NovelToon NovelToon
Sultan Berjiwa Jawara

Sultan Berjiwa Jawara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: DUEL GUDANG TUA**

**

Alamat yang dikirim Dimas membawa David ke sebuah gudang tua di pinggiran kawasan industri, bangunan yang sudah lama tidak terpakai, atapnya berkarat, dindingnya penuh coretan yang sudah pudar dimakan waktu. David datang sendirian, sesuai permintaan, tanpa Rambo yang masih terbaring di rumah sakit dengan tubuh penuh perban, tanpa Anto, tanpa Camelia.

Dia melangkah masuk lewat pintu besi yang berderak keras, suaranya menggema di ruangan kosong yang luas, hanya diterangi beberapa lampu neon yang berkedip tidak stabil, dan di tengah ruangan itu, berdiri Dimas Santos sendirian, jas mahalnya sudah dilepas, hanya memakai kaos hitam yang memperlihatkan tubuh kekar penuh bekas latihan bertahun-tahun.

"Lo datang juga," Dimas berkata, suaranya tenang, hampir terdengar puas, "saya kira lo terlalu pengecut buat hadepin saya langsung."

"Lo nyiksa orang gue. Gue gak akan biarin itu lewat tanpa konsekuensi," David menjawab, suaranya dingin, melepas jaketnya, melemparkannya ke lantai berdebu.

"Saya sengaja dateng sendirian," Dimas melanjutkan, melingkarkan lehernya, meretakkan buku-buku jarinya satu per satu, "bukan karena saya gegabah. Tapi karena saya mau buktiin sendiri, tanpa bantuan siapa pun, kalau saya lebih kuat dari lo."

David tidak menjawab lagi, hanya mengambil posisi rendah, kuda-kuda Cimande yang sudah mengakar dalam dirinya sejak kecil, lutut ditekuk, tangan terbuka di depan dada.

Dimas tertawa pendek, mengambil posisi bertarung khas Muay Thai, kuda-kuda tinggi dengan tangan terangkat melindungi wajah, "Silat kampung, lawan teknik internasional. Menarik."

"GERAK!"

Dimas yang lebih dulu menyerang, melayangkan tendangan lutut keras ke arah perut David. David menggeser badan tipis, menangkap kaki itu, mencoba membanting, tapi Dimas sudah berputar lebih dulu, melepaskan dirinya dengan gerakan yang jelas terlatih, lalu membalas dengan pukulan siku cepat ke pelipis.

"DUGH!"

David sedikit terhuyung, tapi cepat memulihkan posisi, menyapu kaki Dimas dengan gerakan rendah khas Cimande.

"BRUK!"

Dimas jatuh, tapi gulingan tubuhnya cepat, dia bangkit lagi dengan gerakan Taekwondo, melompat, melayangkan tendangan memutar yang kecepatannya membuat David harus benar-benar fokus untuk menangkis tepat waktu.

"DUAR!"

Tendangan itu menghantam lengan David yang sengaja diangkat untuk menahan, rasa sakitnya menjalar sampai bahu.

"Anjir, kuat juga lo," David mendesis, sambil mengatur napas.

"Saya bukan cuma pengusaha kantoran, David," Dimas menjawab dengan senyum tipis, "sebelum punya bisnis ini, saya hidup di jalanan, belajar bertarung buat bertahan hidup. Teknik resmi cuma bonus."

Mereka kembali bertabrakan, kali ini David melompat maju, melancarkan kombinasi pukulan tepak dua yang cepat dan rapat, Dimas menangkis sebagian, tapi satu pukulan berhasil menembus pertahanannya, menghantam rahang.

"DUGH!"

Dimas terhuyung ke belakang, menabrak tiang besi penyangga gudang, suara dentingan logam menggema keras, "GRANG!"

Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya, tapi dia hanya menyeka dengan punggung tangan, matanya makin tajam, "Mantap. Sekarang giliran saya serius."

Dia menyerang lagi, kali ini lebih agresif, kombinasi pukulan dan tendangan yang datang dari berbagai sudut tanpa pola yang bisa ditebak mudah, gabungan teknik bertarung jalanan yang kotor dengan dasar bela diri formal yang kuat. David menangkis, mengelak, sesekali terkena, badannya mulai dipenuhi memar.

