"Mama sudah bilang jangan sampai kakak mu terluka, tapi mengapa ketika pulang kakak mu masih terluka? apa kamu tidak mendengar ucapan mama ha?" teriak Tiara memarahi anak bungsunya karena membiarkan sang kakak Allea Akifa Gavaputri atau yang akrap di panggil Lea terjatuh dan menyebabkan lututnya lecet.
Alia Shakeela Zanitha hanya terdiam menggigit bibirnya mencoba menahan rasa sakit yang menerpa kulitnya sebisa mungkin. Gadis yang berusia 10 tahun itu bahkan tidak berani mengeluarkan suara sekecil apapun atau Tiara akan tambah murka dan memarahinya.
Sepenggal kenangan buruk yang terus terulang dalam mimpinya, membuat Alia selalu di hantui rasa ketakutan yang berlebih walau Tiara sudah meninggal sekalipun.
Kehidupan yang Alia alami terasa sangat sulit di tambah dengan kondisi sang kakak Alea yang mengidap autis.
Mampukah Alia bangkit dan keluar dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya? adakah secercah harapan yang bisa membuatnya keluar dari rasa putus asa yang menyelimutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
"Ampun ma Al benar benar tidak tahu..." teriak Alia dengan tiba tiba sambil berjongkok di bawah dengan menutup telinganya rapat rapat sambil terus menunduk, membuat Fabian yang berada tak jauh dari tempatnya lantas langsung menoleh ketika mendengar teriakan Alia yang tiba tiba barusan.
"Al..." panggil Fabian ketika mendengar teriakan Alia barusan sambil berusaha menenangkan Alia sebisanya.
***
Area depan Resto
Setelah Fabian melihat Alia sudah cukup tenang, Fabian lantas menyodorkan satu botol air mineral yang sudah di buka penutupnya ke arah Alia.
Alia yang melihat Fabian menyodorkan sebotol air mineral, lantas langsung meminumnya tanpa banyak protes lagi.
"Apa kamu sudah tenang sekarang?" tanya Fabian kemudian setelah melihat Alia meletakkan botol tersebut.
"Kamu pasti menganggap ku aneh bukan? tak usah sungkan katakan saja, itu sudah menjadi makanan keseharian ku sejak dulu." ucap Alia dengan nada yang datar.
"Aku bahkan belum mengatakan apapun tapi kamu sudah menuduh ku macam macam. Aku tidak pernah menghakimi seseorang karena setiap orang memiliki luka traumanya sendiri sendiri yang tidak akan pernah di ketahui oleh publik sebelumnya. Jadi kenapa kamu harus minder? ketika semua orang bahkan juga memilikinya." ucap Fabian panjang kali lebar kali tinggi.
Sedangkan Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan hanya bisa terdiam, Fabian yang dari luaran terlihat tenang dan juga santai rupanya juga memiliki sisi lain dari dirinya yang tidak di ketahui banyak orang. Alia bahkan sangat kagum akan sifat kedewasaannya yang begitu tenang dalam menyelesaikan sebuah masalah.
"Ada apa melihat ku seperti itu? awas nanti naksir?" ucap Fabian dengan nada yang menggoda.
Sedangkan Alia yang mendengar ledekan tersebut lantas langsung melotot tak percaya akan ucapan Fabian barusan.
"Yang benar saja, itu tidak akan mungkin. Lagi pula kita baru beberapa kali bertemu dan aku sama sekali tidak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama." ucap Alia menegaskan yang lantas membuat Fabian tersenyum ketika mendengarnya.
"Tidak ada yang pernah tahu Al, mungkin kamu sudah merasakannya tapi kamu belum menyadarinya." ucap Fabian dengan nada yang lirih.
"Mana mungkin aku tidak menyadarinya..." ucap Alia sambil memalingkan wajahnya ke kanan menatap ke arah atas dan pandangannya terhenti pada sebuah tiang dimana di bagian atasnya terdapat kamera pengawas yang menunjuk ke arah pintu keluar Resto menuju jalan raya. "Tunggu Bi, bisakah aku melihat rekaman kamera pengawas di sebelah sana?" ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah kamera pengawas yang tadi sempat tak sengaja di lihatnya.
