Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Perpisahan yang Tetap Disambut dengan Cinta
Mereka berjalan pelan menuju sofa sambil tetap saling berpelukan. Begitu duduk, Kinasih langsung mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di dada Kenan sambil mendengarkan detak jantung suaminya. “Mas… janji ya… selama kita masih bersama, jangan pernah membuat Kinasih menangis lagi ya? Biar hari-hari kita cuma diisi cinta dan tawa saja,” pintanya dengan nada manja yang memelas.
Kenan mengusap lembut rambut panjang istrinya, mencium ubun-ubunnya dengan penuh rasa sayang. “Mas janji, Sayang… Mulai detik ini, senyum kamu adalah kebahagiaan Mas, tawamu adalah napas Mas sendiri. Setiap detik yang kita miliki, akan Mas jadikan kenangan terindah yang nggak akan pernah pudar di hatimu dan hatiku,” ucapnya lembut dan dalam.
Kinasih mendongak, menatap mata Kenan dengan pandangan yang penuh cinta, lalu mengecup bibir suaminya sekilas. “Kinasih juga sayang Mas… lebih dari nyawa Kinasih sendiri. Cuma sama Mas rasanya dunia ini terasa lengkap,” bisiknya.
“Mas juga sayang kamu… selamanya dan hanya untuk kamu seorang,” balas Kenan, lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut, mesra, dan penuh makna, seolah ingin menanamkan seluruh rasa cinta yang terpendam jauh di dalam hati masing-masing.
Di sana, tak ada lagi perjodohan, tak ada rasa takut berpisah, tak ada lagi air mata. Hanya ada kehangatan, kemesraan, dan cinta yang meluap-luap, menjadikan setiap momen terasa sangat berharga, seolah waktu berjalan lebih lambat hanya untuk mereka berdua.
Setelah menikmati makan malam romantis yang sederhana namun terasa sangat istimewa, hanya ditemani cahaya lilin dan senyum satu sama lain, Kenan dan Kinasih pun beranjak masuk ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup rapat, tak ada lagi batasan di antara mereka, hanya ada rasa cinta yang membara dan kerinduan yang ingin segera dilepaskan.
Tanpa banyak bicara, Kenan langsung menarik tubuh Kinasih masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan erat. Ciuman mereka pun terjalin dalam kelembutan yang perlahan berubah menjadi penuh gairah, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa sayang yang meluap.
Tangan Kenan bergerak lembut melepaskan setiap helai pakaian yang menutupi tubuh indah istrinya, sementara Kinasih membalas dengan melingkarkan tangannya erat di leher suaminya, mendesah lembut di sela ciuman itu.
“Mas… sayang sekali Kinasih sama Mas… ahhh…” desah Kinasih lirih, tubuhnya terasa meleleh setiap kali disentuh oleh tangan Kenan.
“Mas juga sayang kamu, Sayang… lebih dari apa pun… biarkan Mas memanjakanmu sepuasnya malam ini,” bisik Kenan dengan suara parau, matanya menyala penuh hasrat dan cinta.
Kenan mulai bergerak perlahan memasukkan dirinya ke dalam liang hangat dan ketat milik Kinasih, membuat keduanya sama-sama mendesah panjang. Gerakannya dimulai lembut, lalu makin lama makin dalam, makin cepat, dan makin penuh semangat. Desahan dan erangan mereka pun mulai menggema memenuhi setiap sudut kamar itu, tercampur menjadi satu irama kenikmatan yang tak terlukiskan.
“Ah… Mas… enak sekali… jangan berhenti… ahhh…”“Nikmatilah, Sayang… tubuhmu sempurna sekali… bikin Mas gila dibuatnya… ahhh…”
Mereka mencapai puncak kenikmatan berkali-kali di atas ranjang, namun gairah mereka seolah tak pernah habis. Kenan mengangkat tubuh Kinasih, lalu membawanya berpindah tempat, pertama di atas sofa empuk, di mana Kinasih melingkarkan kakinya erat di pinggang suaminya sambil mendesah kencang menikmati setiap dorongan yang menusuk tepat di titik paling nikmatnya.
Tak cukup sampai di situ, Kenan membawanya ke meja rias, membaringkan tubuh indah itu di atas permukaannya yang halus, lalu bergerak makin dalam dan kuat. Suara gesekan tubuh dan desahan Kinasih yang makin merdu memenuhi ruangan, membuat suasana makin membara.
“Mas… terlalu dalam… ahhh… nikmatnya luar biasa…” desah Kinasih sambil memegang pinggang Kenan erat-erat.
“Begini saja, Sayang… kita miliki satu sama lain sepuas hati… malam ini milik kita berdua saja,” jawab Kenan dengan napas memburu.
Mereka pun berpindah lagi, kali ini ke meja makan di ruang tengah, tempat tadi mereka berbagi kehangatan makan malam, kini berubah menjadi saksi bisu persatuan cinta mereka yang membara. Di sana, Kenan mendorong tubuh Kinasih membungkuk, lalu memasukkan dirinya kembali dengan satu dorongan kuat, membuat Kinasih mendesah melengking sambil memegang tepi meja erat sampai buku jarinya memutih.
