NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:925
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Ciuman

Arin masih duduk diam di depan ruang kerja Alia, menunggu Nathan keluar.

Keheningan itu terpecah ketika ponsel Nathan yang tertinggal di atas meja tiba-tiba berdering. Arin langsung menoleh. Nama yang muncul di layar membuatnya seketika mengenali siapa penelepon itu.

Ayah.

Arin meraih ponsel tersebut, tetapi jemarinya ragu untuk menekan tombol jawab. Setelah terdiam beberapa saat, ia memutuskan berdiri dan melangkah menuju pintu ruang kerja Alia. Setidaknya, ia bisa memberitahukan bahwa Victor sedang menghubungi Nathan.

Namun, baru beberapa langkah, keraguannya kembali muncul. Arin berbalik dan hendak meletakkan ponsel itu kembali ketika deringnya berhenti.

Ia mengembuskan napas pelan. Rasa lega yang baru saja muncul membuatnya kembali meletakkan ponsel itu di atas meja.

Belum sempat ia duduk, ponsel itu kembali berdering.

Nama yang sama masih terpampang di layar.

Arin kembali mengambil ponsel itu. Ia tetap tidak berani mengangkatnya. Setelah menarik napas pelan, ia memutuskan menghampiri pintu ruang kerja Alia sekali lagi.

Saat berdiri di depan pintu, Arin mengangkat tangannya hendak mengetuk. Namun, pintu itu ternyata tidak tertutup rapat.

Dengan ragu, ia mendorongnya sedikit untuk memastikan keadaan di dalam.

Seketika tubuhnya membeku. Alia sedang memeluk Nathan.

Arin ingin berpaling. Ia ingin menganggap dirinya tidak melihat apa pun. Namun, tubuhnya seolah kehilangan kendali. Kakinya tetap terpaku di tempat, sementara tatapannya tidak mampu lepas dari pemandangan di hadapannya.

Pelukan itu berlangsung cukup lama.

Arin masih terpaku di tempatnya. Ia seharusnya berpaling, tetapi tatapannya seolah tidak mampu lepas dari mereka.

Beberapa saat kemudian, Alia kembali mengecup Nathan.

Arin membeku. Dari tempatnya berdiri, yang ia lihat hanyalah Nathan tidak menjauh.

Dering ponsel di tangannya kembali terdengar, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimutinya.

Arin tersentak. Ia segera mundur beberapa langkah, lalu kembali ke sofa tempat ia menunggu tadi. Ponsel Nathan diletakkannya kembali di atas meja. Kini pikirannya dipenuhi oleh pemandangan yang baru saja ia lihat, hingga ia tidak lagi memedulikan panggilan yang terus masuk.

Entah berapa lama ia duduk di sana.

Hingga akhirnya pintu ruang kerja Alia kembali terbuka.

Nathan berjalan menghampirinya. "Ayo kembali."

Arin perlahan mendongakkan kepala. Ia berdiri, lalu mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat hendak melangkah pergi, Nathan melirik meja di samping sofa. Pandangannya berhenti pada ponselnya yang masih tergeletak di sana.

Ia refleks menyentuh saku celananya, lalu mengambil ponsel itu. "Ponselku tertinggal."

Setelah itu, mereka berjalan menuju lift.

Selama lift bergerak turun, tidak ada satu pun yang membuka percakapan.

"Tadi Ayah menelepon." Pandangan Arin tetap lurus ke depan. Dan tanpa disadarinya, ia baru saja menyebut Victor dengan sebutan Ayah.

Nathan menoleh sekilas, lalu membuka layar ponselnya. Empat panggilan tak terjawab dari Victor terpampang di sana.

Setelah membaca layar ponselnya beberapa saat, Nathan menguncinya kembali dan memasukkannya ke dalam saku.

Ia kembali menoleh ke arah Arin. "Apa kau tadi..." Ucapannya terhenti.

Saat meninggalkan ruang kerja Alia, ia sempat menyadari pintu ruangan itu tidak tertutup rapat.

Tatapan mereka bertemu beberapa saat. Namun, Nathan mengalihkan pandangannya lebih dulu.

"Lupakan."

Ting. Pintu lift terbuka.

Tanpa mengucapkan apa pun, mereka melangkah keluar menuju lobi, tempat mobil mereka telah menunggu.

...*****...

"Pak, pihak developer menghubungi saya. Mereka ingin memastikan apakah Bapak jadi meninjau vila hari ini?"