Mendengar ucapan Alia barusan Fabian lantas langsung menoleh dan menatap ke arah yang di tunjuk oleh Alia barusan.
"Iya juga ya... kenapa kita tidak terpikir untuk melihatnya?" ucap Fabian kemudian yang lantas membuat Alia memutar bola matanya jengah ketika mendengarnya.
"Kita? kamu aja kali aku enggak..." ucapnya mengkoreksi ucapan Fabian barusan.
Sedangkan Fabian yang mendengar hal itu hanya bisa geleng geleng kepala ketika mendengar ucapan Alia barusan.
"Dasar cewek!" ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alia meskipun samar.
"Apa kamu bilang?" ucap Alia kemudian ketika mendengar sesuatu yang sepertinya Fabian tengah mengoloknya barusan.
"Tidak ada..." ucap Fabian berdalih sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Hei kamu mau ke mana setelah mengejek ku barusan? katakan dulu padaku, apa ucapan mu barusan?" pekik Alia dengan nada yang penasaran.
"Mau ke ruang kontrol, bukankah kamu ingin melihat rekaman kamera pengawas untuk mencari keberadaan kakak mu?" ucap Fabian kemudian sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kontrol di Restonya.
"Tunggu aku ikut... " teriak Alia kemudian sambil ikut bangkit dan menyusul langkah kaki Fabian yang berlalu pergi sebelumnya.
****
Apartment Ardan.
Keduanya nampak masuk ke dalam apartment Ardan dnegan langkah kaki perlahan. Ardan melepaskan jas yang ia kenakan sedari tadi kemudian menggantungnya, sedangkan Allea yang baru melihat apartment milik Ardan, lantas tersenyum kagum karena setiap interiornya di desain dengan sangat cantik dan juga rapi.
"Kupu kupu!" pekik Allea ketika melihat salah satu pajangan dinding Ardan yang berbentuk kupu kupu.
Ardan yang mendengar hal itu lantas langsung menoleh karena ia sendiri bahkan tidak tahu kalau memiliki pajangan berbentuk kupu kupu.
"Kenapa aku baru menyadarinya? kapan aku membelinya ya?" ucapnya dalam hati ketika mendengar ucapan Allea barusan.
Allea yang melihat ada hiasan dinding kupu kupu, lantas mendekat ke arah pajangan tersebut dan menatap dengan antusias sambil tersenyum bahagia seakan telah melupakan masalahnya begitu saja.
Ardan kemudian lantas melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil minuman di kulkas miliknya, Ardan tahu pasti Allea haus saat ini. Ardan kemudian menuang jus jeruk instan dan langsung membawanya kembali ke arah Allea yang masih berada di ruang tengah.
"Minumlah Lea kamu pasti haus bukan..." ucapnya sambil mengulurkan segelas jus jeruk tersebut ke arah Allea yang masih mengamati kupu kupu sedari tadi.
Entah Allea yang terlalu semangat atau memang Allea yang tidak tahu Ardan menyodorkan gelasnya terlalu dekat, tepat setelah Allea berbalik, ia malah menabrak gelas pemberian Ardan hingga tumpah dan membasahi baju yang ia kenakan.
"Ah... baju ku..." ucap Allea yang terkejut karena bajunya terkena tumpahan jus jeruk.
Ardan yang melihat hal itu lantas langsung mengambil beberapa tisu di sebelahnya dan membantu membersihkan baju Allea.
"Maaf maaf aku tidak sengaja..." ucap Ardan sambil berusaha mengeringkan baju Allea menggunakan tisu, namun yang terjadi bukanlah bersih malah semakin kotor karena tisu yang basah terkena jus menempel di baju Allea.
"Oh ****" gerutu Ardan dalam hati yang malah membuat semakin kacau. "Sebaiknya kamu ke kamar mandi dan membersihkannya, aku akan mencarikan mu baju ganti milik ku yang sementara ini bisa kamu pakai." ucap Ardan kemudian.
