Namaku Auryn, seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu kampus swasta di ibu kota. Aku merupakan mahasiswa yang bermasalah dan sangat tertutup pada orang lain kecuali dengan teman-temanku yang sama bermasalahnya denganku.
Orang lain menilaiku sebagai gadis yang berkepribadian dingin dan tidak memperdulikan sekitarku, aku mengakui semua itu.
Perlahan sifatku mulai berubah sejak mengenal Dosen yang bergelar Doktor muda di kampusku. Aku tertarik padanya dan melakukan hal yang tidak biasa kulakukan untuk bisa akrab dengannya.
Sifatnya yang berbeda dari kebanyakan orang membuatku penasaran padanya, karena dia aku berusaha ingin menjadi lebih baik lagi.
Aku berharap dialah takdirku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa itu Ada Hubungannya Denganku?
Setelah acaranya selesai, aku membantu Umi membersihkan panti dengan senang hati. Setelah selesai membersihkan bagian luar kamipun beralih kedapur untuk mencuci piring-piring kotor tadi
"Umi sangat senang Dayyan dekat denganmu, kau gadis yang baik Auryn" kata Umi saat kami sedang mencuci piring berdua
"Kak Rafqi begitu baik padaku Umi, mungkin dia menganggapku seperti adiknya" Yah itulah yang ku pikirkan selama ini, mungkin saja kak Rafqi menganggapku seperti adiknya dan karena itu ia memperlakukanku begitu baik sama seperti kak Shandi memperlakukanku, namun bodohnya aku malah menampik pikiran itu dan malah beralih menyukainya
"Yang kau rasakan bisa saja berbeda dengan yang dirasakan oleh Dayyan"
"Maksud Umi?" Umi tidak menjawabku, ia hanya tersenyum akan perkataannya tadi
Umi pernah mengatakan jika kak Rafqi tidak pernah dekat dengan siapapun dan aku adalah satu-satunya orang yang ia bawa dan dikenalkan pada Umi. Sikap kak Rafqi dan semua perkataan Umi sering membuatku memiliki opini tersendiri hingga opini-opini itu yang membuatku jadi seperti ini, menyukai kak Rafqi dan bermain perasaan sendiri. Aku seperti seorang yang jatuh cinta dan menjalankan hubungan secara sepihak
***
Setelah selesai membantu Umi, kamipun keluar menghampiri kak Rafqi yang sedang bermain dengan anak-anak. Mereka berlari ke arahku dan memelukku begitu melihatku keluar, aku sangat menyayangi mereka semua yang sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri.
"Kak Auryn, kak Dayyan bilang... " Kak Rafqi segera membekap mulut anak laki-laki yang ada dipangkuannya saat ini sebelum berhasil mengeluarkan kata-kata yang ingin diucapkannya
"Kak Rafqi bilang apa?" tanyaku penasaran
"Tidak ada" jawab kak Rafqi yang ku ketahui sedang tidak jujur padaku saat ini
" Jelas sekali kau sedang berbohong" ucapku dengan kesal
"Apa ini rahasia kak?" tanya anak laki-laki itu
"Iya ini rahasia, jadi kau jangan memberitahunya biar kakak sendiri yang mengatakannya nanti" kata kak Rafqi sembari mengacak pelan rambut anak itu
"Apa yang dia rahasiakan dariku?" gumamku
"Kau sudah selesai dengan Umi?" tanya kak Rafqi sembari bangkit dan berjalan ke arahku
"Iya sudah" jawabku dengan datar karena masih merasa kesal dan penasaran
"Kalau begitu kita kembali sekarang, sudah hampir petang" ajaknya kemudian
Kami pun pamit pada Umi dan anak-anak untuk segera pulang. Diperjalanan pulang aku masih memikirkan "rahasia" yang dikatakan oleh kak Rafqi tadi
"Kau tidak usah memikirkan kata anak itu lebih jauh" ucap kak Rafqi yang tanpa melihatku dan menatap lurus kedepan
"Apa itu ada hubungannya denganku?" Ia menatapku sejenak lalu kembali menatap lurus kejalanan
"Mungkin" aku dibuat bertambah kesal dengan jawabannya
"Sudahlah, tidak usah memberitahuku!" seruku dengan kesal dan memalingkan wajahku menatap keluar jendela
"Aku akan memberitahumu di hari kelulusanmu nanti" ucapnya kemudian
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kamipun tiba di area kampus. Kak Rafqi terlebih dahulu mengantarkanku kembali ke kosku. Begitu tiba disana akupun segera turun dan pamit padanya dengan cepat karena masih kesal dengannya
Saat berjalan masuk ke dalam kos aku dikejutkan oleh kak Tara dan kak Willi yang tiba-tiba muncul disana.
