Bertransmigrasi?
Satu kata yang mampu membuat Nala, mengumpat di tempat. Dia yang awalnya membenci tokoh utama pada sebuah novel karena bunuh diri akibat diselingkuhi mengakibatkan dirinya bertransmigrasi ke tubuh Carissa.
bagaimanakah jika Nala, si gadis super aktif mengubah hidup Carissa yang flat menjadi lebih heboh dan mengejutkan sekeluarga serta teman-temannya.
Ikuti kisah Nala yang akan mengubah alur hidup Carissa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27| Liburan
Malam harinya, mereka pun makan di sebuah restoran bintang lima sebagai pelanggan VIP. Carissa menatap megahnya bangunan-bangunan yang berdiri kokoh serta banyaknya lampu dari perumahan di bawah sana.
Setelah pesanan mereka datang, Carissa menyantapnya dengan lahap. Nenek Rima tersenyum melihat bagaimana gadis itu memasukan nasi hingga kedua pipinya mengembang lucu.
Bima hanya bisa menggeleng melihat bagaimana gadis itu tersedak. Abian dengan cekatan memberikan air pada sang adik.
"Duh, makannya kalau makan, tuh pelan-pelan aja!" protes Abian dengan memberikan tisu.
"Uhuk ... Nggak apa-apa kali."
Carissa tak kapok dan malah melanjutkan makannya. Wijaya tersenyum senang, setidaknya dia bisa melihat perwujudan Carissa jika menjadi gadis yang tidak pendiam.
Setelah sesi dinner, mereka memilih pergi ke mall sesuai dengan permintaan Carissa. Dia ingin ke timezone dan bermain beberapa permainan di sana. Ia lantas menggandeng tangan Abian dan Bima menuju permainan lempar bola basket.
Carissa terlihat sangat menikmati waktu bersama kedua saudaranya itu. Hingga larut malam, mereka baru saja kembali dengan Carissa yang tertidur sembari Bima menggendong tubuh gadis itu.
"Om, ini Carissa langsung di bawa ke kamarnya?" Sejujurnya Bima agak canggung, apalagi mereka bukan saudara kandung.
"Iya. Kasian dia pasti kecapekan."
Keesokan harinya, Carissa terbangun dengan perasaan dan mood yang bagus. Matanya menatap linglung mata seseorang yang berdiri tepat di depannya.
"Banguuuun!"
Seorang pria berteriak hingga membuat Carissa langsung melek dengan kesadaran yang telah kembali sepenuhnya.
"Bimaa, gila, ya lo? Untung gue gak punya riwayat penyakit jantung," ketus Carissa dengan beranjak dari kasurnya.
"Lo dibangunin dari tadi, malah kagak bangun. Simulasi jadi mayat, lo?"
Carissa mendengus kesal, dia lantas mendorong tubuh Bima keluar dari kamar.
"Bilangin sama nenek, gue mau mandi dulu."
Setelah selesai mandi, Carissa bergegas menggunakan seragam dan menata dirinya sendiri. Setelah di rasa cukup, dia turun dengan menggunakan tasnya. Di sana semuanya telah berkumpul, mata Carissa berbinar kala melihat makanan.
Setelah sesi sarapan, akhirnya Wijaya mengantarkan gadis itu ke sekolah.
Seminggu kemudian orang tua Bima datang dengan membawa oleh-oleh khas daerah tempat mereka tinggal. Mata Carissa berbinar melihat berbagai macam cemilan di atas meja.
"Sabtu sore kita pergi ke villa dan menginap sampai minggu sore. Seninnya Carissa harus pergi sekolah jadi tidak bisa berlama-lama," ucap Wijaya dengan mengambil ponselnya, lalu menghubungi sekretarisnya.
"Horee, liburan ... " Carissa tersenyum menatap Wijaya dengan senang. Selama berada di tubuh Carissa, dia sama sekali belum pernah di ajak liburan.
Hari yang ditentukan tiba, Carissa memakai kacamata hitam dan memasuki mobil. Dia duduk tepat di sebelah Bima dan Abian. Di depan ada pak Adi dan Wijaya, sementara di mobil sebelah ada kedua orang tua Bima serta nenek Rima dan kakek Janu.
"Liburaaan!"
Carissa meminta pak Adi untuk memutar musik selama mereka di perjalanan. Menurut keterangan Wijaya, lokasi villa dan pantainya lumayan karena berada di luar daerah mereka tinggal. Lagu terputar, Carissa bergaya ala-ala gadis estetik dengan musik 'on the floor' membuat Abian langsung mengambil ponsel dan membuka kamera, lantas di arahkan ke Carissa.
Carissa asik sendiri, Wijaya hanya melihat dari spion di atas kepalanya. Bibirnya terangkat, tanda bahwa pria paruh baya itu tersenyum.
"Kak, videonya jangan lupa di kirim."
Satu jam berlalu, Carissa sudah tidur dengan kepala berada di bahu Bima. Abian juga sudah menjamah alam mimpi, sementara Wijaya terfokus pada map yang ada. Bima sendiri tersenyum kala mendapatkan pesan dari seseorang.
