Novel ini adalah sekuel dari Novel My Husband Is My Secret Lover (Ketika dendam dan cinta tumbuh secara bersamaan)
Cuplikan bab
Lima tahun berlalu, Janetha kembali ke Indonesia dengan membawa seorang anak lelaki berusia lima tahun.
“Janeth, siapa anak ini?” tanya Shian yang tak sengaja bertemu dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Beberapa tahun ini pemuda yang telah tumbuh menjadi pria dewasa itu terus mencari keberadaan Janetha Anjani tetapi ia selalu gagal.
Janeth terlihat begitu terkejut saat wajah yang sangat ia benci itu tiba-tiba berada di hadapannya. Perasaan yang telah lama ia pendam dalam lima tahun belakangan ini terpaksa harus muncul kembali.
“Dia anakku! Jangan menyentuhnya!” gertak Janeth. Shian gemetar hebat saat mendapati gadis itu begitu terlihat marah, namun mata pria itu tak dapat terlepas dari wajah balita yang begitu mirip dengannya tersebut.
Siapakah anak tampan itu? Apakah ia memiliki hubungan dengan Shian?
Happy Reading ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Meilina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Second Kiss
Bagaikan kedua insan yang sedang dimabuk asmara, Shian dan Janeth kini sedang duduk di halaman hotel yang telah dihias tersebut, sebuah taman dengan lampu-lampu romantis yang menerangi, beberapa bunga baby breath pun tampak sempurna terpasang di beberapa spot halaman itu.
“Shian, apa kau serius akan menikahiku?” tanya Janeth, ia melihat langit yang penuh germelap cahaya bintang. Sesekali memeriksa jari manisnya yang kini telah melingkar sebuah cincin bertuliskan insial SJ.
“Apa kau pikir uang delapan ratus juta itu sedikit, Janeth?” Shian merengkuh pinggang ramping Janeth, membuat gadis itu membentur dada bidang Shian.
“Jadi kau sungguh-sungguh ingin membeliku!” Janeth berusaha menjauhkan tubuhnya dari Shian tetapi pria itu menariknya kembali.
“Tentu saja kita akan menikah, istri 800 jutaku!” ucap Shian tertawa.
“Bahkan itu terlalu murah untuk gadis secantik diriku Shian!” balas Janeth kesal.
“Aku akan menambahkan jumlahnya sesuai maumu, setelah malam pertama, hm bagaimana?” goda Shian.
Tanpa menjawab Janeth menarik rambut kekasihnya tersebut, hingga membuat Shian kesakitan.
“Auh Janeth! Sakit!” pekik Shian tetapi Janeth tidak mau berhenti.
“Rasakan!” tarikan tangannya semakin mengencang.
“Janeth, cukup! Setidaknya bersikap lembutlah padaku. Aku ini calon suamimu!”
“Kau benar-benar menyebalkan Shian, apa kau pikir aku tak bisa mendapatkan uang 800 juta untuk menyumpal mulut menyebalkanmu itu ha!” Janeth mengarahkan kakinya ke tengah-tengah pangkal paha Shian. Membuat Shian terancam.
“Ha iya, iya maafkan aku Sayang.” Ini adalah kali pertama Shian memanggil gadis itu dengan kata sayang, membuat Janeth tersipu dan melepaskan cengkaraman tangannya pada rambut Shian.
Mereka pun duduk berdua, sambil menikmati malam romantis itu.
“Janeth, apa yang membuatmu mau menerimaku?” tanya Shian.
“Bukankah kau yang memaksaku? Tiba-tiba saja melunasi hutang kami, lalu memintaku untuk datang ke tempat ini untuk bertunangan, apa kau pikir aku punya waktu untuk menolakmu Shian?”
“Ya, kau memang tidak bisa menolakku, tetapi jika saja kau punya pilihan, apa yang akan kau lakukan Janeth?”