"Kak Tara, kak Willi. Kalian sedang apa disini?"
"Kami merindukanmu anak nakal, kau selama ini sangat jarang menemui kami lagi" keluh kak Willi padaku
"Apa kami boleh bertamu ke tempatmu?" tanya kak Tara padaku
"Bagaimana jika kita mengobrol di cafe biasa saja kak" aku menolak untuk mengajak mereka masuk ke kamarku, aku sangat berubah sejak mengenal kak Rafqi. Biasanya aku tidak peduli pada siapapun bahkan dahulu kami sering berbagi kamar dan tempat tidur di kos masing-masing, tapi sekarang entah kenapa aku tidak bisa seperti itu lagi.
Kami tiba di cafe yang biasanya kami berenam datangi, banyak yang berubah dari tempat ini. Semua kenangan pada saat kak Shandi, Lucas dan Laras masih bersama kami kembali terputar saat mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan ditempat ini
"Kau sesibuk itu dengan kuliah mu sampai melupakan kami berdua?" tanya kak Willi membuyarka lamunanku
"Maaf kak, aku sangat fokus sekarang"
"Dulu kau sangat tidak peduli dengan kuliahmu, kenapa sekarang kau berubah?"
"Aku hanya ingin melewati semua ini dengan cepat dan mulai hidup mandiri tanpa harus bergantung pada keluargaku. Aku malu kak, aku bersikap keras seperti ini tapi aku dengan tidak tau dirinya masih saja menggunakan bantuan dari keluargaku. Aku ingin sepenuhnya terlepas dari mereka" aku sadar selama ini aku seperti orang yang tidak mempunyai rasa malu karena terus mengharapkan tunjangan dari keluargaku saat aku sudah tidak menganggap orangtua ku lagi
"Kami selalu mendukung keputusanmu, tapi kau juga jangan mengabaikan kami. Kau taukan kami sudah berjanji pada Shandi untuk menjagamu" kata kak Tara yang seperti kecewa karena aku sudah jarang bahkan hampir tidak pernah menemuinya
"Aku tau kak, terima kasih atas perhatianmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak perlu khawatir akan hal itu"
"Aku lihat kau sekarang sangat dekat dengan dosen yang datang bersamamu hari itu di pemakaman Laras"
"Iya, aku juga sering melihat hampir tiap hari kau bersama dengannya" timpal kak Willi. Ternyata mereka terus memperhatikan dan mengawasiku selama ini
"Dia hanya teman dekatku saja sama seperti kalian, dia juga teman dari kak Aisyah"
Mereka berdua mengangguk mengertikan hal itu. Perbincangan kami berlanjut hingga malam makin gelap
***
Keesokan harinya aku bangun agak kesiangan karena semalam aku pulang agak terlambat setelah menemui kak Tara dan kak Willi. Tidak ada hal yang begitu penting hari ini untuk kukerjakan, aku hanya ingin ke perpustakaan siang nanti jadi aku agak bermalas-malasan pagi ini
Aku beranjak bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahku lalu kembali keluar dan mengganti piama tidurku dengan celana training panjang dan baju kaos lengan pendek kemudian mengambil beberapa lembar uang dan membawanya keluar untuk membeli sarapan pagi
Tukang bubur ayam yang berjualan di dekat kampus menjadi tujuanku, pagi ini rasanya aku hanya ingin makan bubur saja karena lebih mudah untuk di cerna. Begitu tiba disana aku bertemu dengan kak Rafqi yang sudah duduk menunggu pesanannya disana
"Kak Rafqi, selamat pagi" sapaku begitu tiba disana
"Ternyata kau Auryn, selamat pagi. Kau mau sarapan?"
"Iya kak, aku ingin membeli dan membawanya pulang" semua kembali seperti biasa, walau semalam aku kesal dengannya pasti itu tidak berlangsung lama dan akan membaik setelah beberapa waktu
"Makan disini saja bersamaku" tawarnya ketika bubur yang dipesannya sudah disajikan oleh abang tukang bubur
"Baiklah kalau begitu. Bang saya makan disini saja, tidak jadi bungkus" ucapku kemudian lalu memberitahu abangnya. Setelah pesananku disajikan, kami berdua mulai menikmati sarapan pagi bersama
dsaat pad KUMpul psti ada laras
novelnya👍👍