Mereka tiba tepat mendekati magrib, Carissa dan Abian dibangunkan. Dia melepas kacamata dan mulai memperjelas penglihatannya.
Terlalu lelah bagi Carissa hingga dia tak memperhatikan sekitarnya. Carissa melangkah mengikuti Anis, ibu Bima dari belakang.
"Duh, capek banget!"
Padahal hanya duduk di dalam mobil, tetapi dia mengeluh capek. Didaratkan pantatnya ke sofa empuk, lantas mulai kembali tidur. Bima spontan menarik kerah kemeja Carissa agar gadis itu mau bangun.
"Enak aja mau tidur. Baru juga selesai adzan, pamali tidur jam sekarang!" peringatnya dengan meletakan ponsel di atas meja.
"Ish, baru juga mau merem."
Carissa mendengus kasar dan akhirnya memilih untuk memainkan ponselnya. Detik berikutnya ponsel milik Bima berdering, mau tidak mau Carissa berteriak kencang.
"Bimaaa, ada panggilan dari ceweee!" Carissa berteriak, tetapi Bima tak kunjung muncul dan hanya bersuara saja.
"Angkat aja, bilang gue lagi mandi!"
Carissa menatap ponsel, itu foto profil perempuan. Dia tersenyum licik bersamaan dengan ide cemerlang terbesit dalam otaknya. Carissa lantas menjawab panggilan berupa video call.
"Haloo!" ucapnya heboh, membuat gadis di seberang sana mengernyit heran.
"Bimanya mana? Kok, lo yang jawab panggilannya?"
"Bima lagi mandi, jadi dia nyuruh gue buat jawab panggilannya."
"Kasih hapenya ke Bima, gue mau ngomong sama dia."
"Kan, Bima lagi mandi. Masa lo mau liat dia gak pake baju? Gue aduin tante Anis, bilang kalau ada cewe yang genit ke Bima."
"Dih, gue gak genit. Udah buruan kasih ke Bima!" Gadis itu terlihat kesal.
"Kalau gue nggak mau, gimana? Oh iya, tadi asik banget semobil sama Bima apalagi gue tidur nemplok di bahu dia. Bahunya enak buat senderan," Carissa cekikikan sendiri setelah memanasi gadis itu.
"Kurang ajar, demen lo sama Bima? Gak usah kegatelan deket-deket sama Bima. Siapa, sih ini bocah. Lagian Bima juga katanya ke Villa, tapi kenapa ada perempuan lain, sih?" gerutunya dengan menatap kesal Carissa.
"Santai atuh, mbak. Gue juga nggak bakalan ngambil Bima dari lo, lagian gue udah punya orang yang gue suka."
"Walaupun beda alam, sih!" batinnya miris.
"Yaudah, kasih hapenya ke Bima."
Carissa tanpa pikir panjang, langsung mematikan panggilannya. Dia meletakan ponsel Bima di atas meja, lalu bergerak menuju kamarnya.
Lumayan, lah. Villa milik Wijaya memiliki sekitar lima kamar. Dia merebahkan tubuhnya sendiri, lantas menatap langit-langit kamar.
"Duh, kangen sama papa mama. Kapan, ya bisa balik lagi?" tanyanya sembari menatap malam dari jendela.
Ketukan terdengar dari arah luar kamarnya. Carissa bergegas berjalan dan membuka pintunya. Terlihat Bima dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kenapa?" tanya Carissa dengan menatap ponsel yang berada di genggaman tangan kanan Bima.
"Lo ngomong apa ke Gina? Dia jadi ngambek gini gak mau ngomong!" ketusnya.
"Cuma ngomong kalau lo lagi mandi, udah!" jawabnya acuh.
"Bohong, ini buktinya dia marah."
"Beneran, kok. Udah, ya gue mau mandi."
Carissa bergegas menutup pintu dan tidak peduli dengan panggilan Bima. Hari semakin malam, Carissa memilih diam di villa dari pada harus ikut keluar mencari makan.
Netranya menangkap rasi bintang yang indah. Saat ini Carissa sedang menikmati langit malam dengan duduk di atas ayunan. Bayangan wajah tersenyum Cakra mulai muncul. Gadis itu tersenyum, masih ada sisa-sisa rasa rindu pada pria yang benar-benar telah membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
Tidak ada air mata lagi dan hanya ada senyuman miliknya untuk yang terkasih. Mengambil ponsel dan memotret langit malam, banyak sekali bintang yang bertebaran di atas sana. Dengan kerlap-kerlip yang menghiasi malam sunyinya.
"Dateng ke mimpi gue lagi, ya Cakra."
Setengah jam kemudian, keluarganya datang. Nenek Rima membawakan Carissa dengan burger pesanannya. Gadis itu bergegas beranjak dari sana dan melangkah masuk.
Di sofa, dia nampak menikmati burgernya serta minuman cola. Padahal Wijaya sudah melarangnya untuk makan burger tengah malam, tetapi dasarnya gadis itu keras kepala, mau bagaimana lagi.
