NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Debat di tengah malam

Pukul satu dini hari, seluruh rumah telah tenggelam dalam keheningan. Lampu-lampu utama sudah dimatikan sejak beberapa jam yang lalu. Hanya cahaya temaram dari lampu tidur yang masih menyala redup di salah satu sudut kamar.

Ini adalah waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Waktu ketika kebanyakan orang sudah terlelap, membiarkan tubuh dan pikiran mereka beristirahat setelah hari yang panjang.

Namun, tidak dengan Tya. Gadis itu masih berbaring di atas kasur dengan mata terbuka. Selimutnya kini menutupi tubuhnya hingga pinggang, sementara pandangannya lurus menatap langit-langit kamar yang asing.

Sudah berkali-kali Tya memejamkan mata dan mencoba memaksa dirinya untuk tidur. Tetapi hasilnya tetap sama, ia tidak bisa terlelap.

Tya mengubah posisi tidurnya untuk kesekian kali malam itu. Sesaat menghadap ke kanan, lalu berbalik ke kiri. Namun rasa gelisah itu tetap ada, kamar ini terlalu asing.

Semuanya terasa berbeda, bahkan keheningannya terasa jauh berbeda dari kamar yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

Tya menarik nafas panjang menghembusnya perlahan. Entah mengapa, malam ini terasa jauh lebih berat.

Tya memejamkan mata lebih erat, berusaha memaksa dirinya terlelap. Beberapa menit berlalu, namun tetap gagal.

Namun ternyata, bukan hanya dirinya yang sedang berperang melawan insomnia malam itu. Dari arah sofa di sudut kamar, terdengar suara gesekan pelan.

Kreekk...

Hening beberapa saat, lalu suara itu terdengar lagi. Tya membuka sebelah matanya, alisnya sedikit berkerut.

Faris ternyata juga belum tidur. Pemuda itu terus mengubah posisi tubuhnya di atas sofa yang jelas tidak dirancang untuk ditiduri semalaman. Sesekali terdengar suara bantal yang dipukul-pukul pelan, diselingi helaan nafas panjang yang terdengar sangat tidak sabar.

Tya mencoba mengabaikannya. Namun setelah mendengar suara gerakan untuk kesekian kalinya, kesabarannya mulai menipis. Dengan kesal, ia meraih bantal lain lalu menutup kedua telinganya.

"Berisik banget, sih," gumam Tya pelan.

Suasana kembali hening. Untuk sesaat, Tya menghela nafas lega. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika suara decakan dari arah sofa terdengar jelas di tengah sunyinya malam.

Tya langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Sementara di susut kamar, Faris kembali membalikkan tubuhnya dengan gerakan tidak nyaman.

Di saat yang hampir bersamaan, Tya juga membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan. Dan seketika, pandangan mereka bertemu.

Tidak ada yang berbicara, tidak ada juga yang mengalihkan pandangan. Namun, keheningan itu hanya bertahan beberapa detik.

Tya lebih dulu mengernyit. Bukannya mengalihkan pandangan, ia justru balas menatap Faris dengan tatapan yang sama tajamnya.

"Apa lihat-lihat?!" Tanya Tya ketus.

Faris yang masih berbaring di sofa langsung mendelik, "Lah," sahutnya tak kalah ketus. "Siapa juga yang lihat-lihat lo?! Lo yang lihat duluan."

Tya langsung bangkit sedikit dari posisi tidurnya. "Heh! Gue liat karena lo berisik dari tadi!"

"Berisik apanya?" Sahut Faris sambil mengangkat sebelah alis. "Gue cuma ganti posisi tidur."

"Cuma?" Ulang Tya tidak percaya. "Dari tadi tuh sofa bunyinya kayak mau roboh!"

"Ya salahin sofanya, bukan gue."

"Kalau lo diam, sofanya juga diam!"

Faris langsung mengusap wajahnya kasar. "Astaga..." Gerutunya. "Jam satu pagi masih aja cari ribut."

