Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tiga jam berlalu begitu saja, dan sesi perawatan mereka pun akhirnya selesai. Keduanya tampak jauh lebih segar, rileks, dan wajah mereka bersinar cantik sehabis dimanjakan dengan berbagai perawatan tubuh dan wajah.
Saat berdiri dari kursi perawatan, Suci menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Rasanya seolah beban berat yang selama ini dipikulnya perlahan mulai terangkat. Ia segera menoleh ke arah Samantha dengan mata berbinar penuh rasa syukur.
"Sam, terima kasih banyak ya... terima kasih sudah mentraktirku semua ini," ucap Suci tulus, suaranya terdengar lembut namun penuh kehangatan. "Rasanya tubuhku jadi enteng sekali, dan aku merasa seperti punya energi baru lagi. Sudah sangat lama sekali aku tidak pernah merasakan hal senyaman ini."
Samantha tersenyum bahagia melihat perubahan suasana hati sahabatnya itu. Ia menepuk lembut bahu Suci. "Sama-sama, Suci. Lihat kan? Kamu terlihat jauh lebih cantik dan bersinar sekarang. Senang sekali rasanya bisa melihatmu tersenyum kembali seperti ini."
Setelah membereskan barang-barang mereka, keduanya pun melangkah keluar dari ruangan itu. Kali ini, saat melewati area lobi, Lita sudah tidak terlihat lagi, sepertinya ia sudah pergi lebih dulu karena malu. Mereka pun berjalan santai menuju mobil dan melajukan kendaraan mereka meninggalkan tempat itu.
Karena merasa perut mulai terasa lapar, Samantha mengajak Suci untuk mampir makan terlebih dahulu sebelum pulang. Ia membawa sahabatnya itu ke sebuah restoran yang suasananya tenang, bersih, dan menyajikan makanan yang lezat namun tetap sederhana.
Begitu duduk dan memesan makanan, mereka kembali bisa mengobrol dengan gembira tanpa beban, menikmati hidangan yang datang sambil tertawa bersama. Suasana kebersamaan itu menjadi obat yang paling indah bagi hati Suci yang selama ini terluka, sekaligus menjadi momen berharga bagi Samantha yang ingin selalu menjaga persahabatan mereka.
Saat mereka sedang asyik menyantap hidangan dan tertawa lepas melepaskan penat, seorang wanita berpenampilan anggun dan rapi melangkah masuk ke restoran itu. Itu adalah Amara, istri dari kakak laki-laki Samantha, Aslan. Ia baru saja selesai mengadakan pertemuan bisnis dengan klien di sekitar tempat itu dan memilih mampir untuk makan siang sendirian.
Saat matanya menyapu ruangan, Amara langsung mengenali sosok adik iparnya. Wajahnya seketika berseri, lalu ia berjalan mendekati meja tempat mereka duduk.
"Samantha! Ternyata kamu ada di sini," sapa Amara ramah sambil tersenyum lebar. Matanya kemudian beralih ke arah Suci, dan Samantha pun segera berdiri untuk memperkenalkan mereka.
"Kak Amara! Mari duduk dulu," ajak Samantha sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Ini Suci, sahabat karibku sejak sekolah dulu. Dan Suci, ini Kak Amara, istri Kak Aslan."
Mereka pun saling menyapa dengan sopan. Amara tampak senang bisa bergabung, lalu memesan makanan ringan untuknya sambil ikut duduk mengobrol bersama mereka.
Saat suasana obrolan mulai cair, Samantha pun menceritakan rencananya yang sudah matang. "Ngomong-ngomong, Kak. Sebenarnya aku dan Suci sedang membicarakan rencana masa depan. Aku berniat ingin membuka usaha sendiri, yaitu sebuah salon kecantikan. Dan aku sudah meminta Suci untuk membantuku sebagai asisten utamaku di sana nanti."
Mendengar penjelasan itu, mata Amara langsung berbinar penuh antusiasme. Ia menatap mereka berdua dengan senyum puas.
"Wah, itu ide yang sangat luar biasa!" seru Amara dengan tulus. "Aku sangat setuju dan mendukung usulanmu itu, Sam. Kamu memang berbakat di bidang kecantikan, dan kalau dikerjakan bersama Suci yang sudah kamu percayai, aku yakin usahamu pasti akan sukses besar. Keluarga kita pun pasti akan merasa bangga mendengarnya."
Suci yang mendengar dukungan itu merasa sangat terharu. Terlebih lagi karena dukungan itu datang dari keluarga besar Alexander yang sangat dihormati, membuatnya merasa semakin yakin bahwa masa depannya perlahan mulai terbuka kembali.
"Terima kasih banyak, Kak Amara. Saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin untuk membantu Samantha," ucap Suci dengan tulus.