"Mandi? aku tadi sudah mandi..." tolak Allea sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, maksud ku jika kamu tidak membersihkannya tubuh mu bisa lengket karena terkena tumpahan jus." ucap Ardan menjelaskannya kepada Allea.
"Benarkah?" tanya Allea yang tidak langsung percaya.
"Iya, mangkanya sekarang kamu harus membersihkannya dulu." ucap Ardan lagi.
"Baiklah" ucapnya kemudian mengangguk menyetujui opsi dari Ardan.
"Jika begitu, kamu jalan lah lurus ke depan setelah itu belok ke kanan sedikit, ruangan nomor 2 dari kanan dengan pintu berwarna biru itu kamar mandinya." ucap Ardan menjelaskan yang di balas Allea dengan anggukan.
Ardan melihat kepergian Allea hingga menghilang dari pandangannya, setelah itu menggaruk keningnya yang tidak gatal karena bingung harus memberi baju apa pada Allea.
"Baju apa yang akan aku berikan padanya? mana punya aku baju untuk perempuan?" ucap Ardan dengan bingung.
Bersambung
emang kamu tau gmn hubungan shila dan fabian.. kamu baru kenal... kamu gk da hubungan apa2 dgn fabian.. kok bisa langsung ngatain ulat gatel.. klo dulu mereka deket n punya hubungan gmn.. malah bisa d bilang kamu yg iri dan dengki ama shila... klo merasa org baru dan shila yg udah lbh lama.. y hrsnya sebatas ngerasa gk nyaman aja.. krn hrs inget alia yg org baru dan jg bkn siapa2 utk fabian..🤔. tp yg namanya dah d kuasai cemburu y gitu... hilang kesadaran dirinya.. cm bisa ngejelekin n nyalahin org yg gk d suka.. kebanyakan manusia sekarang y begini😌🤭
menikah cm utk 2bln terus bakal d cerai klo gk hamil🙄🙄
mencoba berpikir.. apa ini dr sudut pandang seorg anak yg masih muda... krn dulu masa masih bocah selalu berpikir orgtua jahat.. ortu gk adil.. lebih sayang saudara yg lain dr pd diri sendiri... merasa lebih banyak kena marah.. merasa lebih banyak dpt beban.. jd berasa gk d sayang.... tp dan tapi..... berjalannya waktu... mengerti dan paham.. ternyata itu bkn krn ortu gk sayang.. klo dulu menganggap setiap hal yg ortu lakukan utk kita adalah sebuah tekanan ke kita.. tp setelah kedewasaan hadir tau maksud dan tujuan dr setiap yg ortu ucapkan dan lakukan.. klo pas dulu mah boro2 ngerti.. soalnya udah ke tanam dlm pikiran ortu gk sayang.. ortu lebih sayang ke yg lain.. ortu gak adil.. jd apa pun yg ortu lakuakan dan omong y salah.. dan d anggap sbg siksaan..itulah pemikiran anak2.. klo sudah datang kedewasaan itu baru bisa membuka pikiran dan memahami maksud semuanya...
misal bocah yg minta eskrim tp gk d kasih n d omongin tegas klo gk boleh makan es krim nanti sakit.. bocah kebanyakan bakal langsung berpikir ibunya jahat n gak sayang ke dia.. atw saat si kakak d kasih uang saku lebih banyak dr dia.. atw si kakak udah d kasih fasilitas yg lebih dr si adik.. nanti mikirnya ortu gk adil pilih kasih.. lebih sayang ke kakak.. ini hal yg biasa d pikiran para bocah😅🤭
gmn anak bisa jd bijak dan mengayomi sedang figur ortunya aja gk mencontohkan pd anak2 semua hal itu🙄🙄
ini yg menjadi ortu sebenernya siapa 🙄
klo aku jd ardan.. anak cowok.. udah ada kata dr papanya tuh " klo gk mau mengembalikan..." artinya papanya berharap ardan melepas jabatannya.. yo wes lepasin aja.. mandiri usaha sendiri.. kerja apa pun meski gk tinggi jabatan.. meski cm pekerja biasa yg penting gk tertekan.. gk d remehkan... lebih d hargai..