Satu pukulan keras menghantam rusuknya, "DUGH!", membuat David terdorong sampai membentur dinding gudang yang dipenuhi debu tebal, debu itu berjatuhan dari atap karena getaran hantaman.

"BRAK!"

David mengerang, tapi cepat mendorong dirinya menjauh dari dinding, menyambut serangan Dimas berikutnya dengan kuncian sendi, menangkap lengan yang melayang ke arahnya, memutar dengan tenaga penuh.

"KREK!"

"AAAKH!" Dimas menjerit, tapi dengan refleks cepat, dia membalik badan, melepaskan kuncian itu sebelum benar-benar patah total, lalu membalas dengan tendangan rendah yang menyapu kaki David.

"BRUK!"

David jatuh, tapi langsung berguling, bangkit lagi dengan kuda-kuda yang sudah lebih waspada. Pertarungan itu berlangsung lama, lebih lama dari pertarungan apa pun yang pernah David alami sebelumnya, termasuk melawan Rambo sekalipun. Setiap gerakan saling membalas, setiap pukulan dibalas dengan kuncian, setiap tendangan dibalas dengan elakan yang semakin tipis marginnya.

Mereka saling membanting, terguling di lantai berdebu, sesekali menghantam tiang-tiang besi yang berdenting nyaring setiap kali tubuh menabraknya, peluh dan darah mulai bercampur di wajah keduanya, baju yang mereka kenakan sudah robek di beberapa tempat.

"Lo... lo lebih kuat dari yang saya kira," Dimas berkata di antara napasnya yang tersengal, darah mengalir dari hidungnya yang sudah agak bengkok.

"Lo juga," David membalas, badannya juga sudah penuh memar dan luka kecil, "tapi gue gak bisa berhenti sekarang. Gue harus selesain ini."

Dimas menyerang sekali lagi, kali ini dengan tendangan tinggi yang mengarah ke kepala, tapi David sudah membaca pola itu, dia menunduk cepat, menangkap kaki Dimas yang melayang, dan dengan satu gerakan kilat, memutar tubuh lawannya, membantingnya ke lantai.

"BRAK!"

Sebelum Dimas bisa bangkit, David sudah menjatuhkan diri, menahan satu lengan Dimas dengan lutut, sementara tangannya mengunci pergelangan tangan satunya dengan posisi yang membuat sendi itu terkunci penuh, siap dipatahkan kapan saja David mau.

"AAAAAKH! STOP! STOP!" Dimas menjerit, tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali, terkunci sepenuhnya di bawah tekanan David.

Ruangan itu jadi sunyi, hanya terdengar napas keduanya yang masih tersengal, dan sinar lampu neon yang berkedip pelan di atas mereka.

Dimas, walau terkunci dan kalah telak, tertawa kecil, suaranya parau tapi penuh keberanian yang dipaksakan, "Kalau berani... bunuh aku."

David menatapnya tenang, sudut bibirnya terangkat sedikit, "Siapa bilang gue gak berani?"

Senyum Dimas mulai pudar, dia diam sejenak, lalu mencoba bicara lagi, "Lo bisa dipenjara karena bunuh orang."

David mengangkat bahu santai, masih menahan kuncian itu, "Gampang kok. Gue tinggal lempar mayat lo ke kolam buaya, beres kan." Dia mengedipkan satu mata dengan gaya yang sengaja dibuat genit, jauh dari kesan mengancam serius tapi entah kenapa justru terasa lebih mengerikan.

Dimas membeku, matanya yang tadi penuh keberanian sekarang mulai dipenuhi keraguan.

"Kasihan buayanya," David menambahkan ringan, "nanti kekenyangan makan buaya darat."

Untuk pertama kalinya sejak David mengenalnya, Dimas Santos, pengusaha gelap yang ditakuti seantero Jakarta, kehilangan seluruh keberaniannya. Wajahnya pucat, suaranya bergetar, "Tunggu, tunggu, jangan, jangan beneran."

"Gue cuma bilang gue bisa," David menjawab tenang, "belum bilang gue akan."

