Mentari dan menarik wanita itu untuk duduk bergabung dengan mereka.

Mentari mengikuti langkah Nadia walau matanya menatap lelaki yang sedari tadi duduk terdiam di samping Kiayai Lukman. Lelaki itu sedang asyik berbicara dengan sang ayah, Ummi Kalsum tersenyum menatap Mentari yang tatapan matanya tidak lepas dari sosok putranya. Sesekali ia melirik Yusuf yang sedang serius berbicara dengan suaminya, ia tahu betul jika anaknya itu sedang berpura-pura tidak memperhatikan Mentari. Ia bisa melihat jika Yusuf juga sesekali mencuri pandang pada wanita itu. Ummi Kalsum hanya bisa tersenyum geli.

Mentari yang sedari tadi hanya terdiam kini angkat bicara, ia ingin mengutarakan keinginnannya. Melihat sikap Yusuf membuatnya semakin yakin atas keputusannya, ia yakin lelaki itu kini telah berubah.

"Ummi, Abi, aku ingin mengatakan sesuatu, mumpung semuanya ada di sini," ucapan Mentari langsung menarik perhatian semua orang untuk menatapnya.

"Ada apa sayang? Katakanlah, kamu jangan malu. Anggap ummi dan abi adalah orang tua kamu," Kiayai Lukman hanya tersenyum, seolah mengatakan hal yang sama dengan istrinya.

"Aku ingin meminta izin untuk pergi dari sini, aku ......."

"Kamu mau kemana? Kenapa tiba-tiba ingin pergi? Apakah orang-orang di sini memperlakukan kamu dengan tidak baik?" Kini Yusuf bersuara, dia kaget dengan ucapan Mentari. Apa-apaan wanita itu, kenapa tiba-tiba meminta izin untuk pergi.

"Tidak, tidak sama sekali. Alhamdulillah aku merasa bahagia di sini, semua orang memperlakukan aku dan Ainun dengan baik." Mentari gelagapan, dia kaget dengan respon Yusuf.

"Terus kenapa kamu mau pergi ?" Semua orang hanya terdiam mendengar percakapan keduanya, mereka tahu jika lelaki itu tidak akan pernah relah jika Mentari pergi.

"Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal, aku ingin menjalani kehidupan baruku bersama Ainun. Aku ingin bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan putriku," Mentari mencoba menjelaskan maksudnya.

"Aku akan memenuhi kebutuhan kalian, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Kamu tidak perlu pergi dari sini," Semua orang tersenyum mendengar ucapan Yusuf, secara tidak langsung lelaki itu memperlihatkan betapa besarnya rasa sayangnya kepada Mentari.

"Tidak, Kak Yusuf tidak perlu melakukan itu. Aku bisa sendiri memenuhi kebutuhan ku dan Ainun, lagian Kak Yusuf tidak punya kewajiban untuk membiayai hidup kami," Mentari mencoba menolak ucapan Yusuf, apa-apaan lelaki itu, kenapa dia ingin membiayai kehidupannya dengan Ainun, mereka tidak memiliki hubungan apapun.

"Tidak. Aku...."

"Nak, apa yang dikatakan nak Mentari benar, kamu tidak memiliki kewajiban untuk membiayai mereka. Mentari berhak memilih jalan hidupnya, siapa tau di luar sana akan ada lelaki yang bertanggung jawab yang bisa menikahinya kelak. Kita tidak bisa menahannya untuk tinggal di sini," Ummi Kalsum sengaja memanasi hati putranya, ia merasa gemas dengan anaknya itu. Sebulan ini menghilang dengan alasan untuk meyakinkan dirinya untuk meminang Mentari, tapi apa yang anak itu lakukan tadi, berpura-pura mengabaikan keberadaan Mentari.

Lelaki lain ? Menikahi Mentari ? Tidak, aku tidak akan pernah relah jika Mentari dimiliki oleh lelaki lain. Batin Yusuf

Wajah Mentari memerah mendengar ucapan Ummi Kalsum, ia malu. Menikah? Sampai saat ini ia tidak pernah memikirkan hal itu, hatinya masih dimiliki oleh lelaki di hadapannya itu. Ia tidak yakin apakah ia akan mudah menerima lelaki lain. Mentari mencuri pandang ke arah Yusuf, ia ingin melihat respon lelaki itu. Hatinya kecewa melihat keterdiaman lelaki itu.

"Benar yang ummi mu katakan, Mentari harus bisa berdiri sendiri. Ainun butuh seorang ayah yang bisa melindunginya, jika mereka tetap di sini, mereka akan sulit menemukan orang itu. Nak Mentari, apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Kiayai Lukman mencoba bersikap tenang, walaupun sebenarnya ia gemas juga melihat putranya itu.

"Iya Bi, aku sudah yakin. Aku juga sudah berbicara dengan Ainun, dan dia juga ingin ikut denganku,"

"Kak Tari kalau mau aku akan membantu kakak mencari pekerjaan, kebetulan di cafe kakak teman aku lagi buka lowongan pekerjaan, apalagi pemiliknya masih muda, seumuran dengan Bang Yusuf, siapa tahu kakak bisa berjodoh dengannya, orangnya baik dan juga sudah mapan," Kini Nadia ikut menggoda sang kakak. Ia juga tidak habis pikir dengan sikap kakaknya itu, entah apa yang ada di otaknya.

"Tidak bisa, Mentari tidak bisa pergi dari sini apalagi sampai bekerja di cafe itu. Aku tidak akan pernah mengizinkan itu," Semua melongo mendengar ucapan Yusuf, apakah lelaki itu sadar dengan ucapannya? Ummi Kalsum, Kiayai Lukman dan Nadia hanya bisa tersenyum geli.