Nathan membaca pesan itu saat masih mengemudikan mobil. Sekilas ia melirik Arin yang sejak tadi hanya menatap ke luar jendela.

Tanpa berkata apa pun, Nathan langsung menghubungi sekretarisnya.

"Aku sedang menuju ke sana." Setelah menyampaikan itu, ia mengakhiri panggilan.

Hampir tiga jam perjalanan berlalu dalam keheningan. Hingga akhirnya mobil mereka memasuki kawasan vila.

Arin memperhatikan pemandangan di luar jendela. Semakin jauh mereka masuk ke dalam kawasan itu, suasana di sekelilingnya semakin hijau. Pepohonan rindang, hamparan taman, dan bunga-bunga yang tertata rapi membuat tempat itu terasa seperti hutan yang dirawat dengan sangat baik.

Saat mobil mulai mendekati vila yang mereka tuju, Arin tanpa sadar terpukau. Melihatnya secara langsung memberikan kesan yang sama sekali berbeda dibandingkan saat ia hanya melihatnya melalui proposal. Untuk sesaat, pikirannya teralihkan dari segala hal yang terjadi sebelumnya. Ia hanya menikmati setiap pemandangan yang terbentang di hadapannya.

"Ayo masuk." Nathan turun lebih dulu dari mobil.

Arin segera menyusul. Nathan sempat menoleh dan memberi isyarat agar ia mengikutinya masuk ke dalam.

Begitu melangkah melewati pintu utama, Arin kembali dibuat terpukau. Vila dua lantai itu terasa jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Interiornya didominasi cahaya alami dari jendela-jendela besar, sementara taman dan danau di belakang rumah menjadi pemandangan yang langsung menarik perhatiannya.

Sementara itu, Nathan berbicara dengan beberapa orang yang tampaknya telah menunggu kedatangannya sejak tadi.

Sekitar lima belas menit kemudian, Nathan menghampiri Arin yang sedang berdiri di dekat jendela, memandang danau di belakang vila.

"Kau menyukainya?"

Arin tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah danau. "Pemandangannya sangat indah."

Nathan ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sama.

"Semuanya sudah ku urus. Besok kita bisa pindah ke sini."

Arin menoleh padanya, lalu mengangguk pelan."Hmmm."

"Kita kembali?" tanya Nathan

Arin kembali mengangguk.

Tak lama kemudian, mereka meninggalkan vila itu dan kembali menuju apartemen.

...*****...

"Dasar gila," gumam Aldo sambil tertawa kecil di depan meja kerja Luna.

"Apa?" tanya Luna yang langsung mengangkat kepalanya.

"Ah... sayang bukan kamu." Aldo cepat-cepat menggeleng. "Nathan."

"Kenapa memanggilnya gila?" tanya Luna penasaran.

"Bukan apa-apa." Aldo mengangkat bahu. "Hanya obrolan para pria."

Setelah mengatakan itu, Aldo bangkit dari kursinya lalu berpindah ke sofa, ia ingin mengakhiri pembicaraan nya dengan Luna, agar ia tidak terus bertanya.

Tapi Luna mengenali sifat itu, ia langsung menghampir Aldo.

"Kau tahu?" ucapnya sambil menyipitkan mata. "Setiap kali menyembunyikan sesuatu, kau selalu menghindar seperti ini."

Aldo mencoba sibuk memainkan ponselnya, berpura-pura tidak mendengar.

Luna menghela napas pelan, lalu berdiri dan membuka pintu ruangannya. "Kalau begitu aku masih sibuk. Kau bisa keluar."

Aldo pun langsung menoleh. "Aku sudah menunggumu hampir enam jam di sini, lalu sekarang kau mengusirku?"

"Aku memang menyuruhmu menunggu?"

"Kau kejam." Aldo menggeleng pelan. "Apa benar kita bertunangan?"

Luna memperhatikan wajah Aldo beberapa saat. Ia pun menyadari kalau tindakannya memang sedikit keterlaluan.

Luna pun memutuskan menghampirinya. "Maaf... aku keterlaluan."

Aldo tetap diam menatap Luna. Sebenarnya ia tidak marah, tapi melihat Luna mulai merasa bersalah justru membuatnya ingin terus bersandiwara.

"Aku salah..." gumam Luna pelan. "Kau marah? Hm... kau marah?” Luna mulai menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di depan Aldo, berusaha membujuknya.

Melihat tingkah Luna yang seperti ini, membuat Aldo hampir tertawa. Namun, ia mati-matian menahannya.