"Enak ... " Carissa lantas mengambil satu burger lagi membuat Bima menggeleng keheranan. Padahal dia sangat tahu betul sepupunya ini jika makan tentu tak akan banyak. Mungkin hanya beberapa gigitan saja sudah kenyang.
Setelah makanannya ludes, Carissa bersandar pada sofa dan menepuk pelan perutnya.
"Kenyaang!"
Ada sisa saos tomat di ujung bibirnya, Bima yang melihat itu merasa risih sehingga mengelapnya secara spontan menggunakan tisu. Carissa sedikit tersentak dengan perilaku pria itu dan langsung mematung, sementara nenek Rima hanya tersenyum senang.
Carissa lantas mengembalikan ekspresi awalnya dan langsung mengambil ponsel untuk dimainkan.
Tiba-tiba ponsel milik Bima berbunyi, ada panggilan video dari Gina. Tentu saja pria itu menjawab panggilan itu dengan senang hati, sementara nenek Rima nampak tidak suka.
Berkali-kali Bima mengajak Gina ke rumah nenek dan kakeknya, tetapi mereka dengan terang-terangan menunjukan rasa ketidaksukaan pada gadis itu.
"Halo sayang?" sapanya yang berada di seberang sana.
Telingan Carissa seakan berdiri ketika mendengar suara perempuan dari ponsel Bima.
"Halo Gina. Ini udah malam, kenapa belum tidur?" tanyanya dengan menunjukan senyum termanisnya.
Carissa spontan menampakan wajahnya ke kamera sembari melambai dan tersenyum. Tentu saja Gina langsung berubah raut wajahny menjadi kesal.
"Sayang, apa-apaan kamu? Katanya lagi liburan sama keluarga besar, kenapa malah ada perempuan lain di sebelah kamu?" ketusnya yang masih tidak tahu bahwa Bima sedang duduk bersama keluarganya.
"Loh, kenapa memangnya kalau gue ikut? Iri, ya?" ledeknya dengan menjulurkan lidah ke arah Gina.
Bima langsung mendorong wajah Carissa agar menjauh.
"Anak kecil, sana ... Hush!" usirnya, tetapi Carissa tidak mau mendengar.
"Wleee, bisanya pacaran mulu."
"Sana lo bocil, udah malem jangan kebanyakan begadang!" Bima kali ini menjulurkan lidah, meledek ke arah Carissa. Dia bahkan lupa sedang melakukan panggilan video dengan Gina.
Merasa kesal akibat diabaikan, Gina langsung meninggi suaranya dan menghina Carissa.
"Sayang, kamu itu kenapa main sama perempuan murahan itu, sih?"
Mendengar itu Bima langsung menghentikan aktivitas mengejek Carissa dan langsung menatap neneknya. Terlihat jelas bahwa mereka mendengar apa yang diucapkan oleh Gina, Abian telah mengepal kesal.
"Gina, apa-apaan kamu? Dia itu sepupu aku, bukan perempuan murahan. Jaga omongan kamu!" tegur Bima merasa tak enak, sementara Carissa sudah terdiam mendengar ucapan Gina.
Bukannya tersinggung, dia justru sedang memikirkan skenario apa yang cocok untuk membalas ucapan Gina.
"Kamu, kok malah bela dia? Oh, jadi sekarang kamu udah mulai suka sama dia? Awas aja, kalau aku ketemu sama dia, bakalan aku habisi!"
Abian dengan paksa merampas ponsel Bima dan menampilkan wajahnya ke kamera membuat Gina terkejut. Siapa yang tidak kenal Abian?
"A-Abian?" gagapnya.
"Ngomong apa lo barusan? Lo ngatain adek gue murahan? Mulut lo belom ditabok sama dia?"
Wijaya menggeleng ke arah Abian, bermaksud untuk mengatakan bahwa jangan terlalu berlebihan. Mereka sedang liburan sekarang.
Tante Anis berdiri dan menatap tajam pada Bima.
"Mama udah bilang sama kamu berkali-kali Bima, putusin dia. Lihat, dia sudah berani memaki Carissa, besok-besok dia akan memaki mama dan papa setelah itu semua keluarga kita. Apa kurang cukup bukti yang sudah papa tunjukan ke kamu kalau Gina bukan perempuan yang baik-baik?"
Bima terdiam mendengar ucapan ibunya. Setelah menunjukan bukti di mana Gina berselingkuh, mereka akhirnya putus di depan keluarga besar bahkan Abian menjadi saksinya kecuali Carissa. Namun, karena terpedaya oleh Gina, mereka balikan tanpa sepengetahuan keluarganya.
Gina sudah shock, karena ternyata ada keluarga Bima yang lainnya. Dia ketar-ketir, lalu mulai mencari-cari Anis untuk meminta maaf, sayangnya wanita itu tidak sudi untuk sekedar menatap wajahnya.
"Putusin dia atau papa turunin jabatan kamu jadi karyawan biasa?" ancam Indra pada anak semata wayangnya.
Bersambung...
mampir yuk ke novel aku yang berjudul transmigrasi jiwa Lien Hua
jangan lupa like & komen
saya tahu perasaan clarissa karena gw juga kesel pas bapak gw selingkuh ada mak gw