“Aku akan tetap menerimamu, Shian..” Janeth menundukkan kepalanya. Karena mengungkapkan perasaan ke pada seorang pria itu bukanlah hal yang mudah bagi wanita.
“Karena aku mencintaimu.”
“Coba katakan sekali lagi, aku tidak dengar!” perintah Shian.
“Aku mencintaimu!” Janeth menaikkan suaranya, Shian cukup puas, paling tidak beberapa mata sedang melihat dan ikut merasakan aura bahagia.
“Kau tau, betapa aku sangat takut saat kau akan bertunangan dengan Sisil, Shian.”
“Betapa aku sangat takut, saat kau akan ditipu oleh gadis itu, untuk bertanggungjawab pada anak yang bukan hasil perbuatanmu, aku sungguh kecewa padamu saat itu.” Shian menatap wajah cantik gadisnya, lalu memeluknya dengan erat.
“Janeth, aku tau kau sangat marah padaku, bukan?”
“Aku tau kekecewaanmu, tetapi apa kau tau sakitnya hatiku saat mendengar kau akan menikah dengan Aksa?”
“Kupikir kau tak akan datang saat itu Shian,” ucap Janeth.
“Kupikir saat itu, kau sedang berada di kamar, tetapi nyatanya kau kabur Janeth, bahkan akan menikah! Gila! aku hanya bertunangan dengan Sisil sedangkan kau jauh lebih kejam, menikah di belakangku dengan sahabatku sendiri, dasar silent killer,” dengus Shian.
“Hey Shian, salah siapa mengacuhkanku?”
Shian mencubit pipi Janeth dengan gemas, hingga cubitan itu berubah menjadi usapan lembut menelusuri kedua sisi wajah ayu gadis itu.
Shian mendekatkan wajahnya, menikmati setiap hembusan napas Janetha. Tangan kekarnya terus bergerak dan mengelus kemudian bermuara di tengkuk Janeth.
Janeth menutup matanya, ia tau apa yang akan dilakukan oleh Shian, ingin melawan tetapi sepertinya ia juga menginginkan. Deru napas semakin mendekat dan terasa hangat. Kedua bibir itu pun bertemu.
Menempel dengan sempurna, hingga terjadi hisapan dan lumatann.
Shian semakin menekan tengkuk kekasihnya, membuat ciuman itu bertambah dalam, rasa manis yang begitu mengganggu pikiran Shian itu kini kembali ia rasakan, Janeth membuka mata kemudian menarik diri, untuk menyudahi kegiatan itu.
“Janeth, kenapa kau menghentikannya? Apa kau takut? Tenang saja ini taman, aku tak akan khilaf dan melakukan lebih dari yang kau bayangkan,” ucap Shian.
“Aku kesal padamu Shian,” ucap Janeth.
“Kenapa hm?” Shian menarik dagu Janeth, berniat akan menciumnya lagi, bibir seksi itu bagikan candu untuknya dan ini adalah kali kedua baginya.
“Aku teringat saat kau mencium Sisil di rumah sakit saat itu!”
“Apa yang kau pikirkan Janeth? Itu hanya salah paham.”
“Salah paham bagaimana? Aku masuk ke kamarmu saat kalian sedang bercumbu seperti itu!” cecar Janeth.
“Itu kulakukan karena, kukira Sisil adalah dirimu, si gadis misteriusku itu, Sayang,” jelas Shian mengatakan apa yang sejujurnya ia rasakan dulu.
“Kau bohong!”
“Sungguh Janeth, kupikir kau ada di sisiku karena di malam itu kaulah yang telah menyelamatkanku bukan?” Shian terus menatap wajah kekasihnya, betapa Janeth sangat anggun malam ini, dan gaun tanpa lengan itu berhasil menampakkan keindahan tubuh Janeth dengan anggun.
“Aku sangat sulit mempercayaimu sejak saat itu Shian!” dengus Janeth.
“Kau bukan tidak mempercayaiku Janeth, kau sedang cemburu.” Shian mengejek.
