Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VILLA TERBAKAR
Mobil Rubicon itu masuk kepekarangan dan berhenti di tengah-tengah halaman. Seorang pengawal berlari membukakan pintu mobil. Alvaro turun dengan rahang mengeras dan pistol berada ditangannya.
Suasana terasa panas dan mencekam. Para pelayan beserta pengawal berbaris menyambut kedatangan Alvaro, mereka bertambah takut kala melihat pistol Alvaro.
"Marchel!!" teriak Alvaro. Suaranya keras menggelegar.
"Siap Tuan." jawab Marchel keluar dari ruang makan. Bajunya berlumuran darah.
"Dimana istriku?" tanya Alvaro dengan mata merah.
"Di ruang makan, sabar Tuan. Mungkin nona Margareta stres karena papanya baru mninggal. Jangan membunuhnya."
"Dia pantas menerima hukuman."
"Ampuni dia Tuan, dia istri Tuan." Marchel melarang Alvaro membunuh Margareta.
"Untuk kali ini aku ampuni, sekali lagi dia membuat ulah, aku bunuh dia."
Alvaro segera melangkah ke ruang makan menemui Margareta. Mata Alvaro nanar melihat darah segar di lantai dan mayat Kitty. Barang-barang berantakan dan pora poranda. Margareta duduk di lantai dengan air mata yang sudah mengering.
"Plookkk....plookkk..." tangan Alvaro melayang.
"Bajingan! beraninya kau menamparku..." pekik Margareta memegang pipinya.
"Aku akan membunuh kau!!" bentak Alvaro kembali menampar Margareta.
Tamparan Alvaro membuat Margareta kaget, dia tidak menyangka Alvaro akan menyentuhnya. Hatinya menjadi tambah panas dan cemburu.
"Apa yang kau dapat dari semua ini, apa kau sudah bahagia membunuh kepala pelayan. Kau sudah gila. Jangan membuat aku melemparkan kau ke Rimba atau kau mau menyusul Alfredo?"
"Aku menyesal menikah denganmu, kau bukanlah suami yang baik, beraninya kau memukul aku." tangis Margareta meledak.
"Aku akan meledakan kepala kau jika kau terus berulah. Berapa kali aku ingatkan, di antara kita tidak akan pernah ada kecocokan sifat. Kita menikah karena bisnis. Walaupun status kita suami istri tapi aku tidak pernah mencintai kau."
"Kita sering melakukan dan kau sangat puas Alvaro, kau jangan menipu dirimu. Aku yakin kau mencintaiku."
"Aku heran atas perubahan sifat kau setelah menikah. Kita having *** selama ini, jadi jangan sok memiliki. Kau bebas dengan lelaki lain aku juga begitu."
"Apa kau mencintai wanita rendahan itu, dia membuat kau kurang ajar kepadaku."
"Aku mencintainya dan dia selirku. Berani kau menyentuhnya aku akan membuang kau ke Rimba."
Margareta terdiam, dia terluka dan merasa dikhianati oleh Alvaro. Dulu dia memang bebas, tapi semenjak papanya meninggal dia ketakutan hidup sendiri. Dendamnya kepada alexa semakin dalam dia menyumpahi supaya wanita itu hangus terbakar.
"Pengawal, pelayan, bersihkan ruang makan. Lempar mayat Kitty ke kandang buaya." titah Alvaro.
"Baik Tuan.."
Alvaro kemudian keluar dari ruang makan, dia akan kembali ke Villa untuk bertemu Alexa. Rasanya belum puas menggasak Alexa.
"Maaf Tuan ada berita kurang enak di dengar. Kebakaran terjadi di Villa pinggir pantai milik Tuan." Marchel kemudian memperlihatkan ponselnya. Pengawal yang dikirim kesana baru saja mengirim vidio tentang kebakaran itu.
Wajah Alvaro seketika memucat. Dia ingat mengunci Alexa di kamar.
"Alexa..." teriak Alvaro kencang berlari ke mobil.
"Tuan, jangan kesana bangunan sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa. Saya yakin musuh menunggu Tuan disana." kata Marchel menghalangi Alvaro kesana.
"Siapa pengawal yang ditugaskan kesana, aku curiga kepada mereka."
"Mereka masih disana Tuan, tidak usah curiga kepada mereka. Saya yakin bukan mereka pelakunya, mereka sampai disana setelah terjadi kebakaran. Api sudah mati, ada pemadam kebakaran, polisi dan masyarakat."