"Sayang..." Luna terus membujuk Aldo. Sesekali ia mengecup bibir pria itu, berharap Aldo luluh.

"Aku salah... hm... Aldo."

Karena Aldo tetap diam,kini suara Luna pun sedikit meninggi. "Aldo!"

Panggilan itu cukup membuat Aldo sedikit terkejut. "A-aku memanfaatkanmu," jawab Aldo sambil melirik wajah Luna yang mulai kesal.

Luna menarik tangan Aldo hingga pria itu kembali duduk di sofa. Tanpa aba-aba, ia langsung duduk di pangkuannya. Dan kini kedua tangannya melingkar di leher Aldo, lalu ia kembali menciumnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama sebelum akhirnya mereka saling menjauh.

"Jangan marah padaku," ucap Luna lembut.

"Aku tidak marah." Aldo tersenyum kecil. "Aku hanya menggodamu."

"Dasar."

Luna kembali mengecup bibirnya singkat, lalu menatapnya lekat.

"Sekarang jelaskan."

Aldo menghela napas panjang. Ia tahu betul apa yang ingin Luna tanyakan.

"Dia melarangku menceritakannya padamu."

"Kalau bukan tentang Nathan, aku tidak akan bertanya lebih jauh. Tapi kalau ini menyangkut Nathan, aku ingin tahu."

Aldo kembali terdiam.

Luna mengangkat dua jarinya memberi tanda peace. "Aku janji tidak akan membocorkannya."

"Hm..." Aldo masih tampak enggan. "Dari dulu setiap aku cerita padamu, ujung-ujungnya Nathan juga tahu."

"Yang kali ini tidak." Luna tersenyum meyakinkan. "Aku janji."

Aldo menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menyerah. "Baiklah. Tapi jangan sampai Nathan tahu kalau aku yang mengatakannya."

Luna mengangguk cepat.

"Kita tau, Nathan hampir bertunangan dengan Alia. Karena Nathan menikah dengan Arin, Alia membalasnya hari ini."

Luna mendengarkan tanpa menyela.

"Nathan datang menemuinya Alia di kantornya hari ini. Tapi begitu bertemu... Alia langsung menciumnya."

"Mencium Nathan?"

Aldo mengangguk pelan.

"Arin tidak melihatnya kan?" tanya Luna spontan. Hal pertama yang terlintas di pikiranya justru Arin.

“Nathan datang bersama Arin.”

Mata Luna langsung membesar. "Apa? Lalu?"

"Mereka sebenarnya sedang dalam perjalanan melihat vila baru. Karena itu Arin ikut ke kantor Alia."

"Jadi... Arin melihat semuanya?"

"Aku tidak tahu pasti." Aldo menggeleng. "Setahuku Arin menunggu di luar ruang kerja Alia."

"Dasar gila." ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Luna.

"Apa Nathan memang selalu seperti itu?" tanyanya tidak percaya.

Aldo tertawa kecil.

"Sayang, meski aku yang terlihat seperti playboy, justru Nathan lah pemain yang sebenarnya."

Luna menatapnya tidak percaya.

"Apa pantas seorang sahabat mengatakan hal seperti itu tentang sahabatnya sendiri?"

"Aku bahkan bisa mengatakannya tepat di depan wajahnya." Aldo mengangkat bahu. "Dia paling cuma tersenyum."

Luna akhirnya mengangguk pelan. Bagaimanapun juga, Aldo mengenal Nathan jauh lebih lama daripada dirinya.

"Tunggu." Luna kembali teringat sesuatu.

"Berita dulu yang bilang Nathan menghamili seorang model lalu memaksanya menggugurkan kandungan... itu juga benar?"

Aldo terkekeh.

"Tidak. Wanita itu hanya ingin status. Begitu Nathan meminta tes DNA, dia langsung berlutut dan meminta uang."

Luna terdiam beberapa saat. "Tapi... hanya demi menyelesaikan masalah perusahaan, dia membiarkan Alia menciumnya?"

"Murah sekali caranya." lanjut Luna

Aldo tersenyum tipis. "Bukan. Nathan sedang memainkan perasaannya."

"Maksudmu?"

“Dia hanya memainkan perasaannya. Karena Alia bermain-main dengan kekuasaannya, Jadi dia mungkin akan membalasnya.”

1
Karu
Catatan Kecil: Masih berjuang melawan sakit gigi sambil menulis bab ini. Terima kasih sudah membaca.😭💔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!