"Kami percaya padamu, Suci. Semangat ya untuk rencana kalian ini," balas Amara penuh semangat, membuat suasana makan siang itu menjadi semakin hangat dan penuh harapan baru.
Setelah selesai menyantap makanannya, Amara melihat jam di pergelangan tangannya dan tersadar masih ada jadwal pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Ia pun segera menaruh serbet di atas meja, lalu menatap kedua sahabat itu dengan senyum hangat.
"Maaf ya, Sam, Suci. Sepertinya aku harus pamit dulu. Masih ada sedikit urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan sore ini," ucap Amara sambil berdiri.
"Tidak apa-apa, Kak. Terima kasih sudah mampir dan mengobrol sebentar bersama kami," jawab Samantha sambil ikut berdiri, begitu pun Suci.
"Sampai jumpa lagi, Kak Amara. Terima kasih atas dukungannya tadi," tambah Suci dengan sopan.
"Hati-hati di jalan ya, kalian berdua. Sukses selalu untuk rencana salonnya," pesan Amara sebelum melambaikan tangan dan melangkah keluar meninggalkan restoran.
Setelah kepergian Amara, mereka pun segera membereskan barang-barang dan bersiap untuk pulang. Sebelum menuju ke rumah Suci, Samantha menyempatkan diri berhenti sejenak di toko kue dan makanan khas yang cukup terkenal. Ia membeli beberapa jenis makanan yang enak dan bergizi, cukup untuk dinikmati oleh ibu Suci di rumah.
"Ini untuk Ibu ya, Suci. Katakan padanya agar tetap sehat dan jangan banyak pikiran," ucap Samantha sambil menyerahkan kantong berisi makanan itu kepada Suci saat sudah berada di dalam mobil.
Suci menatapnya dengan mata berkaca-kaca, rasa terima kasihnya tak pernah putus. "Kamu benar-benar terlalu baik, Sam. Padahal kamu sudah banyak membantuku, tapi kamu juga masih memikirkan Ibu. Entah bagaimana aku harus membalas kebaikanmu ini."
Samantha tersenyum lembut sambil menyalakan mesin mobil. "Sudah, jangan bicara begitu. Kita kan saudara. Sekarang mari kita jalan, nanti sudah sore. Aku ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat."
Mobil pun melaju perlahan menuju perumahan sederhana tempat tinggal Suci, membawa kehangatan dan harapan kecil yang mulai menyinari kehidupan mereka.
Mobil Samantha baru saja berhenti di depan rumah Suci yang tampak sepi dan sunyi seperti biasanya. Belum sempat mesin dimatikan sepenuhnya, tiba-tiba dari balik dinding rumah yang rapuh itu terdengar suara teriakan kasar yang meledak, memecah keheningan sore hari.
"Kau ini memang tidak berguna! Hanya memberi makan saja tidak becus! Apa kau ingin aku mati kelaparan di rumah ini?!"
Suara itu jelas milik ayah tiri Suci. Tak lama kemudian, terdengar suara benda jatuh terbanting, disusul suara isak tangis seorang wanita yang tertahan namun penuh kepedihan. Itu adalah suara ibunya Suci.
"Maafkan saya, Pak... tadi makanannya gosong sedikit karena api terlalu besar. Nanti saya akan masak ulang, sebentar saja selesainya..." suara ibu Suci terdengar gemetar penuh ketakutan.
"Masak ulang katamu?! Sudah lapar begini mau menunggu lagi? Dasar wanita sialan!" bentak pria itu lagi, dan sesaat kemudian terdengar suara tamparan keras yang membuat hati siapa pun yang mendengarnya serasa teriris.
Di dalam mobil, wajah Suci seketika berubah pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya mencengkeram ujung pakaiannya dengan erat. Air matanya langsung menetes deras mendengar penderitaan ibunya yang sedang disiksa di dalam sana.
"Ibu... Ibu sedang dipukulinya..." isak Suci lemah, suaranya tercekat di tenggorokan.
Mendengar itu, darah Samantha seketika mendidih. Rasa marah bercampur iba meluap di dadanya. Ia tidak bisa membiarkan kejahatan itu terus terjadi di depan matanya.
"Tenanglah, Suci. Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Ibu lagi. Ikut aku," ucap Samantha dengan nada tegas namun berusaha menenangkan, lalu ia segera membuka pintu mobil dan melangkah cepat menuju pintu rumah itu, diikuti oleh Suci yang berjalan terhuyung-huyung di belakangnya.
Tanpa ragu, Samantha mengetuk pintu itu dengan keras dan lantang, berniat menghentikan kekejaman yang sedang berlangsung di dalamnya.
Bersambung...