Tya mendengus, "Siapa yang cari ribut? Gue mau tidur dari tadi."

"Ya tidur aja."

"Gak bisa!"

"Nah, gue juga gak bisa!" Sahut Faris tak terima.

Keduanya terdiam sesaat. Lalu hampir bersamaan, mereka berujar. "Kalau gitu jangan ganggu gue!"

Setelah menyadari mereka mengucapkan kalimat yang sama, keduanya justru semakin kesal. Faris memutar bola matanya ke langit-langit kamar, sementara Tya kembali merebahkan tubuhnya dengan kesal.

Setelahnya, kamar kembali hening. Setidaknya untuk sesaat. Tya kembali menarik selimutnya hingga sebatas dada. Wajahnya masih ditekuk, jelas belum sepenuhnya reda.

Di sisi lain, Faris juga kembali memposisikan dirinya di atas sofa. Ia menghela nafas panjang, masih menatap langit-langit kamar dengan tatapan lelah.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Tya masih memejamkan mata, berusaha mengabaikan segala hal di sekitarnya.

"Aduh..."

Namun tiba-tiba, suara itu terdengar dari arah sofa. Tya membuka matanya, jelas terganggu dengan suara itu.

Faris mengubah posisi tidurnya lagi. Wajahnya terlihat ditekuk lebih parah dari sebelumnya. Ia mengusap pinggangnya pelan.

"Sakit banget," ujar Faris.

Tya memutar bola matanya. Lalu, ia menarik selimut lebih tinggi, berusaha untuk tidak peduli.

"Punggung gue remuk," keluh Faris lagi sambil mengusap tengkuknya. "Gila, ini sofa dibuat untuk duduk apa buat nyiksa orang."

Perlahan, Tya menoleh ke arah sofa. Faris sedang berbaring dengan wajah sengsara sambil sesekali mengusap punggungnya. Entah sengaja atau tidak, ia terdengar seperti sedang mengumumkan penderitaannya ke seluruh penghuni rumah.

"Sial, pinggang gue rasanya mau patah!"

Tya menarik nafas panjang, urat di pelipisnya seolah ikut berdenyut. Dan ketika Faris terus menggerutu untuk kesekian kalinya, kesabarannya akhirnya habis. Dengan gerakan cepat, ia mengambil bantal di sampingnya.

Brukk!

Sebuah bantal melayang cepat ke arah Faris.

"Woi!" Faris langsung tersentak kaget saat benda empuk itu menghantam wajahnya. Reflek, ia menangkap bantal yang jatuh di dadanya, lalu langsung duduk tegak di sofa. "Apa-apaan sih?!"

Tya yang masih duduk di kasur menatapnya dengan tajam. "Berisik banget!" Bentaknya pelan, masih berusaha untuk tidak membangunkan penghuni rumah. "Dari tadi ngeluh terus. Pinggang lah, punggung lah. Gue mau tidur!"

Faris langsung menyipit tidak terima. "Lo pikir gue sengaja?!"

"Kalau gak sengaja, diam!"

"Mana bisa diam. Lo gak ngerasain."

Tya mendengus kesal. "Satu rumah udah tidur semua. Yang masih ribut cuma lo!"

Faris memegang bantal yang baru saja dilemparkan ke arahnya sambil menatap Tya tidak percaya. "Lo yang lempar bantal, gue yang disalahin?"

"Karena lo berisik!"

Pukul satu dini hari, ketika orang normal sedang tidur nyenyak. Faris dan Tya justru kembali berdebat dengan volume setengah berbisik agar tidak ketahuan penghuni rumah lainnya.

"Gue menderita!" Protes Faris pelan. "Punggung gue sakit, pinggang gue sakit, leher gue juga mulai sakit."

Tya memutar bola matanya, "Terus gue harus tepuk tangan?"

"Harusnya lo merasa bersalah!" Ujar Faris.