"Nak apa hakmu melarang Mentari ? Dia berhak bahagia dan memulai kehidupannya yang baru dan kelak ia bisa menikah dan berbahagia," Ummi Kalsum semakin tidak sabar menyindir Yusuf, Mentari hanya terdiam.

"Hanya aku yang bisa menikahinya, tidak ada lelaki lain yang boleh menikahi Mentari. Aku akan menikahi Mentari bulan depan,"

Deg

Ucapan Yusuf sontak membuat Mentari kaget, apakah Yusuf sadar dengan ucapannya. Hatinya bergemuruh, sekali lagi ia mencoba mencerna baik-baik ucapan lelaki itu. Ummi Kalsum, Kiayai Lukman dan Nadia tersenyum bahagia. Kalimat yang sedari tadi mereka nantikan kini terucap juga.

"Maksud kamu apa nak? Kamu ingin menikahi Mentari?" Kaiyai Lukman memperjelas ucapan Yusuf.

"Iya Bi, aku ingin menikah dengan Mentari. Apakah Abi dan Ummi merestui?" Yusuf menatap kedua orang tuanya dengan penuh harap.

"Kami tidak ada masalah, tapi apakah orang yang ingin kamu nikahi itu mau menerima kamu?" Pertanyaan Kiayai Lukman membuat semua orang menatap Mentari. Yusuf beralih menatap Mentari dengan penuh harap.

Mentari yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa terdiam dan menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Semua menatapnya dengan penuh harap, ia bingung harus bagaimana. Tidak bisa ia pungkiri hatinya menghangat dan betapa bahagianya ia mendengar ucapan Yusuf.

Yusuf yang tidak sabar mendengar jawaban Mentari memilih mendekati wanita itu, ia berjalan dan tiba-tiba berjongkok. Mentari kaget dan memilih membuang muka. Ia benar-benar malu. Jantungnya kini bekerja dua kali lipat, ia bisa merasakan jantungnya berdetak dengan kencang.

"Tari lihat aku, aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat mengatakan ini. Sebenarnya aku ingin melamarmu di tempat yang berbeda, aku ingin hanya ada kau dan aku. Tapi situasi saat ini membuatku tidak bisa berpikir dua kali dan menunggu waktu yang tepat." Mentari kini menatap lelaki yang berjongkok di hadapannya itu.

"Tari aku tahu aku bukan lelaki yang sempurna, tetapi yakinlah aku akan selalu terus berusaha membahagiakan kamu. Aku mencintaimu, aku ingin terus bersamamu. Aku tidak pernah bisa melihat kamu duduk bersanding dengan lelaki lain. Mentari di hadapan kedua orang tuaku serta adikku, aku dengan sepenuh hati meminta ketersedianmu menjadi wanitaku, menjadi ibu anak-anakku kelak. Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, tetapi yang perlu kamu yakini aku akan selalu dan selalu berusaha menjaga dan membahagiakan kamu dan Ainun, berusaha menjadi seorang ayah yang baik untuk Ainun dan anak-anak kita kelak," Mentari hanya bisa terdiam, air matanya mendesak untuk keluar. Ia tidak bisa membendungnya lagi sehingga air mata itu jatuh membasahi kedua pipinya.

"Mentari, maukah kamu menjadi istriku?" Mentari hanya mengangguk, mulutnya terasa keluh untuk berbicara. Ia tidak mampu menggambarkan kebahagiannya hari ini, ia hanya bisa menangis. Yusuf ingin sekali memeluk wanita itu, tetapi tatapan tajam kedua orang tuanya membuatnya mengurungkan niatnya.

*

Terima kasih telah membaca🙏

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan likenya 😊

Tetap patuhi protokol kesehatan🙏

1
bunda syifa
ini cerita seperti menceritakan dari sudut pandang si pemain pendukung y, seolah Azka sama Rani pemeran utamanya dan tari jadi pemeran pembantu/si orang ketiga yg mencintai pemeran utama pria nya tapi berujung sad, tapi pada akhirnya menemukan kebahagiaan juga
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Ezphyzzz
bagus Thor ko karyanya,aku senang dan bikin deg deg an.
Ezphyzzz
gitu dong Yusuf gentleman
bobo
cpt bgt thor jln critay...tpi bguz kok jelas padat ibarat pelajaran bhs idonesia 1 buku d rangkum jd bbrp lembar...aku suka
Putri Minwa
💪💪💪
Putri Minwa
Radit bikin cair suasana aja
Putri Minwa
mantap thor Semoga sukses ya
Putri Minwa
yang sabar Azka
Putri Minwa
awal cerita yang menarik thor
Ayu Nuraini Ank Pangkalanbun
bod*h mentari
Dae Vhau
hy
Shafikha Baydowi
bagus dan tidak monoton
Haetsuki
bagus
Lili aja❤️
kok di cari gak temu ketemu ya judul yg ini😔😔😔😔
Cikgu Raaa: kok bisa ? 😁
total 1 replies
Dhea Aftanie
to the point bukan to do point
Cikgu Raaa: makasih kritikannya 🙏🏻
total 1 replies
Dhea Aftanie
harusnya "katakan gas" bukan " katakan han"
Cikgu Raaa: Maaf typo 🙏🏻 terima kasih atas koreksinya ya 🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Dhea Aftanie
rasanya nabila ingin ku bunuh ya
Cikgu Raaa: terima kasih telah mampir 🙏🏻
total 1 replies
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu
ahmad sihan
lanjut g Thor ini
Cikgu Raaa: sdh tamat ya 🙏🏻 Terima kasih atas dukungannya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!