Dimas menelan ludah, badannya masih terkunci tidak berdaya, dan akhirnya, dengan suara yang jauh berbeda dari nada arogan sebelumnya, dia berkata, "Tolong jangan bunuh gue. Gue ngaku kalah. Gue siap jadi budak lo, setelah gue gagal jalanin tugas dari Reza."

David menatapnya lama, mempertimbangkan, lalu perlahan melepaskan kuncian itu, berdiri, mengatur napasnya yang masih berat.

"Gue gak bunuh orang yang udah gak bisa ngelawan," David berkata, suaranya datar, "tapi inget kata-kata lo barusan. Lo udah ngaku kalah di depan gue sendiri."

Dia mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai, melangkah keluar dari gudang itu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Dimas yang masih terduduk lemas di lantai berdebu, tubuhnya penuh luka, dan untuk pertama kalinya, harga dirinya yang selama ini begitu tinggi, runtuh total di hadapan seseorang yang dia kira hanya anak konglomerat lemah.

***

Ternyata, tanpa diketahui siapa pun di gudang itu, seluruh pertarungan tadi terekam jelas oleh kamera CCTV lama yang masih berfungsi di pojok atap gudang, peninggalan dari pemilik sebelumnya yang lupa mencabut sistem keamanannya.

Dan jauh dari sana, di kamarnya sendiri, Reza sudah sejak awal meretas akses ke kamera itu, memastikan dia bisa menyaksikan langsung kemenangan yang dia yakini pasti akan diraih Dimas, bayaran besar yang sudah dia siapkan untuk menghancurkan David sekali untuk selamanya.

Tapi yang dia saksikan justru kebalikannya. Layar laptopnya menampilkan Dimas yang tersungkur, terkunci, mengaku kalah dengan suara bergetar penuh ketakutan, sosok yang selama ini begitu ditakuti seluruh dunia konstruksi gelap Jakarta.

"Sial! AAAHHH! BANGKE!" Reza berteriak, membanting laptopnya ke lantai hingga layarnya pecah berkeping-keping, "bahkan Dimas gak bisa ngalahin dia! Kenapa dia jadi kuat gini?!"

Dia berdiri, mondar-mandir di kamarnya dengan napas yang memburu, tangannya mengacak rambut sendiri, menyadari untuk pertama kalinya, betapa semua orang yang dia andalkan, mulai dari Rambo yang tunduk, hacker bayaran yang gagal menembus pertahanan Anto, sampai sekarang Dimas yang dianggap paling kuat sekalipun, semuanya berakhir kalah telak di hadapan David.

Surya, yang mendengar keributan itu dari kamar sebelah, masuk dengan langkah hati-hati, "Kak, kenapa?"

"Dimas kalah," Reza berkata pelan, suaranya getir, "semua yang gue andalkan selalu gagal."

Surya terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Kak... masih ada satu orang."

Reza menoleh cepat, "Siapa?"

"Mr. Jarwo Grimshaw Hardjoprakoso."

Reza terdiam, nama itu terasa familiar tapi sulit dia tempatkan dengan pasti, "Siapa dia?"

Surya menjelaskan dengan suara yang sengaja direndahkan, seperti takut nama itu didengar orang lain, "Bukan preman, bukan petarung biasa, Kak. Dia pengusaha tua, sangat berpengaruh di dunia konstruksi, orang Jawa keturunan Inggris. Banyak kontraktor besar takut sama dia, soalnya dia kuasai jaringan proyek, pejabat, sampai orang-orang berbahaya yang gak pernah muncul di permukaan."

Reza menatap adiknya lama, mempertimbangkan, lalu menghela napas berat, "Kalau aku datang ke dia, harga yang harus aku bayar pasti besar."

"Kalau Kakak tetap mau hancurin David," Surya menjawab singkat, suaranya tegas, "cuma dia harapan terakhir."

***

Malam itu, setelah berpikir panjang, Reza memutuskan. Dia mengenakan jas terbaiknya, menyiapkan diri seolah akan menghadiri pertemuan paling penting dalam hidupnya, lalu menyetir sendiri menuju sebuah alamat yang diberikan Surya, rumah mewah bergaya klasik dengan gerbang besi tinggi yang berdiri kokoh di kawasan elite Jakarta Selatan.