Kalimat itu membuat Tya langsung mengernyit. "Maksud?"

"Iya!" Faris mengacak rambutnya dengan frustasi. "Kalau bukan gara-gara lo, sekarang gue udah tidur nyenyak di kasur gue." Ujarnya. "Pokoknya kalau besok gue jalannya bungkuk, itu gara-gara lo!"

Tya menatap Faris dengan tatapan datar yang justru terlihat lebih berbahaya. Namun, itu sama sekali tidak membuat Faris diam.

"Sumpah, ini sakit semua karena lo." Ujar Faris sambil menunjuk punggungnya sendiri.

"Kalau sekali lagi lo ngomong gara-gara gue," sahut Tya cepat. "Gue dorong dari balkon sekalian."

"Sadis amat," sahut Faris ketus.

Tya tidak menjawab. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan kesal. Kedua tangannya terlipat di dada, jelas tidak ingin melanjutkan perdebatan itu.

Sementara Faris masih duduk di sofa sambil menatap punggung Tya beberapa saat. "Ck," Ia mengusap wajahnya kasar. "Terserah lo!"

Kamar itu akhirnya kembali hening. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi suara protes dari Faris maupun ancaman dari Tya. Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan memenuhi kamar.

Di atas sofa, Faris menjatuhkan tubuhnya lagi. Awalnya ia masih menatap ke atas dengan wajah tertekuk. Sesekali tangannya berpindah mengusap tengkuk, lalu beralih ke punggungnya.

Namun perlahan, kelopak matanya mulai terasa berat. Faris berkedip sekali, lalu menguap kecil sambil mengusap wajahnya. Rasa kantuk yang sejak tadi enggan datang akhirnya mulai menang.

Kepala Faris yang semula tegak, perlahan bersandar ke sandaran sofa. Pandangan matanya mulai kosong. Suara pendingin ruangan terdengar semakin samar. Dan tanpa sadar, nafasnya mulai teratur.

Sementara itu, Tya masih duduk di kasur dengan posisi yang masih sama. Wajahnya masih masam. Jujur saja, suasana hatinya masih belum membaik sedikit pun.

Beberapa menit berlalu dalam kesunyian malam, Tya mengernyitkan dahinya. Aneh, suasana mendadak sunyi. Biasanya, manusia satu itu selalu punya sesuatu untuk diperdebatkan. Perlahan, ia menoleh ke arah sofa.

"Woi, Ris!" Nada suara Tya tetap ketus. "Lo tidur?"

Tidak ada jawaban. Untuk sesaat, Tya hanya menatap. Lalu entah mengapa, ada rasa geram yang perlahan muncul di dalam hatinya.

Dari tadi Faris membuat suasana semakin berisik. Dan sekarang, pemuda itu justru tertidur lebih dulu. Sementara dirinya masih terjaga. Tya langsung memalingkan wajah dengan kesal, rasanya sangat tidak adil.

Tya menghela nafas kasar. Tatapannya masih tertuju ke arah sofa selama beberapa detik sebelum akhirnya ia memalingkan wajah dengan kesal.

"Enak banget hidup lo," gumam Tya lirih pada dirinya sendiri.

Rasanya percuma, marah pada orang yang sudah tidur tidak akan menghasilkan apa-apa. Dengan gerakan sedikit malas, Tya akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Kasur memantul pelan menerima berat tubuhnya. Tya kembali menarik selimutnya, lalu meraih guling yang berada di sampingnya. Guling itu langsung dipeluk erat seolah menjadi pelampiasan seluruh kekesalan yang tidak bisa ia keluarkan.

Tubuh Tya meringkuk. Tatapannya mengarah ke dinding kamar yang remang-remang diterpa cahaya lampu tidur.

Kini, kamar itu benar-benar sunyi. Tya memeluk gulingnya sedikit lebih erat. Entah karena kesal, gelisah, atau mungkin karena ia masih merindukan rumah yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

Perlahan, kelopak mata Tya mulai terasa berat. Rasa kantuk itu akhirnya datang menghampirinya. Tya pun akhirnya tertidur, membiarkan rasa kantuknya mengambil alih.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Deep... Deep...