Di setiap tempat, di setiap posisi, gairah mereka seolah tak pernah habis. Cinta yang mereka miliki meluap menjadi hasrat yang membakar, membuat mereka terus menyatu, mencapai klimaks berkali-kali sampai tenaga mereka benar-benar terkuras habis. Hingga akhirnya, dalam satu pelukan erat yang terkulai lemas, keduanya terbaring berpelukan, terengah-engah, dan hanya bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna, menikmati setiap detik yang mereka miliki sepenuh hati.
Hari pun berganti hari, bulan pun berlalu silih berganti. Enam bulan yang terasa begitu singkat itu dijalani Kenan dan Kinasih dengan sepenuh hati, seolah waktu takkan pernah berhenti untuk mereka. Keintiman, cinta, dan kebahagiaan yang mereka bangun terasa tak ada habisnya, setiap detik, setiap jam, diisi dengan tawa, pelukan hangat, dan persatuan raga yang selalu terasa baru, penuh gairah sekaligus penuh makna. Bagi mereka, dunia hanya milik berdua, seolah tak ada hari esok yang menyakitkan menanti di depan mata.
Sampai tibalah hari yang ditunggu sekaligus ditakuti itu: hari di mana Kinasih resmi menyelesaikan pendidikannya dan lulus menjadi seorang dokter muda.
Upacara wisuda berlangsung megah dan khidmat di aula kampus. Ibu dan kakak kandung Kinasih hadir di antara para tamu, tersenyum bangga sambil meneteskan air mata haru melihat putri dan adik kesayangannya mengenakan toga dan menerima ijazah kelulusannya. Amara pun hadir, berdiri di barisan terdepan, ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.
Namun di tengah keramaian dan kebahagiaan itu, hati Kinasih terasa kosong. Matanya terus menyapu setiap sudut ruangan, berulang kali menoleh ke arah pintu masuk, berharap sosok yang paling ia cintai itu akan muncul, tersenyum, dan melambaikan tangan kepadanya. Ia sudah membayangkan sejak lama, bagaimana Kenan akan datang dengan senyum bangga, memeluknya erat, dan mencium keningnya sebagai tanda kebahagiaan.
Tapi menunggu terus menunggu… Kenan tak kunjung datang.
Jam terus berjalan, upacara selesai, tamu mulai berdatangan memberi ucapan selamat, namun sosok yang paling dinanti itu tak pernah terlihat di mana pun. Ponsel Kinasih pun hanya hening, tak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari suaminya itu. Senyumnya perlahan memudar, rasa bahagia yang semula memenuhi hatinya perlahan berganti dengan rasa sesak dan kesedihan yang perlahan merayap masuk, mengingatkannya kembali pada kenyataan pahit yang sudah ia janjikan sendiri.
Enam bulan sudah genap waktunya.
Dan Kenan… benar-benar tak ada lagi untuknya.
Setelah rangkaian acara wisuda selesai, Ibu dan Kakak kandung Kinasih berpamitan untuk kembali ke Bandung. Mereka memeluk Kinasih bangga, berpesan agar ia menjaga diri dan menyelesaikan sisa urusan kampusnya dengan baik sebelum pulang nanti. Kini, Kinasih sendirian lagi di Jakarta, namun ia tak langsung pulang ke kostan, melangkah pasti menuju satu-satunya tempat yang masih ia anggap rumah, apartemen Kenan.
Sesampainya di sana, ia mandi, merapikan diri dengan sangat hati-hati, lalu mengenakan pakaian kesukaan suaminya itu, lingjere merah maroon yang lembut, transparan, dan menonjolkan keindahan tubuhnya sempurna. Rambutnya diurai tergerai, wajahnya dihias dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat makin memikat, dan ia menyemprotkan sedikit parfum kesukaan Kenan ke seluruh tubuhnya.
Ia duduk menunggu di ruang tengah dengan hati berdebar, sabar meski rasa cemas sempat menyelimuti tadi. Ia memilih percaya, bahwa Kenan pasti akan datang kembali padanya, setidaknya untuk memenuhi janji sampai saat perpisahan itu tiba.
Tak lama kemudian, terdengar suara kunci memutar di lubang pintu. Pintu terbuka perlahan, dan Kenan melangkah masuk dengan langkah yang berat, wajahnya pucat dan lelah, seolah baru saja melewati hari yang terberat dalam hidupnya. Namun begitu matanya menangkap sosok Kinasih yang berdiri menyambutnya, langkahnya terhenti mendadak. Matanya terbelalak lebar, napasnya tercekat, dan seluruh kelelahan itu seolah lenyap seketika tergantikan oleh kejutan sekaligus hasrat yang langsung membara membakar seluruh tubuhnya.
Kinasih tersenyum manis, lalu berjalan mendekat dengan langkah lembut dan gemulai. Begitu sampai di hadapan suaminya, ia langsung melingkarkan kedua lengannya memeluk leher Kenan erat, menempelkan seluruh tubuhnya yang hangat dan lembut itu ke dada Kenan, lalu berbicara dengan nada yang sangat mesra, lembut, dan manja khas dirinya.
“Selamat datang kembali, Mas… Kinasih sudah menunggu dari tadi lho… Maafkan Kinasih ya kalau tadi Mas tak bisa hadir… tapi Kinasih mengerti kok… yang penting Mas sudah pulang sekarang, di sini sama Kinasih lagi…” bisiknya lirih, lalu mencium perlahan sudut bibir Kenan, mengusap punggung leher suaminya dengan jari-jarinya yang halus.