Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan di keluarga Alexander II
"Tumben sekali papa nyuruh datang ke rumah?" gumam Ruby saat membaca pesan yang didapat dari orang tuanya.
"Kenapa sayang?" tanya Robi yang selalu menghabiskan waktu bersama Ruby.
"Papa nyuruh aku ke rumah. Mungkin ada yang ingin disampaikan" jawab Ruby sambil membereskan perlengkapannya dan ingin segera pergi ke rumah orang tuanya.
"Oke, biar aku yang mengantarkanmu" kata Robi.
"Tidak perlu. Biar aku pergi saja sendiri daripada banyak pertanyaan dari papa tentangmu" kata Ruby, bagaimanapun juga hubungan mereka adalah sebuah rahasia besar.
"Yasudah" jawab Robi dengan entengnya.
Sedikit tergesa, mengingat kondisi papanya yang akhir-akhir ini sedikit memburuk karena kesehatannya menurun, Ruby takut jika dipanggilnya dia kali ini pun ada kaitannya dengan hal itu.
Bagaimanapun juga, Ruby adalah anak yang berbakti pada orang tuanya.
Memang sudah sejak lama Ruby menyimpan rasa pada Vicky. Tapi semenjak kedatangan Viviane, wanita itu tahu jika harapannya untuk mempunyai hubungan yang lebih daripada sahabat dengan Vicky adalah sebuah khayalan semata. Meski sebenarnya untuk menjadi seorang nyonya Alexander adalah obsesinya.
Dan di saat terpuruknya, Robi datang dengan harapan baru. Keduanya terlihat saling menyayangi.
Namun, kedua orang tua Ruby ternyata juga menyimpan harapan yang sama dengan Ruby agar bisa menjadi bagian dari keluarga Alexander.
Melihat orang tuanya yang seolah tak merestui hubungannya dengan Robi, membuat Ruby merelakan keperawanannya pada Robi, pria yang dinilainya bisa menggantikan Vicky.
Tapi ternyata Robi dan orang tuanya sama saja, hanya memikirkan kepentingan mereka daripada perasaan lemah seorang Ruby.
Dengan banyak pertimbangan dan cara licik, akhirnya Ruby yang bersekongkol dengan Robi dan orang tuanya mampu meyakinkan keluarga Alexander jika bayi di dalam kandungannya adalah anak dari Vicky. Dan dengan terpaksa Abraham harus menikahkan keduanya meski secara pribadi diapun tak menyukai tabiat Ruby.
Memang benar jika kejahatan dilahirkan dari beribu kebaikan yang tidak dianggap.
Dan begitulah Ruby, sifat baiknya yang tak dianggap membuatnya menjadi pribadi yang jahat karena keadaan.
Kebohongan kecil yang dia lakukan harus terus disiram dan dipupuk agar semakin lebat dan meyakinkan hingga menjadi kebohongan yang besar dan harus menyingkirkan orang-orang yang tahu akan kebohongan yang telah dia lakukan.
"Ruby, sayangku. Akhirnya kau datang juga, nak" ucap papanya, seorang pria yang terlihat menyedihkan di usia senjanya.
"Ada apa pa? Tumben sekali papa menyuruhku datang kesini?" tanya Ruby yang tahu jika pasti ada hal yang tak beres di keluarganya.
"Apa seorang ayah yang merindukan putrinya adalah sebuah keanehan?" tanya Papanya.
"Sudahlah pa, Ruby tahu jika papa selalu menyuruhku pulang kalau ada perlunya. Sekarang katakan saja, ada apa papa menyuruhku untuk datang?" desak Ruby yang sudah cukup muak melihat drama yang orang tuanya lakukan.
"Baiklah, maafkan papa jika selalu merepotkanmu. Tapi papa janji jika ini adalah yang terakhir kalinya papa meminta bantuan darimu" ucap papanya.
Ruby menghela nafasnya pelan, tapi terlihat sekali jika dia tengah menahan emosi.
"Ehm, kau tahu jika akhir-akhir ini perusahaan papa mengalami banyak kerugian kan, sayang? Papa cuma ingin meminta bantuan dana darimu untuk menambal hutang perusahaan papa di bank. Karena kalau sampai hutang-hutang papa tidak dibayar, maka bank akan menyita perusahaan dan beberapa aset pribadi papa. Apa kau tega kalau sampai papamu ini jatuh miskin? Bukankah sangat tidak pantas jika mertua dari seorang Vicky Darius Alexander mengalami kerugian hingga jatuh miskin" kata papa Ruby tanpa beban, seolah Ruby adalah mesin ATM yang bisa mencetak uang.
"Benar kan dugaanku. Tapi aku tidak bisa meminta uang lagi kepada Vicky, pa" ujar Ruby bimbang, karena dia sudah beberapa kali meminta uang dalam jumlah yang sangat besar pada Vicky hingga harus merelakan semua sahamnya di perusahaan Alexander terjual.
"Kenapa tidak bisa? Kau kan tinggal minta saja. Suamimu itu adalah orang yang sangat kaya raya" desak papanya.
"Karena aku sudah beberapa kali meminta uang padanya untuk keperluan butikku, pa" jawab Ruby dengan nada putus asa, meyakinkan orang tuanya sangatlah sulit.