Suara alarm ponsel memecah keheningan pagi. Tya membuka mata perlahan. Sesaat, ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, masih berusaha mengumpulkan kesadaran.

Beberapa saat kemudian, Tya meraih ponselnya di atas nakas, jam menunjukkan pukul lima pagi. Kebiasaan bangun pagi itu masih tetap sama, lalu ia mematikan alarm di ponselnya.

"Ck!"

Di saat yang sama, Faris juga membuka matanya. Ia tampak kebingungan beberapa saat sebelum menyadari sumber suara yang membangunkannya. Tatapannya langsung tertuju pada Tya, lalu pada ponsel yang dipegangnya.

"Astaga," Faris mengusap wajahnya kasar. "Jam berapa ini?"

Tya menoleh ke arahnya. "Lima."

"LIMA?!" Faris langsung duduk tegak di sofa.

Rambut Faris terlihat berantakan ke segala arah, sementara wajahnya menunjukkan kekesalan yang luar biasa. "Siapa yang pasang alarm jam lima pagi?!"

Tya mengernyit, "Gue."

"Lo sakit?!" Faris menaikkan sebelah alis. "Orang normal masih tidur jam segini!"

Tya melontarkan tatapan tajam, "Justru orang normal udah bangun!"

"Enggak," bantah Faris cepat. "Orang normal bangun jam tujuh."

Tya langsung memutar bola matanya. Sementara Faris mengacak rambutnya frustasi.

"Gue baru tidur beberapa jam," ujar Faris. "Terus gue dibangunin suara sirine."

Tya menatap Faris dengan rahang mengeras, lalu ia menggeleng pelan. Ia menyingkap selimut lalu turun dari kasur. Lalu menuju koper miliknya yang terletak di dekat lemari. Ia membuka koper itu lalu mencari handuk dan perlengkapan mandinya.

"Baru sehari gue tinggal di sini," gumam Tya. "Dan gue udah muak."

Faris yang masih setengah sadar mengangkat sebelah alis. "Gue lebih muak lo tinggal di sini."

Tya mendengus, "Liat kan? Baru bangun aja udah bikin emosi."

"Alarm lo yang bangunin gue." Sahut Faris cepat.

Tya kemudian berbalik menuju kamar mandi sambil mengomel, tentu saja. "Serius deh, lo menyebalkan!"

"Lo yang galak!" Timpal Faris.

Tya sudah sampai di depan pintu kamar mandi, namun langkahnya terhenti sejenak. "Kalau bukan karena almarhumah Mama, gue ogah sekamar sama lo."

Faris langsung membuka mulut. "Emangnya gue-"

Brakk!

Pintu kamar mandi tertutup sedikit keras. Tapi di balik pintu itu, suara Tya masih terdengar samar. "Nyebelin banget!"

Faris menatap pintu kamar itu sejenak. Suara omelan Tya kini tergantikan dengan suara air yang mulai mengalir dari dalam. Ia menghela nafas panjang. "Galak banget." Gerutunya lirih.

Faris mengusap wajahnya sekali lagi, sebelum melirik jam di ponselnya. "Lima lewat tiga," ujarnya.

Dengan gerakan malas, Faris kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Ia kemudian menarik bantal, menutupi sebagian wajahnya.

"Masih lama," gumam Faris. "Jam tujuh aja belum." Ia menarik selimut tipis ke tubuhnya. "Tidur lagi aja ah."

Lagipula, menurut Faris tidak ada alasan yang masuk akal untuk bangun jam lima pagi. Terutama saat ia baru saja kehilangan hak atas kasurnya sendiri. Faris kembali memejamkan mata, berusaha merebut waktu tidur yang menurutnya telah dirampas secara tidak adil.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!