NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Pertemuan di Meja Makan

Aroma sup daging rusa langit yang gurih bercampur wangi roti gandum panggang segar menyeruak dari arah ruang makan utama The Sky Leviathan.

Matahari pagi baru saja terbit, memancarkan gelombang cahaya keemasan yang menembus jendela-jendela kaca besar di sepanjang dinding kapal.

Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu ek kuno telah ditata rapi oleh Bernet.

Ini adalah pagi pertama di mana seluruh penghuni kabin utama berkumpul untuk sarapan bersama atas permintaan tegas dari Clara.

Clara duduk di sisi kanan meja, mengenakan gaun pagi sederhana berwarna biru pucat yang menyembunyikan sebagian besar perban di lengan kanannya.

Di sampingnya, Toby duduk di atas kursi yang ditinggikan, sibuk memainkan sendok peraknya dengan wajah ceria yang bebas dari sisa teror malam.

Di seberang mereka, Leo duduk dengan melipat kedua tangannya di dada, wajahnya sengaja ditekuk masam untuk menyembunyikan rasa canggungnya setelah insiden ledakan api kemarin sore.

Sementara itu, Rin duduk dengan tenang di sebelah Leo, memeluk buku catatan bersampul kulit hitam pemberian Clara erat-erat di pangkuannya.

Suasana hening yang tegang mendadak menyelimuti ruangan ketika pintu kayu besar bergeser terbuka.

Kapten Alden melangkah masuk. Pria itu tidak lagi mengenakan jubah perang hitamnya, melainkan kemeja putih militer yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memberikan kesan yang sedikit lebih santai namun tetap memancarkan aura kepemimpinan yang kuat.

Tatapan abu-abu badainya menyapu seluruh meja makan, sempat tertahan selama dua detik pada wajah Clara sebelum ia mengambil posisi duduk di ujung meja, sebagai kepala keluarga.

"Selamat pagi, Kapten," sapa Clara dengan senyum tenang, memecah keheningan yang sempat membekukan atmosfer ruangan.

Alden mengangguk pelan. "Selamat pagi." Ia melirik ke arah Bernet yang berdiri di sudut ruangan. "Bernet, hidangkan makanannya."

Dengan sigap, Bernet dan beberapa pelayan menyajikan mangkuk-mangkuk sup hangat, potongan daging panggang, dan selai buah beri langit ke atas meja.

Untuk beberapa menit pertama, hanya terdengar dentingan halus antara sendok dan piring porselen.

Anak-anak makan dengan tertib, sebuah kebiasaan militer yang tampaknya ditanamkan dengan keras oleh Alden.

Namun, keheningan yang terlalu kaku ini membuat Clara merasa tidak nyaman. Sebuah rumah, bahkan yang terbang di atas awan sekalipun, tidak seharusnya terasa seperti barak militer saat waktu makan.

Clara menoleh ke arah Rin, lalu mengangkat tangan kirinya untuk menggerakkan jari-jemarinya dalam beberapa pola gerakan yang lembut, bahasa isyarat kuno yang ia janjikan kemarin.

'Apakah supnya enak, Rin?' isyarat Clara.

Mata indigo Rin berbinar terang. Ia dengan cepat meletakkan sendoknya, membuka buku catatannya, dan menuliskan sesuatu dengan pena bulu sebelum menunjukkannya pada Clara dengan wajah bersemangat.

'Sangat enak, Ibu! Selai berinya juga manis,' tulis Rin.

Alden, yang sedang memotong daging di piringnya, menghentikan gerakannya seketika. Sepasang matanya menyipit menatap interaksi tersebut. Ia memandangi buku catatan di tangan Rin, lalu beralih menatap Clara. "Kau benar-benar mengajarinya bahasa isyarat?"

"Benar, Kapten," jawab Clara tanpa ragu, membalas tatapan suaminya dengan jernih. "Rin memiliki banyak hal yang ingin ia sampaikan. Menguncinya dalam keheningan hanya karena kekuatannya besar adalah sebuah ketidakadilan. Dengan bahasa isyarat, ia bisa berbicara tanpa perlu mengaktifkan suara Sirene-nya."

Alden terdiam, rahangnya sedikit mengeras. Ada kilasan rasa bersalah yang lewat di matanya yang dalam.