Janeth tidak menjawab, kemudian ia berdiri dan beranjak dari bangku itu, untuk membetulkan reseletingnya yang terbuka. Dia berusaha mencari pengait gaun di punggungnya tetapi tangannya tidak sampai.
“Butuh bantuan?” tawar Shian.
“Tidak.” Janeth masih berusaha menggapai ujung reseleting gaun berbahan silk itu.
“Ayolah Janeth, duduklah biar aku yang membantumu, tanganmu tak akan sampai Sayang.”
“Jangan! Aku tau kau akan mengambil keuntungan!” jawab Janeth ketus. Sambil terus berusaha.
Ah susah sekali! Entah reseletingnya yang terlalu panjang ataukah tanganku yang terlalu pendek. Aku sangat kesal sedari tadi mata mesum Shian seakan ingin memakanku hidup-hidup!
“Janeth, bukankah aku kekasihmu? Jangan terlalu kaku,” ucap Shian kemudian berdiri lalu menepis tangan Janeth dan menggantinya dengan tangannya.
Slerk
Reseleting terangkat hingga ujung gaun dan tertutup dengan sempurna, tetapi justru kini bagian lengan Shian yang terjepit dan tersangkut pada pengait reseleting.
“Ah! Tersangkut, bagaimana ini?” ucap Shian dengan panik yang dibuat-buat.
“Sudah kuduga! Pasti akan seperti ini!” Janeth kesal sambil melirik bagian belakang gaunnya.
“Lepaskan Shian! Aku ingin ke kamar kecil!” Janeth tampak gelisah sambil memegangi perutnya merasa ingin buang air kecil.
“Lepaskan bagaimana? Ini tersangkut.” Shian tampak santai.
“Aku sungguh ingin kencing, aku tak mungkin membawamu ke toilet! Dasar!” Janeth menghentakkan kaki, jengkel.
“Mungkin saja, tinggal membawaku, apa susahnya?” Shian membuat gadis itu semakin geram.
“Ah kau ini, menyusahkan saja!” Janeth sudah tidak tahan lagi dan ia pun mencari bantuan.
“Ibu Ana! Tolong!” Janeth berteriak, memanggil Ana. Setelah beberapa kali memanggil akhirnya Ibu Shian itu pun datang.
“Nak, ada apa?”
“Apa Shian mengganggumu?” selidik Ana melirik sang anak yang sedang duduk dengan tangan terangkat mengikuti gaun Janeth.
“Ibu Ana, Janeth ingin pipis, tetapi baju Shian malah tersangkut di gaun Janeth,” ucap gadis itu sambil menyatukan kedua kakinya menahan sesuatu yang ingin keluar.
“Astaga! Bagaimana ini bisa terjadi?”
“Ini tuxedo eksklusif Shian! Oma yang membelikannya dari London khusus untuk hari bahagiamu malam ini!” seru Ana mengomeli pria santai itu.
“Apa kita tidak bisa mengguntingnya saja Bu?”
“Tidak Nak, oma akan kecewa jika setelan ini rusak.” Ana berusaha mengotak-atik kain yang tersangkut itu, tetapi tetep saja tidak berhasil.
“Astaga!”
Di tempat lain
Seorang wanita sedang mempersiapkan penerbangannya ke Indonesia, ia sudah lama sekali tidak mengunjungi suami dan anak gadisnya dan kali ini ia akan kembali.
“Nyonya Celine, apa anda sudah siap?” tanya asisten wanita itu.
“Ya, aku sudah tidak sabar ingin bertemu besan.”
Sejak skandalnya dengan keluarga Yoshi saat itu, begitu banyak yang terjadi antara Yoshi, Ana dan Celine, saat Shian masih bayi.
Hingga akhirnya Celine memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan meninggalkan Ardiansyah dan Janeth.
Janet dan shian belum sadar kalau mereka sama sama memiliki perasaan
aku mampir nih.
mampir juga di karyaku ya😊😊