"Aku meninggalkannya, aku yang salah....." mata Alvaro berkabut. Dia bersandar di badan mobil sambil mulutnya memanggil nama Alexa.
"Sabarlah Tuan, kita doakan supaya arwahnya di terima disisi Tuhan dan di ampuni dosa-dosa nya. Mungkin sudah takdirnya."
"Aku hancur Marchel...." kata Alvaro lirih. Air mata gembong mafia itu tergulir dari sudut matanya.
Bayangan Alexa yang tersenyum menari-nari di depan matanya. Jiwa Alvaro seolah melayang, kakinya gemetar. Hatinya sakit, sangat sakit.
"Tuan sudah ada laporan bahwa belum diketemukan korban jiwa."
"Itu tidak mungkin. Aku mengurungnya di kamar khusus. Hanya sidik jariku yang bisa membuka pintu kamar. Dia pasti telah meninggal."
"Tuan mari kita ke dalam, tidak baik dilihat bawahan. Atau Tuan mau saya antarkan ke suatu tempat?"
"Aku ingin membunuh Margareta dia yang membuat aku pulang."
"Jangan Tuan, ada Honduras di belakangnya dan pengawalnya hampir tiga ratus sekarang. Kita kalah dalam persenjataan."
"Aku tidak bisa berpikir.. " keluh Alvaro.
"Naiklah ke mobil Tuan.."
Seperti di cocok hidungnya Alvaro menurut kemana Marchel mengajaknya. Marchel mengajaknya ke Pataya, dulu Alvaro sering ke rumah bordil ini sekedar untuk melepas hasrat. Disini wanitanya high class dan rata-rata sangat cantik.
"Tuan akan saya drop disini, saya akan menyelidiki tragedi kebakaran. Saya yakin kejadian ini perbuatan musuh kita. Setelah keadaannya kondusif saya akan jemput Tuan dan kita akan serang balik."
"Pergilah, kau juga mengawasi Margareta. Bisa saja dia berada dibalik semua ini." kata Alvaro turun dari mobil setelah berada di basemant Pataya.
Seorang pria kekar yang bertatto datang menghampiri Alvaro.
"Selamat datang boss, lama tidak bertemu..." katanya ramah sambil tersenyum.
"Siapkan aku wanita yang cantik seperti Alexa, badannya sexy dan kencang."
"Maaf boss, Alexa itu siapa?"
"Maksudku wanita cantik, sexy dan kencang." ralat Alvaro.
"Apa ada tambahan, misalnya sebotol tequila jose cuervo atau minuman lain."
"Bawakan aku sebotol."
"Oke Tuan. Mari saya antarkan ke kamar dulu. Kami akan menyiapkan apa yang Tuan inginkan."
Masuk ke tempat bordil high class terasa sangat berbeda. Sepi dan terasa nyaman, ruangannya harum calmic.
Alvaro disambut oleh sepuluh wanita yang hanya memakai penutup terakhir. Semua cantik dan sexy. Biasanya wanita ini dipajang di kaca, tapi saat ini Alvaro bebas memegang tubuh mereka satu persatu untuk memilih yang kencang versi Alvaro.
Tapi Alvaro tidak berselera untuk memilih. Tidak ada yang bisa menggantikan Alexa.
"Kalian tidak qualified." kata Alvaro songong.
"Tuan dengan saya saja, segala gaya saya mahir. Saya juga mau gaya Sadomasokis jika Tuan menginginkan."
"Oke, aku memilih kau."
Akhirnya sang mucikari bisa tersenyum. Alvaro adalah big boss yang sangat berpengaruh. Kedatangannya seperti anugrah bagi Petaya. Karena Alvaro royal dalam memberi tip.
"Maaf, saya akan membuka pakaian Tuan." kata Kissy berdiri di depan Alvaro.
"Tidak usah, kau duduk di sofa temani aku minum. Aku ingin lupa segalanya."
"Owh..baik Tuan."
Kissy duduk di sofa di depan Alvaro berbatas meja. Sudah ada sebotol Tequila jose cuervo, irisan lemon dan sejumput garam. Ada dua cabalito atau gelas khusus untuk minum Tequila.
"Temani aku minum." kata Alvaro sambil membuka botol Tequila.
"Baik Tuan saya akan menuangkan segelas untuk Tuan." kata Kissy tersenyum. Tangannya bergetar grogi berhadapan dengan big boss.
*****