"Baiklah kalau kau tidak mau membantuku. Kalau begitu, jual saja saham yang kau punya di perusahaan Alexander. Dan berikan semua uangnya pada papa" jalan terakhir yang papanya pinta juga sesuatu yang tidak mungkin karena semua saham itu sudah habis terjual.
Mendengar hal itu, tentu Ruby tak bisa berkutik lagi. Bagaimanapun saham itu adalah hasil keringat papanya, dan dengan mudahnya Ruby menjual semuanya demi Robi yang terus mendesaknya dengan ancaman status Johan.
"Kenapa diam? Kau tidak lupa kan kalau semua saham itu dibeli dengan uang papa?" tanya papanya yang sangat perhitungan.
"Aaahhh!! Kenapa semua orang meminta uang padaku? Apa kalian anggap aku ini bank negara yang bisa mencetak uang?" teriak Ruby yang sudah frustasi.
"Kau membentak papamu, nak? Orang yang selama ini telah membesarkanmu dan memberimu fasilitas hidup yang serba mewah?" tanya papa Ruby dengan nada suara rendah.
"Papa tidak pernah menyesal telah memberimu begitu banyak kemewahan, sedangkan kau, kau sudah berani membentak papamu karena orang tua yang sudah renta ini tak bisa lagi seperti dulu?" dan dimulai lagi drama dari papanya.
"Baiklah, biarkan saja perusahaan yang sudah papa rintis sejak lama ini menjadi bangkrut. Dan biarkan saja rumah dan semua fasilitas ini di sita oleh Bank sehingga papamu yang sudah renta ini akan miskin dan hidup di jalanan. Biarkan saja pada akhirnya papamu ini menyusul mamamu yang sudah tenang di alam sana" senjata pamungkas dari papa Ruby jika putrinya itu menolak keinginannya adalah dengan bersandiwara semacam ini.
"Papa jangan bicara begitu. Baiklah, akan Ruby usahakan untuk mencari tambahan dana agar bisa menutup kerugian perusahaan" akhirnya Ruby mengalah.
Sejahat-jahatnya Ruby, dia adalah seorang anak yang berbakti.
Mendengar hal itu tentu membuat orang tua itu senang.
"Oh, terimakasih anakku sayang. Kau memang anak yang sangat berbakti. Jangan lupa segera berikan uangnya karena bank sudah menagihnya setiap hari" kata papanya yang tak berhati.
Sekarang rasa pusing di kepala Ruby semakin bertambah. Sebenarnya akhir-akhir ini dia menyadari jika sedang diintai oleh Vicky, tapi dia masih belum bisa membuktikannya.
Apalagi dia mendengar selentingan kabar jika semua saham yang telah Vicky beli diatasnamakan Angelia, nama asing yang belum pernah terdengar olehnya.
Tapi dia masih belum punya banyak waktu untuk menyelidikinya, dan sekarang malah ditambah dengan masalah papanya.
Ruby jadi merasa jika semua orang disekitarnya hanya memanfaatkan dia saja.
Dengan perasaan dongkol yang sangat mendalam, Ruby memutuskan untuk segera pulang saja ke kediaman keluarga Alexander yang mewah.
Setidaknya disana dia bisa meluapkan amarahnya dengan memarahi para asisten rumah tangga jika mereka melakukan sedikit saja kesalahan.
Dan berdiam diri didalam bath up yang dipenuhi kelopak bunga dan aroma terapi sepertinya adalah sebuah keputusan yang paling baik.
Sudah banyak rencana bermalas-malasan dan memanjakan diri tertulis di kepalanya saat kembali pulang ke rumah suaminya meski kehadirannya tak pernah diinginkan.
Dengan langkah anggun dan penuh kesombongan, Ruby memasuki ruang tamu rumah mewah yang selalu saja nampak sepi di setiap suasana.
Tapi langkahnya terhenti saat memasuki ruang keluarga. Dimana sudah berkumpul beberapa orang yang sepertinya sedang menunggunya pulang.
Karena tatapan mereka terasa sangat menguliti saat langkahnya baru saja menapaki area itu.
"Oh, hai semuanya. Selamat malam" sapa Ruby sedikit canggung, karena ada Felix dan beberapa orang yang Ruby belum begitu paham.
"Akhirnya kau datang juga, menantuku" sindir Suzy. Mama mertuanya ini memang tak pernah terlihat menyukainya.
"Kemarilah, kita duduk bersama. Bukankah selama ini kita tidak pernah punya quality time?" kata Abraham dengan pandangan aneh.
"Ada apa lagi ini?" gumam Ruby dalam hatinya, kepalanya seolah terasa ingin meledak dengan masalah yang datang bertubi-tubi.
"Maaf, tapi rasanya aku sedikit kurang enak badan. Bolehkan jika aku beristirahat saja di kamar?"tolak Ruby secara halus, siapa tahu mereka mau melunak dan membebaskannya dari suasana tak nyaman ini.
"Sayangnya tidak bisa, kau harus duduk terlebih dahulu dan berbicara dengan kami" ujar Suzy ketus, tumben sekali wajahnya semarah ini.
Hingga membuat Ruby mau tak mau harus ikut duduk bersama mereka.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?