Selama ini, solusi terbaik yang bisa ia pikirkan sebagai seorang tentara untuk melindungi kru kapal hanyalah dengan memasang segel perak di leher putrinya dan meminta semua orang mengabaikan keheningannya. Ia tidak pernah berpikir untuk mencari cara alternatif agar Rin tetap bisa berkomunikasi layaknya anak normal.

"Itu... hal yang tidak berguna," gumam Leo ketus, berusaha menarik kembali perhatian yang terpusat pada adiknya. Anak sulung itu menusuk potongan dagingnya dengan kasar. "Di atas kapal perang, bahasa isyarat tidak akan menyelamatkanmu dari meriam bajak laut langit."

Clara tidak marah mendengar ketusannya Leo. Ia justru tersenyum tipis, menatap anak laki-laki berbaju merah itu dengan tatapan jenaka. "Mungkin tidak bisa menahan meriam, Leo. Tapi bahasa isyarat sangat berguna untuk mengirimkan pesan rahasia di antara kru tanpa perlu berteriak dan membiarkan musuh mendengar strategimu. Bukankah begitu, Kapten?"

Alden mendongak, sedikit terkejut karena Clara melibatkan opininya dalam perdebatan taktis ini. Namun, sudut bibir sang Kapten berkedut samar, membentuk senyuman paling tipis yang hampir tidak disadari oleh siapa pun kecuali Clara. "Secara militer, apa yang dikatakan ibumu benar, Leo. Kode isyarat tangan adalah bagian dari pelatihan pengintai tingkat tinggi."

Leo langsung bungkam, wajahnya mendadak memerah antara malu karena argumennya dipatahkan dan rasa aneh di dadanya saat mendengar ayahnya sendiri menyebut Clara dengan kata 'ibumu'.

"Ibu hebat! Ibu juga bisa mengusir hantu monster bermata banyak tadi malam!" celoteh Toby riang sambil mengangkat sendoknya tinggi-tinggi, membuat suasana meja makan yang sempat kaku berganti menjadi lebih hidup.

Alden meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Toby dengan serius. "Toby, apa kau tidur nyenyak tadi malam?"

"Sangat nyenyak, Ayah! Karena Ibu memeluk tangan Toby dan meniupkan bubuk emas yang hangat. Monster asapnya langsung lari ketakutan," jawab Toby polos dengan mulut yang sedikit belepotan selai buah.

Alden mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Clara. Ada rasa hormat yang baru yang mulai tumbuh di dalam hati pria sedingin es itu. Tiga anaknya, yang biasanya selalu membuat setiap pengasuh mengundurkan diri dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam dengan tangisan atau luka bakar, kini duduk dengan tenang di meja makan, bahkan mulai membela wanita itu.

"Terima kasih untuk tadi malam, Clara," ujar Alden, suaranya terdengar lebih lembut dan dalam dibandingkan nada bicaranya yang biasa.

Ini adalah pertama kalinya ia memanggil nama Clara tanpa embel-embel jabatan atau nada ketus. "Bernet memberi tahu saya bahwa Anda menggunakan bubuk akar cahaya milik Anda sendiri."

"Itu adalah hal kecil yang bisa saya lakukan, Kapten. Tugas saya di sini adalah memastikan anak-anak merasa aman," jawab Clara, merasakan desiran hangat yang aneh di dadanya saat mendengar namanya diucapkan oleh Alden dengan cara seperti itu.

"Namun, tanganmu masih terluka," lanjut Alden, pandangannya turun ke arah perban yang membungkus tangan kanan Clara. Pria itu berdiri dari kursinya setelah menyelesaikan makanannya. "Setelah sarapan ini selesai, datanglah ke ruang kerja saya di dek atas. Saya memiliki sesuatu yang mungkin bisa membantu meringankan rasa sakit akibat luka bakar Phoenix."

Tanpa menunggu jawaban, Kapten Alden mengangguk hormat kepada Clara dan anak-anak, lalu melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah tegapnya yang khas.

Clara memandangi kepergian suaminya dengan perasaan campur aduk. Dinding es yang menyelubungi Kapten Alden dan anak-anaknya perlahan-lahan mulai menunjukkan retakan besar.

Di atas kapal terbang yang dingin dan penuh dengan rahasia magis ini, Clara mulai melihat secercah harapan bahwa pernikahan kontrak ini mungkin saja berubah menjadi sesuatu yang nyata, sebuah awal dari pembentukan sebuah keluarga sejati.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!