Dia berhenti di depan gerbang itu, menatap rumah yang berdiri gelap dengan hanya beberapa lampu taman yang menyala lembut, menerangi pilar-pilar besar bergaya Eropa kuno yang terasa asing di tengah hiruk-pikuk Jakarta modern.

Reza menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu menekan bel yang berdenting pelan di kejauhan.

Beberapa detik berlalu, terasa lebih lama dari yang seharusnya, sampai akhirnya pintu besar itu berderak, terbuka perlahan.

Seorang pria tua muncul dari balik pintu, tubuhnya tegap walau usianya sudah lanjut, wajahnya dingin, matanya tajam menatap langsung ke arah Reza seolah sudah mengenalnya sejak lama, padahal mereka belum pernah bertemu sekali pun sebelumnya.

"Selamat datang," pria itu berkata, suaranya tenang, berat, dengan logat yang campuran aneh antara Jawa halus dan aksen Inggris yang sudah mendarah daging, "Reza Wijayakusuma. Saya tau apa yang kau mau."

*(bersambung)*

1
Was pray
nah nyahok kan loe David... jagoan sndalanmu bonyok karena keteledoran mu ..
Was pray
yah... KO si jagoan Atok... biasa ngumpetin sandalnya Upin lah bertarung ya monyong dah loe... 🤣🤣
Vie
jadi tegang ih....
Vie: gara2 kak othornya bikin. tegang.. 😁😁😁
total 2 replies
Vie
😭😭😭😭
Vie
aaaahhhh tidak rambooooo 😱😱😱😱
Vie
apapun di dunia ini tidak ada yang instan... apapun itu perlu perjuangan dan pengorbanan.. apalagi yang baru memulai sesuatu hal yang baru baginya... semua butuh proses... dan sambil proses itu berjalan, disana akan ada pengalaman2 baru yang bisa dijadikan contoh atau pembelajaran dari sebuah kejadian... jangan menyerah apapun yang terjadi, karena dengan menyerah maka orang2 yang membenci mu akan puas menertawakan kegagalanmu. tapi kalau kamu maju dan berhasil, maka mereka akan malu pada apa yang telah mereka lakukan... 😇😇😇
Vie
karena dia sibuk ngumpetin sendal2 nya si upin ipin. 😂😂😂😂
Vie: si anak payau... 😂😂😂
total 4 replies
Vie
😂😂😂😂😂
Was pray
semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin bertiup, semakin jauh kapal berlayar ke samudra semakin besar ombak dan badai menghadang, kalau terlena dengan keberhasilan yg diraih Maka hilang waspada. dalam bisnis tidak ada kawan sejati yg ada kawan bila mendatangkan laba tinggi
aa ge _ Andri Author Geje
😁😁😁😁😁😁😁
Vie
kamu uang nyari penyakit sendiri dengan melakukan poligami... dan dengan melakukan hal2 itu, kamu sudah membangun karakter2 jahat pada jiwa ke3 anak2 mu sendiri.. ketakutan mu akn menghancurkan dirimu dan membawakan mu pada penyesalan seumur hidupmu....
Vie
David:😲😲😲😲
Vie: 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
Vie
loh... kalau seperti itu kenapa si juned juga malah seperti membiarkan Reza bertindak salah sama David. sampai udah melakukan hal yang keterlaluan juga dia cuman negur basa basi doang...
Vie: oh berarti David anak perunggu nya kali ya... 🤭🤭🤭
total 2 replies
Vie
ya salah lo sendiri juga yang terlalu lembek sama anak2 lo itu, kecuali David tentu aja. dan lo sekarang masih belum juga tegas sama mereka....
Vie
kamu kalau lagi mabuk kok mendadak pinter sih... 😂😂😂
Vie: 😂😂😂😂😂😂😂
total 2 replies
Vie
iiihhhh ya ampun..... dikira ada yang ngomong, pas dibuka bab baru. 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
tambahan disini juga sama... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
kamu jawab aja "saha si ente teh.. urang mana, awewe atawa lalaki" 😂😂😂
Vie
harusnya kamu juga jawab bahasa Sunda aja sekalian pasti nyambung, kan sama2 dari Jawa 😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!